Oleh-oleh Dari Situbondo Risalah Muktamar Pemikiran Islam NU
Oleh Novriantoni
Berbagai tanggapan muncul tentang muktamar. Yang paling ditunggu-tunggu banyak pihak adalah komentar Cak Nur, sapaan akrab cendikiawan Nurcholish Madjid. Cak Nur yang pernah memprediksi akan lahirnya kalangan pembaru Islam justru dari rahim ormas tradisional tersebut, memberi komentar positif atas terobosan kaum muda NU ini. Secara sosiologis, Cak Nur yakin bahwa perkembangan pemikiran keislaman di NU akan berdampak pada kesetaraan atau menyempitkan kesenjangan wawasan antara kalangan elitnya dengan warga Nahdliyyin pada umumnya.
Komentar
Membaca reportase mas Novriantoni seputar Muktamar Pemikiran Islam di NU, juga artikel Zuhairi Misrawi di Kompas tentang topik yang sama, nampak bahwa kegairahan pemikiran yang telah lama menggejala di tubuh kaum muda NU sungguh merupakan langkah awal yang perlu direspon lebih jauh.
Pertama, jelas kegairahan semacam ini perlu ditindak lanjuti hingga tataran riil di masyarakat, sehingga gagasan-gagasan dari hasil pergolakan pemikiran yang tengah berkembang ini tidak hanya mewacana, tapi juga dapat dirasakan kemaslahatannya bagi orang banyak. Tentu hal ini memerlukan tantangan tersendiri, selain juga tantangan dari banyak pihak yang merasa ‘gerah’ dengan ‘pola tingkah’ anak muda NU sekarang.
Kedua, sudah saatnya pula kalangan muda NU ini secara gradual ‘menyusun’ fiqh baru untuk realisasi di tengah masyarakat, sebab sebagaimana kita maklum, fiqh yg selama ini beredar sudah nampak kadaluarsa, sehingga nyaris tidak aspiratif sesuai perkembangan peradaban manusia.
Ketiga, tentu saya berharap kegairahan yang tengah berlangsung ini tidak hanya hangat-hangat tahi ayam alias pelampiasan libido intelektual semata, tetapi kudu dijaga staminanya agar keberlangsungannya tetap terjaga. Sehingga apa yang dikatakan Cak Nur dapat terwujud.
Salam A Nurcholish
Sulit untuk tidak mengatakan bahwa betapa arena muktamar tidak sekedar menjadi ajang pertarungan wacana-wacana diskursif semata. Akan tetapi secara eksplisit kampanye besar-besaran Novri terhadap kehadiran Cak Nur seakan meggulung habis pergulatan dan persetubuhan pemikiran yang berkembang di perhelatan akbar anak-anak muda NU itu. Berjubelnya peserta yang hadir mulai dari kalangan para pemikir yang super konservatif sampai yang super nakal seakan hanya menunggu nongolnya sang maestro pemikiran yang akhir-akhir ini ikut meramaikan bursa calon presiden pemilu 2004. Sekalipun terkesan agak bombastis rangkuman berita muktamarnya Novri pantas untuk diapresiasi, sebab bagaimanapun juga kedatangan Cak Nur di arena muktamar pemikiran Islam NU sedikit memberikan inspirasi peserta muktamar akan lika-liku pergumulannya (baca: Nurcholish Madjid) dalam dunia intelektual sejak di era 70-an. Sehingga dinamika muktamar tidak hanya menjadi satu-satunya ladang yang bisa dicangkul oleh kebesaran dan otoritas Cak Nur. Alangkah naifnya jika muktamar hanya menjadi forum yang simplikafikatif sekaligus distortif. Membaca kembali uraian Novri dalam kemasan oleh-olehnya dari Situbondo: Risalah Muktamar Pemikiran Islam NU, mengusik batin saya untuk sekedar melengkapi beberapa hal yang dirasa kurang dalam muktamar tersebut. Gesekan-gesekan pemikiran yang terjadi antara yang pro dan kontra khususnya kubu konservatif menanggapi liberalisme pemikiran anak-anak muda NU nyaris tidak tercover sama sekali. Pernyataan Wakil Syuriah PWNU Jawa Tengah, KH. Wahid Zuhdi seorang pakar Bahtsul Masail asal Grobogan—yang juga fasih bicara kasanah Islam klasik itu—sempat mendoakan para pemikir Muda NU itu agar cepat-cepat bertaubat dan diberi panjang umur. Ini menjadi menarik karena sebenarnya suasana semacam itulah yang menjadi target muktamar pemikiran, yaitu bertemunya dua kubu yang selama ini berseberangan dalam ranah teologi pemikiran. Disadari atau tidak, forum muktamar tanggal 3-6 Oktober kemarin sebenarnya tidak jauh beda dengan pergulatan-pergulatan anak-anak muda NU baik yang JIL, JIE, dsb. dan terkesan satu wajah, tidak lebih. Ketidakhadiran KH. Masduki Mahfudz merupakan tanda tanya besar. Sebab sejak awal justru peserta selalu penasaran menunggu kedatangan Kyai asal Malang tersebut untuk mempertanggungjawabkan atas pernyataannya di Arena Konferensi Wilayah PWNU Jawa Timur yang mengecam keras pemikiran liberalnya Ulil Abshar-Abdalla. Ternyata selebritis yang datang justru Cak Nur yang sebenarnya secara visi dan pemikiran tidak jauh beda (untuk tidak mengatakan sama persis) dengan gairah anak-anak muda NU.
Belum lama saya mengetahui existensi JIL dan “Gus Ulil” (maaf, ini istilah pribadi untuk membubuhkan gelar yang pantas bagi bung Ulil). Indonesia memerlukan banyak cendekiawan rohani berkualitas universal yang mampu menerjemahkan pemikirannya dalam bahasa sederhana dan nyata. Beberapa telah muncul, dan Indonesia boleh berbangga Gus Ulil adalah salah satunya. Islam memerlukan figur pembaharu, sekualitas figur Martin Luther bagi ajaran Nasrani di jamannya, tak sebatas wacana. Gus Ulil, seperti T. Rachman dari Swiss, menyumbangkan pemikiran-pemikiran yang mampu menembus sekat umat, yang sejuk mencerahkan di “jaman pertengahan” Indonesia ini.
Satu lagi oleh-oleh dari MPI NU Situbondo adalah kenyataan bahwa generasi tua NU masih merasa “resah” dengan gerakan “liberalisasi Islam” yang banyak dipelopori oleh generasi muda NU.
Seharusnya ini membanggakan dan tak perlu diresahkan, karena mereka-mereka ini pada umumnya memiliki konsistensi tinggi pada garis perjuangan NU, dengan tetap berpijak pada toleransi dan keterbukaan yang merupakan nilai-nilai dasar NU.
Semoga muktamar-muktamar selanjutnya mampu menyambung kembali keterputusan wacana antara generasi tua NU dan generasi mudanya. Semoga ini juga hanya karena kurang komunikasi.
Salut mendengar kabar tentang Muktamar situbondo. Satelah membaca beberapa artikel di beberapa media massa, saya jadi sangat bangga sebagai anak muda yang secara kultural sangat dekat dengan mereka yang menggelar muktamar. Namun, semakin jauh saya membaca, semakin tidak jelas saya membaca kepentingannya.
Dari beberapa artikel yang muncul, saya melihat apresiasi yang sangat besar dari Cak Nur yang calon presiden itu, dan semakin tampak dia apresiate (dalam tulisan dan laporan itu) semakin juga tenggelam pemikiran anak-anak muda NU.
Ahirnya, sebagai orang yang berkepentingan untuk tahu lebih, saya minta yang merasa bertanggung jawab atas terselenggaranya muktamar untuk membuat semacam laporan yang lebih komperhensif dari beberapa laporan sebelumnya. Juga tentang 3 rekomendasi itu saya minta penjelasan dari Bung—maaf tidak bermaksud mendekatkan dengan GOLKAR—Zuhairi atau Gus Ulil, atau yang lain. Mengapa 3 rekomendasi itu yang dikeluarkan? sejauh manakah pentingnya rekomendasi itu?
Banyaknya respon teman-teman terhadap muktamar telah “menggelitik” saya untuk ikut ngomong. Sekalian untuk menambahkan kabar yang dirangkum secara sempurna oleh Novriantoni. Ia salah seorang peserta muktamar yang hadir langsung ke tengah-tengah arena muktamar dan mengikuti secara intens sejumlah kegiatan muktamar.
Ada beberapa hal yang melatarbelakangi dilaksanakannya muktamar. Pertama, muktamar merupakan wacana “resistensi” terhadap kentalnya covering NU sebagai entitas politik. Saya dan teman-teman yang bergerak di jalur kultural merasa tak nyaman dengan beban politik NU yang sangat berat itu. Karenanya, muktamar menjadi terobosan untuk menyingkap khazanah pemikiran keagamaan yang berkembang di tubuh NU. Dari arena muktamar kemarin, menarik sekali, bahwa hampir tidak ditemukan adanya radikalisme pemikiran. Pemikiran disambut dengan pemikiran. Bukan hanya itu, perbedaan pemikiran disampaikan dengan santun, jernih dan bersahabat. Bahkan salah seorang kiai mendo’akan agar Tuhan memperpanjang usia anak-anak muda yang dikenal kontroversial itu.
Saya melihat bahwa NU mempunyai modal yang sangat kuat untuk menjadi lokomotif pembaruan pemikiran keagamaan di tanah air. Dan ini terus terang merupakan pancingan bagi ormas-ormas yang lain untuk melakukan hal yang sama, sehingga radikalitas dapat dilokalisir dan diwadahi dalam forum yang terhormat.
Ketua, perlunya melihat pemikiran keagamaan sebagai “konsep yang utuh”. Di sinilah, muktamar pemikiran Islam NU mencoba untuk mengukuhkan visi kebangsaan dan kerakyatan. Kami kemarin mencoba mengeksplorasi epistemologi, metodologi dan fikih terapan. Dan hasil terbaik dari muktamar kemarin, yaitu mencoba untuk melihat doktrin-doktrin keislaman bukan hanya sebagai hukum, melainkan sebagai etika sosial yang bisa diterima oleh seluruh umat manusia, apapun agama, suku dan rasnya. Sejatinya keislaman tidak hanya dibatasi oleh dan untuk umat Islam saja, melainkan untuk seantero umat. Dan Islam sebagai etika sosial merupakan jalan untuk mengukuhkan semangat kebangsaan.
Selain itu, muktamar juga melihat perlunya metodologi keagamaan yang tidak hanya memperdebatkan antara akal dan teks; mana yang dinomorsatukan dan mana yang dinomorduakan, melainkan mencoba agar akal dan teks memberikan perhatian dan keberpihakan terhadap kaum lemah. Ini penting untuk mengukuhkan visi kerakyatan, sehingga akal dan teks tidak disubyektifikasi oleh kuasa tertentu. Dan pada akhirnya pemikiran keagamaan, diantaranya fikih, dapat menyoal hal-hal yang berkaitan langsung dengan problem kemanusiaan.
Sungguh, perdebatan seperti dalam muktamar merupakan mozaik yang mesti dikembangkan untuk menjadi pemikiran yang bisa mewadahi keragaman.
Atas nama panitia muktamar pemikiran Islam NU, kami mengucapkan terima kasih atas tanggapan dan komentarnya. Buat Islib, teruslah maju dan menyegarkan pemikiran Islam di tanah air. Toh Islib-pun sudah kita NU-kan (heheh), sebagaimana Cak Nur sudah “dibaptis” di Situbondo untuk menjadi “syuriah” anak-anak muda NU…
Salam Zuhairi Misrawi
Salam,
Terima kasih. Tulisan Zuhairi yang sedikit melegakan saya, setidaknya merepresentasikan panitia. Satu hal yang pingin aku tahu adalah alasan dari 3 rekomendasi itu. Dan tampaknya, memang terbuka luas kesempatan untuk menafsirkan kepentingan muktamar itu, termasuk kepentingan yang tampak adalah membabtis cak Nur sebagai “syuriah” anak-anak muda NU. Walau tampaknya Zuhairi menulis itu tidak serius, tapi aku juga pengin dapat jawaban mengapa Cak Nur yang dianggat. Mengapa bukan Gus Ulil atau Pak Masdar?
Menarik sekali tulisan oleh-oleh dari Situbondo di atas. Bahwa kiranya ada suatu forum untuk mempertemukan berbagai macam pemikiran keislaman yang berkembang di kultur NU yang selama ini berkembang dengan kesan tak teratur dan tak tersosialisasi dengan baik (tanpa media formal), kini coba untuk lebih diperhatikan dan dimotivasi. Guna menghindari kejumudan dari paradigma pemahaman keislaman, maka proses perkembangan pemikiran ini sangatlah mutlak dibutuhkan. Bahwa tantangan perkembangan terhadap nilai kemanusiaan yang semakin kompleks, dibutuhkan suatu trobosan. Jika kaum muda NU tidak mampu melakukan terobosan, maka pemikiran yang dimotori kaum tua yang cenderung konservtif tidak mampu mengatasi problem kemanusiaan. Penafsiran yang terlalu tekstual, kiranya memang perlu diretafsir lagi dengan sumber yang sama, tapi dari sisi lain bersifat membebaskan terhadap nilai kemanusiaan. Aku sepakat bahwa dalam penafsiran ulang, posisi akal yang memang bersentuhan langsung dengan analisis terhadap realitas perlu mendapat porsi yang seimbang. Artinya, walau nash tetap menjadi sumber, tapi akal perlu mendapat ruang yang lebih luas dari pada selama ini. Nash tetap akan membawa kebenaran, tapi kebenaran nash sangat perlu diterjemahkan dan diapresiasikan oleh akal. Aku juga sepakat bahwa tidak perlu dipertentangkan antara akal sebagai instrumen dan nash sebagai bahan, tapi perlu dicipta suatu hubungan metodologi yang kondusif untuk menghasilkan suatu pemikiran yang kontekstual. Yang masih aku bingungkan, bahwa keleluasaan ruang bagi akal memang tak terbatas, tapi bagaimana akal yang tanpa bekal akan mengembara? Untuk itu tetap ada fungsi kontrol dari kebebasan berpikir. Saranku perlu disinergiskan antara berbagai perkembangan pemikiran di kalangan kaum muda NU, agar tercipta arah yang jelas.
Buat Imam…
Terima kasih atas responnya. Saya terus-terang selalu terganggu dengan tafsir politik atas muktamar, seperti yang disampaikan Imam. Tapi memang susah menghindar dari tafsir politik, karena suhu politik menjelang pemilu 2004 mulai memanas. Jadi biarlah tafsir tersebut bergulir sebagai sebuah dinamika pemikiran.
Namun atas nama salah satu penggagas muktamar, ada baiknya bila saya memberikan klarifikasi. Pertama, muktamar mengundang Cak Nur, karena dia termasuk salah satu cendekiawan muslim yang meramal boom intelektual NU. Diakui atau tidak, Cak Nur telah menyempurnakan pemikiran progresif yang dibawa Gus Dur. Bagi saya, Cak Nur juga menjadi kiblat pemikiran keagamaan sebagian anak muda NU, termasuk saya pribadi. Cak Nur telah mengingatkan kita, bahwa tradisi merupakan pijakan teologis untuk menuju kemodernan.
Kedua, Gus Dur sebenarnya juga diundang seforum dengan Cak Nur. Cuman karena ada kunjungan ke Perancis, Gus Dur berhalangan hadir. Memang, idealnya Cak Nur dan Gus Dur berada di satu forum untuk melihat pemikiran Islam NU. Kami sangat menyayangkan ketidakhadiran Gus Dur.
Ketiga, para pelaksana muktamar, termasuk pengarah dan pelaksana, tidak ada satupun yang aktif di politik praktis. Jangankan di Golkar, di PKB pun mereka tidak tertarik. Jadi, tak ada alasan untuk mendukung kelompok tertentu. Kami sangat menghargai demokrasi, siapun pemimpin bangsa ini yang lahir dari proses demokrasi, maka kita mesti “makmum”, dan memberikan kontrol yang semestinya.
Bagi saya dan teman-teman, bergerak di jalur pemikiran dan pemberdayaan masyarakat merupakan kerja kemanusiaan yang amat suci. Muktamar pemikiran Islam NU di Situbondo merupakan salah satu panggilan kepada NU untuk melihat tradisi dan khazanahnya.
Zuhairi Misrawi
Harus diakui, selama ini NU dikenal mandeg dalam pemikiran. Orang-orang seperti KH Abdurrahman Wahid adalah kekecualian. Karena itu munculnya anak-anak muda NU yang kritis dan melontarkan gagasan serta pemikiran segar sungguh menggembirakan. Tentu saja hal itu tidak harus ditanggapi dengan telinga memerah oleh kalangan tua
——-
Komentar Masuk (10)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)