Pencerahan Berjamaah Ikhwanus Shafa
Oleh Novriantoni Kahar
Intinya, harmonisasi agama dan filsafat mereka bukanlah menghimpun kebenaran-kebenaran filosofis dengan kebenaran-kebenaran agama. Mereka tidak menunjukkan penilaian yang berat sebelah kepada salah satunya untuk kemudian sampai kepada sintesis yang menghimpun antara unsur-unsur yang sama dan berkesesuaian sebagaimana dilakukan al-Farabi dan Ibnu Sina. Namun upaya mereka tak lebih dari menghindarkan pertentangan (raf’un nizâ`). Dalam bahasa Adil Awa, mereka senantiasa berada di persimpangan jalan (fî muntashaf at-tharîq) antara iman dan akal, agama dan filsafat.
Komentar
AGAMA VS FILSAFAT
Pada sebuah pengajian mahasiswa lebih dari 10 tahun lalu, dibicarakan betapa buruknya dampak filsafat kepada manusia, khususnya kaum muslimin. Salah satu dampak negatif tersebut diantaranya dapat menjadikan seseorang tidak percaya adanya Tuhan.
Hal tersebut sangat membingungkan, karena pada salah satu buku karya Yuyun Suriasumantri (Ilmu dalam Perpektif—yang waktu itu sedang saya baca)ditulis kurang lebih bahwa filsafat adalah suatu cara berpikir yang radikal dan menyeluruh, yang membahas dan menggali segala sesuatu dengan sedalam-dalamnya. Kepada pembaca ‘para ahli dalam ilmu filsafat’ tolong sampaikan definisi filsafat dengan bahasa yang lebih sederhana agar orang-orang awam sperti saya bisa lebih mengerti.
Dengan perpegang pada pengertian filsafat versi Yuyun S. tadi, saya tidak menemukan pertentangan antara agama dan filsafat.
.(JavaScript must be enabled to view this email address)
Salam,
Saya mendapat informasi tentang Ikhwan al-Safa dari buku Seyyed Hossein Nasr: An Introduction to Islamic Cosmological Understanding (1978). Sungguh menarik bahwa Nasr menyandingkan filsafat Ikhwan al-Shafa (persaudaraan suci), dengan filsafat Ibnu Sina dan filsafat al- Biruni. Pemikiran ketiganya dirumuskan sebagai sebuah kosmologi dalam dunia Islam, pandangan menyeluruh tentang alam (nature). Ketiganya membagi alam ke dalam dua kategori: terestrial (sublunar) dan ekstraterestrial.
Pasca al-Ghazali filsafat mulai meredup, ia menggembosi filsafat yang uniknya dengan filsafat (mantiq) itu sendiri. Spekulasi metafisis tentang dunia ekstraterestrial kemudian ditinggalkan, lalu filsafat pindah ke barat dengan perspektif yang berbeda. Setelah fase ini tampaknya tradisi kaum Salaf (ahlus sunnah) mulai kembali hidup, muncul sosok pemikir dan pejuang Ibnu Taymiyah yang kemudian mati dalam penjara sebagai tahanan politik. Dan tak ada filsuf lagi, kecuali tradisi mistik Islam dari Persia. Ummah kemudian melihat filsafat bukanlah hal yang menarik, mungkin terlalu rigorous dan tak menyentuh hal-hal yang detil dan tampak sepele dalam keseharian, karenanya tradisi Nabi mulai digali kembali untuk mencari kemurnian dan keotentikan. Alasannya tentu saja karena Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang boleh dibilang paling dekat dengan Allah SWT, sang Sumber ‘kosmik’ (Leibniz), dan otomatis orang-orang disekitarnya sampai beberapa generasi (tradisi salaf) dekat dengan yang kosmik itu.
Saya pikir demikianlah mengapa ummah tak melihat kembali filsafat sebagai keutamaan dan terus mempelajari dan mencari kemurnian dalam tradisi nabi secara terbuka. Model komunitas Ikhwan al-Shafa, yang sifatnya rahasia, sekarang saya kira bukanlah hal yang menarik. Prinsip keterbukaan sebenarnya sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad dalam menyampaikan ajarannya.
Komentar Masuk (2)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)