Editorial,
03/02/2012

Nasionalisme Abdullah bin Nuh

Oleh Saidiman Ahmad

Bin Nuh menulis: “Anda adalah saudaraku. Apapun keadaan anda dan apapun kebangsaan anda. Apapun bahasa anda dan bagaimanapun warna kulit anda. Anda saudaraku walaupun anda tidak kenal aku dan tidak tahu siapa bundaku. Walaupun aku tidak pernah tinggal serumah dengan anda dan belum pernah seharipun hidup bersama anda….”

03/02/2012 12:37 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (4)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

NATIONAL MENURUT ALLAH SAW;

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.QS.49:13”.

ALLAH meniciptakan manusia ber-suku2 dan ber-bangsa2 dan bermacam bahasa agar manusia dapat satu sama lain saling belajar…agar tercapai hidup yang damai-sejahtera.


Kita lihat Amerika adalah bangsa international yang terdiri bermacam bangsa,suku dan bahasa,
Karena pemerintah melindungi klompok minoritas dari penindasan dan perbuatan diskrimnasi oleh klompok majoritas, masarakat plural Amerika dapat hidup harmini dan saling hormat menghormati atau saling belajar dari satu suku dgn suku yang lain.

Akirnya Obama yang datang dari klompok minoritas Black Amerika dapat menjadi president USA.

Itulah kebangsaan menurut ALLAH yg dapat menciptakan masarakat plural yang bahagia.

ALLAH bless America and His people.

http://muslimbertaqwa.blogspot.com/

 

 

 

#1. Dikirim oleh alatif  pada  04/02   08:02 AM

jelas saya melihat sebuah pertautan sederhana sebenarnya antara sebuah toleransi,sikap moderat dan sikap pluralis yang nyata serta menembus segala batas.

#2. Dikirim oleh michael jourdan  pada  04/02   11:08 PM

Mas Saidiman,

Kutipan “Anda adalah saudaraku. Apapun keadaan anda dan apapun kebangsaan anda. Apapun bahasa anda dan bagaimanapun warna kulit anda. Anda saudaraku walaupun anda tidak kenal aku dan tidak tahu siapa bundaku. Walaupun aku tidak pernah tinggal serumah dengan anda dan belum pernah seharipun hidup bersama anda…” bukankah lebih tepat menggambarkan prinsip ukhuwah Islamiyah daripada rasa kebangsaan (d.h.i Indonesia)..?

Jaman saya SMP sd. SMA dulu, saya sering mengaji di Majelis Al-Ihya yg diasuh KH Muh. Husni Thamrin yg sangat mengagungkan KH Abdullah bin Nuh (Mamak Ajengan).  Namun salahsatu “tagline” yg masih menempel di benak saya yg konon berasal dari salahsatu kitab karya Mamak Ajengan adalah “ana muslim qabla kulli syai’”, yg dalam pengajian di Majlis tsb sering disebutkan dalam konteks “persaudaraan Islam di atas persaudaraan sebangsa atau nasionalisme Indonesia” atau sebut sajalah dgn istilah “Pan-Islamisme” ,

Tentu saja saya sangat tidak percaya bhw Mamak Ajengan bisa dikaitkan dgn gerakan Salafis Wahabiyah.  Dan bahwa Mamak Ajengan adalah seorang yg sangat dekat dengan jalan tashawuf, itu saya juga tidak ragu samasekali. Dan Mamak Ajengan maupun Majlis Ihya (dan Majlis Al-Ghazali) seingat saya samasekali tidak mengkafirkan Syiah, bahkan sangat menghormati (alm.) Ayatullah Khumaini. Hal-hal ini menunjukkan bahwa Mamak Ajengan samsekali bukan seorang Salafis Wahabi.

Namun, argumentasi Mas Saidiman di awal tulisan dengan kutipan “Ada adalah saudaraku…dst” (yg mana konteksnya adalah ukhuwah Islamiyah dan bukan rasa kebangsaan Indonesia) dikaitkan dengan “ana muslim qabla kulli syai’” tsb., membuat saya berpikir: mungkinkah Mamak Ajengan adalah seorang penganjur “nasionalisme Islam” dan tidak terlalu memfavoritkan isu kebangsaan Indonesia..? Dulu pun “Pancasila” juga bukanlah istilah favorit di Majlis Ihya tempat KH MH Thamrin mengajar (dan beliau selalu menyatakan diri sebagai murid dan “pengikut” Mamak Ajengan).  Meskipun tidak pernah dinyatakan secara verbal, kesan yg terekam di benak saya adalah bahwa jargon yg sering tersirat di dalam ceramah atau diskusi di Majlis tsb adalah bahwa “harusnya syariat Islam yg jadi dasar, bukan ideologi yg lain”; dalam isu ini ada sekedar kemiripan dgn apa yg sering digembargemborkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia, misalnya.

Saya sangat menghormati KH MH Thamrin dan juga Mamak Ajengan, karena dari Beliau berdua tsb saya sudah pernah menerima banyak pelajaran (meskipun masih jauh dari cukup, tentunya).  Namun dalam perjalanan kehidupan saya selanjutnya, di mana saya merasa lebih dekat dan cocok dengan ke-Indonesia-an dibandingkan ide-ide semacam “negara Islam” ataupun Pan-Islamisme (dalam arti kebangsaan Indonesia menjadi kurang penting dibandingkan “nasionalisme Islam”), saya sering berpikir kembali, sebetulnya bagaimanakah posisi pemikiran Mamak Ajengan mengenai kebangsaan Indonesia?  Tulisan Mas Saidiman tadinya saya harapkan bisa memuaskan dahaga pertanyaan saya tsb, namun nampaknya saya masih harus menunggu ulasan2 Mas Saidiman lebih lanjut mengenai hal ini smile

Matur nuwun, terima kasih.

#3. Dikirim oleh Pramudya  pada  05/02   04:24 PM

salam Indonesia!

#4. Dikirim oleh wajdi  pada  06/02   10:16 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?