Mono
Oleh Goenawan Mohamad
Tapi juga benar, Sabda punya kesaktiannya sendiri setelah jadi suci; ia bisa jadi awal sebuah laku. Kekerasan tak meledak di sembarang kaum yang sedang mengubah sejarah. Ia lebih sering terjadi dalam sejarah Yahudi, Kristen, dan Islam: sejarah kepercayaan yang berpegang pada Sabda yang tertulis. Pada gilirannya kata-kata yang direkam beku dalam aksara itu menghendaki kesatuan tafsir.
Komentar
Penelitian Karen amstrong tentang sejarah agama-agam khususnya agama monoteis dalam kurun 4000 th sudah cukup memberikan jawaban atas persoalan kaum ortodoks. Agama Tuhan yang awlnya adl seperangkat nilai-nilai penghambaan dan kemanusiaan kini berubah menjadi satu institusi yang menyeramkan,menyuruh kita untuk saling bertengkar. Namun, di tangan pak Goenawan agama yang bapak berusaha mengangkat nilai-nilai kasih sayang dalam agama. tulisan bapak benar-benar mencerahkan.
Kalau cara pandang terhadap Tuhan itu berbeda,saya pikir wajar saja karena kita punya latar belakang dan pengaruh eksternal yang berbeda pula. Tinggal bagaimana kita ‘mau belajar’ untuk melihat dari perspektif orang lain. Saya belajar banyak dari Mas GM dalam merefleksikan keberagamaan saya, meski agama saya Protestan. Ada nilai-nilai ketuhanan yang sama yang bisa saya serap disana. Buat saya Tuhan itu ‘menembus batas’ agama, suku bangsa, ras, bahasa dan negara. Memang benar bahwa kita sebagai manusia memiliki keterbatasan dalam mengenal Sang Khalik, Tuhan pencipta semesta. Namun, DIA tak akan membiarkan kita beriman kepadaNYA dalam kondisi meraba-raba, buta dan picik. Ketika kita ingin mengenal DIA, DIA akan menunjukkan diriNYA dengan caraNYA. Bahkan ketika kita tak mencariNYA pun DIA malah menemukan kita yang cenderung tersesat dan terhilang. Tulisan Mas GM mencerahkan bagi saya. Terima kasih.
Salam sejahtera,
Dommy Waas
Allah juga sudah memperingatkan melalui firmannya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya didunia dan diakhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan”. (QS Al Ahzab:57).
tolong tunjukan saya tentang kebenaran. saya mohon jawab dengan hati. bukan dengan akal. tunjukan antara kejujuran dan ketakutan, kebodohan atau penghancur. dan antara manusia yang tahu kebenaran tapi ia menyembunyikannya atau memanfaatkannya.
aku melihatnya kog banyak konsep mungkin terpengaruh pandangan orientalis dsb.
-. pertama bahwa Musa bukan mengajarkan agama Yahudi, dulu mungkin belum ada nama agama Yahudi tapi pada hakekatnya semua Nabi itu mengajarkan keIslaman yaitu penyerahan diri, patuh, tunduk kepada Allah yg maha kuasa yg sifat2NYA ada dalam Asmaul Husna ( 99 nama baik/sifat Allah ).
-. Konsep bilangan Nol itu sangat berbeda dgn konsep sunya dalam budha, kalo sunya itu dipakai dalam proses komtemplasi atau pengosongan pikiran yang tidak ada kaitannya dgn nol sbg bilangan. konsep Nol untuk bilangan itu adalah temuan muslim pada zaman keemasan Islam yg mengambil dari suatu kata dalam ayat Quran surah Al zalzalah yaitu “ZARRO” yang berarti suatu bilangan yg teramat kecil, kemudian di latinized ( dikonversi ke latin ) menjadi “ZERO”.
dan memang kenyataannya penemu2, peletak dasar sciences dalam matematika, kimia dsb adalah muslim pada masa kejayaan Islam yg telah merubah dunia hingga maju spt sekarang ini.
manusia memang diberikan potensi ego yang cukup besar, sehingga ke akuan kita seringkali mengalahkan informasi dari yang maha benar, kebenaran manusia itu relatif,karena kita manusia itu serba terbatas, sehingga tidak mungkin mempunyai kebenaran absolut,tetapi kita seringkali berbuat seolah2 pemegang kebenaran absolut itu, sehingga kebenaran lain yang ada di sekitar kita kita haramkan adanya, semua yang berbeda dengan kebenaran yang kita yakini adalah salah, manusia lupa bahwa dia adalah makhluk yang terbatas, yang diberikan ilmu Tuhan sangat terbatas, tapi dengan ilmu yang sedikit itulah mereka merasa berhak menghakimi manusia lain, dan seolah2 dialah pemegang otoritas kebenaran itu.
Wassalam.
Mas Gun ini memang manusia yang mampu menggerakkan akal pembaca untuk lebih serius mencermati sikap keagamaan bahkan keyakinan kita. Saya yakin beliau punya tujuan mulya yang berangkat dari keprihatinannya melihat ummat terjebak pada kejumudan berfikir,oleh karena itu kita bersukur masih ada tokoh yang peduli tuk berijtihad, yang paling tidak mengkritisi keadaan ummat yang selalu kalah berkompetisi dengan ummat yang lain. Saya juga memimpikan bangsa Indonesia ini menjadi mercusuar Islam masa depan, kalau kita mengharap bangsa arab kayaknya jauh dari harapan wong ngusurusi persatuan diri sendiri aja tak pernah bisa. Trims mas Gun anda telah memberi semangat untuk kita lebih hidup.
Salam, inilah yang selalu diperdebatkan di dunia Barat, Kerancuan konsep ‘Tuhan’ telah mengakar di dunia barat dan sampai saat ini dan di masa yang akan datang kerancuan itu tidak akan pernah berujung, karena sejatinya merekalah yang menciptkan konsep tuhan, bukan atas bimbingan kitab suci mereka yang sebenarnya. kalau mereka rancu dengan konsep tuhan dalam agama mereka, mengapa kita harus ikut-ikutan?bukankah konsep Tuahan dalam Islam telah sempurna, dari aliran apapun, madzhab apapun, ummat Islam tidak pernah rancu dengan konsept Tuhan. semoga mas gunawan dibimbingan dan diberkahi hidayah oleh Allah, sehingga ia tidak meninggal dalam keadaan ‘tidak mengenal’ atau ‘masih mencari tuhan’. amien…
Marilah kita ramai-ramai berbalik arah dari mengukur kemulyaan dari sisi normatif ritual dan agamanya kepada amal sosialnya yaitu kepedulian memecahkan problem kemanusiaan, seperti kesenjangan kaya dan miskin, kekuasaan yang tidak berpihak pada yang tertindas,penistakan terhadap orang yg sedang terjerumus dalam lembah kemaksiatan agar berkehidupan kita sebagai khalifah Tuhan menjadi lebih berarti bagi kemanusiaan kita karena Tuhan sebenarnya tak butuh kita.
tulisan yang indah, sunya, tak tahu…
Komentar Masuk (50)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)