Mono
Oleh Goenawan Mohamad
Tapi juga benar, Sabda punya kesaktiannya sendiri setelah jadi suci; ia bisa jadi awal sebuah laku. Kekerasan tak meledak di sembarang kaum yang sedang mengubah sejarah. Ia lebih sering terjadi dalam sejarah Yahudi, Kristen, dan Islam: sejarah kepercayaan yang berpegang pada Sabda yang tertulis. Pada gilirannya kata-kata yang direkam beku dalam aksara itu menghendaki kesatuan tafsir.
Komentar
Pikiran Mas Gun memang selalu cemerlang. Kesanggupannya untuk mengeja realitas selalu menyentuh substansi persoalan. Kepiawaiannya menganalisis fenomena sosial mempunyai daya gugah yang sempurna.
Namun, kutipan atas tulisan Ayu Utami dalam bilangan Fu, kayaknya perlu ditelaah ulang. karena kesimpulan Ayu yang mengatakan bahwa monotheisme tidak tahan melihat perbedaan atau anti liyan adalah kesimpulan yang prematur. Karena harus dibedakan antara Konsep dengan realitas umat. Paradigma yang berkembang dikalangan umat belum tentu identik dengan ” konsepsi yang sesungguhnya ” . Perselisihan itu jelas bukan karena penjelasan eksistensi Tuhan lewat bilangan satu; melainkan lebih sebagai akibat dari konflik psiko politik di tengah masyarakat.
Klaim- klaim kebenaran yang dikedepankan oleh umat , lebih menitik beratkan pada dimensi sosiologis . Ingat konflik syech siti Jenar dengan wali Songo.
Tafsir agama yang muncul dikalangan umat socially construct , yang hanya berkiblat pada segelintir Ulama, bukan mewakili konsepsi yang terkandung dalam ajaran Agama.
Ambilkan contoh Al Quran; Terjemahan “Ahad” sesungguhnya bukan berarti satu melainkan unik dan berbeda dengan yang lain ( distinct ) yang berbeda dengan ” wahid ” yang berarti ” satu ” . Banyak pernyataan Al Quran yang mengakui perbedaan ( la iqrahafiddin, lakum dinukum walyadin dlsb ) .
Memang pada skala empiris umat Islam sangat sensitive dan tidak toleran pada perbedaan ( ingat kasus Ahmadiyah ) merupakan fakta yang tidak bisa diabaikan. Namun, secara konsepsional filosofis, Al Quran selayaknya ditelaah tidak hanya sekedar sebuah ” teks ” melainkan juga harus dilihat ” konteksnya “. Agar ada keseimbangan logis dalam melihat sebuah fenomena.
Paragraf2 atas sih oke…
Islam emang gak boleh merasa lebih oke dari yang lain, itu udah jalannya masing2. Tapi kalimat2 tengah-bawah ini yang aku belum bisa paham, ngeributin angka 0 dan 1.
Aku fusing….terlebih kalimat terakhir :
Tuahn itu melampaui ada dan tiada.
wah..wah beraaaaatttt aku mikirnya. Belum sampe.
seandainya ada metode canggih menghujat budaya literal tidak dengan untaian wacana lagi…. mungkin tidak perlu susah payah hanya untuk membahas Fenomena “Mono” sebagai suatu yang dikontruksi oleh alam pikiran manusia itu sendiri….. Manusia yang buat istilah dan manusia pula yang memperdebatkannya… Daripada tak pernah kunjung usai… lebih baik “ber-uswah” saja kepada Rasululloh yang UMMI…. walaupun budaya literal telah ada sejak jaman Nabi Musa kemudian di bumikan dengan nisbat kepada Crist (jaman Sebelum adanya literal disebut Before The Crist /BC).... tetapi tanpa mengurangi fungsi dan manfaat literalisasi… Maka Yang Maha Mengetahui ... telah menetapkan suatu metode pewahyuan kepada Muhammad dengan tidak bertumpu kepada budaya literal….. Padahal budaya tersebut telah membumi sejak Nabi Isa Lahir…. Tentu kita harusnya ber-syahadah… pasti dibalik ke-UMMI-an Rasul ada hikmah agung…. dan saat ini hikmah-nya terkuak sudah…. Dari panjang lebar untaian tulisan dari Gunawan Muhammad terpancar sudah suatu “Paradoksal” Budaya literal ....berbagai kelemahan suatu untaian tulisan terutama berkaitan dengan kebebasan pemaknaan atas suatu istilah M-O-N-O saja,.. bisa terpencar berbagai wacana dan interpretasi yang berbeda-beda… Subhanalloh…. Alloh Yang Maha Mengetahui ...telah mewahyukan kepada Muhammad dengan ayat-ayat-Nya tanpa perantaraan untaian tulisan secuil-pun… tentu hikmah agungnya adalah AGAR KEUTUHAN AYAT-AYAT TUHAN TIDAK TERJEBAK oleh multiinterpretasi atas untaian tulisan… sehingga untuk membumikan “AHAD” dari Sifat Alloh, Rasululloh tidak perlu bersusah payah menguraikan wacana dan makna untaian tulisan tentang “AHAD” ... tetapi cukup sami-na wa atho-na… dengarlah dan taatilah dengan pengejawantahan yang seluas-luasnya…. Tak ada pecah interpretasi pada “al-Af’idah” para sahabat…. semuanya berseru dalam lisan dan qolbunya “ALLOHU AHAD” dan kekal-lah seruan itu hingga akhir jaman kelak….. sayang uswah sedimikian agung tersebut mulai dicampakkan oleh muslimin modern…. gara-gara adanya “piranti lunak” berupa untaian huruf buatan akal-budi manusia… Padahal dimana-mana bagusnya piranti-lah yang harus dimanfaatkan oleh penciptanya… bukan sebaliknya .... Piranti yang menguasai penciptanya…. maka jadilah kita di jaman ini jauh panggang dari pada api dalam hal bersyahadah terhadap “Ke-Esaan Alloh” karena harus sibuk terlebih dahulu menguraikan maknanya dalam bentuk untaian tulisan dan berbagai versi penalarannya… yang belum tentu bermuara utuh kepada Syahadah tentang Ke-Esaan Alloh SWT…. Oleh sebab itu, jauh-jauh hari 15 abab berlalu Ayat-ayat Al-Qur’an tidak direkam dalam bentuk untaian tulisan… tetapi direkam dalam bentuk tutur kata, perbuatan, pemikiran dan uswah dari “THE LIVING AL-QUR’AN” Muhammad Rasululloh…. Tidak akan ada Al-Qur’an versi ini itu… Al-Qur’an akan tetap terjaga kemurniannya hingga Akhir jaman….karena berbeda dengan Kitab Tauret atau Injil yang membolehkan seseorang menulis ulang kitab tersebut…. padahal ketika menuliskan sesuatu… seorang manusia pasti tidak akan lepas dari subyektifitasnya….
kalau tertarik dengan agama budha, ngga usahlah memakai kata-kata rasulullah, hadits ayat-ayat Al-Quran…..
pak gunawan, dari konklusi yg anda sampaikan, sebenarnya sederhana: anda ragu dengan aqidah Islam dan tertarik dengan aqidah Buddha
dalam aqidah Islam it’s very clear, simple bisa dipahami lulusan SD maupun profesor…La ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah…
Menurut saya, nol adalah bilangan yang menyatakan bahwa sesuatu itu tidak ada. Satu bilangan yang menyatakan ada.
Tuhan tidak mungkin tidak ada, namun juga tak mungkin lebih dari satu.
Konsep ketuhan Islam adalah LAA ILAAHA ILLALLAH, tiada Tuhan selain Allah. Orang yang merdekalah yang dapat dengan bebas mengatakan laa ilaaha illallah.
Yang lain tidak dalam kemerdekaan.
Cobalah berfikir lagi tentang ketuhanan, sesuai denganakar masalah tentang Tuhan.
Jangan sembarangan dan mengarang-ngarang tentang Tuhan.
Allah bukan mahluk, namun Allah adalah kholiq.
Harus ada, mencipta.
Mau kafir, mau dzalim, mau tidak taat, mau taat adalah pilihan. jelas yang akan didapat.
Merdeka
Identifikasi diri terhadap ma’na kata-kata Rasul “Aku tidak tahu” merupakan simbolisasi bagi sebuah keniscayaan umum manusia yang penuh dengan kelemahan dan ketidak tahuan. Semakin jauh manusia melanglang di ufuk pengetahuan, semakin banyak pula ketidak tahuan yang di rasa pada dirinya. Manusia memang tidak di haruskan untuk mengetahui segala sesuatu, bahkan karakter dunia yang di ciptakan begitu penuh misteri, banyak meninggalkan sesuatu yang manusia tidak tahu dan tidak akan pernah tahu untuk selama-lamanya. Tetaplah legenda bangsa Maya sebagai misteri, tetaplah Madain Shalih sebagai Misteri, tetaplah pilar-pilar Iram sebagai misteri dan ahirnya; tetaplah pula Tuhan sebagai misteri untuk selama-lamanya.
Jika Om GM menyukai ketidak tahuan Rasul tentang kapan kebangkitan Musa dan atau ada pengeculian Tuhan terhadapnya. Saya lebih suka pada kritikan Tuhan terhadap Musa ketika dia berdiri di tengah kaumnya dan mendakwakan diri sebagai yang terpandai di dunia. Arogansi Musa langsung mendapat teguran Tuhan bahwa di belahan dunia lain masih ada yang lebih alim dan lebih shalih dari pada Musa. Tuhan menitahkan Musa untuk belajar padanya (Al-Hidhr). Setelah melalui perjalanan panjang, Musa berhasil menemui dan belajar pada Al-Hidhr. Namun, maha suci Tuhan, ternyata Musa gagal menjadi murid yang baik bagi Al-Hidhr. Al-Hidhr memulangkan musa kembali pada kaumnya dalam keadaan kebingungan.
Al-Qur’an akan tetap tidak berubah sepanjang masa dan tidak pernah ditulis ulang. Yang sering ber-ubah2 dan juga sering bertentangan satu dengan lainnya adalah bagaimana MANUSIA menafsirkannya, entah dia itu Ulama, Ustadz, Habib, Pemuka Agama atau lain sebagainya. Ini yang sering membingungkan umat dan menyebabkan bercerai berainya umat, sehingga umat tidak akan pernah maju dan keterpurukanlah yang diderita umat.
Anto
http://idrabasusenodewo.blog.mediaindonesia.com
Bermatematika sedikit yuk.
0 : 0 = tak terdefinisikan
a : 0 = tak terhingga
0 : a = tak terdefinisikan
a x 0 = 0
Jadi kesimpulannya: Tuhan sebagai yang “esa” atau “hampa” seperti bilangan nol,(hampa bukan berarti tidak ada, tapi “utuh”, semua dalam “kesatuan”) mengukuhkan kalau kita, manusia (yang termasuk dalam bilangan “a”), adalah makhluk yang “tidak tahu”, seperti kata Muhammad. Masih ngotot mau mengkafirkan orang yang tidak sekeyakinan/seagama?
dari sudut pandang alquran sebelum nabi muhammad saw diutus, alloh menurunkan nabi/utusannya disetiap kaum/golongan manusia untuk menuntun kaumnya supaya menyembah kepada dzat yang memberi kehidupan dialam jagad raya ini dan untuk berbuat baik kepda sesama mahkluk hidup dengan membawa kitab atau hanya memberi pencerahan.
hemat saya semua agama yang diluar timur tengah juga diturunkan oleh alloh swt, semua awalnya menyembah kpd tuhan yang satu. tetapi sepeninggal pembawa risalah/nabi pengikutnya tidak lagi menyembah kepada tuhan yang satu atau menjadikan pembawa risalah sbgai tuhan yang satu atau menyandingkan pembawa risalah dg tuhan yang satu atau menyandingkan kekuatan lain dg tuhan yang satu.
kesimpulannya umat muhammad tidak boleh menafikan nabi2 yang lain kita juga harus mengimaninya. nabi muhammad diturunkan salah satunya adalah untuk meluruskan tauhid manusia untuk kembali kepada ketuhanan yang satu.
kita sebagai umat beragama cukuplah untuk saling menghormati kepercayaan masing2, ajaran agama mana yang benar yang sekarang kita anut tidak perlu kita perdebatkan/diskusikan antar penganut agama ,kita buktikan nanti setelah kita mati.
didunia ini marilah antar umat beragama saling bekerja sama membangun peradaban dunia diatas kejujuran dan saling menghormati untuk memakmurkan dunia. sehingga kehidupan dunia berlangsung dengan adil, makmur dan sejahtera.
wah, kalo islam dimaksudkan untuk semua agama sama, untuk apa Allah menurunkan agama islam, meruntuhkan sembahan patung-patung itu .... ya gak ... ya gak ...
Wah, pada ngomentari al-Qur’an semua ya om-om di sini ... seharusnya difikirkan saja, kenapa Tuhan memilih al-Qur’an turun melalui Muhammad, tidak melalui om-om ini, sehingga om bebas menterjemahkan apa arti ahad ... jadi gak repot-repot berdebat dan berpendapat aneh-aneh, begitu kan ...?
angka 0 bisa di tempatkan di depan dan di belakang
/ = angka pertama sebelum 1 dan angka yang terakhir sebelum 9
ex :
(0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0)
intinya adalah 1 kita berasal dari tuhan yang sama
sangat provokatif menjelaskan dan merdeka dalam berpikir, itulah goenawan mohamad. nggak heran dan tak cukup keilmuan jika saya sama-sama duduk bersama mendiskusikan angka2 milik Tuhan dengan dia. mungkin agak jauh menyimpang,mengenai sifat Tuhan yang berjumlah 99 (Asma’ul Husna). pengalaman rohani para sufi dan orang2 terpilih mengatakan jumlah itu belum sempurna, yang sempurna ialah seratus. dan penambahan satu itu adalah diri pribadi yang eling akan nikmat perbedaan yang diberikan Tuhan..konklusinya angka satu ataupun nol tidak berdampak apa-apa bagi kehidupan manusia, lha mikir yang nggak nampak tidak ada gunanya..
Entah kata “Esa” dari mana dan berarti apa,
tapi dalam pengertian banyak orang, kata
“Esa” dipakai karena “Esa” itu tidak
berbilang lagi.
Kata “Eka” itu masih berbilang, “Eka”, “Dwi”
“Tri” dan seterusnya.
Mungkin arti tiada itu bisa diterapkan
dalam kata “Esa” karena setelah “Esa”-
“Satu”, tiada lagi yang lain. “Satu” yang
tidak diikuti lagi oleh yang lain. Satu
yang hanya benar-benar “Satu”.
Persamaannya dengan kata “Ahad”, satu
yang bukan “Wahid”. Karena setelah “Wahid”
ada Itsnain, Tsalas, dan seterusnya.
Ya, mempermainkan kata-kata memang asyik,
tapi kalau mau kembali kepada “makna”
istilah yang sudah dirujuk oleh “Pedoman”
yang pasti, Insya Allah tidak akan “lost
in space”.
Mau “lost in space” atau tidak ?
Memang orang paling arif tidak akan pernah bilang aku tahu. hanya orang-orang bodoh yang selalu bilang tahu. karena pengetahuan sejati hanya milik Allah, al-Alim. Dan Rasulullah tokoh para arif yang diberi pengetahuan oleh Allah. Beliau telah mendapatkan pengetahuan di atas pengetahuan. Tetapi mengapa beliau masih berucap ‘Aku tidak tahu’ Rasulullah SAW selalu berdoa, “Tuhan, Tambahkan ilmu padaku”. Itu menandakan bahwa Rasulullah masih terus membutuhkan pengetahuan dari Allah. Rasulullah selalu berdoa itu, karena menyadari bahwa ilmunya amat terbatas, dan adapun Ilmu Allah tidak terbatas. RAsulullah karena merasa tidak tahu semuanya, maka beliau pun mengungkapkan ‘aku tidak tahu’ sebagai simbol penyerahan diri yang mantap pada Pengetahuan Allah. Hanya Allah yang TAhu. Tidak ada Yang Maha Tahu kecuali Allah SWT. Dan Jangan pula diantara kita merasa tahu. tapi harus belajar berserah diri pada Allah SWT.
Rasulullah pasti tak akan mengatakan “Aku tidak tahu” jika ditanya ttg perkara yg Beliau tahu atau tlh diberitahu Allah. Beliau adalah manusia yg paling jujur. Itu sebabnya sejak sebelum masa kerasulanpun beliau telah mendapat julukan “al-Amin”.
Pengenai pengetahuan ummatnya, Rasulullah justru sangat concern dansenantiasa mendorong segenap umatnya utk terus belajar dan meningkatkan pengetahuan - tentunya supaya banyak tahu – jadi kalau ditanya bisa memberikan jawaban yg benar, bukan sekedar menjawab “tidak tahu”; dan Beliau juga senantiasa meminta umatnya untuk berkata jujur agar jelas bahwa yg haq itu adalah haq dan yg bathil itu adalah bathil, meskipun dengan kejujuran tsb ada kalanya terasa pahit.
Kecurigaan GM yg berkata….“Jangan-jangan mala itu datang dari angka ”satu” .... sangat janggal dan “nekat” dihadapkan pada firman Allah dan ajaran Rasulullah yg tegas-tegas menyuruh kaum muslimin mengatakan “Qul huwallahu ahad”.
Saya tak habis pikir apakah pak GM itu muslim mencermati pernyataannya bhw Allah itu “melampaui ada dan tiada”—......dan kita harus bebas dari the logic of the One” dan….........“Setahu saya, ”nirbana” berarti ”tiada”. Bagi Tuhan, ada atau tak ada bukanlah persoalannya. Ia melampaui ”ada”, tak harus ”ada”, dan KITA, mengikuti kata-kata Rasulullah, ”aku tidak tahu”. ....
Kenapa pusing dengan 0 dan 1. Udah jelas 0 ya 0, satu ya satu, ada ya ada, tiada ya tiada. Yang muter-muter kata aja yang bikin pusing.
Konsep nirbana, memang tentang ketiadaan, kehampaan, jangan dicampur-campur sama konsep ketuhanan Islam.
Dalam Islam jelas Allah itu ada satu, udah nggak usah pusing2 muter-muter kata.
Dalam hal ini tidak perlu berpikir rumit2, berpikir saja sederhana, sudah jelas kok maknanya.
Mungkin pertanyaan Mas Gun tentang 0 dan 1, ada dan tiada itu perlu dibingkai dalam pencarian Unified Theory of Physics, yang sekarang, paling tidak pada tataran teori, sidah “menemukan” bahwa tidak hanya ada 4 dimensi (ruang dan waktu), tapi ada 11! Partikel-partikel sub-atomik adalah ‘karet-karet gelang” atau “string” yang saling mempengaruhi. Pencarian ini jauh dari selesai, tapi mungkin dari sini kita bisa belajar lebih jauh lagi tentang Tuhan ...
Belajar dari Tradisi Spiritual Lamaholot.
Saya lahir dan besar dalam masyarakat Lamaholot. Daerah yang dikenal sebagai daerah Lamaholot adalah daerah yang melingkupi tiga pulau kecil, yaitu Adonara, Lembata Solor dan daratan Flores Timur.
Masyarakat Lamaholot umumnya (99%) memiliki dua kepercayaan yang terdiri agama inport yaitu agama Katolik (Kristen) atau agama Islam dan kepercayaan asli masyarakat setempat.
Dalam banyak hal praktek spiritualitas masyarakat ini sangat erat dengan kehidupan sehari-hari sehingga sulit dipisahkan dari budaya masyarakat itu sehingga orang sering menyebutnya sebagai ‘ADAT’. Seperti saya, umumnya masyarakat Lamaholot menganut dua kepercayaan ini yang terkadang saling melengkapi satu sama lain.
Dalam tradisi spiritualitas masyarakat ini, Sang Pencipta sering dikenal dengan nama ALAP’E, yang artinya “Yang memiliki” atau kadang disebut
“Rera Wulan Tanah Ekan” yang sebenarnya lebih bermakna jagat raya. Jadi hampir tidak ada kata yang cocok untuk menamai Sang Ilahi.
Masyarakat Lamaholot tidak dapat menggunakan satu kata untuk menamai Allah/Tuhan/God. Dan hal ini dapat dilihat juga dalam tradisi masyarakat Indonesia yang lain seperti sering kita kenal ada sebutan Yang Maha Kuasa atau Sang Pencipta atau Yang Ilahi dll.
Mengapa bahasa Lamaholot tidak dapat menemukan satu kata untuk menamai Yang Maha Rahim? Karena Allah/Tuhan/God yang diyakini oleh masyarakat itu jauh melebih Imajinasi manusia, Terlalu kompleks untuk diwakili oleh satu kata saja. Satu kata tak mampu menjelaskan KeagunganNYA.
Selain itu dalam tradisi spiritualitas masyarakat ini juga tidak pernah mempersoalkan Allah/Tuhan/God sebagai Maha Esa atau Maha Tunggal. Karena KebesaranNYA melebihi paham bilangan yang dipakai dalam kehidupan manusia sehari-hari. Tidak ada persoalan apakah Allah itu satu atau seribu karena Allah tak berwujud sehingga tak dapat dihitung.Jadi tak ada masalah apakan Allah itu Esa atau tidak.
Hal lain yang perlu digarisbawahi dalam kepercayaan masyarakat ini adalah kepercayaan ini tak perna diberi nama seperti yang kita kenal dalam kepercayaan atau agama lain. Yang diutamakan adalah nilai ajarannya dan ritual yang meyertainya bukan namanya. Nama hanya suatu pengklasifikasian saja sehingga orang cendrung terkotak-kotak dalam identitas nama itu.
Dalam prakteknya sehari-hari, juga tidaklah seragam. Ada perbedaan ritual di sana-sini walau bermaksud sama. Walaupun ada perbedaan ini, orang tidak pernah mempersoalkan siapa yang lebih benar-sempurna dan siapa yang salah-tersesat. Karena masing-masing orang sangat sadar bahwa apa pun yang dilakukan dalam mengaplikasikan kepercayaannya adalah tanggungjawab pribadi masing-masing.
Ini bukan berati diskusi dimatikan dalam tradisi ini. Tidak! Bahkan dalam menjalankan suatu ritual tertentu membutuhkan waktu yang lama untuk menentukan cara yang terbaik dan sesuai dengan ajaran leluhur masyarakat ini. Semua keluarga diundang, tetua dilibatkan dalam serangkaian pertemuan sebelum menjalankan/melakukan suatu ceremoni.
Tidak seperti agama-agama besar di dunia ini yang mempunyai hari raya, kepercayaan masyarakat ini tak mengenal hari raya keagamaan yang mempertingati kelahiran, kematian pendirinya. Sebab tidak ada yang tahu siapa yang menyebarkan ajaran ini. Yang mereka tahu ajaran spiritual ini adalah meilik mereka yang diturunkan oleh leluhur mereka secara turun temurun.
Hila
Makanya jangan ribut dengan agama, mau yahudi kristen atau islam. Yang penting apakah pengertian tentang sesuatu yang benar itu dapat dilaksanakan. Agama manapun tidak membenarkan kekerasan, jadi tidak perlu disandingkan. Kalau ingin membahas suatu masalah lakukan dengan rasional dan lepaskan fanatisme.Jadi untuk semua umat manusia gunakan kemampuan berpikir yang sudah dianugerahkan Tuhan semaksimal mungkin, jadi jangan lagi ada kekerasan, terutama yang dilakukan atas nama agama ataupun Tuhan.Kita cukup berperang dalam forum diskusi saja.
Komentar Masuk (50)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)