Kliping
08/01/2010

NU Pasca Gus Dur

Oleh Luthfi Assyaukanie

Sumbangan terbesar yang dilakukan Gus Dur selama dia menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah adalah kegigihannya dalam membangun ruang-ruang kebebasan dalam tubuh NU. Gus Dur lah yang menyemai kebebasan berpikir dalam NU. Gus Dur lah yang menjadi pelindung anak-anak muda NU yang berpikiran bebas dan berusaha melakukan pembaruan pemahaman keagamaan dalam Islam. 

08/01/2010 16:36 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (11)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

gus ulil-kah?

#1. Dikirim oleh Halimah  pada  13/01   08:01 AM

sebenarnya apa yang dilakukan gusdur selama ini adalah untuk menjawab tudingan berbagai pihak khususnya kelompok islam modern bahwa kaum santri dan pesantren adalah kelompok dan tempat kejumudan dalam berfikir. makanya tepat seperti apa yang dikatakan AS Hikam dalam satu tulisannya bahwa ada satu kata kunci dalam setiap tulisan Gus Dur yaitu dinamisasi yang dalam bahasa fiqhnya adalah almuhafadhoh ala alqodim assholih wa al-akhdu bi aljadiid al-ashlah. hanya saja memang gus Dur pandai dalam meramu setiap pemikirannya karena beliau luas dalam bacaan hingga tidak heran apabila juga ditemukan teori2 sosial. kesimpulannya gusdur mengajarkan kritis dan kreatif dalam berfikir. mungkin itu lebih tepat dibanding kebebasan berfikir.

#2. Dikirim oleh yahya  pada  13/01   04:19 PM

mas...maaf ya tulissannya bagus ...intimya untuk membangun nu lbh maju kedepan...tapi kenapa kok pak hasyim kok ga di sanjung dengan kegagalannya...@adahal beliau adalah pemimpin NU walaupun toh mnrt anda gagal...tapi sosok santri yg baik ga akan bersikap demikian kpd ulamanya...- love gusdur i love muqsid G..dan Ulil dan NU yg maju...aku benci orang yg bisa mengucapkan terimakasih...syukrooooooooooonnn

#3. Dikirim oleh ahmadi  pada  16/01   10:21 AM

Tampilnya GD sbg ketua tanfiziyah NU tahun 1984 adalah awal musibah bagi NU. GD telah telah berhasil menebarkan virus liberalsme yang sangat mematikan. dan sejak itupula dalam tubuh NU muncul benih perpecahan. harapan saya, dalam muktamar mendatang akan terpilih ketua tanfiziyah yang akan mengembalikan NU kepada cita2 founding fathernya.

#4. Dikirim oleh Owan Hamid  pada  19/01   08:51 AM

Gus Dur bagi NU bagaikan wahyu yang dikirimkan Tuhan untuk mengejutkan kemapanan dan kejumudan di saat NU dalam kegelapan. tapi yang harus menjadi kesadaran bersama adalah wahyu itu tidak akan diberikan secara berkelanjutan dan terus meneurus. tiba-tiba wahyu itu akan hilang dan sirna, sehingga hanya meninggalkan impact dari wahyu yang pernah ada. maka harus dilupakanlah wahyu itu..karena kembali lagi pada proses rasional dan natural pasca turunnya wahyu.

NU pada saat sekarang memasuki masa itu, sehingga kembali lagi pada proses natural pada transformasi pasca turunnya wahyu. bukti dari pemaparan saya itu adalah yang sering mengatakan bahwa NU bukanlah Gus Dur dan Gus Dur bukanlah NU..karena masing-masing merupakan entitas tersendiri yang bukan merupakan sub ordinat atau sub kausalitas, meskipun masing-masing antara Gus Dur dan NU terjadi proses dialogis yang terkadang produktif, dan terkadang kontra produktif. masa manis interaksi tersebut adalah ketika Gus Dur dalam struktur NU, tetapi menjadi masa kontra produktif ketika Gus Dur tidak menjadi bagian dari NU.

ketika Gus Dur sekarang tidak memungkinkan lagi untuk melakukan interaksi aktif dengan NU, maka seharusnya sekarang NU mengalami internalisasi ide-ide Gus Dur secara natural. tentu saja akibat yang dihasilkan adalah tidak sedinamis dan seaktif ketika berinteraksi dengan Gus Dur.

sekarang NU harus dihadapkan pada kenyataan karena harus berproses secara natural. dan saya yakin dengan segenap hati, mayoritas entitas NU masih terkekang oleh konservatifme, sebagaimana yang sering terwujud dalam apa yang dilakukan oleh KH. Hasyim Muzadi. oleh karena itu, dengan keyakinan saya sekali lagi saya tidak mempunyai keyakinan bahwa NU mampu membuat lompatan dalam memilih pimpinannya. paling-paling ya itu-itu saja wujudnya. ramalan itu menjadi tidak menjadi kenyataan kecuali bila mayoritas NU sudah melakukan adopsi ide-ide besar Gus Dur..tapi kapankah itu terjadi..?10 atau 20 tahun lagi..saya pun belum yakin

#5. Dikirim oleh fashihullisan  pada  21/01   11:48 AM

Apa yang dilakukan oleh Gus Dur meurut saya sangat mirip dengan apa yang dilakukan oleh Martin Luther, seorang pendeta dari Jerman yang berani melakukan pembaharuan dalam cara berpikir dan menganalisis ajaran Katolik yang akhirnya melahirkan agama Kristen Protestan. Seorang sosiolog pernah mengemukakan pendapatnya dalam sebuah tulisan bahwa apa yang dilakukan oleh Martin Luther merupakan penyebab kemajuan dari peradaban negara-negara barat seperti yang kita saksikan sekarang ini.

Rasa-rasanya keberanian yang ditunjukan oleh sebagian dari umat katolik ratusan tahun yang lalu, untuk saat ini sangat sulit diikuti oleh saudara-saudara kita sesama muslim. Barang kali butuh waktu beberapa puluh tahun lagi, atau beberapa ratus tahun lagi agar kebebasan dan pembaruan berpikir dalam menganalisis islam tidak terhadang oleh fatwa-fatwa mengerikan dari MUI yang seenaknya memberikan stempel aliran sesat, dan juga dari ancaman kekerasan dari FPI dan organisasi sejenisnya.

Semuanya kembali berpulang kepada umat islam, mau berpikir maju jauh kedepan atau tetap terkungkung seperti sekarang ini yang sudah terbukti, dimana sebagian besar dari umat muslim didunia masih hidup dalam kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Perang saudara berlandaskan jihad yang tidak berkesudahan di Afganisthan, Nigeria, Somalia dll, serta kekerasan sektarian di negara-negara islam yang nyaris tiap hari menjadi berita di televisi, adalah contoh nyata, betapa umat islam harus berani melakukan pembaharuan dalam cara pandang dan berpikirnya.

Ketika saudara-saudara kita dari umat kristen sudah berani membuang jauh-jauh cara berpikir sektarian ratusan tahun yang lalu, hal sebaliknya terjadi di dalam umat islam. Teriakan kebencian dan kekerasan atas nama agama, bahkan tidak jarang memakan korban saudara-saudara muslim sendiri, masih menjadi menu berita sehari-hari. Berhentilah berpikir bahwa itu adalah semua rekayasa Barat dan Zionis, mari berani menganalisa dengan jujur, kenapa kita terpuruk seperti sekarang ini?

#6. Dikirim oleh Gus Dur abadi  pada  27/01   01:12 PM

Saya melihat ada beberapa tokoh muda NU yang mempunyai pemikiran cemerlang yang bisa meneruskan dan mengimplementasikan gagasan pembaharuan Gus Dur.

Dari antara mereka adalah yang sering menulis artikel untuk situs JIL ini. Tapi yang mungkin menjadi pertanyaan adalah, apakah mereka mempunyai fighting spirit yang tinggi seperti Gus Dur? Untuk menjadi pemimpin itu perlu keberanian dan ketegasan. Kadang-kadang perlu membuat break-through.

Kalo dari segi intelektualitas sih, saya percaya mereka yang masih muda-muda itu memenuhi syarat. Juga, apakah syarat yang diperlukan untuk menjadi pengganti Gus Dur itu harus merupakan sosok dengan “darah biru” seperti Gus Dur?

#7. Dikirim oleh Anton Isdarianto  pada  28/01   04:10 PM

Gusdur yang saya kenal semasa mondok di Denanyar 1971-1973; kalau sedang berdiskusi dengan beberapa santri senior, sungguh serius. begitu mendengar beduk asar, dan mbah Yai ke masjid, beliaupun segera berwudlu’, dengan sarung dan kaos oblong, salat sunnah qobliah, dan salat asar berjama’ah.Semoga Allah melapangkan alam kuburnya, dan barakah Allah, asror-Nya, anwar-nya kepadanya selama masa hidupnya, dikembalikan kepada kita semua, amin. al fatihah.

#8. Dikirim oleh azim amin  pada  11/02   04:09 PM

gus dur yang kulihat,dia memiliki perasaan yang lembut seperti soekarno.dan dengan kelembutannya dia berani mengatakan dan membela kebenaran.dia mengasihi semua mahluk,dan itu yang dibutuhkan NU saat ini.semoga Nu mendapatkan pemimpin yg terbiasa dengan rakyat kebanyakan

#9. Dikirim oleh rohem  pada  13/02   01:31 PM

Setelah saya tau Gus Dur memeang luar biasa, ingin sekali saya menjiplak yang ada padanya, pemikiran dan keteguhan dalam memperjuangkan yang diyakini benar,NU harus dapati tojoh sepertinya, saya tidak tau siapa, yang jelas kita semua butuh Gus Dur2 lain yang dapat membawa NU dan negara kita kearah yang lebih baik, insyaAllha.

#10. Dikirim oleh Sulaeman  pada  24/02   09:27 AM

NU secara kelembagaan harus mampu mengkader kader-kader muda di kampus, misal PMII agar giat memperharui pola pikir, pola gerakan dan pola interaksi.

#11. Dikirim oleh zin_top  pada  09/03   11:54 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?