Reportase,
05/01/2010

Metode Studi Alqur’an ala JIL Reportase Diskusi Buku Metodologi Studi Alqur’an

Oleh M. Irsyad

Dia juga menyebutkan adanya sejarah kekuasaan saat Mushaf Usmani dijadikan ‘closed official corpus’ dalam istilah Mohamed Arkoun. Saat itulah Alqur’an menjadi suci. Dia menekankan pembaca untuk membedakan antara wahyu dan penulisan, qur’an dan penafsiran, yang absolut dan yang relatif. Menurutnya hubungan antara teks, konteks dan pembaca itu sangat menentukan. Pada kelompok tekstualis, yang terjadi adalah hubungan antara teks dan pembaca saja, tidak memperhatikan konteks. Menurutnya, konteks perlu dilihat agar Alqur’an menjadi “shâlih li kull-i zamân wa makân”.

05/01/2010 11:31 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (8)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Assalamu’alaikum wrwb
seperti kita kethui bahwa wahyu2 ALLAH itu turun selama 23 tahun sesuai dengan masalah yg dihadapi oleh Rasul.

Saya setuju bahwa untuk mendapatkan tafsiran yang benar harus di hubungkan antara; wahyu, kondisi, dan konteknya(ditujukan kpd siapa)

Ayat2 waktu peperangan banyak tedapat kata kata haram dan bunuh;

—-haram berteman dgn orang2 kafir
—-haram mengakat pemimpin orang2 kafir
—-haram memakan daging potongan orang2 kafir.
—-bunuhlah orang2 murtad
—-bunuhlah orang2 kafir dimana saja kamutemui.
—-perangilah orang2 kafir
—-dll

Sedangkan wahyu2 ALLAH waktu telah terjadi kedamaina, ALLAH memerintahkan;

—-berkasih sayang lah kamu
—-berlaku adillah kamu
—-trgakanlah kebenaran

arti ajaran Islam melarang perbuatan2 ‘diskriminasi’krn; agama, gender, race, umur dan bangsa.

Dalam Islam semua diperlakukan dgn adil;justice for all.

Silakan nlajuti site ini;
http://latifabdul.multiply.com/journal/item/273
—-
—-haram

#1. Dikirim oleh alatif  pada  07/01   01:00 AM

Asswrwb,
Salut dan respek yang setingginya atas terbitnya buku ini, ini adalah jihad besar. Saya muslim yang tidak pernah khusus sekolah agama atau punya guru khusus, belajar saya ya melalui buku-buku dan publikasi lain, begitu dengar terbitnya buku ini langsung saya cari di toko buku terbesar yang ada di kota saya, tapi kok belum ada ya….?. Tolong diterbitkan secara besar-besaran, kalau bisa ada juga yang low price edition. Wasswrwb

#2. Dikirim oleh Teguhsuseno  pada  11/01   04:29 AM

Salam hangat dari pelataran makam Gus Dur..
JIL harus n wajib untuk tetap eksis dgn berbagai pembaharuan wacana Islam agar Agama ini tetap pr0gresif dan tidak stagnan..
Tafsir ini adalah satu dri sekian banyak cara untuk mempertahankan Islam agar shalih li al-zaman wa al-makan..
Viva JIL..
Viva Islam..

#3. Dikirim oleh elfaiez  pada  03/02   05:41 PM

bissmillah
salam

sepakat bahwa teks al’quaran itu tdk untuk dirubah tapi penafsirax tdk lantas ditutup tapi di cari makna yang signifikan utnk segala keadaan yang berkembang semoga islam menjadi dunia buat umat manusia.
‘wassalam’

#4. Dikirim oleh mady  pada  07/03   01:05 PM

saya masih bingung nich dg jil,gimana konsep ketuhanan,peribadatan dll.gimna nich kalau saya punya usul kan allah tuhan semua agama/orang gimana kalau jil nyatuin aja seluruh agama ,yg penting percaya tuhan seperti dasar pancasila sila pertama.Dan nggak perlu pussing2 terjemahin alquran ataupun ngelakuin syariat agama biar kita nggak perlu repot2 bener nggak??? wah pasti banyak pengikutnya tuh

#5. Dikirim oleh arema bandung  pada  29/06   03:30 PM

Bismillahirrahmanirrahim. Kalau mau menterjemahkan alquran jangan semaunya saja, harus faham nahwu shorof & asbabun nuzul sebuah ayat, yang paling penting jangan mempertuhankan “otak” manusia sehingga beraninya menganggap alquran salah & sudah tidak sesuai zaman, padahal otak manusia kemampuannya sangat terbatas, sampai sekarang belum mampu mendefinisikan bentuk & ukuran angin sekalipun, apalagi bicara kebesaran, kalam & kekuasaan Allah SWT yang tidak mungkin hanya bisa difahami pakai otak saja tetapi harus dilandasi iman yang benar kepada Allah SWT, ingat demokrasi hanya untuk urusan non agama sedangkan urusan agama hak mutlak ada di tangan Allah SWT.

#6. Dikirim oleh sumarno  pada  08/07   12:17 PM

Jika membaca Al-qur’an pahalanya dihitung perhuruf.. maka hermeneutika menggunakan Al-qur’an tanpa ada latar belakang tafsir dari yang melakukannya..Allah ngitungnya juga perhuruf bukunya deh. Trust me!

#7. Dikirim oleh elmaliki  pada  22/07   11:42 AM

Apa sih tolok ukur ke absahan suatu penafsiran pd AL QURAN ?

Apakah scara etis stiap orang bebas menafsirkan AL QURAN ?

#8. Dikirim oleh Saif.Bahar  pada  24/03   12:32 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?