Dari Taksonomi (Model) Lama ke Islam Liberal Pemikiran Islam Modern:
Oleh Luthfi Assyaukanie
Ada satu benang merah yang bisa ditarik dari para intelektual muslim liberal itu, yakni perasaan dan semangat untuk membebaskan (liberating) umat Islam dari belenggu keterbelakangan dan kejumudan sejak –paling tidak—lima abad terakhir. Belenggu inilah yang dianggap sebagai sebab utama ketakberdayaan bangsa-bangsa muslim di depan bangsa asing (kolonialisme). Hanya dengan membangun kembali (rekonstruksi) cara pandang dan sikap keberagamaan mereka, kondisi menyedihkan itu dapat diperbaiki.
Komentar
Saya tertarik dengan pendapat penulis, saudara Luthfi yang mengatakan kemunduran umat Islam kerana sikap keberagamaan mereka. Lantas terpancar lah berapa label yang menyalahkan antara satu sama yang lain.
Sebenarnya ugama yang dibawa oleh nabi junjungan kita Muhammad Saw hanyalah satu iaitu Islam. Tidak ada Islam Fundamental, Islam Liberal, Islam Orthodok, Islam Militan, apalagi Islam Teroris.
Apa yang urgens sekarang pada umat Islam ialah mereka harus ada REVOLUSI MENTAL. Baik bagi individual atau pemimpinnya. Tapi seharusnya ia harus bergerak dari atas ke bawah. Umat Islam harus menghayati Islam secara serius kalau ingin setanding kalau tidak lebih daripada bangsa asing. Melaksanakan ajaran Islam dengan amali bukan hanya dengan cakap-cakap aja.
Pemimpin harus berkongsi pendapat dengan umat dan berani menerima teguran. Saya yakin dengan ini pintu kemajuan akan terbuka luas.
Sarjana Islam pula jangan asyik tertumpu pada perbicangan polemik. Ini akan menghambat kebernasan intelektual umat. Kan di dalam Al-Quran banyak lagi isu-isu penting yang boleh dibincang seperti ekonomi, perobatan dan lain sebagainya. Saya masih teringat satu tulisan seorang sarjana Barat (maaf saya lupa namanya), dalam kajiannya: mengapa umat Islam mundur dan kalah kepada tentara Barat dalam abad abad terakhir imperium Ottoman ialah karena orang Islam sudah tidak lagi menguasai ilmu besi.
Wassalam Sa’at b Mohamed Singapore
——-
Bagaimana konsep beragama khususnya Islam memang akan selalu memunculkan diskursus yang menarik. Yang nantinya akan menarik pihak yang berkutat didalamnya ke dalam kutub yang berbeda. Apa yang dilontarkan oleh saudara Syaukani memang berangkat dari kegelisahan melihat situasi sosial budaya umat ISlam yg mengalami kemunduran dalam beberapa abad belakangan ini. Saya kira pemikiran yang berkembang bisa di jadikan sebuah model untuk merevitaliasai pemikiran yang ada, selama itu semua selaras dan ikut mengembangkan teologi islam dalam ranah pemikira.
Komentar Masuk (2)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)