Editorial,
21/04/2009

Multikulturalisme Kembar dan Masalah Buddha Bar

Oleh Ulil Abshar Abdalla

Saya ingin mengembangkan lebih jauh ide Stepan ini dengan mengemukakan ide tantang “multikulturalisme kembar”. Apa yg saya maksud dengan ide itu adalah bahwa dalam masyarakat yang plural, pengertian harus datang dari dua belah pihak sekaligus—dari pihak “dalam” agama sendiri, tetapi juga dari pihak di “luar” agama.

21/04/2009 14:09 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (37)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 2 dari 2 halaman < 1 2

Kepada semua yang percaya kepada ALLAH!

Membaca komentar beberapa peserta diskusi disini saya menjadi bingung. Dan tambah bingung dengan pernyataan yang mengabsolutkan kebenaran yang belum bisa dibuktikan kebenarannya. Sebab yang benar menurut saya belum tentu benar menurut Anda dan dia serta mereka.

ALLAH. Kita yang beragama baik agama lokal (kejawen dll) maupun agama import (Katolik dll) percaya bahwa ALLAH itu ada. Dari mana kita tahu Allah itu Ada? Tidak ada satu orang di dunia ini tahu/lihat dengan mata telanjang bahwa ALLAH itu ada. Kita hanya percaya bahwa ALLAH itu ada lewat indra kita, lewat keagungan alam semesta yang nampak di depan kita, lewat mujizat alam, seperti udara, matahari, tanah, air dan sebagainya. Dengan itu kita yakin bahwa ALLAH ada. Dan saya percaya bahwa ALLAH itu.

Manusia kemudian menciptakan berbagai ritual untuk menyembah kepada ALLAH sebagai tanda syukur dan menunjukan kepatuhannya kepada ALLAH. Dari ritual-riual yang sederhana ini berkembang dan lahirlah ajaran yang maha besar untuk mengatur kehidupan manusia dengan alam semesta. Mengatur hubungan manusia dengan sang pencipta, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam semesta. Dalam masyarakat yang sudah mengenal huruf, mereka menulis ajaran-ajaran ini yang kemudian diedit dan dibukukan menjadi kitab suci. Sedangkan dalam masyarakat yang belum mengenal huruf, ajaran ini diturunkan dalam bentuk nyanyian, sya’ir secara turun temurun.

Jika kita membaca kitab suci semua agama di dunia ini, kita akan mengetahui betapah eratnya hubungan ajaran dalam kitab suci itu dengan kebudayaan dimana kitab/agama itu lahir. Itu bukti bahwa agama/dan kitab-kitab itu hasil karya manusia (terlepas dari apakah manusia itu seorang yang yang memperoleh wahyu atau tidak).

Menurut saya, setiap ajaran dalam kitab suci itu mempunyai tujuan tertentu. Dan biasanya sangat terkait dengan dinamika sosial pada saat ayat itu lahir. Oleh karena itu jika kita membaca ayat-ayat itu sekarang, hendaknya tidak hanya diartikan secara tertulis tetapi secara tersurat. Mencari pesan apa yang disampailkan dalam ayat dengan melihat latar belakang kehadiran ayat itu.

Jika kita hanya mengambil yang tertulis, saya yakin kita akan tersesat dalam perjalan kita menuju ke surga. Jika kita tersesat maka kita sebenarnya telah mengabaikan ajaran mulai yang diwartakan oleh para nabi, rasul, atau pendiri agama kita masing-masing.

hila

#21. Dikirim oleh hila  pada  19/05   11:55 AM

Begini sdr umar…
Saya tidak mau masuk dlm perdebatan yg tak berujung pangkal.Kembali saya tegaskan bahwa saya tidak pernah mengklaim pendapat saya yg paling benar,
Kalau anda mau introspeksi ..justru andalah yg dari awal gembar-gembor menganggap dirinya,pemahamannya tentang Islam paling benar…dan dengan mudahnya mengatakan sesat,kafir,bid’ah kepada orang2 yg berbeda pendapat dg anda,tolong baca sekali lagi komentar yg saya posting kemarin dan telaah dengan hati & kepala yg dingin,kalau anda benar-2 membaca dg cermat anda akan menemukan jawaban dari setiap pertanyaan yg ditujukan ke saya.
Kenapa bolak-balik saya berkata dg kepala & hati yg dingin..?? karena kalau mau diskusi dg orang-2 berpola picik spt anda harus dg kepala dingin.,ciri khas kaum puritan spt anda hanya mengandalkan emosi saja dlm berdiskusi.
Anda mengaku Islam dan tunduk terhadap peraturan2 Allah yg diwahyukan kepada Sang Nabi,tapi kalau membaca komentar-2 anda,secara tidak langsung anda sudah melangkahi wewenang Allah dalam menghakimi keyakinan orang lain,kembali saya ingatkan…Nabi saja tdk pernah bersikap sombong dan sok tahu spt anda,tapi statement anda secara tidak langsung sudah menganggap diri sama dg Nabi ck..ck..ck..huebaat bener.
Saya baru sadar berdiskusi dg org2 seperti anda hanya buang2 waktu saja,ibarat ngomong masalah kuliah dg anak TK jelas ga nyambung.
Tingkat anda baru taraf kulit / syariat dlm memahami agama,jadi kalau saya ngomong masalah hakikat/esensi agama anda ga bakalan paham.
Karena orang-2 spt anda hanya meributkan kulit agama,meributkan cara ibadah agama siapa yg paling benar,dan se-dikit2 menukil ayat kitab suci dan hadis guna memperkuat argumennya tanpa mau tahu esensi agama itu sendiri.
Saran saya kepada anda..banyak-2lah muhasabah bung,pelajari Alquran dg kritis baru berkomentar.!!
Ok coy..???

#22. Dikirim oleh Adhyatma  pada  20/05   12:50 PM

Pak Adyatma, omongannya umar antonia nggak usah didengerin. Emang gitu lagaknya orang yang sok menganggap dia yang paling benar.
Ngomongin agama bikin puyeng…... AGama hanya bikin kehidupan berbangsa jadi amburadul. Mending kayak bmak Lia Edan, prnghapusan agama-agama.

Tapi, sebagai orang ISlam, sekarng ini yang jadi nabi bagi saya bukan Muhammad. Tapi Nabi Adam. Khan sama-sama nabi Islam?........
Cuma kalau jadi pengikut nabi Adam enak sekali. Aturannya nggak banyak, dan larangannya cuma satu yaitu tidakmakan buah kuldi aja. Sedangkan lainnya boleh. Mau ngegelek, narkoba, selingkuh, berantem, membunuh juga boleh…......
He…..he…....

#23. Dikirim oleh gendruwo  pada  21/05   06:52 AM

dalam menyikapi budha bar ada 2 hal yang harus dikaji yaitu tentang hukum positif dan multikulturalisme, pada sisi hukum positif bahwa kasus budha bar masih multi tafsir, dikatakan multi tafsir sebab budha bar adalh tempat orang berkumpul menenangkan pikiran atau sekedar kongkow-kongkow doang, sehingga menyatakan bahwa apakah orang yang berada disitu adalah orang jelek?,
tentang multikulturalisme bahwa setiap orang boleh melakukan penafsiran berbeda dalam memahami agamanya masing yang terpenting adalah kesalehan sosial???

#24. Dikirim oleh Moch. Saifudin  pada  26/05   09:35 AM

@ Adyatma

Pak Adyatma nanti malam kita sama-sama berdoa kepada Tuhan berdasarkan keyakinan kita masing-masing.

Isi doanya sederhana saja dan tidak usah panjang-panjang :

YA TUHAN, SEMOGA TIDAK LAGI ADA MANUSIA-MANUSIA YG HANYA AKAN MENAMBAH KERIBUTAN DAN PERTENTANGAN ANTAR MANUSIA YANG TERDIRI DARI BERBAGAI AGAMA DAN KEYAKINAN. MANUSIA-MANUSIA YG HANYA MENGANGGAP HANYA ISLAM AGAMA YANG BENAR, YANG LAIN AGAMA PALSU. YANG AKAN MASUK SURGA HANYA YANG BERAGAMA ISLAM, YANG KAFIR AKAN MASUK NERAKA.

YA TUHAN SEMOGA MRK TIDAK BISA LAGI MENGGANGGU KERUKUNAN HIDUP DI INDONESIA YANG TERDIRI DARI BERAGAM AGAMA DAN KEPERCAYAAN.

#25. Dikirim oleh Abu Bakar  pada  28/05   11:32 AM

budha bar sangat menyakitkan perasaan seluruh umat beragama. sebenarnya ini tidak perlu terjadi kalau birokrat kita bukan koruptor. budha bar bisa berdiri karena proses perijinannya penuh dengan nuansa korupsi.

sebenarnya kita tidak perlulah memperdebatkan/mendiskusikan tentang kepercayaan agama lain, islam tegas dalam mensikapi hal ini ” agamamu agamamu, agamaku agamaku ” jelas dan gamblang. yang perlu kita lakukan adalah saling menghormati dan memberikan kebebasan setiap umat beragama menjalankan keyakinannya. tuhan saja tidak menghukum manusia yang tidak menyembahnya, tetap saja diberikannya kenikmatan dunia.

#26. Dikirim oleh tia  pada  30/05   10:53 PM

Saya kira memang tepat sekali seperti yang telah dikemukakan oleh Mas Ulil. Setidaknya, teori tentang “miltikulturalisme kembar” itu memang layak sekali untuk diapresiasikan oleh masyarakat Indonesia, terutama oleh kalangan muslim. Lha, wong Islam saja mau toleran kepada umatnya, siapa yang mau beragama, ya monggo… Yang tidak mau, ya sudah. Yang mau berbuat baik, ya silahkan. Yang tidak mau, yo wis…. Kan kalo kita mau berkaca kepada apa yang pernah diucapkan oleh Gus Dur, bahwa Al-quran sendiri pun memberikan batasan yang cukup jelas,kemuliaan manusia di depan Tuhan itu tidak berdasarkan kepada agama, entah itu Islam, Kristen, Budha, atau yang lainnya, akan tetapi ditentukan oleh tingkat ketakwaannya. Maka, sejatinya tak pantas jika sesorang menghakimi perbuatan orang lain, apalagi mengatasnamakan otoritas agama.

#27. Dikirim oleh ٍSofi Al-Malisiy  pada  16/06   06:58 AM

Mungkin pokok persoalannya adalah kita tak pernah mau belajar bagaimana dengan agama lainnya, sehingga ketenangan yang digambarkan dalam suasana hening, membawa kedamaian, ketentraman, kesejukan hati itu, terinspirasi oleh kita,dan mengwujudkan dalam bentuk lainnya, bagaimana dalam memenuhi kebutuhan fisik kita seperti, makan atau minum dibuat dengan suasana hening tersebut.
Persoalan menjadi lain bila itu dilakukan bersifat terbuka atau umum dan terjadi pada komunitas yang sudah timbul kesadaran, sehingga hal ini menjadi permasalahan.
Marilah kita bersama-sama saling menghormati dan saling belajar memahami sehingga persatuan dan kesatuan yang telah dibangun oleh bapak bangsa kita tidak ternoda oleh kepentingan sesaat atas nama kebebasan.wassalam eling

#28. Dikirim oleh bingung  pada  23/06   04:55 AM

Mas Ulil pancen oye! Piawai dlm bahasa dn jago bikin istilah!
Mas Ulil! Kok agak lunak ya? Semangat dong! Saya jadi bertanya2: apa sikap anda saat dulu heboh karikatur Nabi Muhammad?!

#29. Dikirim oleh Ghozi Anshor  pada  25/06   02:22 AM

=== Hargailah Agama Lain ====

Indonesia Harus Bersatu….!!!

#30. Dikirim oleh sosial  pada  26/06   06:22 AM

Mas Ulil, tulisan anda jika ingin ditarik pada posisi yang lebih ekstrim dapat berbahaya bagi pemikiran pluralisme karena kaum konservatif/radikal dapat mengatakan bahwa interpretasi tertentu sebagai suatu hal yang menyinggung mereka sama halnya simbol agama yang dikomersialkan menyinggung sekelompok orang tertentu.

#31. Dikirim oleh Sunny  pada  27/06   04:06 AM

udah pada solat dan tobat, berisik anda semuanya…dah trlalu banyak komentator di Indonesia. jgn pada blagu komentar tntang agama, otak kalian ga akan bisa gapai Kkuasaan Allah SWT.Spintar apapun kalian dalam berkomentar….

#32. Dikirim oleh acoy  pada  27/06   03:35 PM

Kami putra putri Indonesia mengaku bertanah air satu tanah air Indonesia.

Kami putra putri Indonesia mengaku berbangsa satu bangsa Indonesia.

Kami putra putri Indonesia mengaku berbahasa satu bahasa Indonesia.

Yuk kita terapkan kebajikan, bakat, minat masing masing orang yang beragama atau tidak untuk Indonesia - dengan saling tolong menolong tanpa melihat sekat ras,suku,agama - dengan berbakti bagi kemanusiaan dengan memicu potensi diri melalui kerja keras untuk sesama.

Menemukan Allah dalam segala hal.

#33. Dikirim oleh Nasionalisme  pada  30/06   09:22 PM

wah, mas umar antonia ini layak di diagnosa dimensia praecox. lepas dulu kaca mata kuda anda, baru bisa lihat kiri-kanan.

#34. Dikirim oleh umar kontolinia  pada  08/07   07:25 AM

smp’ dmn batasan multikulturalisme kembar yang anda maksud ????

#35. Dikirim oleh gege  pada  10/07   04:00 AM

@adhyatma
Di saat ada pihak yang berusaha istikomah dengan yang diyakini dengan sekuat tenaga, dengan sebuah rujukan yang sudah jelas dan simple, anda dengan pongahnya mengeluarkan jurus pamungkas statement diatas.
Dikatakan puritan lah.., piciklah…, sering ngumbar ayat2 lah… fundamental lah… dll..
Sekarang saya mau tanya nih…?? mau pake kaidah/norma/sumber yang gimana lagi untuk bisa menjelaskan masalah ini…. Kayaknya ayat - ayat Al-qur’an koq sudah ‘tidak relevan’ lagi ya dimata anda…

Wassalam

#36. Dikirim oleh tendy  pada  11/07   10:57 AM

Untuk Umar Antonia, kalau anda heran kenapa setiap umat merasa mereka yang paling baik, bacalah firman dari Pencipta anda, Allah SWT berfirman dalam Qur’an surat Al An’aam ayat 108:
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Tuh, ada kalimat bahwa memang begitu maunya Allah SWT, setiap umat dijadikan menganggap baik pekerjaan mereka.

Apa anda berani menentang kehendak Allah SWT tersebut di atas? Sadarlah, yang kita cari sekarang bagaimana dengan kondisi yang ada sekarang ini kita bisa tetap hidup rukun dan damai, tidak gontok-gontokan terus baik sesama manusia apalagi sesama muslim. Mbok ya sabar saja. Buat hasil karya yang dapat membawa manfaat kepada orang banyak. Buktikan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin dengan perbuatan, bukan hanya dengan sekedar pernyataan-pernyataan.

#37. Dikirim oleh muhammad hakim  pada  13/03   02:41 PM
Halaman 2 dari 2 halaman < 1 2

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?