Wawancara,
22/10/2010

Pdt. Emmy Sahertian: “Negara Harus Berikan Ruang Rekonsiliasi, Bukan Ruang Kelahi”

Sebelum agama-agama “pendatang” masuk di wilayah Nusantara, penduduk lokal sudah memiliki sistem kepercayaan sendiri. Kepercayaan lokal ini banyak sekali. Agama-agama “impor” yang masuk ke Nusantara: Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan lain-lain, mau tidak mau harus berakulturasi dengan kepercayaan lokal. Dalam perjalanannya, perjumpaan ini tidak mudah dan banyak sekali muncul masalah. Ada masalah identitas, eksistensi,  perebutan ruang ekspresi keagamaan, politik, intervensi penguasa dan lain-lain. Vivi Zabkie dan Saidiman Ahmad mewawancarai Pdt. Emmy Sahertian, salah satu anggota steering committee di Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI). Wawancara ini disiarkan langsung, Rabu, 20 Oktober 2010, dari Radio KBR 68 H, Utan Kayu, Jakarta bekerjasma dengan Jaringan Islam Liberal (JIL).

22/10/2010 16:46 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (17)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Para pemuka agama dan kepercayaan harus mulai memberi khutbah tentang agama yg membumi. Teori Ketuhanan yg utama adalah Penciptaan, terutama penciptaan manusia. Tapi sekarang manusia membunuh ciptaan Tuhan paling istemewa (manusia) dengan mengatasnamakam pembelaan terhadap Tuhan.

#1. Dikirim oleh Big Sinner  pada  26/10   09:23 AM

Saya setuju dengan apa yang dibahas dalam artikel ini. Definisi agama yang dibuat oleh negara ini sebenarnya lebih kepada agama yang sifatnya formal. Padahal kalau kita mau masuk jauh ke dalam tentang agama, seharusnya kita lebih bicara tentan spriritualitas. Ini yang sering dilupakan orang ketika kita bicara agama.
Agama, menurut saya pribadi, lebih dipahami pada aspek-aspek formalitasnya seperi pergi ke gereja untuk umat kristen/katholik dengan segala macam ritualnya, agama islam pergi ke masjid dan sholat 5 waktu, dan sebagainya. Seakan-akan kalau kita sudah melakukan hal-hal seperti ini, kita merasa sudah suci. Padahal kesucian seseorang seharusnya dilihat dari perilaku. Dan perilaku itu sebenarnya adalah cermin dari tingkat spritualitas kita.
Karena kita sudah dijebak atau terjebak pada idiom-idiom yang diciptakan penguasa negeri ini tentang konsep agama, maka seperti sekarang ini lah yang terjadi. Kita sangat tidak toleran terhadap perbedaan. Coba kalau kita melihatnya dari aspek spiritualitas, maka kita akan berpikir 1000 kali sebelum kita mengatakan bahwa si-A atau si-B itu kafir. Karena kita sudah terjebak, maka dengan entengnya kita menuding orang kafir tanpa kita tahu bagaimana perilaku orang tersebut.
Ini lah yang harus diubah dari pikiran kita. Kita mulai dari diri kita lebih dulu. Kalau masing-masing individu sudah mulai sadar akan hal ini, maka secara perlahan gerakan pembaharuan pikiran akan terjadi. Semoga

#2. Dikirim oleh Putra Pertiwi  pada  26/10   10:52 AM

masalah ketiga yang diungkapkan adalah mengenai pemberian kata kafir kepada seseorang, makna kafir secara etimologis adalah orang yang mensekutukan-Nya dengan yang lain QS Al-maidah:73 “Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang mengatakan Allah itu salah satu dari yang tiga…” dan nurcholish madjid sendiri dalam bukunya “Islam agama peradaban” memberikan pengertian kafir itu kepada seseorang yang diluar Islam karena mereka tidak mengakui atau bahkan menentang kenabian dan kerasulan nabi Muhammad SAW. Menurut Prof.Naquib Al-Attas bahwa kata kafir adalah istilah yang ada dalam Al-Qur’an namun dengan catatan kata tersebut bukan digunakan untuk menunjuk-nunjuk atau memanggil kaum non muslim “Hai kafir”,namun kaum muslim hanya perlu memahami bahwa mereka (non muslim) sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an.Wallahu A’lam

#3. Dikirim oleh rifki akbar  pada  27/10   03:06 PM

berarti,sekarang sudah saatnya kita,toleran kepada kepercayaan(agama)yang dikehendaki oleh setiap orang tanpa memperdulikan formalitas yang diterapkan
oleh pemerintah.karena regulasi formal yang ada seka
rang ini juga tidak memberikan manfaat bagi rakyat dan kecenderungannya malah menyimpan api dalam sekam
yang sewaktu-waktu bisa membakar semuanya.

#4. Dikirim oleh teguh prajasantana  pada  28/10   03:03 AM

Sudah saatnya sekarang mengembalikan fungsi agama pada rel yang benar. Salah satu yang sering keliru dipahami adalah ada orang yang menilai reliogisitas seseorang dari pemeluk agama lain dengan nilai-nilai atau standard yang berlaku di agama tertentu. Contoh yang tidak usah kita pungkiri adalah ketika orang yang beragama islam mengatakan bahwa orang yang beragama di luar islam adalah kafir. Lebih khusus lagi bagi agama katholik atau kristen yang menurut sebagian kalangan islam mempunyai Tuhan lebih dari satu. Orang yang berpikir rasional dan pahamakan hakekat tujuan dari orang beragama pasti akan geli menjumpai hal ini.
Seharusnya sebelum memberikan penilain yang demikian,cobalah untuk mempelajari teologi yang dikembangkan dan berkembang bersama agama katholik atau kristen. Di sana dibahas secara panjang lebar dengan segala rujukan yang ada tentang konsep Trinitas yang oleh sebagian kalangan dipahami salah. Untuk memahami konsep Trinitas tidak lah mudah. Tidak semudah kita belajar matematika atau ilmu biologi. Diperlukan telaah yang amat sangat dalam tentang konsep ilmu keilahian lebih dulu.
Mungkin sudah saatnya kita juga membuka diri pada beberapa fakta sejarah di daratan timur tengah. Di sana berkembang agama katholik yang tidak mengakui Yesus sepenuhnya sebagai Tuhan. Salah satunya adalah katholik maronit yang banyak pemeluknya di Suriah, Libanon, dan Palestina. Pusat dari Katholik maronit adalah di Suriah. Dan jumlanya di libanon sekitar 40% dari total pendukuk. Pasti kita mengenal seorang penyair terkenal yaitu Khalil Gibran. Dia lah salah satu pemeluk katholik maronit.
Sampai sekarang katholik maronit masih sangat exist di daratan timur tengah. Meskipun ini berbeda dng pemahaman arus besar agama katholik, yaitu katholik roma, tetapi katholik roma tidak pernah menganggap mereka adalah salah. Katholik maronit tetap tumbuh dengan konsep yang diyakininya tanpa terusik oleh paham arus besar katholik. Di sini lah bentuk penghormatan kepada mereka yang memang meyakini dengan cara yang lain.
Penghormatan dengan cara yang demikian juga selayaknya kita lakukan kepada agama lokal yang oleh formalitas pemerintah akhirnya disebut dengan aliran kepercayaan. Mereka meyakini adanya Tuhan dengan cara mereka sendiri yang mungkin tidak mudah kita pahami. Nah ketika kita paham dengan apa yang mereka yakini, pantaskah kita menghakimi seakan-akan mereka adalah salah. Pertanyaan yang patut kita renungkan bersama.

#5. Dikirim oleh Putra Pertiwi  pada  29/10   05:43 AM

siapa pun umat kristen sekalipun itu adalah pendeta pada suatu gereja tidak akan ada yang bisa menjelaskan dengan pasti apa konsep trinitas itu karena memang konsep yang dibangun oleh paulus (bukan konsep dari nabi Isa AS) ini adalah konsep yang tidak jelas sehingga kita tidak heran dengan jawaban trinitas adalah konsep yang sulit dipahami dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya,memanglah sulit untuk “memaksa” konsep trinitas bukan tiga melainkan tetap satu.
kalau mengenai aliran-aliran yang ada di dalam kristen terserah saja kepada mereka akan tetapi konsep yang ada dalam Islam adalah jelas,sumber dari agama Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah,sehingga apapun yang terjadi diluar sumber itu merupakan suatu paham yang tidak bisa diterima dan pasti langsung ditanggapi oleh para ulama dengan cepat karena segala konsep ritual ibadah kepada Allah sudah sangat jelas seperti apa yang Nabi Muhammad SAW ajarkan tanpa ada pengurangan atau melebihkan apalagi merubah-rubah sumbernya.
Islam memang memberikan kebebasan kepada manusia sebagai khalifah akan tetapi kebebasan dalam Islam bukanlah kebebasan mutlak melainkan kebebasan yang terbatas.Menurut syamsudin arif (peneliti INSIST dan dosen IIU Malaysia) kebebasan dalam perspektif islam mempunyai 3 makna.
Pertama,kebebasan identik dengan ‘fitrah’ yaitu tabiat dan kodrat asal manusia sebelum diubah, dicemari, dan dirusak oleh sistem kehidupan disekelilingnya,maka orang yang bebas adalah orang yang hidup selaras dengan fitrahnya.Kedua,kebebasan adalah daya kemampuan (istitha‘ah) dan kehendak (masyi’ah) atau keinginan (iradah) yang Allah berikan kepada kita untuk memilih jalan hidup masing-masing,mungkin inilah kebebasan yang dimaksud dalam QS Al-Kahfi:29.Dan pengertian ketiga,kebebasan adalah kemampuan ‘memilih yang baik’ (ikhtiyar),seperti yang dijelaskan oleh Prof.Naquib Al-attas (pakar pemikiran islam) sesuai dengan akar katanya ikhtiar menghendaki pilihan yang tepat dan baik akibatnya,oleh karena itu,orang yang memilih keburukan,kejahatan dan kekafiran itu sesungguhnya telah menyalahgunakan kebebasannya. Sebab,pilihannya bukan sesuatu yang baik (khayr).Wallahu A’lam

#6. Dikirim oleh rifki akbar  pada  30/10   05:22 PM

Untuk Sdr. Rifki

Kalau anda bicara soal Katholik atau kristen, anda tidak bisa dan tidak boleh merujuk pada agama yang anda peluk yaitu islam. Kalau anda mau memahami trinitas jangan anda pakai persepsi agama anda.
Apa yang diyakini oleh umat katholik tidak harus persis sama dengan atau langsung apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus. Kami sebagai umat katholik punya cara tersendiri untuk meyakini apa dan siapa Yesus dan kami tidak minta orang lain untuk mengakui apakah itu benar atau salah.
Tentu anda sebagai pemeluk agama islam tidak akan pernah paham akan konsep trinitas secara utuh. Bahkan menjadi lucu ketika anda menyinggung soal rasul paulus. Bung Rifki, rujukan untuk konsep trinitas tidak hanya rasul paulus. Banyak sekali rujukan yang lain. Contohnya ada ketika Yesus menghidupkan orang mati tanpa berdoa kepada Tuhan tetapi langsung bersabda “Bangun dan bangkitlah” dan orang yang mati tersebut lansung bangun dan hidup lagi.
Sulit kan anda akan memahami masalah ini. Kalau tidak ada roh Tuhan dalam diri Yesus, mana mungkin dia bisa menghidupkan orang mati dengan cara langsung bersabda seperti itu. Apa yang saya katakan ini ada pada Injil, kitab suci agama katholik. Ini hanya salah satu contoh yang menjadi rujukan juga.
Memang betul dalam Al-Quran juga dimuat tentang Yesus yang di dsana disebut dengan nabi Isa. Saya menghormati itu dan tidak akan menggugat kenapa islam menyebut Yesus sebagai nabi. Itu adalah hak agama islam untuk memahami Yesus seperti itu.
Dalam mengemukakan pendapat anda kelihatan sangat tidak konsisten. Ketika anda menyinggung soal trinitas anda mengatakan bahwa konsep itu dibangun oleh paulus. Tetapi di lain hal ketika anda bicara soal kebebasan dalam islam anda pakai rujukan syamsudin arif (peneliti INSIST dan dosen IIU Malaysia). Kenapa anda tidak pakai rujukan langsung dari Al-Quran tetapi menggunakan rujukan orang yang hidup sekian ratus tahun setelah nabi Muhammad wafat?
Kalau anda mengatakan bahwa konsep trinitas tidak jelas karena dibangun oleh paulus, bukan konsep dari nabi Isa, nah kalau anda bicara soal kebebasan dalam islam tidak menggunakan konsep yang dikatakan oleh Nabi Muhammad, apa itu bisa dipercaya? Anda ngga konsisten kan.
Makanya, sekali lagi, janganlah mudah menghakimi keyakinan orang lain ketika kita tidak paham yang diyakini oleh orang lain tersebut. Belajar secara mendalam lebih dulu bagaimana orang bisa meyakini suatu agama tersebut, barulah kita bisa menilainya. Itu pun belum tentu sepenuhnya kita benar karena keyakinan bukan hanya ada dalam pikiran kita, tetapi lebih berada pada hati nurani kita yang sangat sulit untuk diselami.
Seperti anda memandang aliran Ahmadiyah salah. Ternyata apa yang terjadi, aliran ahmadiyah masih tetap ada dan pemeluknya sangat meyakini dengan ajaran yang mereka terima. Seperti yang terjadi di Nusa Tenggara Barat. Sekalipun mereka harus pergi dari kampung halaman mereka yang dihancurkan dan hidup di pengungsian, mereka tetap memegang teguh dengan ajaran mereka. Ini sebuah realitas yang tidak bisa kita tutup-tutupi. Banyak di tempat lain aliran ahmadiyah tetap saja eksis meskipun mereka coba untuk dihancurkan. Kenapa? Sekali lagi keyakinan letaknya ada di dalam hati sanubari, bukan di alam pikiran logika. Keyakinan ada di alam bathin bukan di alam lahir. Secara lahir mereka bisa terluka dan menderita, tetapi alam bathin mereka belum tentu ikut terluka dan menderita. Bahkan mungkin mereka akan semakin kuta memegang teguh apa yang mereka yakini benar.

#7. Dikirim oleh Putra Pertiwi  pada  01/11   09:38 AM

Saya sungguh berterimakasih kepada Sdr.Putra Pertiwi dan SANGAT SETUJU atas tulisan anda. Kita wajib menghayati agama dengan wawasan yang luas dan jangan sampai wawasan beragama kita itu sempit dan picik.

Hanya satu usul saya kepada Sdr.Putra Pertiwi : Karena tulisan anda seringnya panjang-panjang, mohon agar dikasih jeda (spasi) untuk setiap ganti alinea,....

Maklum, mata tua saya sudah sulit untuk diajak kompromi,....he-he-he…..

#8. Dikirim oleh Anton Isdarianto  pada  04/11   03:41 AM

Buat saya kok simpel aja. Segala klaim dan sikap chauvinistic tentang hebatnya agama yang dianut oleh “saya” cukup diukur dari outcome-nya saja. “Saya” bilang bahwa pohon mangga “saya” hebat luar biasa. Tapi ketika buahnya masam dan hanya mengundang hama-penyakit, “saya” sebetulnya tengah berbohong besar. Semakin sering “saya” bilang pohon mangga “saya” hebat, tapi semakin sering buah mangga masam dan berulat, semakin besar kebohongan “saya”. Jadilah “saya” penggemar pepesan kosong. Kalau “saya” terus mengklaim tanpa bukti, saudara-saudara “saya” dengan cepat bisa membedakan mana sampah mana barang berharga.

#9. Dikirim oleh M. Darmogung  pada  05/11   10:34 AM

Kesimpulan singkat atas postingnya Sdr M.Darmogung :

Agama sering tidak menghasilkan budi pekerti yang baik. Karena dengan berpegang pada chauvinisme agama, orang2 sering memaki sesamanya, menghujat dan mengkafirkan sesama manusia bahkan menghalalkan darahnya.

Ada jurang yang dalam antara agama dengan pekerti.
Agama berbeda dengan Budi Pekerti.

#10. Dikirim oleh Anton Isdarianto  pada  06/11   02:31 AM

Kutip:
Betul. Bagi saya sederhana sekali. Kalau mereka sudah mempunyai ritual—apa pun bentuk ritual itu—di dalam kehidupan mereka, dan ritual itu menghasilkan budi pekerti yang baik, melahirkan adat-istiadat yang mengajar orang untuk lebih manusiawi, lalu membangun tatanan yang lebih teratur dan harmonis, itulah yang disebut dengan ekpresi keagamaan.
—-

Kurasa itu betul sekali Pak Pendeta. Agama itu adalah utk menghasilkan budi pekerti yg baik demi keabadian kehidupan tentunya. Ragam pencarian budi baik itu terus-menerus diupayakan dan dipertentangkan lalu dipilih-dipilih hingga ideal bagi masyarakatnya. Pencarian itu tentu mulai dari yg nyata hingga memaya. Di ujung pencarian itulah manusia mulai lelah dan berpasrah lalu membangkitkan semagat yg lain (spirit), membuat metoda pencarian dgn mengandalkan roh (ritual),  dan mungkin usaha rohaniah inilah yg menghasilkan akama (karya spiritual).

Tubuh telah mengajari kita akan keperluan hidup.
Jiwa mengajar kita mengabadikan keperluan itu.
Dan roh adalah keabadian kita itu, sang hidup.
 
Salam Damai!

#11. Dikirim oleh Maren atauKit  pada  06/11   09:59 PM

Tidak perlu adanya rekonsiliasi kembali!
Islam sudah sangat toleran dengan membiarkan umat beragama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinannya masing-masing (asalkan tidak menabrak hak-hak warga negara yang lain)!
Islam sudah terbukti sebagai agama yang sangat toleran terhadap umat kafir yang berlindung di dalam Daulah Khilafah Islamiyah selama berabad-abad!
Masih kurang toleran apa lagi?

#12. Dikirim oleh no_body  pada  02/12   06:56 AM

Menyebut umat agama lain sebagai umat kafir, adalah salah-satu jenis chauvinisme agama. Seperti dulu dalam hal ras, Hitler mengobarkan semangat chauvinisme dengan menganggap bangsa-bangsa lain diluar ras Arian (ras-nya bangsa Jerman), sebagai ras yang rendah, bukan manusia. Alhasil, Hitler dan rezimnya ludes, lumat dilindas oleh perjalanan sejarah. Demikian juga nanti jadinya, kalo ada chauvinisme agama.

Daulah Khilafah Islamiyah juga tak menjamin adanya kerukunan. Contohnya, adalah dinasti Ottoman (Utsmaniyah) Turki : dinasti ini jatuh terutama disebabkan oleh intrik-intrik dari dalam kalangan istana sendiri, yang kemudian ditunaikan kejatuhannya oleh Mustafa Kemal Pasha, Bapak Pendiri Turki moderen. Juga, sepanjang sejarah dinasti tersebut, yang Islam Sunni, selalu terlibat konflik bin perang dengan dinasti Safavid yang Uslam Syiah.

Jadi jangan berfikir untuk bisa memutar jarum jam kembali pada sejarah kelam berabad-abad yang lalu.

#13. Dikirim oleh Anton Isdarianto  pada  03/12   09:01 AM

syalom…......
apa yang ibu tahu tentang rekonsiliasi????
asal kata rekonsiliasi itu sendiri darimana???????
bagaimana tanggapan kritis ibu tentang rekonsiliasi di Poso???????

#14. Dikirim oleh agnes lumintang  pada  01/04   07:52 PM

Tulisan ini sangat positif sebenarnya. Namun, hal positif dalam tulisan ini hanya akan terlihat bagi orang-orang yang memahami dirinya sebagai manusia yang benar-benar memahami “ke-Tuhanan” dalam hidup kemanusiaannya. Sebenarnya manusia itu juga independen satu sama lain bila nilai-nilai “ke-Tuhanan” itu sudah mulai meresap dan berbuah dalam kehidupannya.
Saya sangat tertarik dengan statement dalam tulisan ini: “terlalu banyak bicara (khutbah) tentang surga tanpa berupaya “membawa” surga ke bumi”.
Inilah memang penyakit di negeri kita ini (terutama bagi pemeluk agama-agama besar). Sibuk mengkampanyekan agamanya grade A tapi kinerja jeblok. Kemudian, pemeluk-pemeluk agama mengajarkan anak-anaknya bahwa agamanya paling benar dan pemeluk agama lainnya tidak akan masuk surga. Hajablah kita.
Dapat kita bayangkan, apa yang terjadi? Agama tidak berperikemanusiaan, padahal agama itu datang untuk menyelamatkan manusia.
Kita bilang bahwa agama kita TOLERAN tapi sifat kita masih buruk dan memberikan komentar terhadap agama lain yang sama sekali tidak kita mengerti.
Kita bilang Tuhan pemeluk agama X adalah tiga karena kita mendengar (sekalipun membaca Trinitas), bukankah ini pelanggaran terhadap TOLERANSI? Toleransi bukan hanya untuk hal-hal tindakan tapi juga toleransi dalam pemikiran.
Saya yakin bahwa orang gila sendiripun ditanyai tentang Tuhan, dia akan jawab bahwa Tuhan itu Esa sebagaimana juga disebut dalam Injil. Masalah Trinitas adalah sesuatu penjabaran iman Kristiani untuk membuat hidup mereka menjadi membumi (Down to Earth). Sehinga sadar, bahwa mereka harus “berbuah” kebaikan di bumi.
Banyak manusia tidak sadar bahwa dengan pemahamannya sempit dan utopis telah membuat dia tidak bisa menikmati hidup yang benar-benar berharga ini. Sering kita berdoa/sholat agar diberi pemahaman yang baik tapi tujuan kita memohon (cita-cita) tidak mulia. Kita pergi kuliah adalah untuk bisa kerja dan menjadi direktur, bukan untuk mensejahterakan hidup dan kehidupan. Alhasil korupsi. Kita lupa tujuan Tuhan menciptakan kita. Kita tidak pernah memikirkan betapa Tuhan itu sangat baik dan mau mengambil keputusan untuk menciptakan kita. Kita mengklaim bahwa negara kita ini ber-Tuhan tapi kita tidak perduli dengan Tuhan dalam kehidupan manusia kita.
Orang Jepang kita bilang tidak beragama, tapi perilakunya sangat bermartabat.

Inilah Qoute saya untuk mengakhiri komen ini:
“Manusia terlalu sombong dengan menganggap bahwa apa yang dimilikinya adalah yang terbaik. Hingga suatu saat, dirinya akan sesak bila melihat dan merasa milik orang lain lebih berharga dan bernilai. Yang paling menyedihkan adalah, suatu saat, karena kesombongannya dia malah menghancurkan milik orang lain tersebut agar jiwanya bisa menerima kehebatan miliknya”.

#15. Dikirim oleh Jonny Gultom  pada  28/04   03:34 PM

Saya setuju dengan Pendeta. Seperti lagu Bimbo “Sajadah Panjang”, ibadah itu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Perlu kiranya disampaikan oleh seluruh pemuka agama bahwa mencapai surga tidak hanya dengan membaca kitab, menyebut nama Tuhan, atau hal-hal yg sifatnya ritual. Tapi juga dengan mensurgakan bumi.

#16. Dikirim oleh Prabawangi  pada  20/05   10:47 AM

Saya setuju dengan point-point wawancara ini, karena itu relavansi keberadaan departemen agama RI perlu dipertanyakan.Bukan melulu karena iri karena yang diwadahi/dilindungi/dianggarkan/difasilitasi adalah agama import, tapi karena untuk mengurusi seluruh agama asli Indonesia jelas tidak mungkin. Ada berapa ribu Binmas harus disediakan departemen agama?Keberadaan Depag jelas menyulitkan diri sendiri.
Dampak lain keberadaan Depag, dengan tercantumnya agama resmi negara, agama asli menjadi aneh dan mewujud jadi benda asing bagi bangsa Indonesia sendiri.
Pengalaman pribadi, di komunitas Kejawen saya, sering muncul keluhan karena dianggap sesat. Maka timbul pertanyaan, bagaimana mungkin kami yang orang Jawa, tinggal di Tanah Jawa, melakukan ritual Jawa justru disesat-sesatkan oleh agama tamu. Aneh kan!

#17. Dikirim oleh fardik rudiyanto  pada  23/09   09:45 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?