Editorial
21/04/2009

Multikulturalisme Kembar dan Masalah Buddha Bar

Oleh Ulil Abshar Abdalla

Saya ingin mengembangkan lebih jauh ide Stepan ini dengan mengemukakan ide tantang “multikulturalisme kembar”. Apa yg saya maksud dengan ide itu adalah bahwa dalam masyarakat yang plural, pengertian harus datang dari dua belah pihak sekaligus—dari pihak “dalam” agama sendiri, tetapi juga dari pihak di “luar” agama.

21/04/2009 19:09 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (37)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 >

Faktor yang terpenting yang harus kita miliki ketika kita berdiskusi tentang agama adalah kesiapan untuk menerima cara pandang yang berbeda. Al Qur’an sebagai wahyu Allah adalah mutlak kebenarannya,dan semua orang faham itu. Sedang interprestasi seseorang terhadap makna wahyu, -bagaimanapun alimnya- tentulah sebuah penafsiran yang mungkin salah mungkin benar. Jadi bersifat nisbi. Jika ini sudah disadari bersama, maka wacana apapun tenang agama akan diterima, baik dalam kontek setuju maupun kurang setuju, atau tidak setuju sama sekali. Sedidk -tidaknya tidak muncul “penyesatan” satu pemikiran terhadap pemikiran orang lain. Termasuk di dalamnya diskursus tentang multikulturalisme kembar yang digagas oleh kang Ulul.....

#1. Dikirim oleh M. Fuad  pada  22/04   04:04 PM

Saya melihat disinilah permasalahannya, karena sebagai islam politik, para politisi agama yang umumnya sama saja dengan politisi sekuler akan mengambil setiap momentum untuk tujuan-tujuan politisnya. Contoh pada kasus tabloid monitor, Arifin Budiman menulis di Tempo bahwa tabloid monitor adalah korban dari gerakan politik islam yang keberadaannya kurang mendapat pengakuan dari rezim orde baru. Peristiwa tabloid monitor tersebut akhirnya memberi ruang bagi para politisi islam untuk menunjukan taringnya. Contoh lain adalah ketika Imam Khomeini memfatwakan hukuman mati bagi Salman Rusdie, tanpa bermaksud tidak menyetujui fatwa tersebut, sebenarnya ada peristiwa menarik di balik hebohnya novel tersebut.

Jauh hari sebelum fatwa hukuman mati tersebut, pemerintah Arab Saudi sudah menghubungi seluruh pemerintah dengan mayoritas penduduk musli di dunia agar bersikap waspada terhadap novel tersebut. Jadi kalau khomeini mengeluarkan fatwa tersebut, saya lebih banyak melihatnya sebagai gerakan politik khomeini, bukan semata-mata pembelaan terhadap islam. Politisi semacam Khomeini secara politis akan sangat diuntungkan dengan pengeluaran fatwa tersebut, dukungan membanjir terhadap dirinya, tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga dari luar Iran dan keinginannya mengekspor revolusi islam iran ke negara-negara islam lain didunia seakan mendapat jalan yang lebih lebar.

Jadi menurut pendapat saya riuh rendahnya para pemeluk agama manakala simbol-simbol agama yang dianutnya disinggung, tidak hanya semata-mata karena pembelaan umat terhadap agamanya, tapi juga disebabkan seberapa jauh suatu agama terseret dalam pusaran politik.

Itulah yang mendasari kenapa konsep sekulerisme pada akhirnya menjadi harga mati bagi negara-negara barat, karena mereka belajar dari pengalaman dan sejarah menyakitkan dimasa lampau, betapa perang salib yang berlangsung selama lebih dari empat ratus tahun pada akhirnya tidak membawa kemaslahatan apa-apa bagi umatnya, sebaliknya perang agama tersebut malah membawa derita yang sangat memilukan bagi para umat nasrani sendiri.

#2. Dikirim oleh Buda Gautama  pada  22/04   07:56 PM

waduh, ide apalagi itu, budaya ya budaya, sumbernya dari manusia. Agama-ya agama, sumbernya dari Yang Maha Mencipta. Memadukan dengan serasi sih boleh, kalo bertentangan, mending milih agama deh, selamat di akhirat.

#3. Dikirim oleh umar antonia  pada  23/04   11:14 AM

Silahkan apabila orang yang beragama lain menerima apabila simbol atau esensi dari agama mereka dilecehkan, itu adalah pendirian mereka. Tetapi bagi saya, agama adalah penuntun hidup dengan tonggak iman. pelecehan atas simbol2nya atau penyelewengan interprestasi atas agama itu sendiri bukanlah suatu yang dapat di maklumi.

#4. Dikirim oleh Memo  pada  23/04   03:09 PM

Saya hanya mencoba merenung apakah arti firman tuhan bahwa kita diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dan kalau dia berkehendak kita dijadikan umat beriman semua serta didorong supaya berlomba-lomba berbuat kebajikan itu bermakna bahwa multikulturalisme merupakan suatu keniscayaan hidup dan kehidupan ?...... Kalau membaca artikelnya mas Ulil dan para ulama di JIL saya merasa harus lebih banyak belajar lagi…

#5. Dikirim oleh Teguhsuseno  pada  23/04   04:33 PM

Mau pluralisme....
mau multi-kultural single.. kembar ...atau triple sekalipun .... semuanya adalah “ISTILAH” yang difahami oleh segilintir orang untuk dicoba difahamkan kepada orang lain…
Yang sebenarnya perlu disadari dan dihayati adalah jikalau Fenomena pluralisme… Fenomena multi-kultural kembar… dan fenomena apapun.... adalahSemua fenomena tersebut “pasti” memiliki efek “dua sisi mata uang"…
MAKA JANGANLAH merasa “jitu” terlebih dahulu.... jika dirasakan pluralisme berefek perdamaian antar beberapa pihak yang beragam… karena hal itu adalah “satu sisi” dari pluralisme..... Maka janganlah heran jika kemudian timbul hal sebaliknya… yaitu dari pluralisme “malah” timbul perbenturan keragaman… toh hal itu adalah sisi lain dari pluralisme…
Demikian pulalah dengan Istilah versi-an Ulil yang digulirkan dengan untaian kata “Multi-kultural Kembar”....
Jika kita hanya meng-ingini satu sisi saja darinya… maka tak boleh melarang pihak lain yang meng-ingini sisi lainnya.... Itulah paradoksal yang tidak disadari JIList atau pihak lain yang bersebrangan dengannya.... Ketika melempar undi- mata uang… dapat “angka"… malah harus “gambar” yang di-ingini. Akhirnya fenomena yang harusnya disadari semua pihak yaitu ada sisi “angka” dan “gambar” yang merupakan jelmaan sederhana dari plural-nya suatu fenomena… dan merupakan jelmaan sederhana pula dari multi-kulturalnya sesuatu hal.... malah menjadi terlupakan dan dipandang “Nihil” dalam kehidupan manusia reduksionist

#6. Dikirim oleh kabayanist  pada  24/04   04:29 PM

@ Umar Antonia

Komentar dari Umar Antonia cukup galak, tetapi dari komentarnya sendiri saya melihat belum jelas ada suatu acuan budaya yang seperti apa yang dianggap bertentangan atau tidak dengan agama. Lalu tolak ukur dari ulama atau kelompok siapa yang akan dipakai?

Contoh : Kelompok Taliban yang sekarang menguasai daerah perbatasan Pakistan dan Afganisthan akhirnya berhasil memaksa Pemerintah Pakistan menerapkan dalam wilayah terbatas syariat islam total didaerah perbatasan tersebut. Kelompok Taliban akhirnya mulai menerapkan aturan-aturan antara lain :

1. Perempuan dilarang bersekolah dan bekerja diluar rumah (meniru mentornya di Afganisthan)
2. Menyanyi dan menari adalah perbuatan yang tidak islami dan akan mendapat hukuman keras
3. Membeli dan menonton DVD diharamkan (tidak dijelaskan DVD seperti apa yang diharamkan)
4. dll .............................

kalau sdr. Umar Antonia berkesempatan menanyai kelompok Taliban tersebut, jawabannya sudah pasti bahwa budaya dan kebiasaan yang dilarang tersebut bertentangan dengan Al Qur’an. Lalu kalau memang pendapat taliban itu adalah kebenaran mutlak kenapa aturan itu pasti akan mendapat pertentangan keras dari sebagian besar muslim di luar pakistan dan afganisthan?

Jawabannya adalah seperti apa yang ditulis oleh sdr M. Fuad, bahwa Al Qur’an adalah kebenaran mutlak, tetapi bergitu memasuki otak manusia yang serba nisbi maka penafsiran yang keluar menjadi tidak mutlak benar. Tentu saja otaknya Taliban dan otak muslim lain sangat berbeda dalam menafsir Al Qur’an. Akibatnya penafsiran apakah suatu budaya bertentangan dengan agama atau tidak menjadi relatif.

Untuk sdr.Umar Antonia, jangan mengeluarkan pendapat yang terburu-buru seperti itu. Atau jangan-jangan anda setuju dengan Taliban, melarang perempuan bekerja dan bersekolah?

#7. Dikirim oleh Budaya  pada  25/04   09:37 AM

Membaca tulisan Ulil ini terusik hatiku untuk kembali mengingat beberapa kejadian di Indonesia dan di dunia akhir-akhir. Kita sering mendengar pelecehan terhadap kelompok atau etnik lain dalam masyarakat yang plural. Kejadian semacam ini sering terjadi karena orang belum menerima keberagaman (pluralisme) sebagai suatu keniscayaan dalam hidup bermasyarakat.

Ada beberapa hal yang menyebabkan orang tidak menerima kelompok atau etnik lain. Tetapi yang paling utama adalah ketidak-sanggupan orang dalam membuka hati dan pikirannya untuk belajar tentang keberadaan kelompok atau etnik lain. Orang semacam ini cendrung menutup mata hatinya dengan rasa superioritas kelompok atau etniknya karena sering dininabobohi oleh sejarah masa lampau kelompoknya.

Sebagai mana isu yang diangkat dalam artikel ini-"Buddha Bar”. Jelas menunujukan bahwa orang atau kelompok yang memilih memberi nama usahanya dengan “Buddha ...” adalah orang yang belum memahami secara mendalam kelompok masyarakat yang beragama Buddha. maka sangat pantas jika ada orang yang merasa terlecehkan oleh penggunaan nama “Buddha” itu.

Memang dalam masyarakat Barat sering kita lihat penggunaan simbol agama untuk tujuan yang justru bertentangan dengan apa yang termakna dalam simbol agama itu, sebagaimana dicontohkan oleh Ulil dalam artikel ini. Tetapi hal ini bukan tanpa kritikan, pemuka agama sering mengencam keras penggunaan simbol dengan tujuan yang tidak senonoh. Hanya saja dalam pengencaman itu mereka menggunakan cara yang lebih sivilised, tidak dengan kekerasan. Misalnya lewat media masa dan kalau perlu lewat pengadilan. Ada kejadian di Melbourne di mana seorang pastor salah satu gereja Kristen di Melbourne dibawa ke pengadilan oleh Dewan Ulama Islam di Melbourne dengan tuduhan melecehkan agama Islam. Pengadilan tingkat negara bagian memutuskan bahwa Pastor itu terbukti telah melecehkan umat Islam.

Dalam kesempatan ini saya ingin menggunakan topik ini untuk mendiskusikan masalah lain yang walaupun tidak merupakan fokus artikel ini tetapi masih ada hubungannya, yaitu hidup bermasyarakat dalam masyarakat yang multikultur

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang multikultur. Walaupun demikian kita masih harus belajar lebih banyak lagi dalam menangani konflik antar golongan (etnik, agama dll) dalam masyarakat kita.  Orang cendrung menyelesaikan konflik antar golongan dengan tanggan besi sehingga yang keluar sebagai penang adalah orang-orang yang memiliki uang dan tenaga. Uang untuk memobilisasi masa dan tenaga karena memiliki lebih banyak jumlah anggota daripada kelompok lain. Belum tentu mereka berada dalam pihak yang benar.

Kita tahu bahwa negara Indonesia memiliki perangkat hukum untuk mengatasi masalah-masalah seperti itu sehingga adalah sangat keliru jika orang memaksakan kehendaknya dengan jalan tangan besi. Contoh penjarahan tempat yang menjual miras atau tempat lain yang dianggap bertentangan dengan ajaran kelompok pemeluk agama tertentu. Jika dianggap melanggar hukum, mengapa tidak dibawah ke pengadilan?

Nah..., setiap orang pasti mempunyai pandangan yang berbeda dalam menyikapi masala seperti Buddha Bar tetapi yang terpenting adalah bagaimana proses penyelesaiannya. Apakah kita pili jalan “manusiawi” ataukah memelih jalan “hukum rimba”.

Hila

#8. Dikirim oleh hila  pada  26/04   01:29 PM

jangan menggunakan simbol simbol keagamaan hanya untuk kepentingan bisnis semata titik

#9. Dikirim oleh hery  pada  27/04   02:18 AM

Kali ini ulil tidak tegas berada di sisi mana; kata mempertimbangkan sendiri menurut saya subtle, vague. ini mengarah kemana? menurut saya, kebebasan kita menggunakan lambang atau simbol tertentu dibatasi oleh kebebasan pihak lain untuk memperlakukannya sedemikian rupa. maka ada garis tegas dimana saya harus menghargai dan menghormati pemikiran dan cara pandang orang lain. apalagi ini menyangkut keimanan suatu kaum. social awareness dan alertness kitalah yang harus dikedepankan. ada tiga hal yang senantiasa harus diperhatikan apapun kita; garis kanan, garis kiri, garis tengah, tanpa garis atau garis belang atau apapun. apa, dimana dan bagaimana ide dan ekspresi itu dipaparkan. dengan senantiasa mempertajam idealisme, memaparkan bukti kongkret, mengarah ke kemaslahatan dan melakukannya dengan elegan; siapa yang gak mau dengar? ini juga masukan buat JIL…

#10. Dikirim oleh moh subagio  pada  28/04   08:21 AM

Budaya, yah budaya, sepertinya pokoknya sudah terjawab di atas. Serasi boleh-boleh saja, tidak bertentangan boleh-boleh saja, tidak masalah Taliban dengan pendidikan dan bedilnya, tidak masalah Hamas dengan pendidikan dan roketnya, tidak masalah PKS dengan demokrasinya, tidak masalah Salafy dengan pemahamannya, tidak masalah NU dengan pesantren dan qunutnya, tidak masalah Muhammadiyah dengan fokus pendidikannya.  Mengapa tidak bermasalah ? karena mereka semua berjuang untuk menegakkan kalimat Tuhannya, ya menegakkan kalimat Tuhannya. Yang paling bermasalah adalah apabila seseorang sudah masuk lubang kubur, dan malaikat bertanya, siapa Sesembahanmu ? maka dijawab ‘para berhala itu’, siapa nabimu ? ‘X’, apa kitabmu ? ‘Y’ , misalnya, misalnya gitu lho.

Namun bisa ditebak, sesungguhnya apa agama bapak yang berkomentar di sini , dan mau dibawa ke mana, maka cukuplah akhirnya lakum diinukum wa liya diin.

#11. Dikirim oleh umar antonia  pada  29/04   09:00 AM

Memang harus demikian Mas Ulil.

Janganlah acuannya soal :
Harus paham ajaran agamanya
Harus memahami budayanya
dll

Yang penting adalah sikap untuk dapat melihat, menerima, dan mengerti bahwa sesuatu hal ada (1) yang tidak bisa di interpretasi berbeda dan (2) yang bisa di interpretasi/dipikirkan berbeda.

#12. Dikirim oleh anton  pada  03/05   11:28 PM

rasanya, gagasan multikulturalisme kembar enak juga untuk ditimbang-timbang. Kali ini ulil sikapnya kok rada lentur sama orang Budha yang keberatan kalo simbol agamanya dipake untuk merk tempat yang subhat. Tapi apapun itu sy sreg sama gagasan itu, soale ulil ingin berlaku adil dalam melihat sengketa persoalan ini. Yang terpenting dari persoalan Budha bar ini adalah bagaimana rasa saling meghargai bisa mengiring kehidupan berbangsa dan bernegara tanpa ada keinginan melecehkan baik sengaja maupun tidak...Ya lagi-lagi kembalikan saja semuanya kepada undang-undang yang berlaku di negeri tercinta ini

#13. Dikirim oleh m.fahmi  pada  04/05   04:02 PM

beranjak dewasa rupanya teman-teman yang berkomentar terhadap tulisan mas ulil. saya kadang kurang sependapat atau mungkin masih bingung apa sih yang dicari dalam beragamna?fanatisme terhadap simbol...ataukah keyakinan terhadap kesejatian reinkarnasi pemikiran?atau bahkan dalam tasawwuf tujuan beragama ialah menemukan hakikat tuhan. nah dari macam-macam pikiran teman-teman pecinta agama, sangat perlu kita bina toleransi dan saling menghargai akan eksistensi Tuhan di tubuh agama...simbol adalah bungkus dan ajaran adalah isi..kemudian bungkus tersebut ibarat plastik yang diisi apa saja tetap masuk dan tidak mengurangi kredibilitas dari plastik itu sendiri, tinggal kita maunya bagaimana?isi berada dalam hati umat beragama.kalaupun isi tersebut busuk toh simbol itulah yang melindungi dari “mata” jahiliah personal..untuk itu jangan main2 dengan simbol

#14. Dikirim oleh Aghustin Iqbal Mohammad  pada  05/05   08:07 PM

Bapak ibu sekalian di sini yang saya hormati, marilah Bapak Ibu sekalian masuk kepada agama Islam, Islam yang sebenar-benarnya, Islam yang beriman, bukan Islam yang munafiqin. Sungguh, kebenaran al-Qur’an tidak diragukan. Pernahkah Bapak Ibu berpikir tentang menumbuhkan selembar daun, membuat seekor nyamuk atau membuat beberapa halaman seperti al-Qur’an ? cobalah salah satunya.

Al-Qur’an telah lebih dari 1300 tahun diterbitkan, dan sampai saat ini tidak ada yang berubah satu katapun, dihafalkan, dibaca dengan bermacam cara baca yang indah, dengan maknanya digunakan untuk menyembah Tuhannya.

Cobalah Bapak Ibu pikirkan, bahkan terdapat tantangan di al-Qur’an untuk membuat satu surat seperti dalam al-Qur’an, dan hingga saat ini ternyata 3 (tiga) halaman saja tidak ada yang mampu membuatnya, maka, Siapakah yang telah mampu membuatnya hingga sekitar 600 halaman tersebut ? Maka cobalah Bapak Ibu pikirkan.

Atau Bapak Ibu masih meragu ? maka cobalah dengan bantuan para Prof. Dr. di bidang theologi, islamologi, ajaran sekuler, dan lain-lain dan jika kurang, bermohonlah pada Tuhan Sesembahan Bapak ibu sekalian, maka demi Allah, Bapak Ibu sekalian tidak akan dapat membuatnya dan pasti tidak akan dapat membuatnya.

Maka, berpikirlah Bapak Ibu sekalian, berpikirlah. Insya Allah Bapak Ibu sekalian dikaruniai Allah hidayah, dan masuk kepada Islam. Amin…

#15. Dikirim oleh umar antonia  pada  06/05   08:28 AM

Saya lihat komentar terakhir umar antonia salah alamat.Anda menyangsikan keislaman orang2 disini.Huebat bener.!!berarti anda merasa paling bener dlm memeluk Islam.ck..ck..ck..! Jangan2 anda sudah merasa menyaingi Rasullulah dlm berìman kepada Allah..muhasabah dulu mas..! Pola pikir masih picik..berani2nya meragukan keislaman orang lain..! Nabi saja ga pernah mempunyai statement spt itu,Beliau menyadari betul yg punya hak mutlak menilai kualitas keimanan seseorang hanya Allah,jadi komentar anda sudah membuktikan keislaman anda.

#16. Dikirim oleh Adhyatma  pada  12/05   09:47 AM

Yah, harus dijawab juga akhirnya, sebenarnya segan, namun supaya terang …

Jelas sangsi dong pak adhyatma, termasuk dengan keislaman anda, yang menyanjung-nyanjung semua agama sama masuk surga, semua yang disembah sama saja, seolah olah telah mendapat ridho dari Tuhannya, bahwa semua sesembahan sama, seolah olah telah mendapat ridho dari Tuhannya, bahwa tatacara menyembah sesembahannya boleh apa saja.

Benar bahwa Tuhan alam semesta adalah Allah, Tuhan semua makhluk adalah Allah, tuhan semua umat beragama maupun tidak beragama adalah Allah, Tuhan semua yang beriman, yang kafir, yang musyrik, yang munafik adalah Allah.  Namun Pencipta alam semesta mempunyai anak ? Allah sama dengan patung-patung yang disembah itu ? Pencipta alam semesta dapat berwujud nyi roro kidul ? Telah mendapat wahyukah anda dari Allah, bahwa Allah ridho dituduhkan mempunyai anak ? Telah mendapat wahyukah anda bahwa Allah dapat disamakan dengan patung-patung yang disembah itu ? Telah mendapat wahyukah anda dari Allah tentang segala tata cara untuk menyembah Nya ? Berani-beraninya meyakini keimanannya …

Tidakkah anda mendengar pada sejarah Muhammad saw mengapa patung-patung sesembahan diruntuhkan ? Tidakkah anda melihat sejarah Rasulullah mengapa Heraklius diajak masuk Islam ? pola pikirnya diubah sedikitlah pak, jangan p…. berpikir yang runtut, bahwa kebenaran itu bermula dari Pencipta alam semesta, bukan berasal dari pemikiran-pemikiran anda-anda ini. Jadi, yang runtut ya pak …
------
NB : kenapa kebenaran bermula dari Pencipta alam semesta, bukan dari anda-anda ? karena anda bahkan tidak mampu menumbuhkan selembar daunpun, karena anda tidak mampu meciptakan seekor nyamukpun, karena anda tidak mampu membuat bahkan hanya 3 halaman seperti wahyu Nya dalam al-Qur’an … ya gak ….

#17. Dikirim oleh umar antonia  pada  15/05   08:10 AM

Hm.gitu ya..? penjelasan sdr umar panjang juga....baiklah,saya mencoba kasih tanggapan,dan mari kita diskusikan masalah ini dg kepala dingin..setuju..??
Bagi saya tidak jadi masalah jika anda meragukan keislaman saya,bagi saya yg mempunyai hak mutlak menilai kita muslim atau tidak hanya Allah.Lagipula keimanan saya tidak membutuhkan pengakuan dari pihak manapun.
Cukup hanya Allah saja yang tahu,karena hubungan manusia dg Sang Khalik bersifat pribadi sekali,tdk ada orang / institusi agama manapun yg berhak mencampurinya.!! .Saya hanya ketawa geli saja membaca komentar anda yg dengan PD-nya mengajak org2 disini masuk Islam(ditambah lagi Islam yg se-benar2nya) se-akan2 sdh mengerti betul esensi Islam itu sendiri.
Saya baca komentar anda dari kemarin menyinggung masalah Allah mempunyai anak atau tidak,sebenarnya komentar anda kurang etis..!!!,karena menyinggung landasan keimanan agama lain,terlepas dari itu saya akan coba menjelaskan ( sebelumnya saya minta maaf kalo penjelasan saya menyinggung sdr kita dari umat Nasrani ).dan ini pendapat pribadi saya,
Yang menjadi masalah selama ini adalah cara kita membaca / menafsirkan ayat dlm kitab suci secara harfiah / tekstual tanpa bisa memahami makna yg tersirat dlm ayat tsb,se-akan2 kalau ayat kitab suci ditulis"A" pasti artinya “A”,padahal arti sebenarnya tdk demikian.Tidak dapat dipungkiri selama ini mayoritas umat kristen mengimani bahwa Isa adalah Putra Allah,saya pernah baca Alkitab di Perjanjian Baru memang banyak ayat yg menjelaskan seperti itu.bagi saya,ungkapan Isa Almasih adalah Anak Allah hanya bersifat simbolik,kita harus bisa mengerti makna yg tersirat dlm ungkapan tersebut.Tidak berarti Allah mempunyai anak dalam konteks yg selama ini kita bayangkan,..makna sebenarnya yaitu karena begitu dekatnya beliau dg Allah,begitu tebal keimanan beliau terhadap Allah maka beliau disebut Anak Allah.
Perumpamaan / simbolisasi ini bukan hanya ada dlm agama kristen...kalau anda membuka mata lebar-2 dalam Islam juga ada,anda pasti tahu Nabi juga sering disebut Habib Allah / Kekasih Allah / Pecinta Allah,Rabiah al- adawiyah juga pernah mengatakan hanya Allah sajalah Kekasih Sejatinya.bukan berarti kekasih dalam arti lahiriah,tetapi batiniah.Ini yg menjadi perdebatan panjang selama ini,kita lupa melihat makna yg tersirat di dalam yg tersurat shg timbul cekcok antara yg keukeuh menyakini Isa Anak Allah dan yg menyangkalnya.
Sekarang..masalah patung / simbol yg kata anda di-sembah2 kalau kita berpikir dg kepala dingin dalam setiap agama pasti akan kita temui simbol, entah itu patung,kaligrafi arab,salib,swastika dll.Maksud dari simbol2 tsb adlh sbg sarana pemusatan konsentrasi ibadah kita kepada Allah,karena Dia Maha Gaib,Tak Berwujud shg kita perlu sarana/alat utk memusatkan konsentrasi kita.
Kalau kita menganggap salah satu simbol tsb BERHALA,yg lain juga BERHALA karena fungsi dasarnya sama.
Jadi adanya patung / simbol2 dlm setiap agama bukan berarti kita menyembah patung/simbol tsb,ataupun menyamakan Allah dg patung, tdk sama sekali.
Anda pasti akan berdalil"di Islam tuh ga ada yg namanya patung yg di-sembah2 spt di agama2 lain..!!.,dan kalopun Nabi setuju kenapa di zaman Beliau patung2 yg ada di sekitar Kaabah di hancurkan..?? “
Dalam Islam dibilang ga ada simbol / patung juga ungkapan yg keliru!!,kalau kita berpikir jernih… Kaabah itu merupakan simbol,tiap sehari 5 kali umat Islam shalat menghadap kesana..,Hajar Aswad juga bisa disebut simbol tiap kali kita menunaikan rukun Islam yang ke-5 kita berebutan untuk mencium Hajar Aswad.Lalu kenapa Nabi menghancurkn patung2 bangsa arab saat itu..??
Karena orang2 arab saat itu LUPA fungsi dari patung2 tsb adl sbg SARANA bukan TUJUAN!!.mereka berpikir bahwa dg menyembah patung,semua masalah akan terselesaikan,jelas Sang Nabi akan berang..dan akhirnya menghancurkan patung2 itu.
Kalau anda menertawakan orang hindu yg memuja patung dewa mereka,org hindu juga akan menertawakan anda yang menyembah Kaabah!!
Jadi kita harus bisa melihat Kebenaran yg tersirat dlm simbol yg ada ditiap agama.
Anda mempertanyakan apakah saya sudah mendapat wahyu dari Tuhan shg berani berpendapat yg bertentangan dg pendapat anda,pertanyaan ini saya balikkan ke anda..apakah anda sudah merasa dibisiki oleh Malaikat Jibril shg dg pongahnya mengklaim bahwa sesembahan yg paling BENAR adl Allah versi Islam..???Cara beribadah yg paling DIRIDHOI hanya lewat Islam..???Alquran yg anda anggap paling BENAR daripada kitab suci agama lain.?
Sudah saatnya kita mengubah pola pikir yg picik,Dunia ini begitu luas,mas..Kebenaran bisa ada dimana saja.
Kembali lagi ulasan ini adalah pendapat pribadi saya,semuanya berpulang ke anda. Sependapat ataupun tidak itu hak anda.
“Its absolutely no problem with me!’’,

#18. Dikirim oleh Adhyatma  pada  16/05   05:40 PM

Profesor Alfred Stepan, fondamentalnya menyajikan pengajaran yang secara mutlak memisahkan antara idea agama dan politik. Yang jejaknya akan diikuti oleh Bung Ulil, selamat bung! Sehingga penganalisaan terhadap multikulturisme kembar, dapat dipakai sebagai instrument penyebaran idea sekuler di Indonesia tanpa peduli adanya masalah sensitifitas di kalangan umat beragama.

Jujur saja, kalau kita toleh kebelakang, multikulturalisme ditambah kembar, itu sudah ada sejak kita belum lahir.
Toleransi memang baik tapi kalau toleransi itu memiliki tendensi bias, ada maksud tertentu, atau maksudnya toleransi multikulturisme harus berkembang didalam masyarakat Indonesia tapi penganjur toleransi itu sendiri tak menghargai nilai nilai moral dari umat beragama, jadi apa maksud dan tujuan dari semua argumentasi ini. Tidak heran kalau konflik akan muncul.

Misalnya konflik dimana ada orang menamakan nama bar dan restauran dengan nama Budha Bar, atau Muhamad Pub. Tentunya kaum intelektuil dan penegak negri ini tau siapa mereka. Mereka adalah orang orang yang telah menjadi pujaan dan pujian jutaan orang diplanet ini. Telah berabad abad mereka menjadi tauladan karena budipekertinya yang mulia, mereka dihormati dan disegani karena mereka bukan orang yang gila harta. Mereka digolongkan orang suci, karena hidupnya adalah noble mengabdi dengan humble kepada Tuhanya, dan mereka amalkan ajaran Tuhanya, telah terbukti dapat membangun masyarakat yang tidak saja aman dan sentausa tapi masyarakat memiliki moral yang hakiki harga dirinya tinggi itulah martabat suatu kultur. Dan karena itu kita harus respek terhadap beliau. Jujur saja, kalau orang ingin dihargai oleh orang lain maka tunjukan bahwa orang itu mau berbuat respek terhadap kelompok lain lebih lebih umat beragama. Kalau menamakan Budha Bar, dan Muhamad Pub, itu namanya manusia tidak punya respek. Pub dan Bar tempat untuk melampiaskan nafsu-kebinatanganya, dan jelas tida pantas untuk diberikan nama nama itu dengan simbol yang menyandang keagamaan. Klenteng atau Mesjidpun jarang menamakanya dengan nama nama aslinya.

Ada satu contoh, baru baru ini di Universitas Indiana, yang berbasis konserfatif katholik, para pendemo adalah mahasiswa di universtas itu dan dengan tegas menolak pemberian Honorary kepada Presiden Obama, protest itu ditujukan karena Obama, kebijakanya memberikan lampu hijau untuk pengembangan stem cells yang bertentangan dengan agama katholik. Ini terjadi di negri sekuler, bagaimana bila terjadi dinegri yang berbasis agama seperti di Indonesia. Amerika negri sekuler, lebih utama cari duit dari pada datang di hari kebaktian.

Contoh yang lain, di Israel pernah terjadi demo besar untuk menentang kuam Zionist Amerika. Kaum zionist umumnya pengusaha/sekuler, kejadian yang terjadi yaitu perusahaan garment-dalam dari kaum wanita. Mereka telah memasang advertensi yang menonjolkan pemandangan yang amat menarik yang tertembus mata bagi orang yang lalu lalang. Advertensi tak menyinggung nama orang suci atau menyebut nama nabinya namun ads itu memperlihatkan bahwa pengusaha itu tidak menghargai penduduk yang umumnya memiliki agama. Jadi tidak pantas ditinjau dari segi agama, percaya atau tidak. Jadi kalau di Indonesia nama orang suci dipasang dan dipergunakan untuk simbol ditempat tempat hiburan kemaksiatan, bukan salah siapa siapa, tapi orang yang memberi perizinan itu adalah orang yang perlu mendapat perawatan dari psychiatry Tidakah anda tau banyak para intelek lulusan universitas ternama di AS tapi banyak yang jadi profesor lunatic. Itu namanya tidak berkah. Hal yang tidak berkah jangan ditiru, tapi dianalis hingga bersih. Kalau hari kiamat itu benar, surga negara itu ada, maka neraka adalah tempet kaum intlek yang ceroboh. The Truth Set You Free, now here or hereafter then.

Salam

#19. Dikirim oleh roffiie  pada  17/05   12:57 PM

Hebat juga Pak adhyatma ini, menyatakan agama Islam bukan yang paling benar, semua agama benar, hebat sekali, entah kitab suci mana yang dianutnya, yang menyatakan demikian, mendapat wahyu darimana dengan gagahnya menyatakan itu (sementara dirinya mengaku Islam … masya Allah), dengan pemikirannya itu, ia hendak menyatakan dirinya lebih hebat dari Yang menciptakan al-Qur’an, dari Yang menciptakan alam semesta. Sementara dirinya membuat 3 halaman seperti al-Qur’an saja tidak bisa, malah mengaburkan kalimat-kalimat Yang menciptakan 600 halaman al-Qur’an … logikanya jadi lucu ya, terbalik gitu … merasa dirinya lebih benar dari Yang menciptakan al-Qur’an, pongah sekali. Bagaimana mau percaya dengan pernyataannya, sementara ia tidak dapat membuktikan kemampuannya. Jika ingin dianggap benar, ingin kata-katanya didengarkan, buatlah bukti dulu pak, 3 halaman seperti al-Qur’an, minta bantuan rekan-rekan anda, juga para prof. Dr.  apa saja, termasuk prof. Dr. dari barat itu, sehingga terlihat ‘o memang kemampuan anda sebanding dengan Yang menciptakan al-Qur’an itu, sehingga kata-kata anda layak dipercaya’… ya …

Syukurlah apabila menurut pernyataan pak Adhyatma ternyata orang Nasrani rekan-rekan pak Adhyatma ini tidak memandang Allah mempunyai anak, dan mudah-mudahan dengan kalimat di bawah saya tidak menyinggungnya. Saya jadi ingin tahu, apakah pak adhyatma ini juga mempunyai etika kepada Yang menciptakannya, Yang menciptakan al-Qur’an, dan jadi ingin tahu, apa pendapat beliau dari yang tersurat/harfiah dan tersirat dari kalimat al-Qur’an Surat Maryam ayat 88-93 :

88. Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.”.
89. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar.
90. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh.
91. Karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak.
92. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.
93. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.

Mudah-mudahan pak Adhyatma menjawab dengan tidak berbelit-belit.

Pernyataan tentang tuhan-tuhan patung yang diruntuhkan …
Pak Adhyatma berandai-andai dengan kata-kata sarana dan tujuan, lucu lagi deh, mau sarana, mau tujuan, seolah olah telah mendapat ridho Tuhan bahwa Ia mau disamakan dalam bentuk patung-patung. Telah mendapat wahyu lagikah anda tentang hal itu ? lucu lagi, apabila patung-patung tersebut disebar, terus kiblat anda menghadap kemana ? telah mendapat wahyu lagikah ?

Pernyataan tentang tatacara menyembah beribadah kepada Tuhan …
Saya tidaklah mendapat wahyu, yang mendapat wahyu adalah Rasulullah Muhammad s.a.w, dan saya, tunduk dan patuh kepada Allah, mengikuti wahyu tersebut untuk beribadah sholat, puasa, zakat, dll dengan dasar wahyu tersebut. Sedangkan anda, menyatakan semua agama benar, berarti tatacara beribadah benar semua, termasuk yang dilakukan dengan cara bernyanyi, menari, membakar kemenyan, membuat sesaji, dan lain-lain. Anda yang menyatakan itu, dengan demikian pertanyaan tersebut dikembalikan ke anda, telah mendapat wahyu lagikah anda tentang segala tatacara beribadah kepada Tuhan ?

Yah, akhirnya jadi panjang deh, namun komentar dikit, terdapat ciri khas dalam setiap pernyataan anda, yang dengan kepala dingin sering keluar kata-kata ‘p….’, ntar kualat loh, kembali ke anda, sebab ‘mulutmu harimaumu’…

Demikian pak Adhyatma, dan jangan lupa, agar anda dipandang sebagai orang yang benar, dipandang tidak pongah menantang Yang menciptakan al-Qur’an, Yang menciptakan alam semesta, maka segera buatlah 3 halaman seperti al-Qur’an, supaya anda dipandang sebagai orang yang benar … ditunggu ya …

#20. Dikirim oleh umar antonia  pada  19/05   08:12 AM
Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 >

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?