Endy Bayuni: Paham Keagamaan Ditentukan Pengalaman
Oleh Redaksi
Pemahaman keagamaan seseorang selalu ditentukan oleh banyak faktor. Namun pengalaman pribadi-pribadi tiap orang dalam menghayati soal-soal keagamaan adalah faktor terpenting dalam corak keberagamaanya. Demikian pendapat Endy Bayuni, Pemimpin Redaksi The Jakarta Post, Kamis (15/9) lalu, kepada Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL).
Komentar
pemahaman nomor sekian mas. yang utama adalah bersumber dari Al-Quran dan Sunnah. tahu prinsip dasar, insyaallah pengalaman yang dihasilkan oleh pemahaman ilmu agama yang benar, wow luar biasa. entar juga di edit sama editor, yo wes paling ngak pembelajaran buat editor dan semoga turunannya mendapat hidayah dari Allah SWT dan jauh dari pengaruh niat dan hati yang buruk dari bapaknya/kakeknya atas agamanya sendiri (ISLAM).
——-
Paham Keagamaan Ditentukan Pengalaman !
Yang benar adalah Pemahaman Keagamaan menurut hujjah Allah, hujjah nabi Muhammad saw. dan hujjah kitab suci-Nya adalah:
1. Al A’raaf (7) ayat 52,53: Wajib menunggu-nunggu dan tidak melupakan datangnya Allah menggenapi Hari Takwil Kebenaran Kitab melalui seseorang pada awal millennium ke-3 masehi di Indonesia (Fushshilat (41) ayat 44).
2. Yohanes 16:12-15: Wajib menunggu-nunggu dan tidak melupakan datangnya Allah menurunkan Roh Seluruh Kebenaran melalui seseorang pada awal millennium ke-3 masehi di Indonesia (Yohanes 7:14,15).
Wasalam, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.
Pemahaman agama lebih banyak ditentukan oleh ilmu, hati dan akal. Persepsi tanpa sandaran ilmu yg cukup, hati yg bersih dan akal yg sehat hanya menjadi persepsi yg sesat. Semua agama itu baik, menurut pemeluknya masing-masing. Jadi jangan memaksakan faham bahwa semua agama itu baik dan benar kepada umat beragama yg plural ini, biarkan lah kita saling menghormati dan menghargai sesuai batasan agama masing-masing, itu lebih baik. Islam itu agama yg demokratis, tidak membatasi umatnya untuk mengembangkan pikiran dan berijtihad, asal kan tidak bertentangan dgn Al-qur’an dan Al-hadits seperti halnya UU yg tidak boleh bertentangan dgn UUD’45 dan pancasila, oleh karena itu harus berilmu dan berwawasan luas..tidak berpikiran sempit dan berorientasi emosional menabrak tatananan nilai dan norma yg telah terbentuk baik. Apa salahnya seorang kepala daerah harus bisa membaca Al-qur’an, bukankah itu menjadi cermin keteladanan seorang yg nantinya akan menjadi pemimpin adalah orang yg berilmu dan menghargai ilmu, sehingga warga masyarakatnya pun harus memiliki semangat dan keinginan yg sama terhadap ilmu. Jangan persempit hati dan pikiran kita.
Komentar Masuk (3)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)