Kolom
27/01/2010

Monisme Pembaharuan Cak Nur

Oleh Saidiman Ahmad

Cara pandang monistik dalam sejarah pemikiran filsafat sangat berbahaya, karena monismelah yang mendasari apa yang disebut totalitarianisme. Karena dalam monisme, ada klaim kebenaran tunggal dan absolusitas kebenaran. Jika ada satu kebenaran yang sahih, maka secara langsung pendapat atau kebenaran lain menjadi tidak sahih, atau belum sahih. Persoalannya, siapa yang berhak menentukan sebuah kebenaran itu sahih dan tidak? 

27/01/2010 15:26 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (2)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Artikel ini sangat bagus, tetapi saya memiliki catatan juga. Menurut saya, kita harus hati-hati untuk mengatakan bahwa pemikiran Cak Nur cenderung monistik. Kalau pemikiran Cak Nur disebut masih cenderung apologetik, saya setuju. Tetapi saya kurang sepakat kalau Cak Nur dianggap cenderung menganggap bahwa ada kebenaran tunggal, atau monistik. Sekurang-kurangnya, Cak Nur sering-kali berujak bahwa “wal ladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana”, sembari menekankan bahwa kata “subul” (jalan-jalan) dalam ayat itu berbentuk jamak—menandakan bahwa dalam Islam, sebagaimana Cak Nur tafsirkan, ada banyak jalan menuju Tuhan. Karena itu, kumpulan ceramah Cak Nur di RCTI dulu dengan tepat dijuduli “Pintu-Pintu Menuju Tuhan”.

Ini sekedar catatan saja.

Ulil Abshar Abdalla

#1. Dikirim oleh Redaksi  pada  08/02   07:39 PM

Artikel yang sangat baik. Negeri ini selalu terjebak kedalam kubang pemikiran bersifat absolut, dan hal demikian tentunya merugikan Indonesia yang sedang beranjak dari tidur lelap pada menatap cahaya terang. Hal didunia tidak dapat bersifat absolut itulah mengapa Camus mempopulerkan nilai-nilai absurditas dalam novelnya.

#2. Dikirim oleh arif  pada  07/03   05:47 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?