Klipping,
02/03/2009

Mono

Oleh Goenawan Mohamad

Tapi juga benar, Sabda punya kesaktiannya sendiri setelah jadi suci; ia bisa jadi awal sebuah laku. Kekerasan tak meledak di sembarang kaum yang sedang mengubah sejarah. Ia lebih sering terjadi dalam sejarah Yahudi, Kristen, dan Islam: sejarah kepercayaan yang berpegang pada Sabda yang tertulis. Pada gilirannya kata-kata yang direkam beku dalam aksara itu menghendaki kesatuan tafsir.

02/03/2009 09:37 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (50)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 2 dari 3 halaman < 1 2 3 > 

salam,

saya kira apa yang disampaikan oleh bung GM sudah ada dalam sifat ALLAH yang 20. di mana salah satunya adalah “Laisa kamistlihi syaiun” atau tidak sama dengan yang lain.

Saya kira juga Tuhan berangkat dari ketiadaan atau nothingness. Meminjam istilah bung Chodjim, nothingness itu disebut “Suwung”. Cobalah kita belajar meniadakan diri kita sendiri dalam senyap. Insya allah ketemu apa yg kita cari mengenai suwung itu!

tabik,

roni

#21. Dikirim oleh roni adi  pada  06/03   10:50 AM

Esa dimaknai sebagai tunggal, bukan satu, apalagi angka 1.
karena 1 bisa terbagi, seperti 1 dibagi 2 sama dengan setengah.
1 dibagi 3 sama dengan sepertiga.
dan 1 ditambah 1 juga menjadi 2.
sedangkan esa adalah tunggal, tidak terbagi dan tidak bertambah dan tidak berkurang…
Allah itu wujud, dan juga ahad,
lam yalid wa lam yuulad, wa lam yakun lahu kufu’an (kufuwan?) ahad…

#22. Dikirim oleh abu kalam  pada  07/03   12:29 AM

Tuhan itu tak terdefinisikan
Tuhan itu tak terjelaskan.
Angka 1 adalah bagian dari dimensi bilangan
Dan karena Tuhan Maha tak terbatas oleh karenanya tak mungkin dapat dimasukkan didalam dimensi apapun, termasuk dimensi bilangan.
Tuhan kita sebut ‘Satu” karena keterbatasan pikiran kita untuk mendefinisikanNYA.
Jadi kita harus melampaui MIND,selama kita masih terjebak oleh MIND maka kita masih terikat oleh dualitas, bersih-kotor,atas-bawah,baik-buruk,ada dan tiada, sorga-neraka,satu,dua,tiga,nol, semuanya adalah produk MIND.
Dan Tuhan melampaui MIND.

#23. Dikirim oleh Dewayanto  pada  07/03   02:42 PM

Siapakah kita..sehingga kita mencoba mengertikan Tuhan, mencoba menghitung Dia :D

Kalau mau belajar mengenai ‘satu’ belajarlah pada perkawinan. Karena istri itu satu, coba kita tambah..maka hanya masalah yang datang.

Hampir semua masalah sosial datang karena mendua dalam pernikahan.

#24. Dikirim oleh gus gus  pada  08/03   05:35 PM

Dulu di akhir abad 19 dunia fisika disibukkan oleh wacana ttg eter, sesuatu yg diyakini ada utk menjelaskan fenomena fisika yg lain. Tetapi permasalahannya, penjelasan ttg eter tsb seperti tambal sulam, dijelaskan begini, maka timbul bolongnya di tempat lain, begitu seterusnya. Akhirnya muncul orang dari golongan yg sering dilaknat Quran mengatakan bahwa eter tidak ada, maka banyaklah fenomena fisika yg menjadi jelas dan mudah dipahami. Apakah tuhan itu eter ?

#25. Dikirim oleh purba  pada  09/03   07:45 AM

mengaku muslim berarti harus siap dengan konsekuensinya. diantara konsekuensinya adalah memberikan otoritas penafsiran kitab suci kepada yang mempunyai kapabilitas di bidangnya. orang tidak pernah meributkan mengapa teori ilmu pasti selalu merujuk kepada newton ataupun einstein. begitu pula seharusnya ketika referense adalah penjabaran teks-teks suci. termasuk di dalamnya kata “umi” dan “ahad” sudah lebih dari jelas kandungan maknanya sehingga tidak perlu diperdebatkan kembali.

#26. Dikirim oleh abinehanafi  pada  09/03   11:03 AM

Dari sekian komentar ternyata belum satupun ada yang melirik bilangan (simbol) tak-hingga (∞).

Dibanding bilangan 0, 1, 2, dst… dalam keterurutan (sequence), mnemonik tak-hingga lebih dekat dengan arti “Esa” atau “Nirbana” itu…

0, 1, 2, 3, 4, ..., 1000, ..., 100000000, ..., ∞ (mnemonik-tak-hingga).

Ketakhinggaan lebih dekat dengan prefix “Maha” dalam dialek agama samawi, juga lebih dekat dengan “Nirbana” atau ketiadaan/kehampaan. Mengingat simbol ketakhinggaan ditentang fisika materi (karena tidak ada materi tak hingga di ruang semesta ini) namun dibutuhkan sebagai acuan pendekatan dalam perhitungan kalkulus (yang tentunya diakui kebutuhan eksistensinya oleh fisikawan materialis itu)...

Dari sifat-sifat operasi-nya pun mnemonik/simbol tak-hingga cenderung tunggal, mandiri, dan tak-terbagikan… Mengingatkan kita cara kita memahami ke-Maha-an diri-Nya…

#27. Dikirim oleh Luxmile  pada  09/03   01:50 PM

TERLALU PANJANG DAN RUMIT HANYA UNTUK MEMBUKTIKAN ALLAH ITU ESA DALAM TULISAN GUNAWAN MUHAMMAD.TERLALU LAMA PULA USIA KITA GUNAKAN HANYA UNTUK MEMBUKTIKAN ALLAH ITU ESA.AMATLAH SAYANG PIKIRAN KITA HABISKAN UNTUK MEMBUKTIKAN ALLAH ITU ESA.SANGATLAH MUDAH BAGI ALLAH MENGHENTIKAN USIA KITA, MENGOSONGKAN PIKIRAN KITA.LIHATLAH DIRI KITA, ALAM RAYA MAKA AKAN KITA DAPATI KEBESARAN ILLAHI.
CUKUP SUDAH DGN SALING MENGHORMATI UMAT BERAGAMA LAIN MEYAKINI AGAMANYA.

#28. Dikirim oleh Mukhlis  pada  10/03   08:40 PM

masih banyak ilmu pengetahuan yang belum terungkap…itu saja yang dibahas. kalo bicara “Illahi” cukup iman kita aja yang bekerja, otak nggak akan mampu membahas.

#29. Dikirim oleh east  pada  11/03   09:05 AM

Memang, kita selalu berpikir bahwa apa yg kita pikirkan adalah suatu hal yg menurut kita paling benar. Ini karena pada saat itu ilmu yg diberikan Allah baru sampai hal tsb, jd belum terlalu jauh sesuai dengan yg harusnya dijelaskan, Jadinya wajar kan kalau ada orang yg berpendapat bahwa apa yg di jelaskannya kepada publik adalah sesuatu yg benar.
Makanya kalau orang tsb ngotot bahwa pendapatnyalah yg paling benar, ini perlu kita pertanyakan. Seperti tulisan Om GM yg mempertanyakan hal tsb tentang Muhammad saw.
Kalau saya sih tdk terpengaruh oleh tulisan tsb, karena saya yakin bahwa dia kan hanya mahluk Allah, jadi kalau dia sampai mempertanyakan hal hal yg menjurus menjauhi Islam, Kan dia sendiri yg menanggungnya walau sebenarnya bisa menyeret orang lain.
Dan, sekiranya dia berpendapat seperti itu, kan sdh seizin Allah sendiri, tinggal kitanya mau sependapat atu tdk sependapat dgn dia.
Dan… itu adalah cobaan buat kita terhadap yg kadang mengaku islam tapi cara pandangnya justru mempertanyakan islam. Alih alih menguatkan ummat agar makin beriman, ini mah justru seolah olah ragu akan islam.
Jadi lebih baik kita belajar Alquran itu secara kaffah, jangan terlalu gampang mengeluarkan pendapat yg kadang membingungkan orang.
Kekerasan… saya sangat tdk setuju,
Tapi kalau alasannya karena Allah, bukan riya apalagi karna ada orang yg dikultuskan. itu percuma saja.
Kan sdh tau semuanya.. tujuan hidup ini adalah mati, makanya ndak ada gunanya takut mati kalu utk ALLah.

#30. Dikirim oleh sandrian  pada  13/03   12:53 PM

SALAH AWAL BERPIKIR

Siapa bilang Musa beragama Yahudi.
Siapa bilang Isa beragama Kristen.
Bukankah agama Yahudi terbentuk setelah Bani Israel terusir dari tanah Palestina, setelah kematian Musa. Bukankah Kristen terbentuk jauh kemudian setelah Isa “diangkat” oleh Tuhan, setelah umat Nasrani bergabung dengan Kaisar Konstantin di Roma.

Kalau pola awal berpikir sudah menyelisihi sejarah, maka simpulan hasil pemikiran menjadi misleading…

Ketahuilah, Tuhan hanya satu yaitu Allah, yang mengutus Adam, Luth, Musa, Isa dan Muhammad, sebagai sekelompok Rasul untuk mengajari manusia tentang hakekat dan tugas hidup manusia di dunia ini.

#31. Dikirim oleh abu abiy  pada  19/03   04:07 AM

“manusia membicarakan sesuatu yang tidak dapat dibicarakan, memikirkan sesuatu yang tidak dapat dipikirkan, mencari yang tidak dapat dicari, lalu bingung mendapati ucapan, pikiran dan gagasannya berbeda dengan orang lain. Selanjutnya saling membenci,mencaci, itupun tak cukup, lalu menyakiti dan membinasakan yang lain. Setelah itu tersadar, kenapa begini hasilnya. Baru mereka tersadar bahwa sesuatu yang adalah Tuhan itu bukanlah sesuatu yang bisa dibicarakan, dipikirkan, atau dicari, cukup dirasakan…..kalau sudah bisa merasakan niscaya anda tidak akan lagi tertarik untuk berbicara, memikirkan, atau mencari sesuatu itu…

#32. Dikirim oleh ios  pada  19/03   09:04 AM

“aku tidak tahu.”

saya suka sekali kata itu, menggambarkan kejujuran dan kerendahan hati kita.
Saya seorang agnostik, yang karena keadaan sosial terpaksa harus tetap tampil sebagai muslim. Lahir di keluarga muslim, tumbuh dalam didikan Islam, saya tak bisa begitu saja menegecewakan mereka dengan mengaku keluar dari Islam.
Mulanya dari bertanya. Mengapa kamu beriman? Mengapa kamu berislam? Beranjak remaja, pertanyaan ini menuntun saya untuk menantang kemapanan iman saya. Namun alih-alih mempertanyakan iman sendiri, saya malah mepertanyakan iman orang lain untuk membuktikan iman saya lah yang terbaik. Saya berdebat dengan orang-orang kristen (karena bagi saya ketika itu, Hindu dan Buddha adalah penyembah berhala yang tak perlu diperhitungkan). Saya gali Alkitab mereka, saya kritik habis. Tertatih-tatih saya belajar bahasa Ibrani, Aramaik, dan Yunani demi menguasai teks-teks tiga agama dan memperkokoh iman saya.
Saya begitu puas, saya berhasil menelanjangi kelemahan iman mereka. Tapi orang-orang Kristen itu kemudian membuka mata saya pada pertanyaan awal saya yang terlupakan, mereka kini menantang iman saya. Mereka gali Quran saya, mereka kritik habis. Awalnya saya membela, membela, dan membela. Namun semakin lama saya semakin sadar bahwa argumen saya makin lemah dan akhirnya hanya bersembunyi di balik misteri iman. Salahkah jika saya sampai pada kesimpulan bahwa agama Islam ini juga salah?

Beranjak dewasa, saya menemukan satu pencerahan: sains. Padanya kini saya bersandar. Saya tak perlu lagi berbodoh ria berusaha mengilmiahkan dongeng Adam. Just be sceptical.
Tuhan? Saya tak tahu, maka saya tak perlu sok tahu tentang-Nya. Jika Dia memang ada, biarlah. Tuhan tahu akal saya terbatas untuk memahami-Nya, bukankah orang-orang beragama itu selalu berkata bahwa Tuhan tak akan menuntut di luar kemampuan kita? Jadi Dia pasti tak akan menuntut saya untuk memahami sesuatu yang di luar kemampuan akal saya, contohnya memahami Dia.

#33. Dikirim oleh syarif  pada  23/03   03:17 PM

@abu abiy

Benar katamu Isa (Yesus) sebenarnya tidak beragama. Agama Katolik (yang kemudian disebut Kriten) didirikan setelah Yesus wafat. Dugaan saya Yesus beragama Yahudi atau kalau tidak beragama Yahudi berarti dia tidak beragama alias kafir.

TETAPI apa perlu Yesus beragama? Jawabannya TIDAK. Karena Yesus sendiri yang mewartakan ajaran cinta kasihnya yang kemudian dijadikan sebagai sebuah agama. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah agama lebih penting atau ajaran Cinta kasih lebih penting? Saya pasti memilih ajarannya, bukan agama. Agama hanyalah nama saja. Tetapi ajarannya yang menuntun semua umat manusia di dunia ini untuk hidup damai dan sejahtera satu sama yang lain.

Hila

#34. Dikirim oleh hila  pada  24/03   01:03 PM

Hebat…!!! Sebuah puisi yang luar biasa dari Bp.Gunawan….

#35. Dikirim oleh ces_la_vie  pada  25/03   10:38 AM

Benar-benar Mas Goen ini menyampaikan makna dari Tuhan dan hal-hal yang tak selesai.
Tabik…!!

#36. Dikirim oleh reevan  pada  25/03   06:25 PM

Bung Syarif (#33),
Senang sekali saya menjumpai orang (ternyata ada) yg sama pengertiannya dengan saya. Menurut saya anda justru telah tahu siapa TUHAN itu!!
Salam kenal,
anto

#37. Dikirim oleh anto  pada  30/03   03:02 AM

Ass.Wr.Wb.
Ingatlah akan Firman ALLAH “Tafakkaru fii kholqillah Walaa tafakkaru fii dzaatillah” artinya kira2 “Selidiki / Pelajari semua ciptaan ALLAH tetapi jangan kau Selidiki dzat ALLAH”
Wassalaam

#38. Dikirim oleh Uchon  pada  02/04   09:48 AM

keyakinan sesunguhnya sangat personal.masing-masing orang punya cara bagaimana mengekpresikannya.Menunutut orang lain berfikiran dan berpendapat sepertidirinya sesunguhnya bukan sika yang bijak…..

#39. Dikirim oleh fuad  pada  02/04   10:15 AM

Kita diperintahhanya untuk memikirkan makhluk, buka meikirkan alkhaliq, karena jelas akal kita tidak akan menjangkaunya.

#40. Dikirim oleh ahmad  pada  02/04   10:30 AM
Halaman 2 dari 3 halaman < 1 2 3 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?