Wawancara,
29/12/2003

Prof Dr. Franz Magnis-Suseno: Natal Membuat Hati Terbuka

Oleh Redaksi

Syukurlah, Natal kali ini tak lagi dihujani dan diwarnai ancaman teror bom. Namun bagi Prof Dr. Franz Magnis-Suseno, rohaniwan Katolik yang akrab dipanggil Romo Magnis, ancaman Natal saat ini yaitu budaya konsumerisme yang luar biasa karena masyarakat akan mengeluarkan semakin banyak biaya untuk diri sendiri. Akhirnya, Natal hanya menjadi pesta belanja yang sekaligus juga berarti bahwa orang miskin kurang diberi perhatian, karena anggaran yang dikeluarkan begitu besar hanya untuk keperluan belanja dan tidak ada sisa bagi kaum miskin.

29/12/2003 08:09 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (4)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Sebelumnya saya ucapkan selamat natal buat Romo Magnis. Saya sepakat apa yang dikatakan Romo bahwa perilaku natal pada tahun ini aman dari nuansa teror, akan tetapi sangat perlu disayangkan dan menurut saya ini adalah yang paling membahayakan dalam keberlangsungan kehidupan umat manusia dalam mencapai kesejahteraan semesta, yaitu pola kehidupan konsumeris yang sangat tinggi dan semakin meningkat.

Hal ini tidak saja dialami oleh umat agama tertentu, namun kebanyakan umat beragama ketika mereka merayakan hari besar mereka, mereka lalai akan makna (ruh) dari pada perayaan hari besar tersebut. Mereka semua terlena akan meriahnya suasana hari raya, yang seharusnya dengan hari raya itu mereka gunakan sebagai refleksi atas segala sesuatu yang telah mereka lakukan, untuk dapat menapaki kehidupan selanjutnya penuh dengan visi kehidupan yang jelas dan bermanfaat bagi sesama.

Mereka para pemeluk agama malah terlena akan betapa banyaknya kesempatan bisnis yang dapat dimanfaatkan pada hari-hari besar seperti itu. Jadi yang ada di kepala mereka bukanlah bagaimana saya mulai menata diri, mengendalikan segala keinginan untuk mengahadap kepada Yangmaha Suci, yang nantinya bisa diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi semangat yang ada dikepala/otak mereka adalah bagaimana pada momen-momen yang bagus ini saya bisa mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya.

Semangat mereka untuk berperilaku agama (formalitas) sebenarnya hanyalah kedok untuk mensiasati bagaimana saya bisa bermain, mengambil keuntungan dari semua itu. Hal ini tidak hanya terjadi pada umat Kristen saja tetapi umat Islam pun juga seperti itu. Mereka sok islami. Contohlah suasana Ramadan; semua yang ada di TV islami, dari artis yang dulunya telanjang-telanjang. Menjelang Ramadhan mereka tertutup rapat semua dengan mengenakan jilbab. Hari raya Idul Fitri masih jauh, iklan parcel sudah disodorkan kepada pemirsa di awal Ramadan.

Dengan tayangan-tayangan seperti ini otak pemirsa sudah mulai dikonstruk bahwa nanti pas lebaran sesuatu yang harus dipersiapkan adalah ini dan ini. Bukan bagaimana umat bisa menjalankan ibadahnya dengan baik, agar bisa berperilaku baik, dan pasca itu bisa menjadi suatu kesadaran sosial untuk menapaki kehidupan selanjutnya. Kesadaran yang dimunculkan adalah bagimana saya bisa meraih ini dan mendapatkan itu, apapun caranya.

Jadi perilaku agama sekarang ini tidak lebih hanya sebagai formalitas, sebagai kedok/topeng untuk bisa menguasai antara satu dan lainya, dan bisa memakan (menindas) yang lemah untuk dijadikan cokolan kaki mereka.

Kebanyakan orang beragama pada saat ini bukan murni sebagai wujud pengabdiannya kepada Tuhannya, tapi lebih karena ingin memangsa antar sesamanya demi kebutuhan perut mereka. Bukan sebagai khalifah yang mewakili Tuhan di bumi ini, untuk menyelamatkan hamba-hambanya yang lain.

Maka, tidaklah pantas bagi orang semacam ini bila menyandang gelar: bergama A, B atau C, tapi lebih pantas mereka menyandang gelar beragama kapital.

Penulis adalah pemerhati masalah sosial keagamaan dan staf Lembaga Studi Islam Pembebasan KORDISKA IAIN SUNAN KALIJaGA YOGYAKARTA.

#1. Dikirim oleh mohamad Sholihin  pada  04/01   03:01 PM

Saya turut gembira, atas kegembiraan saudara-saudara Nasrani dalam memperingati kelahiran Isa Almasih.

Kelahiran Isa adalah 6 Januari, sedangkan 25 Desember merupakan hari peringatan Dewa Matahari yang di Romawi dikenal sebagai Sol Invictus. Setelah Constantine mengeluarkan The Edict of Milan, pada 313 M, maka ia kemudian mengeluarkan sejumlah peraturan keagamaan yang mengadopsi tradisi pagan. Pada tahun 321, ia memerintahkan pengadilan libur pada “Hari Matahari” (sunday), yang dikatakan sebagai “hari mulia bagi matahari”. Sebelumnya, kaum Kristen—sama dengan Yahudi—menjadikan hari Sabbath sebagai hari suci. Maka, sesuai peraturan Konstantine, hari suci diubah menjadi Sunday. Sampai abad ke-4 M, kelahiran Jesus diperingati pada 6 Januari, yang hingga kini masih dipegang oleh kalangan Kristen Ortodoks tertentu. Namun, kemudian, sebagai penghormatan terhadap Dewa Matahari, peringatan Hari Kelahiran Jesus diubah menjadi 25 Desember.

Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, kalau boleh dan mau kita mengerti mengapa ada sebagian orang Islam yang tidak memberikan ucapan selamat Natal, bukan berarti mereka radikal dan berpikiran picik.

Harry

#2. Dikirim oleh Harry  pada  08/01   01:01 AM

Kenapa Prof Franz tidak memberikan referensi dari al-kitab yang dia anut. Kalau begitu, tulisan ini hanya sekedar pemikiran dia. Boleh dong kita mempuunyai pemikiran lain, kan ini majalah liberal. Fanatik harus dalam Islam. Fundamentalist is a must.

#3. Dikirim oleh f. masputra  pada  17/01   01:01 AM

Kalau kita menyimak pernyataan Romo di atas, kita seperti melihat harapan besar untuk umat manusia. Yaitu pernyataan tentang keterbukaan hati melihat realitas sosial. Hari ini, permasalahan kita umat beragama tidak mampu/tidak mau melihat bahwa kita sering berdebat ttg jalan keselamatan, sehingga masalah yang riil luput dari mata kita.

Saya melihat, ada energi besar dari setiap agama untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran. Sudah saatnya kini setiap agama dgn doktrin masing-masing untuk menyelamatkan manusia.
——-

#4. Dikirim oleh m.alkaf  pada  03/02   04:02 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?