Editorial,
05/11/2010

Pemuda: Antara Membangun dan Merusak

Oleh Saidiman Ahmad

Sejarah transisi demokrasi di seluruh dunia menunjukkan bahwa peran anak-anak muda sangat penting. Suatu Negara dengan tingkat populasi anak muda yang tinggi cenderung bergolak. Pergolakan itu bisa bermakna positif, yakni pergolakan menuju perubahan yang lebih baik. Tapi pergolakan yang disebabkan oleh anak-anak muda juga bisa berdampak negatif, yakni munculnya situasi anarkis dan berujung pada berkuasanya rezim otoritarian.

05/11/2010 09:28 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (3)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Inilah akibatnya apabila sistem thagut bin Dajjal diterapkan di Indonesia!
Semua orang bebas semaunya sendiri, padahal sudah ada aturan mainnya!
Sudah tahu demokrasi (demokrasi berstandard nafsu, bukan musyawarah berstandard Islam) itu merusak, tapi malah dipuji-puji!
Sudah tahu orang bagian timur itu tidak berpakaian gara-gara tidak berpendidikan, malah dibiarin goblok &telanjang;begitu saja (bukannya dididik agar tahu agama, iptek, moral, fungsi pakaian)!

NB: Sumpah Pemuda yang sejati adalah
“Kami Bersumpah bahwa tiada Illah selain Allah!”
“Kami Bersumpah bahwa tiada Rasul (lagi) setelah Muhammad!”
Bukan sumpah yang berdasar atas golongan, suku, atau negara!

#1. Dikirim oleh no_body  pada  02/12   06:37 AM

Mas Nobody:

Maksudnya Musyawarrah standard Islam yang mana?  Yang kirim bom buku atau yang menhajar orang yang tidak setuju atau yang mempersulit pengikut agama lain dalam upaya beribadah?

Saya bosan mendengar kritik terhadap kekurangan “Demokrasi”, “Virus Liberalisme” dan “Perang terhadap Islam”.  Menurut saya demokrasi di Indonesia kurang berfungsi karena antara lain para pemimpin kurang mengajak umatnya bertanggungjawab tentang perbuatan diri sendiri tetapi lebih cenderung membangkitkan sentimen tentang orang yang mempunyai budaya atau keyakinan lain. Akhirnya agama kita menjadi suatu sandiwara untuk memenuhi syarat, bukan suatu keyakinan yang mengarahkan pemikiran dan perbuatan kita.

Di mana-mana bisa dilihat kaum muda sering menjadi sasaran orang-orang yang mempermainkan sentimen.  Hitler pakai taktik itu, taliban pakai taktik itu melalui “ajaran Islam yang sebenarnya” di Madrassa dan kaum extremis Islam di Indonesia pun demikian.

Mari kita melindungi anak-anak kita dengan cara menanamkan kesadaran bahwa kebesaran Allah tercermin di banyak agama dan kitab suci dan patut dihargai.  Mas Nobody memang benar:  kaum mudah harus diajar untuk menahan nafsu, termasuk nafsu prasangka dan kekerasan.

Wassalam

#2. Dikirim oleh Adam Sumitro  pada  20/03   05:23 PM

standar musyawarah ya alqur’an dan hadits, adapun mereka yang berfikiran ektrim seperti bom buku adalah mereka yang berijtihad dengan jalan fikiran mereka.

kalu menurut anda demokrasi adalah sistem yang mapan, lalu kenapa masih ada anak busung lapar setelah 65 tahun indonesia merdeka?

#3. Dikirim oleh fadlan abdurrahman  pada  29/05   11:14 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?