Reportase,
09/11/2008

Partai Politik Islam: Memakan Teman Sendiri

Oleh Saidiman

Lebih jauh Burhanuddin menjelaskan bahwa realitas politik yang menunjukkan semakin banyaknya partai yang gangdrung menggunakan jargon-jargon islami sebetulnya adalah bukti bahwa partai-partai nasionalis justru sedang berusaha melebarkan sayap menggerogoti basis pemilih partai-partai Islam. Alih-alih partai Islam yang mampu mengalihkan dukungan partai nasionalis, suara di basis-basis massa mereka sendiri yang semakin terancam oleh para elit partai nasionalis yang semakin “islamis.”

09/11/2008 19:00 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (55)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 3 dari 3 halaman < 1 2 3

Partai Islam adalah pembekuan terhadap nilai-nilai keislaman bahkan lebih dari itu adalah menurunkan nilai Islam sebagai rahmatan lil alamin. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam tapi alat bagi partai-partai Islam.

Islam Yes partai Islam No

#41. Dikirim oleh amuk nalar  pada  17/05   03:24 AM

lebih baik yang agamis nasionalis ketimbang jadi nasionalis yang agamis

#42. Dikirim oleh hafidz  pada  18/05   04:18 AM

Bila menyimak judul di atas saya berpendapat bahwa itu bukanlah partai islam.
Islam merupakan partai yang senantiasa mengikuti ajaran Nabi, maka bila ada anggota partai( Islam ) melanggar aturan, seperti, korup, mabuk,kekuasaan,mencampur yang haq dengan yang bathi meninggalkan perintahNYA, maka secara otomatis dia keluar dari Islamnya.( partai )
juga tidak masuk dalam perangkap undang undang yang sekuler, juga tidak Berazaz maslahat dan manfaat .  akan tetapi berazaz HALAL - HARAM
Islam tidak Bercampur untuk perjuangan menegakan kebenaran yang didasari Al qur`an dan Assunnah
dengan partai atau kelompok sekuler atau yang lainnya, yng tujuannya kekuasaan semata.

#43. Dikirim oleh tiojanet  pada  23/05   05:16 AM

saat politik dicampurkan adukkan dengan agama maka politik tersebut menjadi sebuah kepentingan praktik demi sebuah golongan yang memanfaatkannya sebagai sebuah pembenaran dengan bungkus kebenaran agama.sebaiknya politik dan agama dipisahkan akan keduanya tidak saling bersinggungan dan saling memanfaatkan, dimana telah terjadi politisasi agama serta mengagamakan politik.semoga kesadaran kita terhadap demokrasi tanpa memanfaatkan nama agama manjadi dasar pemikiran dan kehidupan berpolitik kita kepentingan bangsa dan negara.

#44. Dikirim oleh deskam  pada  30/05   07:26 PM

“harapan itu masih ada”selama kita masih memeluk agama islam

#45. Dikirim oleh assasincreed  pada  10/06   12:59 PM

Partai ISlam sekarang yang masuk ke parlemen, layaknya kapas putih yang menceburkan diri ke air comberan, alias parlemen. gitu analogi dari saya
maunya membersihkan air comberan, eh eh eh malah jadi kotor sendiri. kalo mau profesional, ya ganti dulu air comberannya sama air bersih….... partai islam yang shahih tidak akan masuk parlemen dengan dalih ingin mewarnai perpolitikan dengan Islam. alih-alih ingin mewarnai, dia sendiri malah yang terjebak. sudahlah, akui saja DEMOKRASI IS KUFUR SYSTEM!!! tidak akan membawa kebaikan pada umat. ONLY KHILAFAH, WE CAN LIVE WELL!!! TRUST IT

#46. Dikirim oleh alfatihreborn  pada  08/07   04:55 AM

Sebaiknya GOLKAR, PDI Perjuangan dan GERINDRA menjadi oposisi yang kuat untuk memihak rakyat terhadap Pemerintah dalam mengambil kebijakan perlu adanya kontrol.
Oposisi jangan dianggap negatif justru untuk memajukan dan mengembangkan bangsa dan negara agar rakyat sejahtera mengurangi kemiskinan dan pengangguran yang diramu dengan Missi dan Vissinya ketiga Parpol tersebut.

#47. Dikirim oleh Budi Mardiko  pada  16/07   05:51 AM

Politik praktis, muaranya pastilah kekuasaan. Jadinya nyebelin kalau ada partai yang bisanya cuma menjual simbol-simbol Islam.

#48. Dikirim oleh Taufik Fathoni  pada  01/08   10:46 AM

jika menilik Al-quran secara ikhlas dan jujur, maka kita akan melihat bahwa Berpartai itu haram dan musyrik, bahkan disatu ayat kalau tidak silah dalam al-anfal atau al-an’am mungkin, Allah menjelalaskan bahwa Nabi Muhammad disuruh berlepasa tangan dari mereka yang berpartai, yg jelas ar-rum 31-32.

#49. Dikirim oleh jitu  pada  25/08   12:20 PM

Ass.wr.wb
Salam semuanya
Numpang nanya ya, aku baru belajar Islam apasih bedanya agama dan din.
Abis ada berpuluh-puluh agama yang hari menyatakan diri benar dan sangat bangga terhadapnya serta udah mengkapling surga, aku jadi bingun terus yang ngapling neraka siapa ya, jadi apakah yang harus dilakukan kok pada memperbanyak bodyguard untuk menjaga kaplinganya bahkan untuk menjaganya tidak puas dg manusia dia meminta pasukan setan (jin) yg jelas-jelas musuhnya. Terus bagaimana ya tolonng kasih saya bantuan.  was. wr.wb.

#50. Dikirim oleh Derec  pada  12/09   11:14 PM

saat agama menjadi kendaraan politik, maka nialai dari ajaran agama tersebut akan dipolitisasi juga demi kepentingan golongan, sementara agama adalah nilai yang sangat universal dalan perannya menyelamatkan manusia sebagai pribadi yang lebih utuh dan bermatabat.

#51. Dikirim oleh deskam  pada  11/01   03:58 AM

Terus terang Islam terang terus
Umat Islam jangan takut bicara politik, karena Islam sangat flexible membicarakan masalah hubungan manusia. Kalau masyarakat menuntut peran Islam dalam menyelesaikan masalah manusia di jaman modern ini, ya politik salah satu permasalahan itu. Kalau ada upaya menarik Islam ke wilayah ibadah ritual dan memisahkan diri dari aplikasinya.. ini bentuk standard ganda umat manusia. Kalau ada masalah, agama disalahin, kalau disuruh aplikasikan agama, malah bingung menghindar. partai politik Islam? ada beberapa di Indonesia.. (yang dikritik kok cuma PKS ya?..he..he ada apa hayo?). Bahwa sekarang partai nasionalis mulai “menjual” agama juga? Itu bagus…Artinya orang mulai sadar bahwa agama merupakan “branding” dalam dunia politik di Indonesia. INI PRESTASI BESAR PARTAI POLITIK ISLAM dalam membalikkan atmosfir perpolitikan di Indonesia. COOL!!
Hayo Umat Islam ..open your eyes! Bersatulah, saling memuji dan mencintai.Perbedaan pandangan tentang partai jangan membuat kalian berpecah belah.

#52. Dikirim oleh Indah  pada  23/02   06:06 AM

islam itu universal, jadi segala aspek kehidupan harus terdapat nilai islam di dalamnya, hanya saja terlalu dangkal sekaligus penghinaan yang keji jika agama dijadikan kambing hitam dan topeng pembenaran dalam memperoleh kekuasaan politis yang berawal dari egoisme pribadi untuk berkuasa.

#53. Dikirim oleh yudi  pada  21/04   03:37 PM

sempit - sempit banget yaaa pemikiran islamnya, islam itu mengatur seluruh aspek kehidupan, bercermin aja ada doa nya apalagi BERPOLITIK, politik itu bersih namun para pemainnya aja yang mengotorinya. Bagi yang tidak setuju dengan PKS atau partai islam lainnya berdiri, banyak-banyak baca buku islam yang kahffah jangan haya pakai akal aja, ngak ngerti agama ngomong agama.

#54. Dikirim oleh johan M Junaedi  pada  10/06   08:19 AM

PETUALANG BADUT POLITIK DI NUSANTARA :
Islam aliran kekuasaan empayar Umayah & Abasiyah telah meracuni otak umat Islam menyimpang dari ajaran Nabi Muhammad Rasullullah SAW. Islam adalah agama yg mengajarkan budipekerti luhur. Islam tidak mengajarkan ambisi politik menguasai negara. Nusantara ini negara bhinekatunggalika, bukan negara Islam. Berpolitiklah sesuai ajaran politik ketataprajaan (kenegarawan) sejati, jangan Islam dijadikan kedok & kendaraan politik yg pada akhirnya mencampurbaurkan keimanan agama dan yg lebih parah lagi bersikaplaku partai politik islam adalah segalanya, nauzubilahiminzalik MENJADI KAFIR MENUHANKAN PARTAI POLITIK. Kembalilah menjadi agamawan Islam umat Nabi Muhammad SAW yg sebenarnya Islam. Serahkanlah tugas negara kepada yg ahlinya, ingat sabda Rasullullah: “Serahkanlah setiap tugas pekerjaan kepada yg ahlinya, jika tidak maka tunggu saja akan berakhir dengan kehancuran”.
Bangsa Nusantara ini sudah hampir 1000 tahun secara kepribadian dijajah Islam empayar aliran Umayah & Abasiyah. Bangsa Nusantara sudah lelah mengalah dibodohi dan teraniaya miskin. Ketidak ahlian Islam empayar aliran Umayah-Abasiyah & pemimpinnya (seperti Haji Muhammad Suharto dkk)  telah membuat bangsa Nusantara ini terjajah kapitalisme secara sistemik hingga hari ini. Ditambah lagi masuknya dlm otoritas negara seperti para badut2 politik, artis,  pelawak,  bintang film yg sama sekali tdk mengerti ketataprajaan Nusantara negara kepulauan terbesar yg bhinekatunggalika. Lengkap sudah ketidak becusan dan penderitaan Negara NKRI dan bangsa Nusantara menjadi kancah panggung badut2 politik yg tdk tau diri yg hanya mengandalkan ketenaran media publik fasilitas investasi Yahudi.

BANGSA INI MEMBUTUHKAN PROFESIONALISME KEAHLIAN PEMIMPIN KETATAPRAJAAN, BUKAN PETUALANG BADUT2 POLITIK YG HANYA MENJADI IMPERIALIS POLITIK BAGI BANGSANYA SENDIRI. INGATLAH FIRMAN TUHAN DIBAWAH INI:
“……Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang -orang yang tidak mempergunakan akalnya.”( QS Yunus [10] ayat 100)

#55. Dikirim oleh Nasionalis indo  pada  19/06   03:23 PM
Halaman 3 dari 3 halaman < 1 2 3

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?