Tokoh,
11/01/2004

Muhammad Ibn Abd al-Wahab (1703-1791)

Oleh Luthfi Assyaukanie

Muhammad Ibn Abd al-Wahab lahir di Najd, salah satu kota penting dalam sejarah Hijaz Arab modern, pada tahun 1703. Masa kecilnya dilewati di kota itu. Ia belajar ilmu-ilmu agama dan menyukai kajian-kajian Al-Qur’an dan Hadits. Ia memperdalam ilmu-ilmu Al-Qur’an di Madinah, Mekah, dan beberapa kota penting di Arab Saudi. Dalam usia belajarnya, Ibn Abd al-Wahab juga sempat berkunjung ke beberapa negara di luar Arab Saudi, termasuk ke Iran, di mana dia melihat adanya praktik-praktik keagamaan yang menurutnya kemudian dianggap menyimpang.

11/01/2004 19:35 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (58)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 2 dari 3 halaman < 1 2 3 > 

Assalamuallaikum wr.wb ini pertama kali saya mengunjungi situs ini,saya adalah seorang mualaf yang belum begitu mengerti tentang pengetahuan islam,yang ingin saya tanyakan disini adalah sejarah dari ka’bah,mengapa ka’bah dapat dijadikan kiblat bagi umat islam sedunia? dan siapakah yang membangun ka’bah? pernah saya dengar bahwa ka’bah pada zaman dahulu merupakan tempat pemujaan bagi penyembah berhala,benarkah demikian?demikian pertanyaan dari saya, mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan. Wassalamuallaikum wr.wb

#21. Dikirim oleh Bonnie Herawan  pada  12/01   07:01 PM

Muhammad bin Abdil Wahhab adalah bukan seorang ulama karena ajarannya jauh bertentangan dengan nilai2 Alquran dan hadist juga bertentangan dengan aqidah Ahlussunnah waljamaah yang diyakini seluruh umat Islam dari masa Rasulullah hinnga akhir zaman bahkan saudaranyasendiri Syaikh Sulaiman bin Abdil Wahhab mengarang dua kitab yang berisikan bantahan habis2an terhadapnya kemudian Syaikh Ahmad Zaini Dahlan menyebutkan dalam kitabnya tarikh al islamiyah tentang keadaan muhammad bin abdil wahhab dan aqidahnya yang sangat nyeleneh wahhabiyyah berani mengkafirkan orang yang bertawassul kepada nabi atau wali yang padahal seluruh ulama islam bersepakat tentang kebolehah tawassul berdasarkan hadits sohih yang diriwayatkan oleh imron ibn hushoin kemudian ibn taimiah sendiri panutan sekte wahhabi menyatakan bahwa ,menyebut atau memanggil ya muhammad saat seseorang dalam keadaan sakit diperbolehkan dan dianjurkan sbgmn ia katakan dlm kitab alkalimuttoyyib jd wahhabi mengikuti orang kafir karna mereka mengkafirkan ibn taimiyyah yg membolehkan twassul. ngetos ora men

#22. Dikirim oleh thomi  pada  02/02   06:02 PM

Islam itu sudah sempurna.. Lihat ayat terakhir yang diturunkan Allah kepada Muhammad. Tidak perlu dan tidak berhak siapapun untuk menambah atau menguranginya.

Muhammad bin Abdul Wahab hanyalah seorang yang berusaha memurnikan kembali ajaran islam.. yang saat itu sudah penuh dengan praktek diluar sumber asli (Al Qur’an dan Al Hadits). Beliau berusaha mengikuti jalannya para Salaful Ummah.. Adapun para penentangnya takut jika faham yang selama itu diikutinya hancur.. Sadarlah..

#23. Dikirim oleh Khoiril Fuad  pada  28/04   04:04 AM

Assalamu’alaikum WarahmatullohiWabrakatuh. Saya suka dengan kajian-kajian daripada ustadz-ustadz dengan pemahaman salafus shalih. Tapi selama saya ikut kajian,saya belum pernah tahu tentang Wahabi. Apakah Wahabi itu sama dengan Salafy? Mohon bimbingannya…

#24. Dikirim oleh Tri Sumartono  pada  31/12   08:01 PM

jika seorang mengatakan menyimpang, perlu diwaspadai. apakah berdasarkan nafsu atau tidak?  jika bertentangan dengan nash, barulah itu benar. lagi pula imam muhammad bin abdul wahab, belum sampai ketingkat mujtahid, untuk apa berfatwa.
——-

#25. Dikirim oleh rochan  pada  04/02   05:02 PM

Allah Azza wajalla telah menghinakan umat Islam ini karena mereka tidak lagi melaksanakan Islam secara murni,di qur’an dah jelas.danyak kesyirikan, bid’ah,khurafat, dsbnya yang lebih menjauhkan diri dari bertauhid murni.banyak yang mimpi siang bolong sekarang ini, Islam tak akan Jaya selama masih seperti ini,ingat ketika perang UHUD, hanya karena menyelisihi perintah rasulullah bisa kalah. apalagi menyelisihi perintah Allah..
allahu ta’ala a’lam

#26. Dikirim oleh abu Abian  pada  29/01   09:36 PM

tulisan panjang tapi maaf, apakah anda m isa ansori membaca buku abdullah Ibn Wahab keseluruhan atau hanya mengutip? satu contoh kitabut tauhid,qaalallahu, qaalarasuulullahu.. dalam agama itu ya begitu.hindarkanlah ra’yu dan merujuklah pada kitab2 yang mu’tabar.
banyak sekali buku2 yang diterjemahkan artinya sangat jauh dari maksud.

#27. Dikirim oleh abu abian  pada  29/01   09:50 PM

assalamualaikum…..
apakah semua bid’ah itu sesat?
kalo seseorang dilarang bertaqlid, sedangkan orang itu belum memahami betul al-qur’an dan hadits. apakah orang itu juga dilrang untuk betaqlid?
padahal syarat-syarat untuk menjadi seorang mujtahid sangat banyak sekali….
terus untuk para pengikut muhammad bin abd.wahab yang mengikuti semua ajaranya dinamakan apa?
bukankah mereka juga “bertaqlid” dengan muhammad bin abd.wahab???

#28. Dikirim oleh riza  pada  02/02   09:27 PM

Assalamu’alaikum

Dalam menilai kebenaran agama seseorang harusnya kita nilai dengan Al-Qur’an dan As sunnah yang shohih. selain itu akan menjadi rancu dan banyak pemikiran atau penafsiran terhadap ayat ayat Al Qur-an dan As sunnah jika kita tafsirkan/artikan dengan akal fikiran kita, bahkan yang awalnya satu golongan akan menjadi berpecah belah karena beda penafsiran.

Oleh karena itu kita memerlukan rujukan dalam menafsirkan/memahami ayat ayat Al Qur-an dan Hadist. rujukan yang paling utama adalah menafsirkan/memahami ayat ayat Al Qur-an dan Hadist dengan apa yang telah di pahami oleh sahabat Rasullulah Shalallahu Alaihi Wassalam, karena merekalah yang pertama kali menerima dan menyaksikan secara langsung Al Qur’an diturunkan, mereka mengetahui sebab sebab diturunkan ayat ayat tsb, serta dalam hal pengamalan peintah perintah Allah Mereka lebih Fasih(tanpa diragukan kebenarannya) karena jika salah pasti Allah menegurnya melalui Rasul-Nya.

Sedangkan kita yang sudah jauh dari masa Rasulullah, apakah kita berhak menafsirkan ayat Al Qur’an atau Hadist menggunakan akal tanpa ada rujukan dari pemahaman sahabat?
jika ada hak, apakah kita selalu benar dalam menafsirkan ayat ayat dan hadist tersebut?
dengan parameter apakah kebenaran itu?
apakah dengan bisikan hati??
bukankah Syaithan juga membisikan ke dalam hati hati manusia??
mungkin dengan pendekatan atau melihat pengalaman atau mengambil dari agama lain yang di rasa itu baik, ingat lah wahai saudaraku muslim, syarat kita masuk islam adalah bersumpah dengan mengucapkan 2 kalimat syahadat yang artinya “Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa muhammad adalah Hamba dan utusan Allah”. kalau pendekatan dengan ayat ayat Allah dan Hadist Rasulullah serta pemahaman sahabat itulah yang benar. tapi jika pendekatan dengan selain itu, apakah tidak membatalkan syahadat kita?apakah kita masih dalam keadaan muslim jika sahadat kita batal?apakah kita belum mengetahui bahwa syahadat juga bisa batal sepeti batalnya wudlu dalam sholat?apalagi mengambil dari agama selain Islam.bukankah kita bersaksi/bersumpah/meyakini bahwa hanya dari Rasulullah lah yang ajarannya kita ambil?mungkin jadi pertanyaan, bukannya kita menjadi taklid kepada Rasulullah?saya jawab “itulah yang haq dan wajib”.jika kita tidak taklid, ajaran agama apa yang kita anut?bukankah islam dibawa Rasulullah?

oleh karena itu kita menilai seseorang bukan dari ucapan dan tindakannya tapi dari dalil yang dia bawa, apakah telah shahih dari Rasulullah dengan pemahaman sahabat dan orang orang yang mengikuti cara berfikir/penafsiran para sahabat. jika terdapat kesalahan tindakan akan tetapi dia masih memahami agama itu dengan haq(dengan pemahaman sahabat)maka ketahuilah. tiada manusia yang tidak terjaga kesalahannya kecuali Rasulullah, karena Allah selalu menjaganya dalam setiap kesalahan. oleh karena itu, betul lah ucapan Imam Syafi’i yang secara makna “jangan mengambil pendapatku jika bertentangan dengan Hadist yang Shahih”, perkataan ini juga di ucapkan oleh Imam imam yang lain.
oleh karena itu mari kita koreksi dari diri kita sendiri, apakah kita sudah benar dalam berpendapat, apakah pendapat kita sudah didasari Al Ilmu(Al Qur’an dan sunnah dengan pemahaman para sahabat), dan bagi yang telah ber Ilmu maka wajib Bertakwa dengan Haq dan bersabar dalam menjalankannya.Ingatlah Hadist Rasulullah yang dibawakan Hudzaifah Ibn Yaman yang maknanya “kelak akan muncul da’i - da’i yang membawa ke neraka, mereka sesat dan menyesatkan”. dan Ingatlah bahwa tujuan di ciptakan manusia hanya untuk beribadah kepada Allah saja, bukan beribadah kepada Allah beserta Tuhan lain.

Semoga Allah selalu memberikan tafik dan hidayahnya kepada kita yang benar benar ingin melihat Wajahnya di akhirat kelak.

wasalamu’alaikum

#29. Dikirim oleh abu naufal  pada  28/02   06:24 AM

ass…...
islam itu hanya satu, mari kita bersatu, jangan mau dipecah-belah sama orang yang membenci Islam. seharusnya, dalam islam itu hanya ada satu aqidah/ keyakinan yang satu alias sama. jika aqidah sudah sama,berarti satu aqidah. tidak ada istilah islam fundamental, islam radikal, islam liberal, semuanya engga ada. yang ada hanya ummatan wahidatan. dalam sirrah nabawiyah, perpecahan bukan dimjulai/ dilandasi aqidah tetapi masalah politik , mari bersatu ...........................
mari berusaha untuk bersatuuuuuuuuuuuuuuu,

#30. Dikirim oleh sudarmanto  pada  25/03   06:18 AM

sepertinya yang harus di tulis panjang lebar, kenapa abdurrohman bin abdul wahab yang menjadi icon wahabi tidak tidak setuju dengan perilaku ssebagin umat islam yang musrik. menurut beliau musrik itu apa?, syirik itu apa?, baik dengan dalil nas dan akal, sehingga yang mengomentari juga berdasarkan ilmu yang di pahami masing-masing.

Kita sedang belajar/diskusi sejarah pemikiran tokoh atau pemikiran tokoh itu sendiri?

#31. Dikirim oleh ali  pada  23/07   06:22 PM

Brother Mustafa parrots the well-sung Sufi song of anti-Wahhabism. It must be odd to define yourself always in terms of “not like so an so”. Puerile nonsense like this must put many off what might otherwise hold some appeal for someone.

Sufi antipathy to the Wahhabis dates back to the origins of the Wahhabi state in the 1750s and to Abdul Wahhab’s not infrequent denunciations of shirk. These were not directed against the Sufis so much as they were directed against the traditional practices of the Arabs of Nejd, at that time. Many are documented in Kitab al-Tawhid, an interesting document of social history, among other things. Dhu Anwat, the “wishing tree” denounced in the Quran, is one of these practices, as is the divining with bones and other anthropological curiosities.

In terms of political structures, the Wahhabis challenged Sufi notions of loyalty and obedience to the Shaykh, since these mitigated against their own interests of loyalty to the “state”, as constructed as the condominium of the Sultan and the Mufti.

In this, again, we have a traditional Muslim conception of the state from which the Sufis, not the Wahhabis, typically deviate by according power to a religious leader and demanding total obedience to him. If anything, Abdul Wahhab restored the traditional partnership of secular head of government with a representative of the ulema: a structure established by the Rightly Guided caliphs. This had been perverted across the centuries as Muslim rulers gradually eroded the power of the religious leadership.

This is easy to see in modern Saudi Arabia, which consistently fails the Islamist litmus test for an “Islamic state” while simultaneously qualifying as a “theocracy” in West-centered analyses based on a liberal-secularist ideal. On this continuum at least, the Wahhabi state, as represented by Saudi Arabia, is far from either extreme.

Contrary to obsessive Sufi cant, Wahhabis do not declare takfir on the generality of the Muslims. If you read Sufi - Wahhabi polemics, and this has been going on for more than 250 years, you will see who indulges in takfir and who does not. The Wahhabis, and their modern descendants, have been very active militating against this disease, which they always ascribe to khawarij.

#32. Dikirim oleh Abumarwan  pada  06/09   04:08 AM

Assalaamu ‘alaikum warohmatullaahi wabarokatuh
Untuk Sdr Abdullah bin Umar
1.Apa dalilnya bahwa orang Australia itu mendakwa bahwa aliran Wahabi itu indentik dengan teroris? Bukankan pekerjaan terror itu bisa dilakukan oleh siapa saja? Masih ingatkah anda ketika terjadi bentrok Irlandia Utara dengan Inggeris, siapakah yang yang membuat keonaran dengan melakukan teror dan penghancuran gedung2 strategis? Apakah dilakukan oleh orang wahabi? Atau orang Islam?
2. Ketika terjadi perang dunia ke II dimana terjadi perang di Pacific yang melakukan bunuh diri (kamikaze) dengan memasukkan pesawat tempurnya ke cerobong asap kapal induk sekutu itu dilakukan oleh orang Islam?
3.Apakah tawasul kepada orang yang sudah mati, tahlilan 3,7,40,100, 1000 hari setelah kematian, ziarah kubur dengan meminta kepada yang ada dalam kubur, mauludan , isra’ mikraj itu ada dalil (shahih) yang mendukung? Paling paling anda mengambil ayat surat Al Maaidah (5 : 35 ) yang anda takwilkan sendiri tanpa ada penafsiran dari ayat maupun hadist lain yang mendukung.
4.Bukankah tawasul hanya dibolehkan dengan :
a.Nama nama Allah (Asmaul Husna)
b.Amal Ibadah yang ikhlas karena Allah (Lihat hadist Bukhori Muslim yang menceritakan 3 orang yang terkurung di gua) Kitab Riyadhus Sholihin bab Ikhlas.
c.Orang sholeh yang masih hidup, bukan orang sholeh yang sudah mati, ini dilakukan oleh Umar Ibn Khattab RA ketika pada masa kemarau panjang dimana hujan tidak turun. Umar RA pergi ke paman Rasulullah Abbas Ibn Abdul Muthalib RA untuk berdo’a bersamanya agar Allah SWT menurunkan hujan, bukan pergi ke kuburnya Rasulullah SAWminta tolong kepada Rasulullah yang sudah wafat.
5.Tidak ada yang melarang anda tahlilan (malah diperintahkan) tapi jangan dikaitkan tahlilan itu dengan telah meninggalnya seseorang 3 hari, 7 hari dst, kebanyakan kita datang ke tahlilan untuk mendapatkan makanan/amplop, kalau makanannya /amplopnya kurang biasanya hari ke 7 dst akan sepi, bukankan memperingati hari kematian 3,7,40 hari dst merupakan ajaran/ibadah agama lain.
6.Tidak ada yang melarang anda ziarah kubur, malah dianjurkan untuk kita selalu ingat akan mati, yang dilarang anda meminta barokah (tabaruk) kepada orang yang sudah mati, minta tolong kepada orang yang sudah mati dan kita boleh mendo’akan orang yang sudah mati (orang seiman).
7.Tidak ada dalil yang shohih harus merayakan maulud nabi karena Rasulullah SAW tidak pernah melaksanakannya dan tidak ada perintah dari Rasulullah SAW untuk melaksanakannya. Kalau anda mengatakan tidak ada larangan maka rasulullah bersabda : Barang siapa yang melakukan suatu amalan bukan dari urusan / perintah kami, maka amalan itu tertolak (HR Muslim). Tanda bukti kita cinta kepada Rasulullah SAW, hidupkan sunnahnya.
8.Masalah ibadah itu pada dasarnya haram kecuali ada contoh/perintah dari Allah dan rasulNya, kalau masalah mu’amalah pada dasarnya boleh kecuali ada larangan dari Allah dan rasulnya. Apakah contoh mu’amalah yang dilarang? Berdagang dengan mengurangi timbangan, membuat lukisan makhluk yang bernyawa, membuat patung dsb.

#33. Dikirim oleh abdullah  pada  17/09   08:21 AM

Assalaamu ‘alaikum warohmatullaahi wabarokatuh. Sangat ironis apabila Muhammad Ibn Abdul Wahab dikatakan sebagai penyebar bid’ah, padahal yang beribadah tidak sesuai dengan contoh dari rasulullah itulah yang dikatakan bid’ah. Muhammad ibn Abdul Wahab adalah tokoh yang membawa pemurnian Tauhid akan ajaran Islam. Rasulullah bersabda:Sebaik baik perkataan adalah kitabullah (Al Qur’an), sebaik baik arahan adalah arahan Muhammad SAW, dan seburuk buruk perkara adalah yang diada adakan dan setiap yang diada adakan adala bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan ada dalam neraka (HR Bukhori Muslim). Ibadah2 yang dilakukan oleh kaum syi’ah dan kaum sufi serta sempalannya banyak sekali yang tidak didasarkan dari hadist rasulullah SAW, dengan kata lain mereka adalah pelaku bid’ah. Pelaku bid’ah sangat sulit untuk dibawa kepada ajaran tauhid. Coba kalau kita mengajak orang yang sering melakukan tabaruk (meminta berkah) kepada kuburan untuk tidak melakukan itu lagi, pasti mereka marah dan mereka berkeyakinan bahwa meminta kepada kuburan itu adalah benar dan mereka mengeluarkan dalil dengan hadist palsu yang dibuat oleh orang orang yahudi.

#34. Dikirim oleh abdullah  pada  17/09   08:51 AM

assalamu`alaikum wr.wb.
ustadz, ana kurang mengetahui/memahami berbagai pemikiran tokoh-tokoh pemurnian islam seperti muhammad ibn abdul wahab misalnya, namun dari tulisan ustadz saya ingin mengomentari bahwa dalam gerakannya muhammad ibn abdul wahab menolak menghormati para ulama secara berlebihan, sebenarnya sejauh mana batas berlebihan yang dimaksud dari pergerakan al-muwahhidun tersebut? dan bagaimana pula menurut ustadz? sebab Allah sendirimenjelaskan dala Al-Qur`an surat Aj-Jariyat ayat 11, bahwa Allah mengangkat derajat orang-orang yang berilmu, apa berlebihan jika kita menghormati mereka dengan mencium tangannya misalnya!!!! bahkan dalam sebuah hadits saya temukan nabi menghukum sunnah mencium tangan orang yang soleh, bukankah para ulama itu orang-orang yang soleh?????

#35. Dikirim oleh aliamsah ritonga  pada  12/11   02:47 PM

Assalaamu ‘alaikum warohmatullaahi wabarokatuh, banyak sekali amalan umat islam di Indonesia ini yang menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW. Kita diperintahkan Allah SWT untuk bersalawat kepada Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah SAW ditanya oleh sahabat : Ya Rasulullah bagaimana caranya kami bersalawat kepadamu? Rasulullah SAW menjawab bahwa cara bersolawat kepada beliau adalah persis sama dengan solawat yang dibaca pada tasyahud akhir dalam sholat, Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad dst, sampai pada hamidum majiid. Petanyaannya adalah belakangan ini timbul berbagai jenis sholawat, ada solawat badar, ada solawat nariah dan ironisnya ada sholawat burdah yang diperoleh dari mimpi. Kebanyakan solawat tersebut menyanjung nyanjung Rasulullah SAW sehingga menyamakan sifat Rasulullah SAW sama dengan sifat Allah SWT yang pasti mengarah kepada Syirik, na’uzubillah. Kebanyakan ummat islam ikut saja apa kata gurunya atau habibnya tanpa mengerti apa yang dia ucapkan. Contoh : Ya Robbi bil musthofa balligh makasidana. bil mustofha disini maksudnya dengan perantaraan Muhammad. Mengapa tidak langsung minta kepada Allah SWT. FirmanNYA : Mintalah kepadaKU, niscaya aku kabulkan, kenapa musti melalui Muhammad SAW.

#36. Dikirim oleh abdullah  pada  25/11   08:03 AM

Kalau bukan karena kekuasaan kerajaan keluarga Saud, aliran wahhabi mungkin sudah bubar atau paling tidak pudar. Namun ini memang ujian dari Allah. Di setiap kurun dan masa, ada saja aliran sempalan yang mengobok-obok ketenangan Ummat. Kita berbaik sangka kepada Allah, bisa jadi ini merupakan tuntunan agar kita selalu waspada dan istiqamah. Beredarnya buku-buku terjemahan ajaran initidak lebih dari proyek bercadar Agama. Karenanya mereka lebih senang menumpahkan darah atau mencetak buku daripada diskusi ilmiyah dengan Ummat Islam. para Ulama mereka—sepengetahuan kami—tidak alim alim amat, masih di bawah Quraish Shihab atau Ulama Ulama lain di Indonesia. sayang sekali, mata mereka hanya sebelah kiri yang terbuka, itu pun menggunakan kaca mata kuda. Hasbunallah !!!.

#37. Dikirim oleh syarif rahmat  pada  26/11   02:53 AM

Assalamu ‘alaikum Warohmatullaahi wabarokatuh, siapapun yang menyanjung Quraish Shihab sebagai orang yang hebat? Untuk beberapa hal memang dia hebat, tapi pernyataan beliau bahwa jilbab tidak wajib, itu membuat ummat bertanya tanya : Sebegitu beraninya beliau menentang perintah Allah SWT dengan penafsiran hanya berdasarkan Ra’yu. Kalau memang belum dapat menjalankan perintah Allah dengan baik (karena sesuatu hal, ataupun karena politik) , lebih baik kita banyak banyak beristighfar memohon ampun kepada Allah karena kita belum mampu melaksanakannya (mudah2an Allah ampunkan kita), daripada kita membuat statement atau mencari dalil dalil untuk pembenaran tindakan kita, sehingga membingungkan ummat.Coba kita lihat tulisan pada karya beliau yang berjudul “Wawasan Al Qur’an” disana beliau menulis yang dimaksug dengan ‘ahli kitab”. Beliau mengatakan bahwa Al Qur’an banyak menghujat Yahudi, karena Yahudi pada waktu tersebut yang menguasai ekonomi dan politik. Na’udzubillah, bukankah Yahudi telah berkali kali melanggar perintah Allah SWT?

#38. Dikirim oleh Abdullah  pada  30/11   02:31 AM

Wa’alaikum salam wrwb, Untuk Saudara Bonnie Herawan, muallaf, mudah2an anda diberkahi Allah SWT, saya akan mencoba menjawab pertanyyan Saudara. Ka’bah dibangun oleh Nabi Allah Ibrahim AS bersama anaknya nabi Ismail AS. Sebagaimana kita ketahui bahwa nabi Ibrahim dikenal sebagai bapaknya tauhid (meng Esa kan Allah) dan bapak para nabi.Nabi Ibrahim AS sangat menentang kesyirikan dan itulah inti dari ajaran Allah SWT yang diwahyukan kepada seluruh nabi dan rasul. Dari zaman nabi Adam AS s/d nabi Muhammad SAW, Allah SWT mewahyukan: “Sembahlah Allah (saja)dan janganlah kalian mempersekutukanNya”. Namun setelah para nabi dan rasul itu wafat, banyak sekali orang yang menyelewengkannya, kemudian Allah SWT menurunkan nabi/rasul kembali untuk meluruskannya kembali menjadi ajaran Tauhid, sampai dengan nabi terakhir Muhammad SAW. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, tetap saja orang akan berusaha menyelewengkan ajaran tauhid tersebut, namun Allah tidak lagi menurunkan nabi dan rasul setelah Muhammad SAW, tetapi Allah menurunkan orang orang yang dipilihNya untuk memurnikan ajaran Islam tersebut. Mengenai Ka’bah itu sendiri terdiri dari batu yang tidak memberikan manfa’at maupun yang dapat mendatangkan mudharat. Ka’bah merupakan arah penyatuan ummat Islam dalam beribadah kepada Allah SWT dan bukan yang disembah oleh Ummat Islam. Ka’bah pada zaman dahulu sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, merupakan tempat penyembahan (thawaf)yang dilakukan oleh orang2 musyrik yang dilakukan dengan telanjang bulat (lihat hadist shaheh Bukhari, bab tentang hajji). Orang musyrik tersebut merupakan pengikut dari orang2 yang mencoba menyimpangkan ajaran tauhid yang dibawa nabi dan rasul.Kemudian Allah SWT mengutus nabi Muhammad SAW untuk meluruskan ajaranNYA, seperti yang telah saya kemukakan diatas. Kita tidak usah heran bahwa ajaran (kepercayaan) tentang mengelilingi suatu tempat dengan telanjang bulat pada malam malam tertentu itu, juga masih ada sampai sekarang dan itu sangat diyakini oleh pengikutnya. Ka’bah itu juga sebelum nabi Muhammad SAW diutus merupakan tempat menaruh patung patung sebelum dihancurkan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabat pada waktu fathu Makkah.Mudah2an tulisan ini dimuat.Wallaahu a’laam. Wassalamu ‘alaikum wrwb

#39. Dikirim oleh Abdullah  pada  30/11   03:12 AM

ga semua orang bisa menerima kebenaran tapi yang paling berbahaya adalah merasa paling benar

#40. Dikirim oleh malam yang indah  pada  03/01   08:01 PM
Halaman 2 dari 3 halaman < 1 2 3 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?