Gagasan,
12/12/2003

Partai Islam, antara Kepentingan dan Dakwah.

Oleh Soplo

Agama sering dimanfaatkan serta digunakan untuk mendapatkan kepentingan-kepentingan duniawi. Dengan menyitir ayat-ayat alquran mereka menggembar-gemborkan bahwa kita harus mewaspadai “sekularisme”. Tapi siapa yang sebenarnya sekularis?

12/12/2003 03:22 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (54)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 3 halaman 1 2 3 > 

Memang begitu adanya partai Islam Sekarang mereka selalu berbuat atasnama agama padahal yang sebenarnya adalah menjual agama mereka sebenar-benarnya orang malas di seluruh dunia ini. Bayangkan saja mereka tidak punya keahlian berdagang biasa dan mereka tidak punya kerjaan tetap tapi ingin kaya dengan praktis ekonomis dan cepat, ya akhirnya jualan agama, kalau perlu mereka hapalkan ayat-ayat al-Qur’an yang menguntungkan kepentingannya.

Sangat memalukan sekali.

Saya sangat setuju dengan tulisan soplo

#1. Dikirim oleh Muslih jaya Ali Husain Jamil Z  pada  13/12   01:12 AM

Assalamu’alaikum wr wb

Berbeda dengan sdr Soplo, jika saya berpendapat bahwa beberapa partai Islam menggunakan Qur’an dan Sunnah untuk memperjuangkan tercapainya kekuasaan demi tegaknya Islam adalah sesuatu yang sudah sinkron dan selaras karena yang diperjuangkan memang juga Islam

Tetapi yang tampak ‘banci’ dan ‘pura-pura tidak tahu’ adalah yang menggunakan Qur’an dan Sunnah untuk memperjuangkan Sekulerisme, Atau dengan kalimat lain memperjuangkan sekulerisme tapi biar laku pakai-pakai ayat…

Untungnya dikalangan partai Sekuler hal ini malah jarang ada,  tetapi hal ‘sekulerisme berbulu Islam’ ini muncul malah dikalangan umat islam yang mengaku Islam liberal dan menjuluki dirinya sendiri dengan gelar Intelektual Muda serta semua komunitas yang berafiliasi kepada model ini ( LKIS, JIMM, Paramadina dsb )

Salah satu figur yang tidak konsisten diantara komunitas ini adalah ‘nabi’ komunitas ini yang bernama Nurcholis majid,  meskipun tahun 1970-an teriak-teriak partai Islam no, tapi demi ambisi kekuasaannya utk jadi presiden terpaksa beliau ‘mengemis-ngemis’ dukungan kepada partai Islam (PBB,PKS dll) boleh jadi karena komunitas pengikut beliau ini tidak memiliki partai, (meskipun didanai besar oleh Barat)

Wassalamu’alaikum wr wb Tindyo P membebaskan Umat dari belenggu ide Demokrasi, Pluralisme, Nasionalisme, dan konsep pasar bebas

#2. Dikirim oleh Tindyo Prasetyo  pada  19/12   01:12 AM

Mengeluh tidak merubah keadaan. Saya sebagai kaum muda tetap percaya bahwa keadaan akan berubah, wacana tetang parpol Islam memang menjadi perdebatan yang tak kungjung usai. Saya menyadari itu, namun ketika tak ada parpol Islam, lantas siapa yang akan memperjuangkan aspirasi umat Islam.

Walapun saya hanya percaya beberapa, bahkan barangkali cuma satu parpol Islam yang cukup konsisten terhadap agenda reformasi. Siapa dia, tebak sendiri! Namun, seperti yang saya kemukakan di atas, sebagai kaum muda, saya dan kawan-kawan tetap akan terus melakukan pengkritisan terhadap pemilu.

#3. Dikirim oleh sudaryono achmad  pada  22/12   04:12 AM

Dalam politik, yang perlu di pupuk, di pelihara serta di kembangkan adalah komoditas politik. Apakah komoditas tersebut layak atau tidak di jual di masyarakat?

Di nusantara ini yang penduduknya tingkat kereligiusitan sangat kental dan tinggi, merupakan suatu kewajaran komoditas politik agama menjadi garapan, karena sangat laku di pasaran dan punya daya jual tinggi. 

Maka tugas kita yang ingin kesucian wahyu di jadikan alat bagi aktor politik yang tidak bertanggung jawab, sebagaimana di katakan Saudara Soplo di atas: dengan melakukan pencerahan. Bahwa sudah saatnya kita jangan berfikir ideologis lagi dalam politik praktis. Yang perlu dikedepankan adalah berfikir pragmatis realistik dengan mengatakan kepada masyarakat: Wahai umat, dan rakyat Indonesia, bahwa tujuan utama manusia hidup adalah bahagia dunia dan akherat, serta bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur dan di ridlai Allah swt.

Jadi, mari kita jangan pilih lagi para politisi busuk yang memperjualkan ayat-ayat tuhan untuk kepentingan kekuasaan belaka. Mari kita pilih partai politik yang benar-benar berpandangan unversal tapi teruji untuk memperjuangkan kesejahteran, keadilan, dan kemakmuran bagi rakyat Indonesia.

Wallahu’alam

Sulhanudin, lahir di Serang Banten, sekarang kuliah di PTS Bogor.

#4. Dikirim oleh sulhanudin  pada  24/12   04:12 AM

Aassalamu’alaikum warahmatullohi wabarokatuh

Ingat lagu sherina ...”.. lihat segalanya.. lebih dekat…”..

Tak kenal maka tak sayang, itu ungkapan klasik yang cukup efektif untuk menghilangkan prasangka buruk diantara kita, sudah bukan zamannya saling tuduh dan merasa diri paling benar dari yang lain.

Terutama utk rekan-rekan di JIL, saya juga punya sedikit harapan,.. Saya ingin rekan-rekan di JIL juga bisa melihat segalanya dengan lebih dekat…

Lihatlah saudara-saudara muslim kita yang lain yang jadi bahan kritikan JIL secara lebih dekat kenali,.. fahami,.. lalu sayangi dan berjalanlah beriringan dengan segala kekurangan dan kelebihan masing-masing menuju kejayaan ISLAM yang dicita-citakan..

Wassalamu’alaikum warahmatullohi wabarokatuh

#5. Dikirim oleh Wawan Hendrawan  pada  29/12   08:12 AM

Kita harus waspada terhadap isu-isu yang sengaja dihembuskan oleh kaum sekuler yang nyata-nyata ingin melemahkan umat islam dan lebih jauh untuk menusuk umat islam dari belakang. Mereka boleh jadi mengaku muslim tetapi dihati mereka terdapat penyakit. Yaitu penyakit tidak rela dan ridho islam menjadi benar-benar ditegakkan oleh penganutnya. Mereka lebih berbahaya dari kamu kafir sekalipun karena mereka adalah musuh dalam selimut.

#6. Dikirim oleh SOFYAN ABDUL KARIM  pada  02/01   02:01 AM

Jangan takut pilih partai Islam, kawan. Masih ada partai Islam yang akan memperjuangkan Islam dan umatnya. Biarkan rahmatan lilalamin di bawah Islam akan melindung bangsa Indonesia seluruhnya.

Jangan pilih partai nasionalis dan partai Islam yang masih ada antek-antek Orde Baru. Memang banyak partai (+ partai Islam) yang poitisi dan misi- visinya kurang bagus. Mari pilih yang terbaik di antara yang terburuk.

Jangan biarkan umat Islam terpinggirkan lagi. Mari bersatu. Islam agama Allah; Islam pemersatu bangsa; Islam rahmatian lilalamin!

#7. Dikirim oleh sami'na  pada  02/01   06:01 AM

Tampaknya saudara Soplo masih harus banyak belajar lagi. Ada beberapa perbedaan antara partai Islam dengan partai yang berpura-pura Islam. Letak perbedaanya adalah sekulerisme itu sendiri. Islam tidak pernah menjunjung tinggi demokrasi. Dengan kata lain, Islam tidak pernah mengajarkan demokrasi, tapi demokrasi ada dalam islam.

Ajaran Islam itu sendiri jauh lebih baik dari demokrasi. Mari kita coba berpikir sejenak. Satu, demokrasi itu menggunakan hukum positif, yang berarti metode-metode atau konsep-konsep tentang penengakan sebuah hukum yang dibuat oleh manusia dan sudah barang tentu dapat dibuat yang lain lagi, sedangkan Al-Qur’an diturunkan oleh Allah.

Dua, demokrasi dilandasi keinginan rakyat banyak. Jika rakyat ingin melegalkan zinah, minuman keras, judi, tentu menjadi suatu hal yang sah-sah saja asalkan disetujui rakyat banyak. Sedangkan Al-Qur’an dan hadis merupakan petunjuk Allah dan perbuatan nabi yang merupakan sebuah pedoman supaya kita bisa selamat.

Tiga, sejarah mencatat demokrasi dapat dijadikan sebagai sebuah alat yang sangat mematikan dengan dalih penegakan hukum; yang sebenarnya hanya sebuah hukum salah kaprah. Contoh: penyerangan Amerika ke Irak, yang sebenarnya ambisi pribadi Bush saja. Sementara, Al-qur’an membatasi hawa nafsu manusia, menempatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki akhlak, menyuruh manusia berbuat baik dan meninggalkan kejahatan.

Hal-hal di atas semoga dapat menjadi sebuah pemikiran. Selanjutnya, saya setuju tentang seorang Islam perbuatannya harus menunjukan keislaman dia. Nah, yang jadi catatan di sini adalah bahwa untuk menjadi seorang Islam yang baik, tidak bisa direkayasa melalui akal semata, karena ada perbuatan-perbuatan yang dianggap baik sebenarnya dilarang oleh agama. Contohnya, tahlilan (tahlilan dianggap baik, walaupun sebenarnya dilarang oleh Islam). Untuk menjadi seorang Islam yang baik, kita memerlukan petunjuk, yaitu Al-Qur’an dan hadis, bukan pendapat manusia.

Mengenai haramnya seorang perempuan menjadi seorang pemimpin pun bukan merupakan pendapat seseorang, akan tetapi sabda nabi dalam hadis, yang isinya kalau diterjemahkan kurang lebih seperti ini: “Tidak akan mendapat rahmat suatu kaum yang mengangkat wanita menjadi pemimpinnya.” Kembali kepada pemikiran bahwa partai islam “menjual” ayat-ayat Allah, sebaiknya saudara sebutkan partai mana, dan ayat apa yang dijual.

Setiap orang memiliki hujjah, yang dapat dijadikan landasan bagi dia sehingga dapat memenuhi syar’i. Jika seorang Islam tidak memilih partai Islam sudah barang tentu dapat dikatakan memiliki tingkat pemahaman tentang Islam yang sangat rendah. Jika seseorang berkata Partai Islam No, Partai Politik Yes, adalah sebuah jargon yang sangat ngaco buat saya.

Lalu umat Islam harus memilih partai apa yang lebih dapat mengakomodasi kepentingan umat Islam? Jelas saya memerlukan sebuah jawaban, dari Nurcholis Majid sendiri, yang benar itu seharusnya Partai Islam Yes, Partai Politik No? Yang patut dicontoh itu siapa? Nurcholis Madjid atau Rasul?

Ketika saudara berkata bahwa pembentukan partai Islam itu demi kepentingan, kekuasaan dan golongan, saya rasa seseorang yang memiliki pemikiran seperti itu akan lebih mendirikan sebuah partai yang berlandaskan demokrasi daripada Islam.

Semoga setelah apa yang saya tulis ini ada yang mendapat “pencerahan”, dan jiwanya dibebaskan dari belenggu pemikiran-pemikiran sempit

Wallahua’lam Bisshawaab.

#8. Dikirim oleh Riki Nuryadin  pada  05/01   06:01 AM

Saya bisa memahami keprihatinan mas Soplo terhadap perilaku beberapa politisi muslim yang bernaung di bawah bendera partai-partai Islam. Tapi tentunya kita sebaiknya adil dalam menganalisis. Bahwa mereka menggunakan ayat-ayat Al-Quran dan hadis sebagai pembenaran, ataupun menginginkan berlakunya syariat Islam di Indonesia, adalah suatu hal yang lumrah saja. Sedangkan apakah mereka sekedar haus kekuasaan dengan mengatasnamakan agama, tentu tidak seyogyanya kita memvonis demikian. Sebab, toh hati orang siapa yang tahu.

Saya memandang adanya perbedaan antara kaum “syariah” dan “non-syariah” (sebut saja demikian for convenient purposes) melalui framework sederhana berikut. Kita semua tahu, bahwa segala aspek kehidupan muslim mempunyai nilai ukhrawi dengan landasan Al-Quran dan sunnah Rasul SAW, yang dalam bahasa agama dibagi 2: aqidah dan fiqih. Menurut Islam yg saya pahami, setiap gerak -fisik maupun hati- seseorang akan diperhitungkan di akhirat nanti. Aqidah menyangkut keyakinan hati dalam hal2 keimanan, sedangkan fiqih menyangkut practices, yaitu amal ibadah vertikal dan ibadah horisontal/muamalah. Nah, penyelenggaraan pemerintahan suatu negara adalah termasuk fiqih muamalah yang Quran dan sunnah-pun memberikan arahan2nya. Bagi kaum “syariah”, arahan2 tsb mereka pahami lebih secara tekstual, sedangkan kaum “non-syariah” memahaminya secara kontekstual (please correct me if I’m mistaken).

Maka statemen2 bombastis dari cak Nur, gus Dur ataupun JIL dg “Islam yes, partai Islam no”, “benarkah ada konsep kenegaraan di Islam?”, ataupun “agama terpisah dari negara”, tidak saya pandang sebagai statement sekularism. Dalam cara pandang di atas, maka setiap muslim sebenarnya ber-syariah. Ketika seorang muslim memutuskan ikut pemilu misalnya, maka dia ikut dg keyakinan bahwa pemilu Indonesia adalah halal (atau minimal mubah) hukumnya secara syar’i. Maka ketika suatu kelompok muslim menyatakan “tidak perlu pemberlakuan syariat Islam di Indonesia”, maka ini sebetulnya hanya suatu ungkapan counter argument kepada kelompok “syariah” yang terlanjur mengklaim duluan ttg syariah Islam -versi mereka- ini. Ini serupa dg ketika dahulu kala kelompoknya Abul Hasan al-Asy’ari lebih duluan mengklaim sebagai ahlus sunnah (dg didukung kekuasaan kerajaan), maka otomatis musuh2 debat-nya dari kelompok lain tidak bisa menggunakan label ahlus sunnah, meskipun mereka (mutazilah dan syiah)-pun sama2 menggunakan hadits2 Rasul SAW.

Perbedaan ijtihad tentang fiqih muamalah di bidang politik sebenarnya bersumber dari usaha memahami Quran dan sunnah. Karena itu seyogyanya disikapi dg bijak, tidak perlu sampai saling bermusuhan, sebab hanya perpecahan umat-lah yang akan semakin parah dan musuh2 Islam akan tertawa.

Perbedaan fiqih di kalangan muslimin sudah terjadi sejak lama, dan adalah sebuah keniscayaan di tengah ketiadaan seorang absolute authority penafsir Quran dan hadits (sepeninggal Rasul SAW). Semua perbedaan itu sebenarnya sama sekali tidak masalah, sebab dapat diatasi dengan toleransi. Bukankah ijtihad itu kalaupun salah kan masih berpahala? Apalagi kita sudah sepakat mengunakan demokrasi sebagai aturan main. Maka setiap upaya penerapan syariat Islam-pun harus melalui aturan main ini.

Anyway, thanks atas lemparan topik diskusinya. Salam

#9. Dikirim oleh Abdullah bin Umar  pada  06/01   11:01 PM

Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, dahulukan husnuzhon dari pada su’uzhon. Saya kira jika bukan sebuah partai Islam maka partai yang bersangkutan tidak akan menjual ayat-ayat Allah. Perlu dibedakan antara mencari hujjah dengan menjual ayat. Berbicara tentang pemahaman tekstual dengan konstektual antara kaum syariah dan nonsyariah, maka ada satu hal yang harus dicatat lebih dulu, yaitu sebelum kita memahami konteks, kita mesti memahami dulu teks.

Ketika Cak Nur, Gus Dur, dan JIL mengungkapkan jargon Islam Yes, Partai Islam No, maka yang patut dicatat di sini adalah, apa yang mereka ungkapkan adalah sebuah pernyataan yang membodohi umat.

Ketika saudara Abdullah bin Umar berbicara tentang menjual ayat-ayat Tuhan, maka saya rasa apa yang dilakukan oleh Cak Nur dan Gus Dur adalah menjual omongan. Ketika berbicara mengenai agama yang terpisah dari negara, maka dapat dicatat sebagai sebuah sekulerisme. Mari kita runut akibat yang terjadi dari adanya sekulerisme ini.

Beragama berarti menjalankan perintah Allah dan Menjauhi semua larangan-Nya. Perintah dan larangan Allah itu terdapat dalam kitab yang disebut Al-Qur’an dan disertai dengan petujuk pelaksanaan yang merupakan sunnah Nabi yaitu hadis. Hukumnya ketika seseorang melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya adalah mendapat pahala. Sedangkan jika melanggar perintah Tuhan dan melaksanakan larangan-larangan-Nya, maka hukumnya dosa.

Apa yang tengah diusahakan oleh partai-partai Islam di Indonesia ini pada dasarnya adalah sebuah perjuangan untuk meningkatkan kualitas ibadah umat Islam Indonesia antara lain dengan cara menegakan syariat Islam. Ketika syariat Islam dapat ditegakan, maka hukum yang berlaku adalah hukum Islam. Melaksanakan hukum Islam berarti melaksanakan ibadah (melaksanakan perintah Allah). Karena adalah suatu hal yang tidak mungkin menegakan syariat Islam di negara yang menganut sekulerisme, walaupun negara sebenarnya tengah melakukan pelanggaran besar-besaran terhadap rakyatnya.

Sebagai sebuah contoh, hukum rajam dan hukum qishas. Melaksanakan hukum rajam dan qishas berarti melaksanakan perintah Allah. Di sebuah negara yang sekuler, jelas pelaksanaan hukum ini tidak dapat dilaksanakan, sehingga terpisahlah kehidupan agama dari kehidupan negara.

Ketika berbicara tentang benarkah ada konsep kenegaraan dalam Islam, saya hanya bisa berkata ada sebuah konsep tentang kepemimpinan dalam Islam. Seorang ulil amri adalah seorang pemimpin yang berasal dari umat Islam, memperjuangkan, mempertahankan, dan meneruskan perjuangan agama Nabi. Itu ciri-cirinya dengan memiliki tingkat pemahaman yang luar biasa, dan sudah barang tentu akan melaksanakan syariat Islam.

Rasulullah adalah seorang pemimpin yang melaksanakan syariat Islam, dengan tidak mengambil hukum-hukum lain kecuali berdasarkan petujuk Allah SWT.

Ketika seseorang mengungkapkan tentang adakah teori tentang kenegaraan dalam Islam, maka saya pun ingin bertanya adakah teori kenegaraan dalam demokrasi? Demokrasi pun tidak memiliki teori tentang negara; yang ada hanyalah teori pemerintahan. Catat itu: demos dan cratos, berarti pemerintahan rakyat. Begitu pun Islam. Islam memiliki teori pemerintahan, mulai dari petunjuk Al-Qur’an hingga hadis, antara lain dengan memberikan kriteria seorang pemimpin. Yaitu Islam, baligh, menguasai Al-Qur’an dan hadis, dan sudah barang tentu akan melaksanakan syariat Islam.

Untuk lebih jelasnya lagi memang terdapat banyak perbedaan pendapat tentang syariat Islam dalam fiqh. Akan tetapi yang harus digarisbawahi di sini adalah penyebab perbedaan pendapat itu bukanlah dari sumber Islam, tapi dari ketaqlidan seseorang kepada pemimpinnya. Sekali lagi meruju hanya pada Al-Qur’an dan hadis adalah sebuah keharusan. A’maluna a’malukum (bagimu amalanmu bagiku amalanku) karena balasan Allah itu pasti!

#10. Dikirim oleh Riki bin Husein  pada  08/01   06:01 AM

Ass.wr.wb,

Saya mah terus terang bingung mau pilih partai Islam yg mana. Kayaknya orang-orangnya hampir sama aja, apalagi sekarang juga wapres kita dari partai Islam, denger2x performancenya mirip orba juga. Dan juga ribut2x soal syariah Islam itu yg model mana? Mbok coba di berikan kita2x ini contoh negara pada saat ini yg sukses dan makmur dengan menjalankan syariat Islam, jangan contoh jaman rasulallah dulu aja. Karena selama ini kita banyak denger tapi jujur saja, saya dan kawan2x nggak tahu gimana modelnya. Denger2x di Aceh sudah menjalankan syariah tapi sama aja. Ada yg bisa menjelaskan?

Wass.wr.wb

Muh Islam

#11. Dikirim oleh Muh Islam  pada  12/01   06:01 PM

Jika antum orang Indonesia asli, pasti tahu apa yang saya sampaikan ini. Siapa yang tidak tahu komunitas Cina di neegri ini. Mereka menguasai pasar-pasar besar dan strategis di negeri ini. Mal-mal elektronik, HP, komputer, dll., semua dikuasai mereka. Apa kalian tahu apakah Cina-Cina itu sejak dulu mendirikan partai? Atau mereka memiliki wakil-wakil kita di parlemen? Atau mereka memerlukan undang-undang untuk melegalkan kekuasaan ekonomi di negeri ini? Tidak! Mereka bisa menguasai ekonomi negeri ini. Jadi sangat-sangat jelas kebohongan jika partai akan dijadikan media untuk menguasai negeri ini. Lihat cara Cina itu!

Wassalam

#12. Dikirim oleh Makarim A  pada  24/01   12:01 AM

Tidak semua partai Islam melakukan hal seperti itu. Dari sekian banyak partai, masih ada beberapa partai yang bisa menjadi panutan bagi partai Islam yang lain. Para anggota DPR yang ada di beberapa propinsi dan tingkat pusat, memiliki komitmen untuk berlaku jujur dan adil. Ini dapat dilihat ketika mereka mengembalikan uang yang tidak jelas sumbernya. Bahkan keputusan-keputusan yang tidak adil dapat mereka tepis dengan jumlah mereka yang sangat sedikit.

  Seharusnya sebagai seorang muslim, kita tidak bersu’udzhon kepada partai-partai Islam. Berkunjunglah ke DPP Partai Keadilan Sejahtera, rasakan nuansa baru yang menyejukkan. Ketika orang-orang berebut ‘nomor peci’ dengan menghalalkan segala cara (baca: ijazah palsu), justru PKS berlomba-lomba untuk mengundurkan diri menjadi caleg nomor wahid tanpa bayar sepersen pun, karena mereka menganggap jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, tidak hanya di hadapan manusia tetapi dihadapan Allah Swt. Para tokoh besar di Indonesia mengakui itu semua.

#13. Dikirim oleh Rudiawan Sitorus, S.Fil.I  pada  24/01   06:01 AM

Sebagai seorang Muslim yang taat pada perintah dan menjauhi laranganNya sudah tentu pasti tahu. Bahwa memikul amanah itu amat berat, apalagi amanat kepada rakyatnya. Contoh di Zaman Rosululloh saja, Nabi Muhammad SAW memberikan contoh secara langsung, beliau sebagai pemimpi umat, pemimpin negara dan juga sebagai seorang ayah, seorang besan, seorang mertua benar-benar memberikan contoh yang sangat baik (akhlaqul karimah). Sehingga hanya dalam tempo 23 tahun selama masa ke Nabiannya, syariat Islam dapat berdiri dengan sendirinya tanpa ada paksaan. Syariat Islam yang berdiri sendiri dan menjadikan negara yang 100% syariat Islam karena muncul dari pribadi-pribadi yang telah digembleng dan memiliki akhlaq karimah. Jadi kalau mau negara kita bisa seperti itu, coba mulai dari diri kita untuk mau berkorban mengamalkan Islam secara keseluruhan (bukan separoh-paroh), beranjak ke keluarga kita dan lingkungan sampai pada akhirnya tercipta lingkungan yang Islami. Sekarang ini partai yang dapat dilihat komitmetnya menjalankan syariat Islam adalah partai yang para pengurus, kader dan anggotanya betul-betul berakhlaq karimah. Dia sebagai legislatif tidak mau berpraktik suap, membela betul-betul amanat rakyatnya, dan memberantas maksiat. Saya liat Partai Islam itu haruslah berazaskan Al Quran dan As Sunnah. Karena keduanya adalah sumber hukum yang tidak ada bandingan didunia ini. Jadi kalo ada Partai Islam yang masih memakai azas selain kedua sumber itu berarti masih belum ada komitmenya kepada rakyat. Karena sudah otomatis apabila sebuat partai berani memakai azasnya adalah Al Quran dan As Sunnah itu artinya sepenuhnya mau memikirkan kepentingan rakyat dan membangun negaranya menjadi negara yang adil dan penuh kesejahteraan. Bayangkan kalau para pemimpin negara ini menyadari begitu beratnya siksaan Allah terhadap para pemimpin yang melalaikan amanahnya. Melihat itu semua Partai Islam yang betul-betul sampai saat ini bersih dari Kolusi, Korupsi dan Nepotisme adalah Partai Keadilan Sejahtera. Partai Keadilan Sejahtera ini setelah saya baca dari internet tentang pencalegkan sangat begitu tenang tidak ada istilah ribut-ribut dalam penyusunan daftar caleg. Malahan di beberapa daerah partai-partai lain banyak yang tidak puas, bahkan pake pembakaran kantor segala, setelah ditelusuri bahwa partai-partai besar memasang tarif yang sangat tinggi berkisar 400-600 jt. Partai Keadilan Sejahtera adalah orang-orang yang mau rela berkorban, ini dilihat dari bukti para dewan legistatif tidak mau menerima setiap ada suapan-suapan yang masuk ke mejanya. Bahkan terakhir ada berita yang mengatakan berakhirnya masa jabatan para dewan legislatif menerima uang pesangon pensiun, Partai Keadilan Sejahtera sangat tidak setuju atas istilah yang diberi nama uang pesangon pensiun. Karena selama ini para dewan bukannya mensejahterahkan rakyat malah menekan masyarakat ke jurang yang lebih dalam. Oleh sebab itu Partai Keadilan Sejahtera dengan rela mengembalikan dengan cara membagikan kepada para kaum du’afa. Sebaiknya saran saya, kalau anda merasa kurang puas coba saja bergabung dengan orang-orang Partai Keadilan Sejahtera dan daftarkan diri sebagai anggota. Hal-hal yang merasa kurang puas dapat anda tanyakan kepada mereka. Partai Keadilan Sejahtera lahir dari Umat untuk Umat menuju Rahmat seluruh Alam dibawah naungan Alloh SWT dan Rosululloh SAW. wallohu a’lam bis showab. Sebagai tali silaturahim hub saya di email .(JavaScript must be enabled to view this email address)

#14. Dikirim oleh Adiyaksa  pada  26/01   07:01 AM

Pemimpin itu harus laki-laki, jelas itu. Semua ada dalam Alqur’an, tapi bagi yang tidak percaya Alqur’an jangan mengometari Islam.

#15. Dikirim oleh Ihsan Hidayah  pada  27/01   07:01 AM

Salam,

Tahukah anda,dimana tempat begitu banyak roh-roh yang palsu muncul di dunia,yang menipu diri mereka sendiri dan orang lain dengan api dan cahaya yang salah, mengemukakan klaim informasi,iluminasi dan penyingkapan kehidupan Ilahi, terutama untuk melakukan keajaiban menurut panggilan yang luar biasa dari Tuhan? Begitulah:konon mereka telah berpaling pada Tuhan tanpa berpaling dari diri mereka; ingin tertarik pada Tuhan sebelum mereka mematikan sifat mereka sendiri. Rumusan ini betul-betul sederhana, tetapi kendati sederhana, ia menjelaskan semua kebodohan dan ketidakadilan yang dilakukan atas nama agama dan alibi “kepentingan rakyat”.

  Mereka—-yang kita sebut “politisi/politikus busuk”—- yang berpaling pada agama tanpa berpaling dari diri mereka adalah tergoda pada kejahatan melalui beberapa cara yang khas dan dapat dikenali dengan mudah. Pertama-tama, mereka tergoda untuk mempraktekkan ritus seremonial yang mekanis tanpa ruh, dimana mereka ingin memaksa Tuhan menjawab petisi mereka; dan secara umum, melayani tujuan pribadi,kepentingan “golongan” (umat yang seagama/sepaham saja dengannya) dan atau kolektif mereka. Semua usaha pengorbanan (ritus qurban) yang bodoh,“mantera”,dan apa yang disebut “repetisi yang sia-sia”,adalah produk dari harapan untuk memperlakukan Tuhan sebagai alat guna mencapai peningkatan diri yang tak terbatas ini,ketimbang sebagai tujuan yang harus dicapai melalui pengingkaran diri demi kemaslahatan bersama. Kemudian,mereka—-yang kita sebut “politisi/politikus busuk” atau tokoh rohaniawan yang masih naif——mereka tergoda untuk menggunakan nama Tuhan guna membenarkan apa yang mereka lakukan guna mengejar kedudukan,kekuasaan dan kekayaan. Dan karena mempercayai diri mereka mendapatkan pembenaran ilahi bagi tindakan mereka, mereka bergerak dengan “hati nurani yang baik” untuk menjalankan kebencian di sana sini, dan diskriminasi terhadap kaum minoritas terjadi, kaum wanita dilecehkan dan dinomorduakan, nafsu birahi dipuja-puja, demokrasi diinjak-injak sementara sistem pemerintahan berlandaskan “agama mayoritas” diagung-agungkan mencederai hati wong cilik dan marginal yang tersisih terpinggirkan di pojok-pojok tempat sampah dan kegelapan. Mereka yang masih lapar pahala surgawi dan masih haus duniawi menampilkan diri demi tujuan rendah mereka, dalam jubah agama,menempatkan dirinya sebagai wakil Tuhan di dunia yang hendak mengatur segala sesuatunya berdasarkan agamanya saja dan mengkafirkan agama yang lain. Padahal secara de facto syariat merupakan ijtihad manusia saja, dan sangat terbatas dalam bahasa manusia untuk menerangkan wahyu ilahi. Kendati demikian, mereka tetap saja menutup diri terhadap kebenaran-kebenaran di luar pemahaman agamanya.

  Nah, agama berada di tangan ego atau sifat yang merusak,yang hanya dipakai untuk menemukan jenis kejahatan yang jahat daripada diserahkan pada dirinya sendiri. Karenanya,semuanya itu adalah nafsu orang-orang beragama yang kacau, yang terbakar dalam nyala yang jahat dari nafsu yang hanya berurusan dengan persoalan duniawi. Kesombongan,pemujaan diri,kebencian,penganiayaan, janji-janji surgawi yang gombal abis demi “reformasi”, demi “kepentingan rakyat”,demi ini dan demi itu, dibalik jubah semangat keagamaan, akan menyucikan tindakan yang jika diserahkan pada dirinya sendiri, alam akan malu untuk memilikinya. Maka, hentikan politisasi agama, dan pisahkan agama dari partai dan negara, membuka diri terhadap keberagaman, itulah jalan yang utama….Islam yes, partai Islam no![]

Allah Haafiz,

#16. Dikirim oleh Arief Rahman El-Katiri  pada  10/02   11:02 AM

Apa sebenarnya yang JIL mau? Islam kafah bukan, dibilang murtadpun pasti tdk mau. Kembali atau jangan sekali-kali kau tukarkan Aqidahmu dengan harga yang sedikit!

Wasallam

#17. Dikirim oleh sam prasetiyo  pada  17/02   05:02 AM

Kita tidak percaya Injil umat Nasrani, tapi kok juga mengkomentari agama Nasrani, ya?

Ada baiknya kita tidak terlalu hitam-putih dan tidak cepat naik pitam ketika kelompoknya dikritik. Bukankah Rasulullah saja tidak begitu?!

#18. Dikirim oleh muhammad ridwan  pada  27/02   03:02 PM

Kembali pada tulisan saudara Soplo. Saya bisa memaklumi ekspresi “kedongkolan politik” yang dialami beliau terhadap eksistensi partai2 Islam. Fenomena2 itu “kadang” memang terjadi dalam eskalasi politik di Indonesia.

Tetapi—mungkin ini yang menjadi karakter berpikir kawan2 Islib—metode gebyah uyah kembali dipakai. Dan ironisnya lagi tulisan seperti ini sering dianggap berbobot ilmiah, intelektualis, pencerahan dan bercita rasa tinggi.  Seharusnya sebagai ‘intelektual sejati’ (begitu ‘kan gelar bagi kawan2 Islib), akan lebih bijaksana kalau menjauhkan diri sejauh2nya dari metode berpikir tendensiusitas, asumsi negatif, dan generalitatif. Perlu untuk berpikir dengan corak yang adil dan “gentlement”.

Sebenarnya banyak pertanyaan yang harus dijawab dengan kejujuran nurani. Mengapa sistem demokrasi dikatakan yang paling berhak mengatur negara? Dan mengapa Islam tidak? Mengapa hanya kapitalisme yang dikatakan paling mampu membangun perekonomian ummat? Sedangkan mengapa ekonomi syari’ah tidak? Mengapa hanya hukum positif dikatakan yang bisa mengadili warga negara? Lalu mengapa hukum qishosh tidak?  Dan lagi, tidak semua partai Islam karakternya seperti itu; tidak semua partai Islam ikut pemilu (mis. Hizbut Tahrir). Dan perlu diingat; apakah partai sekularis juga benar2 memperjuangkan rakyat? Karena kalau melihat fenomena politik kekinian, partai2 sekularis-pun sepertinya tidak mempunyai social sense kepada rakyat—kecuali masa2 kampanye pemilu— Kalau partai Islam dikatakan penulis mempunyai kepentingan2, logikanya lebih2 partai sekularis sangat mungkin lebih parah busuknya.

Kalau Dinul-Islam dan semua komponennya dikatakan mandul, logikanya lebih2 sistem demokrasi—apapun bentuknya—sangat mungkin jauh lebih parah bobroknya.

Wallahu a’lam bishshawwab…

#19. Dikirim oleh ahmad fauzan  pada  01/03   06:03 AM

Bila yang terjadi pada kebanyakan orang yang mengaku beragama adalah seperti yang ditulis Mas Soplo, berarti benar yang dianalisis Marx bahwa agama adalah candu. Dalam kata lain sebenarnya bagi mereka yang mengaku beragama tetapi melakukan praktek keseharian yang justru bertentangan dengan nilai-nilai agama yang dianutnya adalah pelaku atheisme praktis.

Kenapa atheisme praktis? Pada saat mereka melakukan tindakan keseharian yang bertentangan dengan nilai-nilai agama—yang katanya universal itu—pada saat itu juga mereka “membunuh” Tuhan/Allah. Benar kata Nietzhe, God is death, Tuhan telah mati, dan jadilah atheisme praktis.

Di Indonesia, inilah yang melanda orang yang mengaku beragama, bangsa yang katanya religius, bermoral tinggi dll. Kemana Tuhan/Allah mereka saat mereka korupsi dalam melakukan pekerjaan. Apakah karena bekerja itu termasuk ibadah—seperti yang digembar-gemborkan bahkan dengan menyitir ayat-ayat suci—maka korupsi juga termasuk ibadah? Bahkan untuk urusan yang sangat spiritual (haji) pun dikorup! Kasihan bangsa yang religius telah “membunuh” Tuhan.

Dalam kepartaian, jangan-jangan malah memperdagangkan agama. Agama diredusir jadi komoditas politik semata. Demi electoral tresshold, demi jabatan dalam partai, demi jabatan dalam kekuasaan, dll. Lalu apa bedanya dengan kaum sekuler? Sama-sama “membunuh” Tuhan/Allah dengan cara yang berbeda? Sayang, seribu kali sayang.

#20. Dikirim oleh teguh  pada  10/03   05:03 AM
Halaman 1 dari 3 halaman 1 2 3 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?