Editorial,
08/09/2010

Mistifikasi Mudik Lebaran

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Masa kanak-kanak tak pernah bisa didaur ulang. Pulang ke masa kecil itu absurd. Tanah, tempat kita dulu diasuh dan dibesarkan secara kultural, sudah banyak berubah. Bukan hanya fisik desa yang berubah, melainkan juga para penghuninya. Romantisme tentang gotong royong dan ketulusan orang desa sudah mulai pupus. Akhirnya, jika hanya ingin pulang dan mendapat akar kebudayaan, kiranya tak harus pada saat Lebaran.

08/09/2010 08:17 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (14)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Karena saya orang mBantul yang sudah lama tinggal di Jakarta, maka saya lebih setuju bahwa lebaran berasal dari kata LEBAR atau LUAS yang apabila diberi akhiran AN menjadi LEBARAN, atau LEBIH LEBAR. Seperti kata JAUHAN dikit dong, artinya LEBIH JAUH. Kamu kok kelihatan KURUSAN artinya LEBIH KURUS. LEBARAN adalah ketika segala-sesuatu menjadi LEBIH LEBAR

LEBARAN adalah ketika masjid terasa menjadi LEBIH LEBAR dibandingkan ketika awal Ramadhan, karena jamaah tarawehnya sudah sangat berkurang

LEBARAN adalah ketika jalur Pantura dibuat menjadi LEBIH LEBAR untuk mampu menampung jutaan kendaraan yang berebut melaluinya

LEBARAN adalah ketika dompet kita terasa menjadi LEBIH LEBAR karena isinya sudah digunakan untuk membelikan baju baru anak-anak kita

LEBARAN adalah ketika Jakarta terasa menjadi LEBIH LEBAR karena ditinggal penghuninya mudik ke daerah-daerah

LEBARAN adalah ketika baju-baju kita terasa menjadi LEBIH LEBAR setelah sebulan berpuasa

LEBARAN adalah ketika pintu pegadaian dibuka menjadi LEBIH LEBAR untuk melayani orang-orang yang menggadaikan barangnya demi keperluan mudik

LEBARAN adalah ketika senyum kita menjadi LEBIH LEBAR karena sudah terima THR

LEBARAN adalah ketika pintu hati kita menjadi terbuka LEBIH LEBAR untuk saling memaafkan

Selamat ber LEBARAN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN

#1. Dikirim oleh Kyai Samin  pada  08/09   09:35 AM

Mudik itu budaya urban dong, bukan agraris. Industrialisasi yang mengakibatkan ledakan urbanisasi dan ditinggalkannya desa-desa.
Adalah hal yang lumrah kalau kita ingin pulang di hari raya. Kenyataannya, tradisi mudik bukan cuma di Indonesia saat lebaran, tapi juga di Amerika saat natal dan di Cina saat imlek. Di balik segala kerumitannya, mudik punya manfaat untuk mengalirkan uang ke desa-desa setelah hanya berputar di kota setahun lamanya.
Saya ngga ngerti maksud artikel ini apa. Mungkin intinya mau nasehatin supaya ngga usah maksain mudik. Ya udah sih ngga usah berbelit, to the point aja.
Btw apa sih itu paragraf awalnya, ga penting banget.

#2. Dikirim oleh sidiq  pada  08/09   08:36 PM

Klo menurut pendangan saya Mistifikasi disini kurang tepat…kembali ke fitrah memang bisa dilakukan kapan sajah. Tetapi moment yang tepat untuk berkumpul dan bersilaturahim dengan keluarga dan sesama teman, tetangga dan semuanya….merupakan hal yang sangat berharga, bagi orang2 yang ada diperantaun atau jauh dari sanak sodara.

Tradisi ini tidak bisa serta merta dihilangkan begitu saja, dikarenakan banyak faktor positif yang bisa didapat dari sana, kerukunan, saling memaafkan, dan saling bersilaturahim yang dapat mendekatkan tali persaudaraan.

Maaf dengan pernyataan : “Kuburan adalah tempat anak-anak merajut komunikasi dengan almarhum orang tua”
Ziarah kubur merupakan suatu hal yang dilakukan untuk kita terus mengingat bahwa kita nantinya akan seperti mereka, yaitu menerima ajal. Dan dalam penyebaran Islam di Indonesia tidak diharamkan karena sisi positif yang tampak bukan sisi negatif, seperti halnya berkirim doa, mengingat bahwa kita akan mati, sehingga itu akan dapat mempertebal keyakinan serta keimanan kita.

“karena itu mereka tak rela sekiranya ziarah kubur diharamkan”. Terlalu egois dan tidak memperhatikan lingkungan sekiranya kita mengharamkan ziarah kubur(toh fatwa haram yang berkembang sekarang adalah hasil kesepakatan manusia)...memang di arab kita tidak menemui adat seperti di indonesia kebanyakan, dikarenakan teritorial yang berbeda…islam berkembang di indonesia didasari dan dibarengi dengan adat istiadat….tanpa menghilangkan adat namun memberikan muatan islami pada adat. Sehingga hal yang dikhawatirkan dalam ziarah kubur yaitu perbedaan tujuan ziarah kubur tidak perlu terjadi….


Yang berbeda kita hadapi sekarang adalah volume orang yang melaksanakan yang dinamakan mudik lebaran ini. Bukan hanya wilayah jawa…tapi hampir semua orang di indonesia menginginkan berkumpul pada saat hari2 besar agamanya. Dari volume serta biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan tradisi tersebut….

#3. Dikirim oleh Anwar  pada  09/09   03:28 AM

firdaus > paradise > paradiso,lalu orang jawa yg petani berseru, parandeso,paran=tujuan, deso=desa.tujuan kita adalah suasana desa masalalu yg hijau,segar,damai,ramah.orang arab membajak dari orang persia.ternyata orang persia mengimpor dari orang jawa. parandeso>parndeso>paradiso>paradise>firdaus…ehm

#4. Dikirim oleh bhre wirosobho  pada  09/09   12:13 PM

menarik memang, kalau kita membicarakan tradisi mudik di Indonesia, sebesar apapun resikonya mudik tetaplah mudik.namun di balik fenomena mudik yg terjadi menjelang 1 syawal ada nilai yg terkandung dlm suasana agamis, yaitu silaturrahmi dan berziarah dua-duanya adalah mengandunng arti berhubungan dan saling mengingatkan.sayang memang kalau kesempatan emas ini tidak di manfaatkan dgn baik.
tradisi saling mengunjungi antar sesama,dan ziarah ke kuburan orang yg sdh meninggalkan kita merupakan perintah agama yg harus kita ikuti.
orang yg hidup ingin mendapatkan oleh-oleh mudik sedangkan orang yg meninggal ingin mendapatkan do’a.

#5. Dikirim oleh ardani muhammad  pada  13/09   02:42 PM

Saya kelajiran Jakarta. Hampir semua keluarga tinggal di Jakarta. Jadi, saya tidak pernah pulung mudik, apalagi mudik waktu lebaran. Tapi saya bisa maklum kalau orang pulamg kampung. Mungkin di Jakarta sumpek dan banyak masalah yang sulit diatasi. Jadi sekali-sekali pulang mudik, katakanlah sebagai bentuk pelarian. Atau semacam bentuk upaya agar dapat terhindar dari masalah hidup yang melanda. Sekali lagi, ini memang tradisi, bukan soal agama.

#6. Dikirim oleh ahmad s.  pada  14/09   05:14 AM

Mudik adalah mistis? terserah apapun diberi embel-embel, yang jelas mudik itu menyenangkan, meski dalam proses perjalannya menyebalkan. Saya pernah mencoba mudik tidak pas hari lebaran, tp hari-hari biasa. Ternyata tidak ada “gregetnya”. Entah apa yang menjadi penyebab bahwa mudik lebaran akan selalu menjadi fenomena budaya/atau ritual? Jika dilihat darikacamata bisnis belaka, maka distribusi rejeki ke kampung halaman akan turut meramaikan perputaran rente ekonomi di pedesaan. Jika dilihat dari aspek budaya, maka mudik lebaran menjadi kekayaan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, dinamika mudik lebaran biarkan saja menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang-orang jawa pada umumnya. Kini bagaimana pemerintah saja yang perlu memfasilitasi dengan baik, seperti misalnya msalah pengamanan baik di lingkungan tempat tinggal maupun di tempat-tempat rekreasi (ingat kasus-kasus kecelakaan terseret ombak di laut), atau masih tingginya angka kecelakaan lalu lintas hingga mencapai hampir 200 orang tewas sia-sia dijalan selama mudik lebaran).
Yang lebih penting adalah penanaman kesadaran pada masyarakat bahwa mudik lebaran adalah sunah, tidak wajib. Jika ingin hemat. ya gak usah mudik.

#7. Dikirim oleh salmonnoer  pada  14/09   03:43 PM

Mudik dipahami sebagai salah satu momentum perayaan Idul Fitri di Indonesia dari sisi kultural. berkenaan dengan keterkembalian yang absurd dalam dunia lampau, mungkin memberi secercah pengaruh terhadap emosional masyarakat yang kadang menabrak titik jenuh bahkan panas dalam keseharian penat kota, alhasil, Mudik juga bisa dijadikan media penyegaran pola pikir manusia untuk kembali menyemangatkan dan menyehatkan komunitas urban Indonesia, sekaligus terkesan seperti sebuah refresh bahkan babak baru dalam menghadapi segala persoalan umum yang ditanggung masyarakat Indonesia. setelah itu, mari kita tadaruskan kembali PR-PR melelahkan seperti Skandal Bank Century, Luapan Lumpur Lapindo, Kekerasan atas nama agama, dan lain-lain, akhirnya, setelah mudik, suci, fitri, jangan lupakan masalah-masalah yang belum pernah terselesaikan.

#8. Dikirim oleh Sobih Adnan  pada  14/09   07:39 PM

masih lebih mudah mengeja idul fitri daripada mengeja nama sampeyan pak moqsith.Bagi saya mudik lebih karena alasan praktis, yaitu dengan pulang pada hari raya selain bertemu dengan orangtua juga bertemu dengan saudara2 dan temen2 yang menyebar ke berbagai kota, yang sulit kita temui jika kita pulang pada hari biasa. Itu artinya lebih hemat secara ekonomis karena untuk bersilaturahmi nggak perlu datang ke tempat saudara2 dan temen2 berdomisili.

#9. Dikirim oleh fery  pada  18/09   05:52 AM

Nggak apa2 mudik asal gak maksain. Saya biasa mudik H+1, jalan udah relatif sepi, tapi di daerah masih juga ketemu teman2 lama karena kita desain setiap pertemuan reuni sekolah dan keluarga adalah H+2 atau H+3, baik siang, sore maupun malam. Disamping itu, lebaran juga merupakan momen penyebaran/redistribusi pendapatan dari kota ke daerah, daripada dikasih sama pengemis ibukota yg kebanyakan adalah pengemis palsu, mending kepada saudara dari desa yg kurang mampu tp gak mau ngemis.

#10. Dikirim oleh nurcahaya  pada  20/09   04:26 AM

Aku agak ketawa ya lihat kajian mudik disangkut pautin dengan lebaran, kajiannya aku pikir tidak masuk akal.

Tradisi mudik itu pasti ada di daerah-daerah yang pembangunannya tidak merata, apapun hari rayanya, selama pembangunan disebuah negara tidak merata, maka akan terjadi Tradisi mudik yang overload.

Indonesia dan China mempunyai tradisi mudik yang overload di setiap hari raya besar mayoritas dinegara tersebut, bukan karena mistis atau apa, tapi karena pembangunan yang tidak merata.

Thanksgiving di Amerika jg merupakan tradisi mudik, tapi kapastitasnya tidak over load, bahkan pada level yng sangat low, karena pembangunan disana sangat merata.

Itu aja sih aku pikir, ga ada kaitan apapun hihi lucu jg smile)

#11. Dikirim oleh Naldo  pada  24/09   11:29 PM

Saya adalah seorang pemudik handal. Hampir tiap tahun, pasti ritual ini saya lakukan.Bukan apa-apa, bagi saya, saat lebaran adalah hari yang pas buat mudik, mancing, main bola, ngambil kelapa muda, dan kegiatan santai lainnya.
Yang pasti, mistik dalam mudik mungkin ada, meski harus dikaji!

#12. Dikirim oleh Cecep Hasanuddin  pada  26/09   01:47 PM

orang-orang itu mudik waktu lebaran karena di hari biasa mereka sangat repot dengan pekerjaannya, tidak ada waktu untuk bertemu dengan kerabat.
gitu aja pake dibahas.

#13. Dikirim oleh no_body  pada  02/12   03:09 AM

Mudik Lebaran, Bertemu orang tua dan sanak keluarga, alangkah syahdu dan indahnya disaat lebaran tiba, mudik bagiku wajib dilaksanakan, klo tidak hati sedih tidak bertemu keluarga saat hari raya .

#14. Dikirim oleh yahya mikhail  pada  28/04   08:36 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?