Monisme Pembaharuan Cak Nur
Oleh Saidiman Ahmad
Cara pandang monistik dalam sejarah pemikiran filsafat sangat berbahaya, karena monismelah yang mendasari apa yang disebut totalitarianisme. Karena dalam monisme, ada klaim kebenaran tunggal dan absolusitas kebenaran. Jika ada satu kebenaran yang sahih, maka secara langsung pendapat atau kebenaran lain menjadi tidak sahih, atau belum sahih. Persoalannya, siapa yang berhak menentukan sebuah kebenaran itu sahih dan tidak?
Komentar
Artikel ini sangat bagus, tetapi saya memiliki catatan juga. Menurut saya, kita harus hati-hati untuk mengatakan bahwa pemikiran Cak Nur cenderung monistik. Kalau pemikiran Cak Nur disebut masih cenderung apologetik, saya setuju. Tetapi saya kurang sepakat kalau Cak Nur dianggap cenderung menganggap bahwa ada kebenaran tunggal, atau monistik. Sekurang-kurangnya, Cak Nur sering-kali berujak bahwa “wal ladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana”, sembari menekankan bahwa kata “subul” (jalan-jalan) dalam ayat itu berbentuk jamak—menandakan bahwa dalam Islam, sebagaimana Cak Nur tafsirkan, ada banyak jalan menuju Tuhan. Karena itu, kumpulan ceramah Cak Nur di RCTI dulu dengan tepat dijuduli “Pintu-Pintu Menuju Tuhan”.
Ini sekedar catatan saja.
Ulil Abshar Abdalla
Artikel yang sangat baik. Negeri ini selalu terjebak kedalam kubang pemikiran bersifat absolut, dan hal demikian tentunya merugikan Indonesia yang sedang beranjak dari tidur lelap pada menatap cahaya terang. Hal didunia tidak dapat bersifat absolut itulah mengapa Camus mempopulerkan nilai-nilai absurditas dalam novelnya.
Pola dan pemikiran manusiapun tidak bisa dipandang kebenaran, karena manusia faktor dominan timbulnya masalah dalam semua aspeknya, tiada sesuatupun bisa jadi pegangan, untuk menentukan siapanya sebenarnya yang dapat disebut benar, karena klaim atas klaim akani membentuk mesin pembunuh terhadap suatu arti kebenaran. Pada dasarnya pandangan leteratur olah otak manusia tidak pernah menyimpang dari kepentingan….Seprti kata trans itu terkadang diberlakukan tidak adil, menvonis kelompok tertentu. padahal JIL juga trans…..harus adil, pada intinya lo atau gue punya andil berimajinasi bahwa pada hakikatnya kita makhluq trans.
salut, di era modern seperti ini seharusnya kita sadar bahwa perbedaan tak perlu lagi dipermasalahkan, ang perlu dipermasalahkan adalah bagaimana kita dapat hidup berdampingan di tengah perbedaan
SALAM DAMAI ![]()
Salah satu pemikiran Cak nur yang sangat saya sukai adalah perihal apologi pembaharuan dengan tujuan agar umar tidak bercerai berai karena keanekaragman dan menuju ke arah pembaharuan yang lebih baik. Semoga pemikiran-pemikiran positif dari Cak Nur dapat terus dilanjutkan demi kemajuan bangsa kita ini, amin.
Assalamu’alaikum,
Mohon maaf sebelumnya, bahwa menurut saya kebenaran tunggal itu harus ditempatkan sesuai konteksnya. Kebenaran tunggal itu mutlak dalam ajaran agama, khususnya Islam. Saya kurang setuju dengan pernyataan banyak cara/jalan menuju Tuhan. Karena dalam berbagai ajaran agama, masing-masing meyakini jalan merekalah yang paling benar berdasarkan wahyu yang mereka yakini.
Dalam Islam terdapat cara-cara atau jalan-jalan yang telah dituntunkan dalam Al Qur’an dan Hadist yang merupakan sumber utama hukum Islam. Al Qur’an adalah wahyu dan merupakan wujud kebenaran karena berasal dari Allah SWT yang merupakan Maha Benar.
Kalau dalam konteks muamalah tentu saja kebenaran tunggal tidak dapat diterima, karena masing-masing pihak mempunyai landasan-landasan tertentu dalam bersikap. Konteks muamalah dan syariah harus dibedakan dalam hal kebenaran tunggal ini.
Mohon maaf ini adalah sebatas pemahaman saya yang dangkal, apabila kurang tepat mohon ditanggapi.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum.
Komentar Masuk (6)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)