Menyambut Ultah NU ke 83 NU dan Passing Over Pemikiran
Oleh Abd Moqsith Ghazali
Gerakan purifikasi itu dikeluhkan dan ditentang para kiai pesantren karena potensial merubuhkan jenis-jenis keislaman lokal nusantara. Bagi para kiai, tak ada Islam murni dan tak murni. Islam selalu berwatak lokal dan pribumi. Dengan memodifikasi pernyataan Junaid al-Baghdadi (w. 297 H.), para kiai berpendirian bahwa Islam itu warna-warni.Yang menjadi perekat dari berbagai ekspresi keislaman itu, menurut para kiai, adalah nilai-nilai dasar dari agama itu (maqashid al-syari`at).
Komentar
Assalamu’laikum Wr.Wb.
ISLAM ( dengan huruf besar ) pada dasarnya telah ada secara built-in dalam setiap diri manusia dari sejak yang bersangkutan lahir sampai mati. Dan jika ditinjau secara universal, alam semestapun pada dasarnya berwatak ISLAM dan karenanya dapat pula disebut Muslim. Karena arti kata ISLAM itu sendiri adalah pasrah, kepasrahan yang secara implisit menggambarkan ketundukan kepada segala aturan yang dibuat oleh ALLAH sang Pencipta.Jika skala ketundukan itu direntang dari 0 sampai dengan 100, maka ada manusia yang berada pada skala 100, yang berarti dia berada level ketundukan tertinggi atau berada dalam tingkat ketawakkalan paripurna; ada pula yang levelnya berada diantara 0 dan 100 dan inilah yang umumnya paling banyak dijumpai; sedangkan yang berada pada level 0 bisa dikatakan sebagai level kekafiran ( kata kafir dalam Al-Qur’an berarti menolak atau membangkang ).Pada level 100 inilah bisa dikatakan seseorang sebagai seorang MUSLIM sebenarnya karena hidupnya selalu berada dalam konteks Innasholatii Wanusukii Wamahyaya Wamamati Lillahi Rabbil’alamiin.Yang berada antara 0-100 mewujud dalam berbagai bentuk aliran,pemikiran,mazhab,halaqah, yang masing-masing celakanya mengklaim sebagai true muslim.Seorang muslim sejatinya adalah seorang manusia universal yang pola berpikirnya tidak lagi berada dalam kerangka pemikiran artificial buatan manusia manapun kecuali dalam kerangka Ilahi yang jelas-jelas non partisan.Oleh karena itu gerakan purifikasi Islam seharusnya didukung dalam rangka mewujudkan manusia universal ini bukan dalam rangka Arabisasi Islam.Pengajaran ISLAM yang disampaikan oleh ribuan dai,ulama, dan mentor-mentor cenderung akhirnya membentuk apa yang bisa disebut sebagai PSEDO MUSLIM yang kemudian dengan salah kaprah disebut dengan satu kata: Muslim.Jadi adalah keliru mengatakan bahwa ISLAM itu warna warni. Yang warna-warni itu manusia-manusianya BUKAN ISLAM !.Wallahualam bissawab ![]()
Wassalam
Selamat ultah ke 83 NU, smoga gerakannya tetap konsisten seperti pada tujuan awal didirikannya. Pada kenyataannya saat ini NU terjebak pada kegiatan politik praktis, baik secara organisasi maupun tokoh perorangan.
Akan lebih elegan apabila NU sebagai gerakan moral yang membawa umat islam pada pemikiran yang cerdas dalam memahami dan mengimplementasikan alquran dalam kehidupan sehari-hari disegala aspek kehidupan. Dunia peradaban islam saat ini ketinggalan jauh disegala aspek kehidupan dibandingkan dengan peradaban dunia barat dan asia timur.
Umat islam saat ini masih terjebak pada perdebatan pemahaman ritual ibadah, sehingga energi habis berkutat disekitar itu. Padahal pemikiran alquran sebenarnya berangkat dari pemikiran yang rasional dan masuk akal yaitu ” TIADA TUHAN SELAIN ALLOH “.
Kita berharap gerakan NU kembali kepada tujuan awal didirikannya yaitu sebagai gerakan moral, bukan bergerak pada wilayah politik praktis.
Islam adalah agama yang luwes selalu mengakomodir perubahan perubahan baik yang dipengaruhi oleh waktu,tempat dengan seabreg budayanya dan situasi. Seandainya islam adalah agama yang kaku, islam sudah berakhir seiring dengan wafatnya kanjeng nabi Muhammad SAW,nyatanya islam masih ada dan ini membuktikan bahwa islam adalah agama yang mengakomodir perubahan. Tentu saja perubahan ada yang baik dan ada yang buruk, sepanjang perubahan itu sesuai dengan sendi sendi Al Qur’an dan Al khadist,seperti yang disyaratkan oleh NU maqashid al-syari`at.
Gerakan-gerakan dengan jargon purifikasi malah justru mengkerdilkan nilai islam itu sendiri dan pada akhirnya bukan tegaknya islam malah kehancuran islamlah yang akan didapat, bagaimana tidak islam dipaksa pada status quo 1400an tahun yang lalu. Sekarang bisa kita lihat pada produk produk fatwa kaum purifikan seperti haramnya golput, haramnya rokok dan mengharamkan pemikiran yang kritis ala islam liberalis dan produk produk fatwa lainnya.
Kaum purifikan gampang sekali membid’ahkan kelompok lain dan menganggap kelompok tersebut adalah sesat ini juga sudah membuktikan kaum purifikan penyebab runtuhnya sendi sendi dasar islam yang menghargai perbedaan malah ditegaskan bahwa perbedaan adalah rahmat dan juga mengingkari bahwa islam adalah agama rahmatan lila’lamin,jadi alih alih mau memurnikan ajaran islam malah yang ada menghancurkan islam itu sendiri. Wallahua’lam
Seakan tiada saat tuk berhujjah…. kamilah Islam… dan inilah salah kaprah yang tertanam sejak reduksionisme menghujam nurani kaum muslimin… Islam adalah Dinul Islam sebagaimana telah disempurnakan oleh Rasululloh… dan Kekal-lah Dinul Islam sedemikian rupa…. hingga tibalah orang per orang muslim per muslim berganti generasi…DAN BERUBAH-UBAHLAH MUSLIM DAN KAUM MUSLIMIN sejalan dengan perubahan jaman… Telah berlaku di dunia ini Fitnatul Qubro… dan akhirnya terpecahlah Kaum Muslimim menjadi kaum Syiah dan Sunni (bulam Islam syiah atau Sunni)... dimulailah pasca dikotomi syiah sunni proses PEREDUKSIAN DINUL ISLAM menjadi berbagai faham yang dinisbatkan sebagai “Al-Islam” yang digulirkan oleh beragam background kaum muslimin…. akhirnya tereduksilah keutuhan DINUL ISLAM antara lain menjadi SUFISM… dan ketika masuk ke tanah jawa maka SUFISM inilah yang diklaim sebagai wujud DINUL ISLAM… tanpa konfirmasi dan tabayyun untuk menemukan keutuhan DINUL ISLAM pra fitnatul Qubro… maka bergulirlah “ISLAM” versi sufisme…. yang kemudian sufisme inilah mencelup mistis jawa menjadi sufisme jawa…. Hingga saat ini tak ada satu upaya-pun dari generasi sufisme jawa yang didasari kehanifan untuk menempuh arah menuju keutuhan Dinul Islam sebagaimana hal-ihwalnya sebelum fitnatul Qubro…. yang ada hanyalah himmah dan kesombongan kaum reduksionis jawa yang bangga mengaku dirinya muslim padahal sejatinya adalah penganut sufisme versi jawa… Hari berganti…tahun berganti…yang ada hanya klaim “AKULAH” yang benar walau kemudian timbul rasionalis sufisme jawa yang kemudian berkoar akulah “PEMBAHARU” melalui corong muhamadiyyah…. semakin kentara lah sifat reduksionis jawa ..... habis sufisme jawa maka terbitlah rasionalisme jawa yang kembali mengulang koar-koar kamilah pembaharu yang mengklaim paling “ISLAM” dan menuntut kaum sufisme jawa untuk beralih kepada faham yang diusungnya….. Rasul pernah berdo’a meminta tiga hal…dua dikabulkan dan satu tertolak…yang ditolak adalah do’a rasul agar ummatnya tidak terpecah belah oleh perbedaan faham…. walaupun sekapasitas Al-Amin sekalipun maka tidak bisa doanya menghalangi terjadinya perbedaan faham… Logis memang jika kita kaji proses manusia sejak lahir hingga jadi ulama sekalipun ...adalah “ainul yakin” setiap manusia menempuh proses hidup yang berbeda-beda… yang akhirnya menimbulkan faham yang berbeda-beda pula…..
tinggal kehanifanlah yang kemudian dicampakkan ummat.. sehingga DINUL ISLAM yang harusnya menjadi ukuran bagi yang mau mengukur sesuatu…menjadi berubah sebagai “obyek” yang harus mengikuti apa yang akan diukur akibat ulah ummat islam yang terjebak faham ciptaannya hasil proses hidupnya masing-masing…. sekiranya ummat mau sedetik saja objektif terhadap fenomena utuh DINUL ISLAM maka tak akan ada tulisan seperti diungkap oleh abdul moqsith… percayalah…percayalah
Ass…
met ultah NU, smoga slalu menjadi wadah dalam membangun islam yg baik, santun, dan dikaruniani oleh Allah( insyaAllah…)
Tentunya dengan merubah pandangan tentang politik praktis, membangun kinerja SDm yang berkualitas.
Smoga NU terus melahirkan SDM2 yang berkualitas dan benar2 bermutu seperti GusDur,GusMus,Mbah Sahal Mahfudz,Kh. Lukman hakim dll…
Amin ya Robbal Alamin..
Wallaahul Muwafiq ilaa aqwamitthoorieq..
Wassalaamu’alaikum Wr.Wb
Tuhannya sama, nabinya sama, ajaran pokoknya sama (tauhid dan akhlak), tapi umatnya pada ribut, saya nggak habis pikir. Sebagai muslim saya sedih dan trenyuh, sebenarnya kalau umat mau merenung sedikit tentang pokok2 pikiran NU hal-hal tersebut bisa dihindarkan. Bacalah bukunya Gus Dur ISLAMKU, ISLAM ANDA, ISLAM KITA. Repotnya para partisan politiklah yang merusak ukhuwah islam dan kebhinekaan bangsa, apalagi kalau diberi label Partai Islam, tambah rusak, umat di bawah belum siap, jadi malah tambah bodoh dipolitisasi. Saya bukan anggota NU, tapi 100 % setuju dengan pemikiran para pendiri NU.
sesungguhnya untuk mengetahui seseorang, sekelompok orang termasuk Islam atau tidak cukup mudah, lihat saja dari rukun Islamnya yang lima, apakah sungguh telah dipahami dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, yakni Syahadatnya, Sholatnya, puasanya, zakatnya, hajinya .. apakah telah sungguh-sungguh dilaksanakan .. kalo pura-pura , berarti ia pura-pura islam ... gitu loh ... kalo gak setuju dengan rukun Islam, kenapa tidak keluar dari Islam ... kata gud sur, gitu saja kok repot ...
Syeh Nasar Al-Maqdisi dalam bukunya Al-Hujjah meriwayatkan secara marfu’ Hadits Nabi yg berbunyi; “Ikhtilafu ummati rahmatun”, demikian pula Al-Baihaqy meriwayatkan dr Qasim bin Muhammad dalam Al-Madkhal, Yahya bin Said meriwayatkan pula dari Umar bin Abd Aziz, kemudian Yahya berkata tidaklah membahagiakan aku jika sekiranya tidak ada perbedaan di antara umat Muhammad SAAW karena jikalau dalam umat ini tidak ada perbedaan maka tidak akan ada rukhshah di dalamnya. I.H, Al-la-aalil-mantsuroh, Badruddin Az-zarkasyi 745 H - 794 H.
Bagi saya Islam adalah ibarat taman bunga yg di penuhi berbagai aneka bunga dg aroma dan warna yg semuanya memikat yg masing-masing orang bisa memetiknya sesuai dg seleranya, seseorang tak dapat di larang atau di caci maki jika dia memetik bunga mawar yg di pandangnya sebagai bunga yg paling indah, begitu pula jika ada yg lainnya yg memetik bunga melati. Tentu masing-masing punya alasan kenapa memetik yg ini dan bukan yg itu. Yg penting masing-masing pemetik tidak boleh saling menghina dengan menganggap bunga yg di petiknya adalah bunga yg paling indah dan bunga yg di petik orang lain adalah jelek lalu semua orang di paksa untuk memetik bunga yg sama dengan yg dirinya petik. Bisa juga di ibaratkan sebagai meja perjamuan yg berisi berbagai makanan yg lezat-lezat, semua orang bisa meni’matinya sesuai keinginan hatinya.
Masing-masing orang Islam di bolehkan untuk mengikuti kecenderungan Madzhab apapun yg bisa menenangkan hatinya selagi tidak menyimpang dari ajaran pokok bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. So betapa susahnya kita mengikuti 100% ajaran Rasulullah semasa beliau hidup, untuk hal yg demikian kita harus betul-betul faham seluruh isi Al-Quran dan faham seluruh Hadits Nabi padahal kita semua tidak ada yg pernah tau berapa juta jumlah Hadits nabi, kita manusia yg terbatas dan hanya bisa mengamalkan Islam dg terbatas pula maka benarlah ketika Rasul bersabda bahwa orang Islam di ahir zaman bisa selamat walaupun hanya mengikuti Islam 20% saja.
@ fatur rafael…
ummat sekarang susah mengikuti 100% ajaran rasul….karena belajarnya dari kitab2 yang ditulis oleh seorang manusia walau dalam kapasitas seorang ulama sekalipun ....beda hal nya dengan sahabat-sahabat rasul…tabiin ..dan tabiin tabiin… mereka belajar, beriman dan melaksanakan ajaran Rasulululloh dari fenomena “Living Al-Qur’an” dengan tidak bergantung 89% kepada bahasa2 tulisan. Mereka saat itu belajar dan mengamalkan agama melalui uswah, yaitu segala tutur kata, prilaku, pemikiran, dan segala sesuatu tanpa terbiaskan sedikitpun oleh makna tertulis dari untaian tulisan…. maklum saja metode yang dikembangkan oleh Yang Maha Pengasih adalah melalui Paradigma “UMMI” yaitu suatu bentuk kecerdasan fitriah yang tidak bergantung pada bahasa tulisan yang dapat menimbulkan multitafsir atas makna tertulis yang ditulis orang seorang manusia lainnya… walaupun pada masa rasul “sebenarnya” telah berkembang pesat budaya litera yang dimulai ketika jaman Nabi Isa Al-Masih. Tentu salah satu keunggulan dari kecerdasan UMMIYIN tersebut adalah terjauhkannya ummat dari liberalisasi faham akibat beda penafsiran makna tertulis dari suatu ayat…. Maka nikmatilah wahai rafael….engkau terjebak faham beragama hasil menafsirkan untaian-untaian tulisan tanpa tergugah Qolbu anda untuk menunaikan hak “fuad” untuk menerima rasa dan karsa yang tak mungkin tergambar utuh oleh untaian tulisan….. dan nikmatilah kesombongan akibat berani menafsirkan makna tertulis versi apapun…. karena kera dimanapun demikian adanya walau orang jawa menyebutnya “ketek”...orang sunda nyebutnya “lutung” orang inggris nyebutnya “monkey” padahal kalau di-Iqro dengan Mata, telingga dan “Fuad” secara simultan maka kera adalah kera sebagaiman kita lihat dengan seluruh panca indra yang tidak mungkin fenomena utuhnya tersebut diuraikan dalam bentuk untaian tulisan…. Pendek kata Sunatulloh telah berlaku di muka bumi ini, yaitu Manusia yang digelari Al-Amin yang ditugasi menyempurnakan dienul Islam adalah seorang “UMMI” bukan seorang fatur rafael yang jago baca tulisan doang…wang…. maka pantas aja melegalkan perbedaan faham, mazhab, golongan, aliran, fikroh, dan akhirnya kepentingan politis.. yang memicu perpecahan ummat dan melahirkan generasi muslim yang seibarat buih di laut dan melestarikannya terus diombang-ambing gelombang…. BEWARE THE REDUCTIONIST MUSLIM
selamat berrefleksi. semoga NU ke depan semakin lebih baik dan mencerdaskan ummat. ummat pun semakin giat beribadah, berpikir dan beramal untuk tegaknya syariat Islam di Indonesia dan dunia untk kemaslahatan ummat manusia. itulah cita-cita NU. bravo NU, Ayo bersama ummat menegakkan Khilafah Islamiyah.
NUku semakin memuakkan :
1. LP ma’arif kualitasnya payah bgt…
2. Politisi-nahdhliyin-parasit pada politik praktis…
3. Liberalis-nahdliyin yang jual kebebasan atas nama agama…(in fact, the ‘re capital-minded)...
4. Manajer jam’iyahnya yg jauh dr profesionalism…
Thx.
Nahdliyin Lamongan
.(JavaScript must be enabled to view this email address)
Selamat ulang tahun Nahdlatul Ulama ke 83. Semoga tetap dengan demokrasi dan pluralismenya. Dan jangan dibawah ke sistem khilafah, soalnya manusia emang plural, dan sejarah menunjukkan dengan sangat bagus, bahwa demokrasi dan penghormatan kepada hak-hak asasi manusia menghindarkan kita dari saling sumpah atas nama Tuhan, saling bunuh atas nama Tuhan….. Demi sebuah kekuasaan….... Demi sebuah surga…... Demi hidup yang lebih baik….. Demi anak-anak sakit yang biayanya mahal…... Sangat mahal…..
Setuju, Mas Fatur Rafael.
Tidak ada itu yang namanya Islam murni dan Islam sesat. Setiap individu yang mengaku Islam punya pemahaman sendiri tentang Islamnya, dan itu sunnatullah. Kenapa harus dipermasalahkan? Ada yang percaya Imama Mahdinya sudah datang dianggap sesat. Ada yang salat dengan bahasa jawa dianggap melenceng. Orang bebas memilih jalan yang dianggap paling pas dengan hatinya untuk bersama dengan Yang Maha Sempurna. Kalau memang sebuah metode tertentu dianggap paling bisa mendekatkan dirinya dengan Sang Pencipta, kenapa kita harus pusing? Itu kan urusan yang bersangkutan dengan Allah. Biarlah Allah saja yang menjadi hakim atas semuanya. Kita jangan sampai menyerobot jabatan Allah sebagai hakim.
Mau ikut paham sekuler, plural, liberal , sesungguhnya tidak masalah, silakan saja, tanggung jawab masing-masing. Sesungguhnya Tuhanlah yang menciptakan dunia, matahari, bulan, bumi dan segala isinya, dan menciptakan surga sebagai ganjaran kenikmatan dan neraka sebagai ganjaran ketidaknikmatan makhluknya. Jadi siapakah yang lebih berhak membuat peraturan di dunia dan akhirat ? Tuhankah ? atau manusia ? atau yang lain ?
Selamat ultah NU! Semoga tetap menjadi organisasi moral yang kaffah berdasarkan Islam seperti sekarang! Semoga tidak terpengaruh oleh mazhab-mazhab yang “TIDAK MASUK AKAL” seperti khilafah dsb. NU adalah NU dan saya TIDAK SEDIKITPUN MERAGUKAN KEISLAMAN NU YANG KAFFAH, TEDUH DAN DAMAI! walaupun saat ini Islam dinodai oleh perbuatan-perbuatan busuk (yang mengaku untuk kepentingan Islam!) oleh beberapa gelintir orang, tapi NU adalah NU! jangan perpengaruh!
Makasih mba Aryanti Palupi,..kang Kabayan kayanya yg melegalkan adanya keberbagaian Madzhab bukan cuma Fatur rafael deh, Fatur hanya mengutip dr berbagai sumber yg Fatur ketahui dan itu adalah merupakan sebuah keniscayaan yg tidak dapat di pungkiri. Umar bin Abd Aziz, Hasan Bashri, Junaid Al-baghdadi, Yahya bin said dan Rabiah Adawiyah mereka itu adalah tabi’in lho tp mereka tidak memungkiri adanya berbagai corak keislaman. Jika kang kabayan adalah penganut Islam yg betul-betul murni 100% seperti Islamnya Rasulullah dan para sahabat, tentu Fatur ingin belajar pada anda karena bagaimanapun Fatur ingin juga memiliki Islam yg sempurna tetapi mungkinkah itu kang Kabayan? Sementara dalam sejarah sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in yg pernah Fatur baca tidak ada seorangpun yg bernama Kabayan termasuk di dalamnya. kang Kabayan, Fatur memang gemar membaca doang wang karena dengan membaca maka Fatur jadi tau sedikit tentang Islam, bukankah kang Kabayan juga tahu tentang adanya Islam yg kang Kabayan anggap telah di reduksi oleh para ulama, juga dari membaca?
Yang terahir, Fatur pernah baca dan belajar adanya Hadits Rasul yg berbunyi “Innakum fi zamanin man ‘amila minkum ‘usyro ma umiro bihii halaka, tsumma ya’-tii zamanun man ‘amila minkum bi ‘usyri ma umiro bihi naja.” sesungguhnya kalian berada pada zaman dimana jika kalian mengamalkan sebanyak 80% dari ajaran agama maka kalian akan tetap celaka, kemudian nanti datang suatu zaman jika diantara kalian hanya bisa mengamalkan 20% saja dari ajaran agama, kalian akan selamat. (HR Tirmidzi dr Abu Hurairah dalam buku Al-Fitan Hadits ke 192). Bagaimana Hadits ini menurut anda kang Kabayan? trimakasih, mohon maaf bila terlihat kasar.
Hidup NU…
siap perang membela NU.
Salam alaikum wa alaina….
NU memang briliant, dengan mengawinkan ajaran agama dan budaya. dengan dikuatkan berdirinya pesantren2 yang hampir merata di seluruh Nusantara, yang secara kontinyu melahirkan tokoh2 agamawan, politikus, pengusaha dll. yang dibentengi dengan keyakinan agama yang kuat. Secara saya juga termasuk warga NU warisan dari orang tua (hehe). bhkan saya tlah survey kecil pd warga NU sendiri, hasilnya sbb:
Apa yang Anda ktahui ttg NU?
Jawabannya begini: NU itu tahlilan, yang pake sarung, kakek2, jalan sehat….
Kok bisa bgini ya???....
mengikuti organisasi NU itu tidak wajib !!!
Bermadzhab juga tidak wajib !!!
Namun jika kita melihat sejarah Nabi Muhammad saw, mulai dari peperangannya yang berdarah darah hingga surat surat beliau yang dilayangkan kepada petinggi atau raja raja non islam, maka kesimpulan saya adalah bahwa N abi Muhammad saw mensosialisasikan ISLAMISASI !!!!!!!!!!
sebagai seorang manusia, tentu ingin selamat sejahtera, bahagia hidupnya. Sebagai seorang beragama tentu kelak ingin masuk surga. Jika masuk surga pun tentu tidak tanggung-tanggung, jika bisa, surga tertinggi diraihnya, dan jika bisa tentu tidak ingin mencicipi neraka terlebih dulu, yang menurut hadis nabi, siksa teringan adalah dengan sang terpidana memakai sandal api dan karenanya otaknya mendidih (bener gak ya ? kayaknya pernah baca demikian). Jika ada yang ingin mencicipi neraka terlebih dulu, silakan saja, tidak apa-apa (mudah-mudahan akhirnya masuk surga). Jika berandai-andai 20% juga tidak apa-apa, 1% pun tidak apa-apa, bahkan 0% pun, juga tidak apa-apa, sebab ternyata dari dulu (setelah ikut baca-baca), ada kelompok yang menamakan dirinya muktazilah, dan ternyata lumayan pengikutnya ...
Komentar Masuk (47)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)