Diskusi
07/04/2009

Reportase Diskusi "Respon Islam terhadap Kapitalisme" Norma Kapitalisme dalam Etika Ekonomi Islam

Oleh Saidiman

Dawam menegaskan bahwa apa yang disebut sebagai etika ekonomi Islam sesungguhnya berjalan sejajar dengan norma ekonomi kapitalisme. Fakta bahwa etika mengenai kerja, kekayaan dan kepemilikan, perdagangan, keuangan, industri, dan pelbagai inovasi tehnologi yang berkembang pesat pada masa-masa kejayaan Islam membuktikan bahwa norma kapitalisme tumbuh subur dalam budaya ekonomi Islam. 

07/04/2009 16:07 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (36)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 >

diskusi yang menarik.
saya berpendapat bahwa kapitalisme dan sosialisme menjadi tangan kanan dan tangan kiri dari tubuh Islam. tidak bisa dipisahkan.

#1. Dikirim oleh Ochidov  pada  07/04   05:48 PM

Menarik sekali materi yang ditulis mengenai ekonomi kapitalis dan islam, hanya sayang tidak mendalam dan terlampau menyederhanakan. Sebaiknya diurai lebih dalam bagaimana kapitalisme, definisi dan perkembangannya serta bagaimana ekonomi islam, sehingga dapat ditarik benang merah diantara keduanya. Kapitalisme telah gagal terbukti dengan resesi global yang terjadi sekarang ini, karena ekonomi kapitalisme dibangun dengan nilai-nilai semu.

#2. Dikirim oleh taufik  pada  07/04   06:08 PM

Ekonomi Islam dan kapitalisme tak perlu dipertentangkan, Islam tidak pernah melarang orang mencari kekayaan ,justru sangat dianjurkan asalkan dibelanjakan dijalan yang diridoi Allah,dan jangan lupa dizakati. Tapi juga tidak bisa disamakan karena jelas2 kapitalisme itu pakai sistem riba dan persaingan bebas, dalam Islam sebaliknya.Yang mengherankan sekarang ketika sistem kapitalisme sedang menghitung hari menjelang kehancurannya,disaat yang sama dengan para dedengkot kapitalisme dunia berpaling ke sistem ekonomi syariah Islam sebagai solusi, kok ada yang mau mengecilkan arti keunggulan sistem ekonomi Islam, dengan mengatakan bahwa Ekonomi Islam itu seolah olah identik dengan sistem kapitalisme. 

#3. Dikirim oleh djineman_rowoh  pada  08/04   01:06 PM

Secara gampangnya System Islam adalah dibangun oleh komponen-komponen hidup yang terjadi sejak Nabi Adam di Surga hingga menemui format kesempurnaan systemnya di Jaman Rasululloh.... Tentu beribu-ribu komponen dan isme bisa tercakup dan menjadi bagian dalam system islam yang Kaaffah.. Bedanya System Islam dengan Nasrasi dan Yahudi adalah terletak pada jumlah kelengkapan komponen-komponen hidup yang bergulir pasca Nasrasi di bumikan di dunia… Contoh kata.... Ibadah qurban merupakan “isme” yang lahir pada masa Ibrahim.... maka otomatis isme itu berdesir di dalam yahudi… kemudian terlintas dalam Nasrani… dan masih tetap menjelma dalam Islam.... Hal itu terjadi karena “berqurban terjadi pada periode awal dari pembumian Islam yang ditempuh melalui fase Yahudi dan Nasrani. Tentu saja isme “berqurban” menjadi komponen nyata di dalam ketiga Agama samawi tersebut.... Nah pasca nasrani berakhir episode… ternyata lahir isme yang tak mungkin di setback ke dalam dua agama sebelumnya ,.....salah satu diantaranya adalah “isme anti riba"… yang dilahirkan menjelang detik-detik turunnya wahyu tentang Islam yang sempurna dan di-ridloi-Nya sebagai agama bagi ummat kemudian.
Dengan demikian hukum perdagangnya universal yang terkait “Kapitalism” dalam Islam akan mempunyai “ciri” pembeda dibanding dalam dua agama lainnya, yaitu adanya sinkronisasi dan harmonisasi antara kapitalism dengan “isme anti riba”..... dan yang Namanya versi “penyempurnaan” tidak mungkin menjelma dalam bentuk versi awal.... Pasti harus dalam bentuk versi mutakhir… Maka kesempurnaan ummat manusia dalam mengarungi bisnis berkapitalism.... pasti akan sangat digjaya fenomenanya dalam bentuk bisnis anti “riba”.....
Tinggal kita tahu saja konsekuensinya…
Dalam wadah yahudi yang berkapasitas 10 kg… maka jika diisi 4 komponen ...maka nilai dari tiap komponen adalah 2,5 kg…
dalam wadah nasrasi ditambah lagi satu komponennya ..dan berisi 5 komponen…
sehingga jika kapasitas wadah nasrasi sama pula 10 kg… maka nilai masing-masing komponennya adalah 2 kg.... lebih sedikit dibanding dalam wadah yahudi, bukan?… dan selanjutnya...dengan ditambah satu komponen lagi dalam wadah islam...dan berisi 6 komponen bisnis… maka jika kapasitas wadah islam sama seperti yahudi (10 kg)… maka ...nilai masing-masing komponen dalam islam adalah 10/6 = 1,67 kg....
Paling sedikit yah nilai komponen bisnis dalam Islam dibanding dalam milah dua agama sebelumnya jika ditinjau secara lahiriah....
Maka bagi orang yang mengingini nilai bisnis sebesar-besarnya.... pasti harus memilih “millah” Yahudi yaitu Reduksionisme dalam Bisnis ber-kapitalism
Tapi bagi yang memilih kesempurnaan Ikhtiar dengan kerelaan berkorban sedikit “untung” maka bisa jadi dia akan memilih sistem paling sempurna berdasarkan tuntunan Dinul Islam....
Begitulah gambarannya jika ber-kapitalism dalam islam....
Maka jangan heran kapitalisme oleh Sorros Cs begitu melimpahnya ruah nilai bisnisnya.... tapi tak tahan goyahan… karena untuk dapat besar tanpa diiringi dengan belas kasih bagi rakyat banyak dalam bentuk “anti cekikak riba”.... maka
sesaat untung… sesaat pula tercekiklah nasib orang banyak gara-gara kapitaslism yahudi yang mengurita...sehingga disumpah-serapahilah kapitalism sedemikian oleh orang banyak…

#4. Dikirim oleh kabayanist  pada  08/04   01:10 PM

Islam tidak bertentangan dengan kapitalisme. Islam tidak membatasi pemilikan harta, asal dicari secara halal, yang dibatasi islam adalah kesempatan menikmati harta, konglomerat juga makannya cuma sepiring, kalau sakit-sakitan juga malah nggak enak makan. Dalam prinsip ekonomi ada yang disebut efisiensi pareto/pareto optimum, yaitu suatu kondisi dimana nilai/harga yang terjadi diantara para pihak: kreditor/debitor, penjual/pembeli, produsen/konsumen, buruh/majikan berada pada titik yang wajar, saling meguntungkan kedua belah pihak. Tugas negara adalah bagaimana menekan distorsi pasar (market failure). Tugas para ekonom muslim adalah menganalisis secara terus menerus pada tingkat bunga/harga/gaji/upah berapa yang paling adil, mensejahterakan para pihak dan tetap mendorong pertumbuhan ekonomi. Di samping itu, para ekonom dan politisi muslim (bukan berarti hanya dari partai islam lho !) juga harus dapat merancang sistem yang mengintegrasikan pajak dengan zakat serta memfungsikan negara untuk membantu yang lemah atau yang sedang merugi (buyer/lender the last resort). Jadi bisnis asuransi juga harus berkembang pesat, semakin banyak yang ikut semakin diuntungkan kita semua.

#5. Dikirim oleh Teguhsuseno  pada  08/04   03:31 PM

sebuah diskusi yang sangat menarik dan sekali lagi membuktikan bahwa JIL memang kumpulan orang-orang yang betul-betul memiliki otak dan pengetahuan. Kelihatan sekali dari cara penulisannya, JIL memadukan pengetahuannya akan agama dan kitab suci dengan pengetahuannya akan bidang-bidang lain. Beda sekali kalau yang mengulas adalah orang-orang yang hanya mumpuni kitab suci tapi nggak pernah baca koran dan nonton CNN serta Aljazeera. Dikit-dikit haram, dikit-dikit masuk neraka, belum apa-apa sudah langsung memvonis itu tidak sesuai dengan sunah dll.

Sepanjang sepengetahuan saya seperti yang pernah diulas oleh Dr Christianto Wibisono, direktur PDBI (pusat Data Bisnis Indonesia), kapitalisme murni sudah tidak ada lagi riwayatnya semenjak pertengahan abad ke 19. Sosialisme pun sudah nyungsep seiring dengan ambruknya Uni Soviet, tinggal China yang masih malu-malu kucing mengakui kapitalisme. Saya cenderung mengatakan bahwa sistem ekonomi campuranlah yang ada saat ini. Kita lihat, pemerintah Amerika akhirnya harus turun gunung menyelamatkan AIG, Citibank, General Motor dll. Artinya bahwa invicible hands akan bekerja dengan sendirinya dalam sistem kapitalis, sebenarnya nggak ada, karena tanpa campur tangan pemerintah, invicible hands itu juga suatu saat akan kesulitan bergerak.

Bagi kelompok muslim sudah saatnya mengkaji dari sudut pandang lain, jangan semata-mata memandang suatu masalah dari sudut pandang agama, karena seperti apa yang pernah dikatakan seorang tokoh NU dalam wawancara di Voice of Amerika, didunia ini terlalu banyak masalah yang tidak bisa semata-semata harus dipandang dalam persfektif agama. Pandangan dari tokoh-tokoh JIL adalah sangat ideal menurut ukuran saya, mereka memandangnya dari dua sudut yaitu dari sudut agama dan dari sudut keilmuan.

Kadang kita sebagai umat muslim terlalu doyan dengan politik bendera atau label. Kita begitu mudahnya memberi label haram atas suatu sistem lalu begitu sistem yang haram itu dibungkus dengan baju islam, dengan bangga kita mengatakan bahwa inilah yang islami. Padahal isinya sama saja!!!  Mau bukti?

Saya kebetulan berlatar belakang bankers, menurut pendapat saya sistem syariah yang digembar gemborkan dalam sistem perbankan syariah di Indonesia, kalau kita mau jujur semuanya bohong besar. Coba analisa dengan jujur apa yang membedakan sistem perbankan konvensional dengan sistem perbankan syariah di Indonesia? Mau bilang bagi hasil bagaimana kalau toh debitur tetap harus bayar sekalipun usahanya mengalami kerugian?

Tetangga saya seorang haji yang sangat rajin meminjamkan uang dengan bunga super tinggi, memberi nama bunga yang diterimanya itu dengan istilah dalam bahasa arab yang saya kagak ngerti. Dengan bangganya dia mengatakan bahwa itu bukan riba. Jadi sebenarnya kita sebagai umat muslim harus berani jujur dan menghilangkan kebiasaan kita menjual minyak babi dalam kaleng yang diberi cap minyak onta!!!

#6. Dikirim oleh kapitalisme  pada  08/04   05:08 PM

Diskusi ini sangat menarik. Meski pendapat yang dimunculkan tidak menemukan kata pasti, apakah Islam itu dekat ke kapitalisme atau sosialisme atau isme lain, tapi itulah bagusnya diskusi ini. Ada sesuatu yang kiranya dianggap menarik untuk didiskusikan.
Sebenarnya, saya sendiri ragu --atau berada dalam keraguan--, apakah perlu memberikan label Islam pada sistem ekonomi dalam isme seperti kapitalisme atau sosialisme. Juga, memberikan label Islam dalam sistem politik; apakah demokrasi, khilafah atau kerajaan. Dalam realitasnya di Indonesia sejak kemerdekaan, symbol Islam dalam kepartaian misalnya, pernah laku dan pernah tak dilingkungan ummat Islam sendiri. Pada saat tak laku, --seperti yang terjadi sekarang ini--, mereka lebih memilih yang tak bersymbolkan Islam.
Jadi, menurut saya, pemberian label, bukanlah suatu keharusan. Karena dalam kenyataannya, semua isme itu ada plus minus-nya, dan bila Islam sebagai agama dilabelkan pada salah satunya, karena suatu periode umat manusia memakainya, akan jatuh pada kerawanan relativismenya. Dan jatuhlah Islam dalam kenisbian. 
Mungkin, karena saya tidak begitu paham sistem ekonomi atai sistem politik, kemudian saya berpendapat seperti itu. Mungkin, karena saya tahu, diskusi ini tidak akan mencapai “final”, karena silih bergantinya sistem di perjalanan sejarah ummat manusia. Mungkin, karena Rasulullah pernah bersabda, “antum a’lamu bi’umuri dunyakum”, yakni kalian lebih paham urusan dunia kalian. Mungkin, Islam itu qath’i, sistem-sistem itu ‘aqli, jadi, ketika yang qath’i itu dilabelkan pada yang aqli, tak akan pernah pas. Pas di suatu masa dan tidak pas di suatu masa. Pas di suatu tempat dan tidak pas di tempat lain. Sedangkan Islam adalah pas di semua masa dan di semua tempat. Mungkin, karena yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas, kapan pun. Mungkin juga, karena intelek saya tidak setinggi intelek, mereka-mereka yang hebat. Dan, mungkin, yang inteleknya tidak tinggi itu, tak akan mampu memikirkan isu yang tinggi. Dan, lalu yang intelek berkata; “… anu’minu kamaa, amanas sufahaa’?”, yakni “...apakah saya akan beriman sebagaimana imannya para sufaha’, alias berintelek rendah, alias bodoh?”
Riba itu haram, meski akal tak ikhlas menerimanya, betapapun, riba tetap haram. Meski, seorang haji, atau seratus haji, atau bahkan seribu haji mengamalkan riba, tidak lantas, riba itu berubah menjadi halal. Seperti disinggung di salah satu blogger di atas. Haji seperti itu akan tetap terkena hukuman berat dari Allah di akhirat kelak, karena menentang ketetapan Allah. Jadi, perilaku haji, tidak lantas bisa dijadikan hujjah untuk mengabaikan ketentuan Allah. Keharaman riba tak perlu dicari cara agar berubah menjadi halal. Tak bakalan.
Meski begitu, saya tetap hormat terbukanya diskusi ini, sehingga memperluas cakrawala ilmu pengetahuan dan “intellectual excercise”. Saya mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara diskusi ini.

#7. Dikirim oleh isoelaiman  pada  13/04   09:52 AM

As salamualaikum,
Bagaimana mungkin Islam yang memiliki dasar ekonomi syariah dapat disejajarkan dengan teori kapitalisme (modal)yang rendah? Di dalam kapitalisme tidak ada hukum-hukum zakat, sedekah, baitul maal, halal dan haram dalam muamalah. Yang ada di kapitalisme itu RIBA, kredit dengan bunga, pajak yang tak berimbang, praktik suap(tidak dapat dihapuskan), penguasaan tanah orang-orang miskin and many more.

#8. Dikirim oleh arema singa islam  pada  13/04   09:25 PM

apakah ada sejarah kapitalisme dalam islam? setahuku kapitalisme muuncul dari tradisi kristen protestan. penelitian yang dilakukan olah max webber terhadap bibel.
tapi menurutku kapitalisme tak semuanya negatif. secara poisitf ia akan memacu nalar kompetisi kita. secara langsung akan memacu kita berbuat lebih baik lagi.
kapitalisme harus dengan etika islam yang berkeadilan sosial

#9. Dikirim oleh junaidi abdul munif  pada  15/04   05:42 PM

APA YANG ANDA MAKSUD ISLAM SAMA DENGAN KAPITALIS? ISLAM BUKAN KAPITALIS DIDALAM ISLAM TERDAPT NORMA-NORMA YANG BERADAB TIDAK ADA HUKUM RIBA SEDANGKAN KAPITALIS TIDAK MENGENAL HALAL DAN HARAM

#10. Dikirim oleh IBNU AL GAZALI  pada  15/04   09:23 PM

Salam Sejahtera..

Kapitalisme di dalam Al-Quran disebut sebagai sistem Maghrib, sedangkan Sosialisme sebagai sistem Masyriq. Islam bukan Kapitalisme dan bukan pula Sosialisme. Karena kedua sistem ini adalah sistem yang memberikan lahan kesengsaraan bagi masyarakat dunia. (Al-Baqarah 177)

Sistem Ekonomi di masa Rasulullah Muhammad, Yesus Kristus, maupun Musa. Pada masa pemerintahan Yerusalem dan Darusalam tidak terdapat pemusatan ekonomi kepada golongan pekerja juga tidak kepada pemilik modal. Islam adalah mediator untuk mengisi kekurangan di kalangan kelas pekerja dan memfasilitasi bagi pemodal untuk mengalokasikan harta mereka kepada transaksi ekonomi yang saling menguntungkan.

Peran Islam adalah sebagai wasit yang adil di tengah proses berjalannya ekonomi masyarakat dunia. Itulah wajah Islam sebagai peradaban, bukan sebagai agama.

Salam Sejahtera..

#11. Dikirim oleh Mohammad Rachmad Ibrahim  pada  16/04   10:57 AM

Jika etika protestan disebut-sebut sebagai spirit kapitalisme, maka Etika Islam meminjam istilah Kuntowijoyo adalah sebagai counter revolution…
hadir sebagai alternatif yang lebih memanusiakan dan memakmurkan… dalam banyak sejarah dapat dilihat bahwa Islam senantiasa hadir sebagai kritik, terutama terhadap akumulasi materi monopolistis…

#12. Dikirim oleh aam  pada  19/04   02:59 AM

Kalau sudah masuk aspek permasalahan dunia nyata, komentar pengunjung situs ini sangat sedikit, baru 11 saat saya tulis komentar ini. Hal ini menunjukkan pemahaman umat terhadap “islam as a life”, islam yang hidup di masyarakat, sangat minim sekali. Tapi kalau sudah menyangkut soal fiqih dan aqidah, wah komentarnya seabreg. Bagaimana mungkin para penganut paham islam “orsinil yang kearab-araban” mau melawan “musuh-musuh islam” kalau pemahaman terhadap aspek masalah ideologi, sosial, budaya, ekonomi,teknologi, politik, hankam sangat terbelakang. Sampai disini saya menilai kaum liberalis, sekularis dan pluralis (yang diharamkan MUI itu) menang 1:0. Jangan-jangan mereka menganggap “komunis = atheis”, padahal komunis adalah sistem sosial ekonomi, atheis adalah tidak percaya kepada tuhan, tidak ada hubungan sama sekali.

#13. Dikirim oleh Teguhsuseno  pada  21/04   08:58 AM

Apakah terdapat kesamaan pembagian hak secara privat dan ummah dalam kapitalisme dengan Islam? sehingga terdapat kesamaan anatara keduanya!!!

#14. Dikirim oleh tony  pada  22/04   03:07 PM

Ya ampun. Menurut saya tak ada gunanya kita membuat ketegorisasi posisi ekonomi dalam perspektif Islam dengan kebudayaan. Islam adalah Islam. Dalam pandangan saya, dialektik yang berkembang telah memutus orginalitas ide. Misal (hanya misal), ideologi Adam Smith adalah liberalisme. Dalam buku An Inquiry into the nature and causes of the wealth of nations dan thoery of moral sentiment, ia mengkategorikan Merkantilis (zaman VOC) sebagai kapitalisme. Tiba2 dengan hadirnya gagasan MArx, Si Smith dikategorikan kapitalisme.

#15. Dikirim oleh Yuhka  pada  03/05   11:27 AM

Katanya mendasarkan penafsiran untuk memihak kaum tertindas dan minoritas, dan mempunyai misi untuk mewujudkan struktur sosial yg adil dan manusiawi.. Tapi pada tulisan ini seakan mendukung Islam untuk tunduk kpd kapitalisme.
Saya lebih percaya bahwa Islam lebih dekat dengan sosialisme. Sejarah perekonomian dan perdagangan jaman dahulu jgn disamakan dgn sekarang. Memang tidak ada yang salah dengan mengejar harta dan melakukan perdagangan pada jaman dahulu, termasuk juga seperti apa yg dilakukan para penyebar Islam. Tetapi itu tidak bisa serta merta disamakan dgn sistem kapitalisme yg terjadi skrg.
Above all, memang perlu waktu lebih untuk didiskusikan lebih jauh.

#16. Dikirim oleh Fathom  pada  19/05   08:55 PM

Bung Dawam, memang benar tak ada negara dan masyarakat yang lepas dari sistim kapitalis.dan sistim ekonomi sosialis memang tak pernah muncul,tapi perlawnan secara implisit dari kedua sistim ini sangat kentara lebar.tidak menutup kemungkinan sosialis adalah paham yang layu sebelum berkembang tapi para pengikutnya masih ada,jadi ini masih proses ke arah sunatullah belum menjadi sunatullah..gmn bung?

#17. Dikirim oleh ramon  pada  20/05   11:33 AM

istilah sosialisme pertama dimuat di majalah la globe milik Owenite Society, salah seorang pemikir koperasi. gerakan ini adalah raksasa yang baru tidur. Lihat di http://www.ica.coop.  jadi menurut saya salah kalau mengatakan bahwa sosialisme belum pernah ada.

ide dan gagasan koperasi secara panjang lebar saya muat dalam blog saya di http://www.suroto-idea.co.cc

salam,

suroto

#18. Dikirim oleh Suroto  pada  21/05   09:48 AM

sistem ekonomi kapitalis bertolak belakang dg sistem islam, wong asal produknya beda, yg kapitalis dr otak manusia sdg Islam dr Sang Pencipta Alloh SWT. misal, kapitalis boleh memiliki apa saja asal punya uang, pulau boleh dibeli, hutan boleh dikuasai, listrik bisa dimonopoli olh swasta atau individu/asing, sedang Islam, sabda Rosul “Seorang muslim berserikat dlm 3 hal air,padang(hutan),api”, jd Islam memberikan aturan tidak hanya cara mendapatkan uang yg halal, tp pembelanjaannya harus jg halal. Dan ingatlah aturan Alloh SWT tidak lain untuk kemaslahatan manusia sendiri, krn Dialah yang Maha Tahu hakikat manusia dr pd manusia itu sendiri. ketika aturan Dia ditentang manusia lihatlah akibatnya: untuk sekedar minum air, kita harus membeli dg harga yang mahal krn dikuasai individu, ketika tambang minyak, emas dll dikusai swasta asing mk harga BBM begitu mahalnya. dan banyak lg kerusakan yg ditimbulkan dr menentang Alloh SWT. Shg tidak cukup hanya merubah sistem ekonominya sj tp harus dirubah dulu ideologi negeri ini dg ideologi Islam, baru Islam akan tampak keunggulannya. 

#19. Dikirim oleh saif  pada  30/05   11:55 PM

bekerja telah menjadi sebuah habit manusia, dan dari situlah manuisa mencapai kemakmuran secra finansial.kapitalisme ataupun apapun namanya, sistem ekonomi selalu mencari keuntungan bagi dirinya, selalu ada kepentingan uang didalamnya.bukan maslah kapitalisme atau syariah ataupun apapun namanya yang paling penting dalam sebuah ekonomi adalah nilai kerakyatan yang terkandung didalamnya, dimana nilai-nilai kemanusiaan tersebut menjadi pangkal dari sebuah nilai jual beli.saya paling terkesan dengan sistem ekonomi koperasi,karena secara konseptual sistem koperasai sangat cocok dengan nilai ekonomi kemasyarakatan walaupun saat ini kita sudah semakin meninggalkannya.semoga belum terlambat kita semakin mengadopdi sistem serta filosofinya sehingga semakin menjadikan kita masyarakat yang lebih adil makmur dalam nilai kemanusiaan yang utuh.

#20. Dikirim oleh deskam  pada  31/05   12:44 AM
Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 >

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?