Wawancara,
13/08/2006

Syafiq Hasyim: Munas Kembalikan NU ke Khittahnya

Oleh Redaksi

Beberapa butir sikap NU dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama akhir bulan lalu menuai kontroversi sekaligus apresiasi. Yang paling ramai dibincangkan adalah soal infotainment dan sikap NU terhadap perda-perda bernuansa syariat. Bagaimana sikap NU tersebut di mata sebagian anak muda NU? Berikut perbincangan Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Syafiq Hasyim, dari International Center for Islam and Pluralism (ICIP), Kamis, 3/8, lalu.

13/08/2006 23:59 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (2)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Mas Syafiq,

Menarik menyimak ulasan anda tentang munas NU kemaren. saya hanya ingin berbagi kesan dengan anda, tentang NU sebagai Jam’iyyah dan Jama’ah.

Sebagai Jama’ah, saya cukup prihatin dengan warga NU yang afiliasi ideologi keagamaannya bersifat konservatif. saya mengamati kiprah simpatisan NU di MUI, yang begitu bersemangat mengusung pengharaman nalar pikir kritis dalam islam (baca: sipilis). begitu juga fatwa tentang RUU APP yang sangat jauh meninggalkan komitmen kebangsaan yang sudah sekian lama menjadi menjadi brand NU.

Mas Syafiq,

Memang benar NU sudah begitu “gendut”. saking gendutnya, NU perlu melakukan “diet gerakan”. maksud saya, sudah saatnya NU menggelar forum tabayyun, agar menghindari sikap saling mendeskriditkan, dalam tubuh NU sebagai Jama’ah. kasihan anak-anak muda NU yang begitu kritis dan dinamis. sesungguhnya, aliran kritis dalam tubuh NU muda itu ibarat Nabi Ibrahim yang selalu mencari Tuhannya,di mana kekritisan tersebut bermakna “untuk semakin yakin terhadap keislamannya, bukan untuk mengingkari apalagi menghinanya”.

Terima kasih.

Arif Fahrudin, Head Coordinator Hasbiyallah Center, Pesantren Al-Wathoniyah Pusat Klender jakarta Timur

#1. Dikirim oleh arif fahrudin  pada  14/08   09:08 PM

Ini yang saya suka dari NU. Bukan Nahdliyin kalau main sweeping sambil teriak Allahu Akbar untuk menunjukan ketidaksetujuan terhadap suatu isu sebagaimana ormas lain. NU bisa besar karena ia lebih moderat dalam menyikapi masalah bangsa ini. Kasus program Keluarga Berencana di tahun 70an merupakan contoh menarik akan peranan NU melalui para kyai yang mencoba mencari jalan tengah anta pihak pro dan kontra akan pencanangan KB oleh Soeharto. Saat itu NU mengeluarkan fatwa yang salah satu isinya menyebutkan bahwa KB diperboleh selama itu dilakukan untuk merenggangkan watu kelahiran dan bukan menghindari kehamilan dalam rangka membentuk keluarga maslahah.

Disamping berbagai kekurangan yang ada, NU akan akan tetap mempunyai peranan besar dalam pembangunan bangsa Indonesia. Selama para kyai sebagai tulang punggung NU tidak bersifat elitis,  organisasi massa terbesar di Indonesia ini tetap akan selalu mewarnai perjalanan bangsa Indonesia.
——-

#2. Dikirim oleh TONI WAHID  pada  14/08   10:09 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?