Kolom,
16/02/2002

Metode Hermeneutika untuk Al-Qur’an

Oleh Ahmad Fuad Fanani

Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk (hudan) memiliki posisi sentral dalam kehidupan manusia. Ia bukan saja sebagai landasan bagi pengembangan dan perkembangan ilmu-ilmu keislaman, namun ia juga merupakan inspirator, pemandu dan pemadu gerakan-gerakan umat Islam sepanjang empat belas abad lebih sejarah umat manusia. Hal ini bisa terlihat dari dari bermunculannya gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, Jam’at Islami di Pakistan, Wahabi di Saudi Arabia, maupun NU, Muhammadiyah, baik organisasi Islam lainnya di seluruh dunia.

16/02/2002 22:05 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (3)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

al-quran adalah kalamullah yang mulia lagi agung. al-quran bukanlah teks bahasa, sehingga ada kata dalam al-quran yang penduduk arab tidak mengenal sebelumnya
bahkan al-quran dan hadist menjadi alat ukur kebenaran bahasa masyarakat arab. al-quran bukanlah teks budaya, bahkan al-quran dengan tegas menentang budaya arab yang jahil seperti membunuh anak perempuan, menyembah berhala, meminum khamar, dll

#1. Dikirim oleh RIVAT QARDHAWI  pada  09/06   08:36 AM

Ada satu retakan dalam pemikiran Arkoun yang tidak disadarinya ketika mengadopsi pikiran Ricour, dan sayangnya retakan itu terjadi pada sesuatu yang amat mendasar. Ricour membagi “wahyu” ke dalam tiga tingkatan pertama “perkataan Tuhan” yang tidak bisa diketahui manusia, kedua “perkataan Tuhan” yang telah dikonversi pada bahasa sebagai sistem berpikir manusia dan ketiga “perkataan Tuhan” yang telah dikonversi kedalam bahasa tulisan. Secara ringkas, Ricour dan juga Arkoun seolah menyatakan bahwa “Level pertama hanya diketahui oleh Tuhan, lebel kedua hanya diketahui oleh Nabi dan level ketiga baru dapat diketahui oleh umat”. Sekilas logika ini benar dari sudut pandang manusia, tanpa keimanan. Tapi ada sesuatu yang terlupa, bahwa kesamaan pesan pada level 1, 2 dan 3 bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Atau setidaknya, kemungkinan sama atau tidak sama dari ketiga level itu ada (karena pada keduanya kita tidak punya alat untuk membuktikannya).  Disinilah iman menunjukkan perannya, bagi orang yang percaya bahwa Allah SWT Maha Kuasa dan tahu persis terhadap segala fenomena yang terjadi di dunia ini, pasti mereka akan berkata “Apa yang diucapkan Nabi adalah sama persis dengan apa yang dimaksudkan Allah” (Allah memiliki cara untuk membuat Nabi mengatakan sesuatu persis sama dengan keinginan-Nya). Tapi orang yang menganggap Allah Swt tidak memiliki kekuasaan untuk mengendalikan proses yang ada di dunia karena ada proses yang tidak diketahuinya, mereka akan beranggapan pastilah ada distorsi dari level 1 ke level 2. Retakan inilah yang tidak disadari oleh Arkoun dan kebanyakan Muslim yang menggunakan Hermeneutika dalam analisis Al Qur’an. Sesuatu yang mudah dan sederhana, tetapi implikasinya sangat mengerikan.

#2. Dikirim oleh Lukman Hakim  pada  04/01   01:20 AM

sebelum mulai membahas tentang penafsiran atau hermeneutika al-Qur’an, konsep tentang al-Qur’an itu apa harus dijelaskan terlebih dahulu untuk mengetahui perspektif yang akan digunakan. karena perlu dipahami bahwa konsep kitab suci menurut epistemologi Islam dan Kristen (hermenutika lahir dari perkembangan eksegesis bible) berbeda. menggunakan pendekatan dari epistemologi Kristen (hermeneutika) kedalam epistemologi Islam secara langsung tanpa proses adapsi tentunya tidak akan memperjelas tetapi justru akan mengacaukan.

#3. Dikirim oleh James Brolin  pada  29/01   01:44 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?