Editorial,
25/10/2006

Nabi Perempuan

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Namun, setelah saya cek ke sejumlah kitab, ternyata status kenabian tak hanya dimonopoli kaum laki-laki. Ada juga nabi dari kalangan perempuan. Misalnya Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah (Juz II, hlm. 59) mengutip satu pendapat yang menyatakan bahwa tak tertutup pintu bagi hadirnya nabi perempuan.

25/10/2006 05:34 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (40)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 2 dari 2 halaman < 1 2

Dear JIL Saya tidak mau menutup diri dengan kemajuan tapi bukan dengan kemajuan kita jadi mundur…. Allah SWA telah menciptakan Laki-laki terlebih dahulu baru wanita…. Anda tahukan Nabi Adam dan istrinya Hawa…. Nah itu aja kita udah nalar kalau Wakil Ataupun utusan Allah SWA haruslah laki2.

#21. Dikirim oleh Nyiayu Vidia  pada  13/11   03:12 PM

kalo emang berpendapat bahwa nabi itu ada yang perempuan berdasarkan perkataan di atas :[Ulama yang berpendapat demikian misalnya bersandar pada ayat Alquran, wa awhayna ila ummi musa an ardhi’ihi fa idza khifti ‘alaihi, fa alqihi fi al-yamm ], maka kita perlu melihat makna wahyu yang terdapat pada ayat tersebut, dan kata wahyu tersebut berarti “ilhaamul insaniy al fithri”, dan tidak hanya nabi yang memperoleh wahyu (jika disinonimkan dengan kata ilham). jadi masih perlu banyak analisis untuk mengupas masalah tersebut… makasih

#22. Dikirim oleh udin choiruddin  pada  17/11   06:12 AM

Ini harus kita pahami dari sisi historis dan peristilahan dulu bahwa istilah “Nabi dan Rasul” memang berasal dari Timur Tengah khususnya wilayah Mediterania. Di wilayah lain mungkin berbeda-beda misalnya brahmana di India, Suhu di China, Ketua Suku, atau Tetua di wilayah Indonesia.

Tetapi pada dasarnya istilah Nabi dan Rasul atau pun yang sejenisnya merujuk pada sosok manusia yang secara umum bisa saya sebut sebagai “Kaum Arifin”. Mereka adalah panutan masyarakat sekitarnya karena ilmu pengetahuaannya yang bersifat khusus misalnya ahli penyembuhan atau tabib dan pengetahuan umum yang biasanya berkaitan dengan fenomena alam dan tanda-tanda langit.

Akan tetapi, sebutan Arifin ini merujuk langsung juga kepada kaum yang mentransendensikan semua ilmunya kepada Tuhan atau kepada daya spirtualitas manusia yang dikaitkan langsung dengan Tuhan. Tuhan bagi manusia zaman dulu itu namanya bermacam-macam, tidak baku, dan sifatnya cenderung lokal, lengkap dengan aturan mainnya atau syariatnya.

Nah, gagasan Tuhan Yang Maha Esa atau Tuhan itu Satu munculnya di Kawasan Mesir Kuno, yang dikenal sebagai ajaran Nabi Adam a.s, Idris a.s, sampai akhirnya Nabi Muhammad SAW sebagai “Nabi dan Rasul” yang dikenal dan disebut al-Qur’an ada 25 Nabi dan Rasul.

Kenapa cuma 25 ? Hal ini disebabkan karena Kitab Wahyu seperti AQ menyebutkan nabi2 sebagai kalangan Arifin pada “satu sosok yang dominan mempengaruhi peradaban dan jalan hidup manusia di masanya masing-masing sesuai dengan zaman dan peristiwa yang terjadi”.

Pengaruh ini , khususnya terasa pada tata cara peribadahan manusia sampai akhirnya muncul Monoteisme yang sejak awal mula sebenarnya sudah diperkenalkan oleh Nabi Adam a.s yaitu sejak Nabi Adam menemukan sistem hitung2an dan juga sistem huruf untuk mengikat citarasa fenomenal tampilnya Kekuasaan Tuhan dengan simbol-simbol yang bermakna misalnya simbol Thaasin, 69, Yin-Yang, Swastika, dll. Lalu kemudian muncul pengertian tentang cahaya (matahari) dan akhirnya muncul ungkapan Cahaya Di atas Cahaya (dalam QS 24:35) sebagai makna yang berarti penampilan Tuhan yangtertinggi yang justru kasat mata. Dalam bahasa sekarang disebut medan kuantum atau istilah lainnya yang sejenis yang intinya masih dlaam bentuk Idea.

Simbol-simbol yang real dan bisa dilihat mewakili tampilnya Kekuasaan Tuhan yang nyata benar mempengaruhi sistem kehidupan di Planet Bumi. Sampai akhirnya simbol dilogikakan dan muncul geometri, bilangan dan huruf maka simbol-simbol dasar yang paling elementer misalnya dari titik menjadi lingkaran, dari 0 sampai muncul 123 adalah konsep-konsep Pengetahuan Tuhan paling dasar yang disebut Asmaa-aa Kullaha, yang dikenali di Planet Bumi dengan benda-benda langit yang dominan dikenali mislanya Matahari, bulan dan planet-planet lainnya.

Ketika manusia mulai bisa ngomong dan mengikat Pesan Tuhan menjadi basis ilmu simbol, geometri, bilangan dan huruf maka itulah Asmaa-a Kullaaha yang dipahami Adam. Jadi rujukan manusia Adam sebagai Nabi bukan dimaksudkan sebagai “manusia yang mrocot begitu saja dari surga” tetapi manusia yang mulai sadar dan paham Pesan-pesan Tuhan dan mengembangkan Pesan Tuhan itu jadi ilmu berbasis simbol, geometri, bilangan dan huruf.

Nah dari Adam sampai Nabi Muhammad SAW dan nabi-nabi lainnya yang tidak disebutkan yang melahirkan ajaran Hindu, Budha Konfusius, ataupun ajaran yang lebih formal dengan munculnya Asma-aa Kullahaa , sumber pengetahuan Tuhan itu sama saja.

Setelah rasionalitas Yunani me-reinventing kembali pengetahuan Kuno dari Mesir, Babylonia, Sumeria, India dan IAFONES alias JAWA sistem geometri huruf dan bilangan diintegrasikan sebagai suatu kaidah logis tanpa kehilangan aspek esoteriknya.

Konsep fundamentalnya akhirnya muncul “dari titik menjadi lingkaran” , lalu rujukkan kepada diri manusia sebagai Anak Adam , bagaimana caranya?

Ternyata penafsirannya berbeda-beda tergantung pada KEMURNIAN HATI, AKAL PIKIRAN DAN TINDAKAN, inilah basis ilmunya para Nabi dan Rasul yang sekarang sudah terdiferensiasikan menjadi berbagai ilmu.

Dengan semakin luasnya cabang ilmu karena memang dipilah-pilah secara sistematis, termasuk logikanya atau metodenya, spesialisasi pun muncul menjadi hijab karena manusia sudah tak mampu membuka hubungan antara Tuhan, Alam, dan Manusia dalam suatu konsep yang utuh terintegrasi KECUALI AHMAD MUHAMMAD di Arabia yang akhirnya dengan keimanan kepada YME sebagi ar-Raab, Allah, menyatakan Pesan2 Tuhan menjadi Firman Tuhan via Hati, Akal, Lidah dan Akhlak Muhammad yang murni.

Rujukan Nabi Muhammad SAW ternyata sangat simple, sederhana dan semua manusia sejatinya melihat dan merasakannya, yaitu kehidupan awal dan akhirnya, yang kawin menikah, lahir anak dari buah cinta, dan tumbuh dewasa dengan potensinya masing-masing, bisa jadi kafir bisa juga jadi arifin, tergantung bagaimana anak itu dididik di lingkungannya, sampai akhirnya ditentukan kedewasaannya untuk mengambil sikap hidup sebagai al-Mukmin atau gerombolan Abu Lahab dan Abu Jahal (Pemarah atau Bodoh), dan akhirnya Nabidan Rasul hanya sekedar memberi petunjuk sesuai dengan perintah Tuhan , Lakum dinukuum waliyaadin.

Pergolakan ilmu pengetahuan dan spisitual itu hanya muncul di wilayah Arabia dan mediterania yang memang merupakan salah satu wilayah bergolak selama ribuan tahun dimana peran manusia ternyata tampil DOMINAN sebagai sumber kekacauan yang sesungguhnya.

Di masa kacau balau itulah manusia yang disebut kaum Arifin tampil sebagai penerang jalan kehidupan dari duka nestapa manusia yang kebingunan, dan di kawasan tersebut yang muncul ternyata suatu istilah yang khas yang disebut “Nabi dan Rasul” sebagai pemberi petunjuk yang ilmunya multidisiplin, mempunyai kecenderungan mengembara atau katakan saja naturalis, dan sejatinya memang pembelajar dan pencari pengetahuan sekaligus menyebarkannya.

Nah umumnya agama monoeisme yang muncul sejak Ibrahim a.s memperkenalkannya secara formal sebagai ajaran tauhid hanya menekankan adanya satu Tuhan sebagai Realitas Mutlak. Agama-agama Timur seperti yang beasal dari India dan China lebih banyak menekankan kepada aspek penyucian jiwa yang ketat bahkan ekstreem dengan tangga-tangga tertentu atau kasta-kasta.

Sebaliknya di wilayah mediterania kaum Arifin justru membaur sebagai pemberi pelajaran kepada masyarakatnya atau kaumnya, jadi nggak ada aspek-aspek asketis seumur hidup atau menjadi Pandita secara ekstreem. Ada fase-fase tertentu yang bisa saya disebut sebagai fase menanam, fase tumbuh dan berbuah, fase masak, dan akhirnya fase akhir yang kemudian diwaliki oleh penerusnya yaitu pengemban amanat pesan-pesan Tuhan, sebagai penerus sejarah pohon kejadian. Jadi, bagi penganut monoteisme sebutan Nabi dan Rasul itu memang khas dan potensi penyebarannya sangat luas ke seluruh dunia karena dukungan sistem desimal, abjad/alfabet yang mudah dipahami dan dikomunikasikan sampai hari ini. kalau mau digeneralisasikan secara umum berdasarkan karakteristik dasar kaum arifin maka nabi2 jumlahnya ribuan yang tersebar dimana-mana, sedangkan rasul sangat sedikit karena rasul membawa risalah dan syariat untuk melakukan ubudiyyah dengan aturan tertentu.

#23. Dikirim oleh atmoon  pada  19/11   10:12 PM

untuk kawan semua… Apakah Tuhan menjadikan laki-laki atau perempuan menjadi seorang Nabi? Tentu ada “argumen” yang mendasari, karena aku yakin bahwa Tuhan tidak bermain dadu. Adapun ada tidaknya Nabi perempuan sebagaimana artikle di atas ya kita sama2 cari jawabnya.

#24. Dikirim oleh Mabrur Azis  pada  20/11   01:11 PM

Mari kita ikuti cara berpikir penulis, katakanlah pendapat penulis benar seorang wanita bisa menjadi Nabi/Rasul.

Lalu bagaimana kejadiannya ketika wanita yang menjadi Nabi/Rasul tersebut sedang haid ? Apakah dia bisa memimpin solat, apakah bisa menerima Wahyu ?

Secara medis/psikologis wanita yang sedang haid baik emosi ataupun fisiknya sedang tidak dalam kondisi yang baik .

#25. Dikirim oleh acim  pada  21/11   03:12 PM

Nabi perempuan…. Sangat menarik…. Akan menjadi “landasan hukum” bagi para feminis… Tapi, apakan Anda sudah cek secara detail? Ke berbagai sumber? Yang shahih? Jangan hanya melihat dari satu sudut pandang saja, bung!

#26. Dikirim oleh Diah  pada  26/01   03:02 PM

Tuhan itu tidak diskriminatif, kalau nabi di dominasi kaum lelaki, ini seakan-akan menunjukkan keperpihakan tuhan terhadap kaum tersebut, dan juga seakan-akan tuhan itu berjenis kelamin, bukankah tuhan itu tidak laki-laki dan juga tidak perempuan….?!!!

#27. Dikirim oleh soesilo  pada  25/06   08:06 PM

Salut usaha anda mencari dan mendalami berbagai literatur untuk mencoba membuka wacana ini. terus cari dan cari lagi semoga anda mendapat jalan yang lurus dan benar atas pencarianmu. Bagi pembaca dianjurkan juga anda membuka semua literatur dan kitab-kitab mulai dari kitab melek sampai kitab gundul.

salam,
——-

#28. Dikirim oleh suharni  pada  12/07   06:07 PM

Laki-laki adalah pemimpin bagi wanita,dan wanita itu diciptakan dari rusuk laki-laki…............

#29. Dikirim oleh Tgk.Agam  pada  14/08   08:31 AM

Tulisan kawan Moqsith jelas bergerak dengan spirit kesetaraan gender. Tapi, tetap saja bias gender, tepatnya bias heteroseksual! Tulisan itu tak memperhitungkan jenis gender-role ketiga, kaum transeksual. Bila ada nabi lelaki, (mungkin) ada nabi perempuan, tidakkah mungkin ada nabi berjenis kelamin ketiga—nabi para waria? Bukankah pada setiap kaum selalu hadir nabi bagi mereka?

#30. Dikirim oleh Aula Tubtu Min Wahhabi  pada  15/08   12:13 PM

Sebenarnya untuk apa diperdebatkan?. Dalam Al Quran, isteri Adam As. saja tidak pernah disebut dengan tegas namanya, Hawa. Sebaliknya, ada juga wanita yang disebut dan diabadikan dalam Quran, seperti Bunda Maryam. Ternyata, beliau ini pun ‘tidak’ diberi gelar sebagai nabi!. Karena, penganugerahan gelar atau jabatan khalifah, rasul dan nabi di dalam Al Quran, merupakan kewenangan sepenuhnya Tuhan, Allah SWT. Lalu, Apa perlunya dipermasalahkan kok ‘perempuan’ atau wanita di dalam Al Quran tidak ada yang mendapat anugerah sebagai ‘nabi’ atau ‘rasul’?. Pentingkah bagi kita masa kini???

#31. Dikirim oleh Elfizon Anwar  pada  25/10   10:56 AM

Aku kagum dengan pendalaman kawan dalam hal pengkajian literasi keIslaman. Anda coba membuka berbagai sumber yang dapat dijadikan acuan untuk kebenaran pendapat anda, meski terkesan sofistri. Namun, dari tulisan anda, masti kita coba kaji lagi makna Nabi itu sendiri dalam konteks Islam. Bukan itu saja! Kita juga harus secara holistik mengkaji mengapa Tuhan menciptakan manusia, siapa manusia, siapa laki-laki, siapa perempuan dan kedudukan mereka seperti apa. Jadi kita harus membicarakannya secara holistik, jangan hanya berkutat pada ayat-ayat atau hadist mengenai Nabi saja.
Dan akhir kata, kita harus berbaik sangka, sebagai umat muslim, karena kita yakin tidk akan mulia orang yang Tuhan hinakan dan Tuhan itu Maha Penguasa Hari Pembalasan. Ingat roh itu ada! Plato dan Hegel sependapat dengan dualisme manusia! Filsuf yang ga pernah baca Quran aja bicara sepeti itu? Dan mereka bukan orang Hizbut Tahrir atau orang dari anggota keIslaman lain.
Hidup kebebebasan berpendapat!

#32. Dikirim oleh gunk  pada  12/11   01:48 PM

Inna Lillahi Wa inna ilaihi Raji`un
Semua makhluk Tuhan akan MATI. Sadarlah semua, sebelum datang kepedihan nyata saat nyawa tercerabut dari urat-urat kita….

#33. Dikirim oleh Zuhel al-Jilly  pada  03/03   12:50 AM

Bukankah Islam melanjutkan risalah Musa dan Isa? Umat Yahudi punya nabi perempuan (Sarah, Rebecca, Rachel, Miryam, Deborah, Hanna, dll), Umat Kristen punya santa (Maria, Klara, Brigid, ), umat Islam?!

Bahkan umat Hindu saja punya dewi-dewi, dan umat Buddhist punya deretan buddha perempuan.
Islam gak sama dengan Arab dan Onta. Kalo orang Arab suka merendahkan perempuan, jangan suruh semua orang Islam ngikutin. Cih!

#34. Dikirim oleh lily  pada  13/03   12:12 PM

sememangnya kita tahu nabi bilangannya bnyak ..tetpi yang wajib diketahui adalah 25….seramai man sekali pun nabi yang wujud….hanya nabi Muhammad SAW adalah yang terakhir dan tidak akan ada lagi nabi dan rasul selepasnya…..kemunculan khabar angin tentang ada lagi nabi selepas nabi Muhammad SAW adalah salah satu tanda besar bagi kiamat…wslm

#35. Dikirim oleh architect student  pada  07/09   03:15 AM

penulis memeahami hal ini tidak ada salahnya,sah sah saja mau ungkapkan pernyataannya selama tdk untuk mmbuat satu penyesatan. yg paling penting seberapa mampu kita melaksanakan semua perintah Allah.jng cuma banyak bicara sedikit berbuat. sangat banyak hukum2 Allah yg tdk kita laksanakan contohnya ranjam potongtangan utk para koruptor dll. Kalau setiap yg menerima wahyu adalah nabi seperti yg difahami penulis,lebih hebat lagi dong lebah yg menerima wahyu dari allah dari semenjak diciptakan smpai skrg belum terputus. wahyu yg turun ke Rasulullah sudah trputus sejak 1400 thn yg lalu. annahl 68; dan tuhanmu mewahyukan kpd lebah,buatlah sarang2 di bukit2….dst. Lalu apakah lebah juga seorang nabi? kita maklum semua kalau yg bawa mobil disebut sopir,kalo yg bawa kereta masinis kalo yg bawa pesawat trbng itu pilot… maaf ya klo ane kliru

#36. Dikirim oleh yadi  pada  15/10   12:43 PM

wow artikel ini kurang bermanfaat mending loh hapus deh. belajar dulu di arab sana, jangan lupa bertanya yah, biar tidak membuat kesimpulan sendiri dari hasil kutipan yg sembarangan.

saya gak sengaja masuk kesini lagi searcing jumlah nabi malah nongol artikel ini. :(

#37. Dikirim oleh mencari  pada  01/01   07:55 AM

Mari kita cermati masalah ini secara lebih mendalam. Karena kita juga menemukan kisah-kisah lainnya yang secara tegas menggambarkan bahwa Allah SWT berbicara atau menurunkan wahyu kepada mereka, namun mereka tidak disebut sebagai nabi. Dan tidak semua orang yang didatangi Malaikat Jibril adalah Nabi.

1. Tidak Semua Yang Diajak Bicara Oleh Allah Berarti Nabi

Ada orang yang diajak berbicara oleh Allah SWT dan kita baca kisahnya dalam Al-Quran, namun tidak secara otomatis dia menjadi nabi. Misalnya, kisah tentang Dzulqarnain yang amat masyhur dan sudah kita hafal. Di dalam Al-Quran kita membaca bahwa Allah SWT berkata-kata kepadanya.

Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami (Allah SWT) berkata, “Hai Zulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.” (QS. Al-Kahfi: 86)

Tegas dan jelas bahwa Allah berkata-kata kepada Dzulqarnain di dalam ayat ini, namun para ulama umumnya mengatakan bahwa beliau bukanlah seorang nabi. Bahkan dalam dafar 25 nama nabi yang tertera di dalam Al-Quran, beliau pun tidak disebutkan namanya. Itu menunjukkan bahwa seorang Dzulqarnain bukanlah seorang nabi. Meski namanya tertera dengan jelas di dalam Al-Quran.

#38. Dikirim oleh Tara F Khaira  pada  02/03   10:48 AM

2. Tidak Semua Yang Diberi Wahyu Berarti Nabi

Di dalam Al-Quran, kita juga menemukan ungkapan di mana Allah SWT memberi wahyu kepada salah satu makhluknya, namun pemberian wahyu itu tidak selalu berarti mengangkatnya menjadi seorang nabi.

Bahkan Allah memberi wahyu kepada lebah untuk membuat sarang. Tentu tidak ada nabi berbentuk lebah, bukan?

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”, (QS. An-Nahl: 68)

Allah SWT juga memberi wahyu kepada langit yang tujuh, namun tidak ada nabi dalam bentuk langit.

Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (QS. Fushshilat: 12)

Allah SWT juga menurunkan wahyu kepada bumi dan tidak ada nabi berbentuk bumi.

Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya, dan manusia bertanya, “Mengapa bumi (jadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah mewahyukankepadanya. (QS. Az-Zalzalah: 1-5)

#39. Dikirim oleh Tara F Khaira  pada  02/03   10:49 AM

3. Tidak Semua ‘Yang Dipilih’ Berarti Nabi

Demikian juga tentang istilah: ‘Allah telah memilih’ seseorang, tidak selalu ‘orang yang dipilih’ otomatis menjadi nabi. Ada orang-orang tertentu yang disebutkan telah ‘dipilih, namun mereka tidak digolongkan sebagai nabi.

Misalnya keluarga Imran, nyata dan tegas disebutkan bahwa keluarga ini telah ‘dipilih’, namun tidak semua keluarga Imran itu menjadi nabi. Ada sebagian yang jadi nabi namun Imrannya sendiri malah bukan nabi.

إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (QS. Ali Imran: 33)

4. Tidak Semua Yang Didatangi Malaikat (Jibril) Berarti Nabi

Demikian juga dengan didatanginya beberapa orang oleh seorang malaikat, bukan selalu secara otomatis mereka yang didatanginya itu seorang nabi.

Para shahabat Rasulullah SAW pernah didatangi oleh malaikat Jibril yang menyerupai manusia, dengan ciri pakaiannya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak seorang pun yang mengenalnya dan tidak ada bekas tanda datang dari perjalanan yang jauh.

Lalu Jibril berbicara dengan nabi Muhammad SAW dengan bahasa arab yang fasih hingga semua yang hadir dapat mendengar dan paham betul apa yang sedang dibicarakan. Dan setelahnya, Rasulullah SAW menegaskan bahwa yang datang tadi itu adalah Jibril untuk memberikan pelajaran agama kepada para shahabat.

Semua shahabat yang hadir di sana tentu mendengar bagaimana Jibril menyampaikan isi ajaran dar langit. Namun tidak satu pun dari shahabat itu yang diangkat menjadi nabi.

Pendapat Yang Mengatakan Adanya Nabi Perempuan

Namun kita tidak menutup-nutupi bahwa memang benar ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa ada nabi perempuan. Dengan menggunakan dalil di atas, yakni ada di antara mereka yang didatangi malaikat, atau dipilih atau mendapat wahyu.

Di antara mereka yang berpendapat demikian adalah Ibnu Hazam, Al-Qurthubi dan Abul Hasan Al-Asy’ari. Lihat kitab Fathul Bari jilid 6 halaman 447 dan 448. Kita juga bisa merujuk tentang hal ini pada kitab Lawami’ul Anwar Al-Bahiyah jilid 2 halaman 66.

Namun pendapat mereka ini tidak bisa dianggap mewakili pendapat umumnya para ulama, sebab Al-Qadhi Iyyadh menukil bahwa jumhur ulama sepakat bahwa tidak ada nabi perempuan.

Bahkan di dalam Al-Majmu’ Syarah Al-Muhazab, Al-Imam An-Nawawi mengatakan bahwaMaryam bukan seorang nabitidaklah sekedar pendapat mayoritas ulama, namun telah sampai kepada ijma’.

Dan Al-Hasan Al-Bashri di dalam Fathul Bari jilid 6 halaman 471 mengatakan bahwa tidak ada nabi dari kalangan perempuan dan dari kalangan jin.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

#40. Dikirim oleh Tara F Khaira  pada  02/03   10:49 AM
Halaman 2 dari 2 halaman < 1 2

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?