Mutu Para Dai Kita
Oleh Abdul Moqsith Ghazali
“Banyak orang bertanya, kenapa mereka bermutu rendah. Pertama, mungkin karena cita-cita awal mereka bukan menjadi dai. Beberapa di antara mereka, ada yang jadi dai setelah sebelumnya terlilit utang, ada yang pemakai narkoba lalu sembuh, ada pedagang asongan yang gagal, dan sebagainya. Pedihnya kehidupan tampaknya telah memaksa mereka memutar haluan, menjadi seorang dai. Dengan bekal ilmu keislaman a la kadarnya dan dengan fasilitasi televisi, mereka kemudian memerankan diri sebagai dai. Hasilnya bisa diduga. Kalau tak menghibur dengan lelucon-lelucon tak cerdas, mereka akan “mendesak” para jemaah pengajian untuk menangis dan meronta untuk sesuatu yang tak jelas. Pengajian kemudian disulap menjadi lautan tangis yang mencekam.”
Komentar
Semoga mereka menjadi lebih baik, dan mereka bisa ikhlas berdakwah bukan hanya mengejar imbalan atau upah dari hasilnya berdakwah
Jaman remaja mesjid dulu sering kumpul untuk latihan dakwah ‘tamhidul mubalighin’..bisa merasakan benarnya editorial di atas. Tidak cukup mencomot sekadarnya ilmu agamanya untuk berdakwah meski bersembunyi dibalik pembenaran ‘balligu ‘anni walau aayah’ tanpa keinginan untuk mendalami ilmu keagamaan lebih lanjut…wallahu’alam
ente cuman ngritik doang?apa yg anda tlah sumbangkan tuk ummat?anda cuma diskusi doang,paling banter ngisi seminr.mereka para duat,terutama yg Anda sebut kekurangannya jauh lebih baik dari ente,meskipun desertasi doktor anda tentang qur’an,tp semua itu cuman ada dibukit ide liberal anda dan sebentar lagi menguap ditelan angin!!!
harus diakui meski mereka masih jauh dibanding Ust. Zainudin MZ, Quraisy Shihab ataupun Emha AN merekalah yang kini menguasai layar kaca. menonton mereka serasa menonton sandiwara atau srimulat. bahkan saat saya pertama kali melihat gaya ustadz dg teriakan khas “jamaah” nya tanpa sadar saya bergumam,“ustadz gila”.
trend dan gaya selebritis banyak mengilhami para dai/ustadz. ingin jadi dai sukses dan terkenal? hijrahlah ke jakarta.
Bapak…
Saya pengen bisa mewarnai wibesite ini dengan pemikiran saya yang sepertinya sepaham dengan isi artikel di wibesite ini. Tapi, gimana caranya ya Pak
GIMANA CARANYA SUPAYA BISA NULIS DI SINI
isinya menarik.
hanya saja, kenapa anda tidak menyinggung “motor” yang telah memfasilitasinya? saya setuju dengan argumen anda mengenai da’i yang kurang faseh bacaan Al Qur’annya. dan saya sepakat anda menyinggung bagian paling fundamental dari para penceramah, yaitu pengetahuan secara total tentang islam. namun, perlu anda garis bawahi, siapa yang memotorinya, siapa yang menjadi penggerak utama hingga mereka bisa sampai dikenal banyak orang, siapa yang menuntut skenarionya. siapa lagi kalau bukan “Media”.
saya harap, anda bisa memprosakannya secara menyeluruh, tidak hanya bagian-bagian tertentu saja. sesuaikanlah dengan kostum anda, yaitu Islam Liberal. karena saya yakin, anda lebih paham makna dari liberal itu sendiri.
dan juga, dimohon agar anda bisa menekankan kepada para media yang memfasilitasi para penda’i agar tidak men-cut atau men-skip apabila diantara mereka mulai berbicara mengenai “Kasus-kasus Pemurtadan”. Karena itu sudah menjadi bagian dari trendester di negeri ini. Jadi, tidak hanya bicara pluralitas saja, Ketauhiddan pun perlu..
Saya setuju dengan paparan penulis, kiranya perlu dipikirkan keberadaan lembaga sertfikasi untuk para calon da’i, walau sifatnya sukarela bagi yang mau mengambil saja dan tidak juga ada jaminan nantinya bagi da’i yang telah bersertifikat akan “laku di pasaran”, tetapi hal tersebut sangat perlu sebagai bentuk tanggung jawab para “dewan kyai” untuk mengendalikan kemurnian ajaran islam. Tentunya harus ada kompetensi minimal untuk bisa disebut sebagai dai bersertifikat terhadap penguasaan ilmu-ilmu dasar mulai dari bahasa arab, membaca al qur’an, sejarah, politik, fiqih, dll dan tentu saja seni dan kebudayaan. Di samping itu perlu penugasan khusus bagi para calon dai untuk secara bergiliran berlatih di lapangan sekaligus mengabdi di daerah “islam marjinal” seperti Papua, NTT, Maluku, dll selama 2-3 tahun. Soal living cost ?, ah sepertinya duit DAU dari calon jama’ah haji, dan zakat lebih dari cukup kalau memang para “kyai” dan tokoh agama yang ada di MUI dan organisasi besar islam mau berpikir bersama….. ah saya insya allah siap menyumbang sebesar 1 bulan gaji saya untuk sekali seumur hidup…............
da’i sekarang tidak hanya salah kaparah, penguasaan hukum agamapun sangat miskin bahkan sering menyesatkan umat, dengan tutur kata yang kaku dan cendrung bukan sebagai penyampaikan kebenaran malah merusak hukum.referensi yang dipakai oleh mereka hanya mengandalakan secuil majalah bulanan tapi itupun sepotong-sepotong. profesor uin jakarta dalam diskusinya mengecam penayangan seorang da’i di media tv yang miskin pengetahuan agama,saya kira untuk merubah hal tersebut dgn jalan mengadu kepada KPI.
Memang ini susah. Masyarakat sekarang senangtnya ya spt itu. Kalo dai nya misalnya Quraish Shihab mereka bilang ngantukin. Kalo dainya aliran liberal spt Mas Ulil atoi Mas Moqsith yg sangat paham khasanah keislaman klasik maupun modern sudah diputus haram sama MUI.
Saya sempat dihujat habis2an gara2 menyatakan secara frontal ketidaksukaan saya dengan beberapa da’i termasuk yg disebut di atas. jangankan para cendikiawan muslim, saya yg orang awam saja bisa melihat bahwa materi dakwah mereka tidak bermutu dan dangkal, bahkan terkadang membenarkan sesuatu tanpa dalil. Sangat Berbahaya.
Pertanyaan lanjutannya, kenapa orang yang memiliki kualitas intelektual keislaman handal tidak pada nongol di TV? Ini karena “dakwah” bukan saja menjadi aktivitas “ibadah” melainkan kini lebih menjadi ajang bisnis. Pastinya, bisnis membutuhkan pasar, dan pasar memang masih “hanya” butuh dai yang tidak terlalu berkualitas. Ada hubungan timbal balik yang berjalin berkelindan. Televisi yang menampilkan muballigh macam cak Moqsith, hampir dipastikan ratingnya rendah. Mengapa? Bukan karena kapasitasnya yang diragukan. Melainkan tipe tabligh ala cak moqsith tidak memenuhi syarat pasar penonton tv. Inilah inti persoalannya. So, munculnya dai yang kurang berkualitas di TV tentu menjadi tanggung jawab produser juga. ya enggak?
Tolong JIL bt solusinya buat masalah ini bang.
saya harap kecemasan Bang Moqsith ditindak lanjuti dgn sikap nyata.
Assalamu’alaikum wrwb
Sekiranya ulama2 dan usztad2 mengikuti sunnah Rasul mencari NAFKAH,maka tidak mungkin lagi ulama2 dan usztad2 terpengaruh dgn tebal Envelop.
Ulama2 dan usztad2 dapat menyampaikan kebenaran hakiki tanpa terpengaruh oleh sponsor.
misalnya saja Merokok sudah jelas2 merusak tubuh manusia dan mematikan,namun MUI takut mengeluarkan Fatwa HARAM,karena terpengaruh oleh Sponsor.
RASULULLAH diharamkan oleh ALLAH menrima uang.
Katakanlah: “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan
risalah itu, melainkan [mengharapkan kepatuhan] orang-orang yang mau mengambil
jalan kepada Tuhannya. QS 25:(57)
Hai kaum ku : Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka
adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.QS 36: (21)
Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku
tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. QS. 26:109)
Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan [Al Qur’an]”. Al
4 ayat ALLAH yang melarang menerima uang dari jemaah.
Inilah salh satu kemunduran umat Islam,karena ulama2 dan usztad2 tidak bisa lagi menegakan kebenaran yang hakiki.
Wassalam
Dai dan umatnya ibarat pasar, jika sudah turun rating televisi pasti akan mengurangi jam tayangnya. mereka juga memiliki captive market sendiri sendiri. Akibat kedangkalan pengajian ini umat sekarang juga lebih bergeser ke pengajian “spiritualis” para motivator terkenal seperti Mario Teguh atau Arie Ginanjar dll, karena mungkin lebih menyentuh dan bisa mangatasi problem problem “kekinian” tanpa ada kekuatiran kesalahan tajwid. Seorang santri dari pondok pesantren NU tidak akan berani menjadi D’ai jika belum mendapatkan “ijazah” dari kyainya, meski telah mondok bertahun tahun.
mayoritas umat Islam di indonesia adalah memang masih awam…. karena hal sedemikian, maka masyarakat kurang kritis ketika mendengar da’i yang masih dieja bacaan qur’annya…. memang paling bagus ya kajian islam dengan kitab…seperti tradisi di pesantren .. makanya kalau ada da’i yang tidak mumpuni ya..pasti akan terdegradasi….
jangan mengutuk kegelapan, tapi nyalakan lah lampu, anggota JIL kan banyak lulusan pesanttern, perguruan tinggi islam, bahkan gelar Lc, coba turun ke masyarakat. tapi saya ragu apa diterima y, karena dai itu mengajak kepada Allah, sedangkan JIL mengajak utk menjauhi agama, susah JIL, tapi semoga kematian menjadi pengingat yg paling baik
Assalamualaikum Wr. Wb
Bismilhirahmanirrahiiim..
untuk saudaraku tercinta Abdul Moqsith Ghazali. Tulisan saudara diatas memang bisa saja benar. Namun layak kah kita berasumsi negatif kepada mereka? Demi Allah Yang Tidak Pernah Tidur. Manusia dengan segala kelemahannya telah melampaui batas. Banyak hal kebaikan yang bisa kita lakukan secara bersama, saudara ku. Jika memang kita/kalian/anda merasa cukup atau bahkan mengusai ilmu ke-Islam-an marilah kita saling berbagi..!! “Dan Hanya Allah lah Hakim yang Maha Adil, Dia-lah yang kelak akan menentukan apa yang manusia perselisihkan di dunia.
da,i- da’i salon, da’i-da’i selebritis, yang lebih sibuk menarik perhatian dengan baju dan penampilan daripada materi dakwah…...
Kalau mutu dai yang manggung rendah siapa yang salah. Kenapa doktor2 IAIN dan perguruan tinggi lainnya yang jumlahnya bejibun tidak mau manggung. Demikian juga kiai2 kondang dari Gontor, Tebu Ireng, Buntet, Babelan, Cipasung tidak muncul .Jamannya alm Cak Nur masih sering muncul di TV. Komaruddin Hidayat dan Azumardi Azra lebih banya menjadi pengamat. Hidayat Nurwahid kadang2 mengisi acara subuh. Kalau yang muncul dii karbitan kembali lagi siapa yang salah. Jangan menyelahkan mereka. coba cari solusi. Keberhasilan seorang dai apa ukurannya. Kalau nilai2 islam yang dia sampaikan, kemudian mengajak pendengarnya untuk tidak korupsi, para perirsanya menjalankan apa yang dia sampaikan. Tidak tergantung dari berapa ribu ayat dan hadis yang dibacakan atau bagaimana melafazkannya. Apakah salah Doktor dari ITB menjadi dai seperti Immaduddin dan Prof Sulaeman. Demikian juga bekas pecandu narkoba kalau dia menyampaikan nilai2 Islam yang benar.
Komentar Masuk (30)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)