Sidney Jones: Motivasi Ideologis Aktivis JI Sangat Kuat
Oleh Redaksi
Pelaku terorisme memang tidak
mengenal paspor dan kantor imigrasi. Khilafah Nusantara yang dipancangkan
aktivis Jemaah Islamiyah (JI) itu sendiri mengandung gagasan transnasionalisme
yang mengabaikan nation-state. Totalitas komitmen ditentukan seberapa kuat
afinitas visi dan misi terhadap doktrin JI, bukan kewargaan aktivisnya. Tak
heran, bila aktivis JI tersebar di seluruh kawasan Asia Tenggara.
Komentar
Pertama-tama terimakasih untuk Ulil yang bekerja membuat wawancara ini, saya sangat suka membacanya. Selanjutnya saya ingin menyoal masalah hukuman mati, yang dianggap sebagian besar suara yang terdengar lewat media massa, sebagai hukuman setimpal terhadap pelaku teror swadaya itu.
Ideologi yang menjadi motivasi kuat para konspirator yang melantik diri untuk dengan caranya sendiri memerangi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya itu, kiranya sudah diberi nama oleh media masa sebagai ideologi jihad. Dalam ideologi jihad, kemenangan idaman adalah maut. Diujung maut menanti imbalan dari Allah atas hasil perjuangan sang mujahid. Nah, hukuman mati jika diterapkan kepada penganut ideologi jihad, justru menjadi Piala Kemenangan. Jika para pelaku kejahatan yang dimotivasi oleh ideologi jihad itu diberi hukuman mati, hukuman itu justru akan menghidupkan ideologinya.
Salam
N.B. Ideologi jihad tentu juga tidak tunggal, macam-macam bentuknya. Yang bikin gerah memang yang suka bikin bom secara rahasia dan meledakkan dengan keji, maupun yang sedikit lebih “kelas ayam”, petentang-petenteng cari penyakit, bawa pedang dan pentungan. Sayangnya perbuatan mereka yang spektakuler, sekaligus mengklaim makna kata jihad di konsumen media massa dunia, sebagai sesuatu yang nekad, membabi buta, mengerikan.
Menurut saya, salah satu sebab para teroris “senang” di Indonesia adalah tak cukup kuat penentangan masyarakat, terutama kelompok-kelompok Islam, terhadap mereka. Misalkan saja ketika AS mengebom Irak, bayangkan ada ribuan kader Partai Keadilan yang berdemonstrasi. Tapi apakah massa sebanyak itu pernah digerakkan untuk menentang praktek bom di negeri ini. Sepertinya ada rasa ambigu dari umat Islam, karena yang dituduh Jamaah Islamiyah, sesama Islam. Seorang teman saja, beragama Islam, bersikap “defense’, artinya mencoba mengkaitkan bom tersebut sebagai bikinan Amerika. Tak ada yang pasti, siapakah dalang dari teror bom ini, tetapi tidakkah kita bisa berpegang pada kemanusiaan?
Artinya, siapapun dalangnya, praktek tersebut merupakan kejahatan kemanusiaan yang harus ditentang. Perlawanan terhadap terorisme memang perlu dilakukan dari berbagai sendi, baik itu media yang tidak perlu lagi memberikan porsi terbesar pada berita terorisme karena akan menguntungkan mereka. Kemudian di tingkat masyarakat, perlu adanya gerakan demonstrasi besar-besaran untuk menentang praktek terorisme ini. Hal ini untuk memperlihatkan bagaimana sebenarnya sikap kita terhadap praktek teror tersebut. Seorang teman mengatakan bahwa sulit untuk melakukan demonstrasi karena musuhnya tidak jelas. Yang selama ini diketahui adalah Jamaah Islamiyah, sementara masyarakat bingung karena berarti yang mereka tentang adalah orang Islam sendiri. Dalam hati kecil, mungkin banyak pula yang membela tindakan teror ini. Tapi bukankah kita bisa berpikir lebih luas, bahwa penentangan ini ditujukan untuk setiap praktek kejahatan pada kemanusiaan. Kadang sesuatu yang tidak harus didemo… didemo….. sesuatu yang harus didemo malah tidak didemo… aneh. Contoh saja Aceh, tak ada satu pun demonstrasi besar mengecam perang di Aceh. Padahal kalau dikatakan sesama Islam, orang Aceh juga beragama Islam yang patut diperhatikan. Juga tak pernah suatu partai mengerahkan massa besar-besaran untuk menentang korupsi misalnya.
Saya yakin para teroris itu menemukan celahnya di Indonesia, karena kelabilan sikap masyarakat Indonesia, terutama Islam, sangat menguntungkan mereka. Atau mereka menilai bahwa kelabilan itu memberikan peluang untuk mengembangkan gerakan ini di Indonesia, karena memang ada pengkaderan di negeri ini. Ini sangat berbahaya.
Susah, Mbak Ade, ummat Islam disuruh demo besar menentang terorisme. Soalnya umat Islam sendiri sedang mengalami puncak teror yang sudah dialami selama bergenerasi kolonialisme. Pemakaian istilah teror secara sepihak oleh penguasa dunia juga membuat umat Islam mengalami dilema moral.
Keadaan yang dibangun oleh penguasa dunia sejalan dengan yang dicita-citakan oleh kelompok Osama Bin Laden, yakni pertentangan keras dan tegas antara Muslim melawan Kafir, Nasrani dan Yahudi. Ada ajaran amal ma’ruf nahi munkar, yang sering dintrepetasikan sebagai menyeru kepada kebaikan dan MEMBASMI YANG JAHAT!
Repotnya kalau bangsa Habieb Onta dengan teatrikal menggerakkan rombongan Bodrex dengan dukungan oknum baju ijo, dan secara sepihak menetapkan siapa-siapa yang JAHAT DAN HARUS DIBASMI DEMI TEGAKNYA AGAMA ALLAH! Saya tulis huruf besar maksudnya ini sambil ngotot, gitu lho Mbak Ade.
Sebetulnya buat kawan-kawan Muslim yang sulit cari pekerjaan yang menghasilkan nafkah yang mencukupi lahir dan batin, lalu frustrasi dan kepingin jihad dalam arti perang berdarah, ada baiknya merenungkan pidato perang Nabi Muhammad, damai Allah padanya, yang memberi batas-batas pada kekerasan perang itu: tak boleh melukai anakanak, perempuan, orang tua, ahli agama, gedung-gedung, dan tanaman.
Ini khan menarik untuk dikembangkan seperti dulu para bhiksu Shaolin mengembangkan ilmu perang yang sesuai dengan ajaran non violence Budha, sekaligus bisa menjamin kelangsungan hidup mereka sebagai komunitas agama. Jadinya sampai detik ini di seluruh dunia orang tua muda dan bayi bisa menikmati Jacky Chen ataupun Jet Li. Susahnya, mana ada fundamentalis kreatif?
Jadi, mari kita dukung perjuangan ahli-ahli agama Islam di JIL yang meski dihadiahi fatwa mati oleh orang-orang yang mengaku lebih ahli agama, ternyata jauh lebih berani, lebih bersemangat jihad, lebih Islami, daripada para penghujat JIL yang merasa perlu mengutuk berombongan dengan nama Forum Ulama Ummat segala. Padahal Ulil maju sorangan bae, dengan atas nama dirinya sendiri. Tetapi dia diberi kekuatan karena berpegang teguh pada tali Allah. Nabi sendiri dulu juga mengalami seperti Ulil, dikeroyok Forum Ulama Ummat Quraisy, dan lewat militansi beliau, Khadijah, dan Ali, akhirnya, dia satukan jazirah Arab yang keras (lahir jebret sudah kelilipen pasir panas) dan berdarah (budaya rampok merampok, jarah dan perbudak dan pembunuhan bayi wanita) dalam satu ummah yang damai.
Jadi, nggak usah demo besar menentang terrorisme, mendingan kita semua memperteguh militansi kita. George Bush, Tony Blair, Bin Laden, Hambali, Amrozi, dan Mbah Ba’asyir, semuanya nggatheli, semuanya kebanyakan masturbasi. Nyatanya semua seperti orang kafir, memuja angan-angannya sendiri tentang dirinya sendiri, dan semuanya berbuat yang benar meski itu nyatanyata merusak, gak pernah agak salah biarpun sedikit. Kita doakan mereka sadar atau cepat-cepat tambah gila sekalian, biar masuk tivi CNN mereka seperti raja dalam kisah baju baru sang kaisar. Setuju?
Atau kita doakan George Bush segera keslek pretzel lagi, dan kalau iya ketolong, mbok ketolongnya rada telat sedikit saja. Bercanda lho ini, jangan dilapurin FBI yah? ... Ide lain, bagaimana kalau temen-temen fundamentalis kita ajak nyari Osama Bin Laden? Hadiahnya buwanyak lho, kalau dikelola dengan baik, pasti cukup untuk mengentaskan kemiskinan di Jawa.
Salam dari London. Bram
——-
Komentar Masuk (3)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)