Buku,
01/04/2005

Paras Kasar Fundamentalisme Agama

Oleh M. Ali Hisyam

Resize of muslim-dialog-teror.jpgDalam dua bulan terakhir, tercatat setidaknya empat pustaka serius yang mencoba mengulas hal ini dari pelbagai dimensi. Buku Aku Melawan Teroris (Imam Samudera, Jazeera), Islam Sebagai Tertuduh (Akbar S. Ahmed, Arasy), Muslim, Dialog dan Teror (Chandra Muzaffar, Profetik) serta Negara Tuhan: The Thematic Encyclopaedia (Agus Maftuh, SR-Ins Team) hadir bertandang nyaris bersamaan ke ruang baca khalayak.

01/04/2005 03:37 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (4)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Salah satu hal yang sering dinilai negatif mengenai fundamentalis adalah fanatisme kelompok. Ada stigma yang diberikan kepada kaum fundamentalis sebagai komunitas yang tidak bisa hidup dalam dunia yang global dan plural. Dalam kasus-kasus tertentu memang ada yang demikian. Tetapi ini tidak bisa digeneralisasi. Perlu pemahaman yang spesifik mengenai fundamentalis. Saya yakin bahwa penyelidikan tekstual adalah sesuatu yang mutlak. Saya percaya akan nilai-nilai keimanan yang absolut. Yang lebih penting adalah : kajian mendalam mengenai “kehidupan sosial/relasi sosial” dalam konteks keimanan “fundamentalis”/tekstual. Keyakinan saya, interpertasi yang benar terhadap teks, akan menghasilkan out put yang benar mengenai konsep-konsep relasi sosial. Sehingga hidup berdampingan dalam era global dengan keimanan yang absolut dapat terwujud.
——-

#1. Dikirim oleh Abednego Utomo Prasetyo  pada  24/04   02:04 AM

Keimanan itu urusan diri dengan Tuhan tak ada yang absolud, karena yang absolud itu tidak terkait dengan relasi dengan orang lain bung (buat abednego Utomo). Oleh karena itu dalam Al-qur’an diawali dengan kata “laa ilaaha” dalam kaitannya dengan keimanan dan kata “laa ikraha” dalam beragama. Itu artinya dalam tataran wilayah publik Tuhan membebaskan manusia untuk berlomba mencapai kebajikan tanpa harus seiman dan seagama. Maka paras kasar fondamentalisme itu bukan mencerahkan Islam malah akan menghancurkan Islam dari dalam karena saya yakin makin pintar manusia maka makin memimpikan kebebasan berekpresi seperti yang terlihat gejalanya dalam masyarakat global ini, karena agama itu sebenarnya hanya hidayah pelengkap disampaing akal.
Gussableng dosen STIE Perbanas dan IAIN Sunan Ampel

#2. Dikirim oleh Abdurrahman Chudlori  pada  24/12   01:55 AM

Istilah fundamentalisme yang ditujukan kepada Islam merupakan wacana yang diusung barat. Dalam istilah Islam sendiri tidak ada fundamentalisme yang mengarah pada kekerasan, tetapi ajaran yang berpondamen atau berlandaskan keimanan. Jadi seorang muslim yang memiliki iman yang kokoh maka ia seorang fundamentalis sejati.

#3. Dikirim oleh Muhammad Fakhry Ghafur  pada  27/06   11:11 AM

ngomong agama kok ga pake dalil qur’an sunnah… aneh bin ajaib JIL ini… pemikirannya muter2 situ aja, ga kreatif…

#4. Dikirim oleh felix  pada  20/04   04:48 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?