Wawancara,
16/01/2009

Budhis Utami: Pendidikan Agama Jangan Menakut-nakuti

Jadi bacaan-bacaan wirid itu, bacaan-bacaan doa novena dalam agama Katolik, dan bacaan-bacaan yang keluar dari dalam hati saya sendiri, saya pikir sama-sama didengarkan oleh Tuhan. Poin yang ingin saya sampaikan: kalau kita menjalankan nilai-nilai yang inti dan universal dalam suatu agama, kita tidak akan pernah bentrok dengan agama apapun.

16/01/2009 07:18 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (112)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 6 halaman 1 2 3 >  Last ›

Tuhan dengan segala ke Maha an nya pasti mengerti dan menyayangi semua umat dan ciptaanNya.

saya juga pernah pindah agama ... hanya kebalikan dari anda ... saya muslim sekarang.

#1. Dikirim oleh rajaka  pada  16/01   12:03 PM

Pandangan yang anda sampaikan mencerminkan anda sangat menghargai perdamaian. Pilihan kalimat yang terukur dampaknya dan secara keseluruhan sangat terstruktur. Semoga ini menjadi renungan bagi siapa saja yang memiliki benak yang penuh berisi sampah keburukan.

#2. Dikirim oleh bendera  pada  16/01   04:14 PM

Sebagai seorang yang pernah berpindah agama seperti saudari Budhis diatas, saya juga menemukan kenyamanan ber Tuhan yang sama dengan beliau, bahkan saya saat ini malah cenderung fanatik terhadap agama baru saya. Dan kefanatikan saya ini bukan karena pengaruh khutbah atau umat gereja saya tetapi karena ada hal-hal mendasar yang saya rasakan sebagai sesuatu yang “benar” menurut saya (Walahualam bisawab..)

Namun apa yang dirasakan oleh saudari Budhis diatas setelah berpindah agama tidak sesakit apa yang harus saya tanggung. Perlakuan kasar baik secara fisik dan mental dari warga sekitar tempat saya karena dianggap “murtadin” dan darah saya halal membuat trauma tersendiri dalam diri saya sehingga mental saya cenderung apatis terhadap agama lama saya.
Tapi saya tetap belajar untuk dapat merehabilitasi luka dalam hati saya dengan meneladani Yesus dan berusaha memberikan yang terbaik bagi sesama
Rumah dan pekerjaan lama harus saya tinggalkan namun Tuhan ternyata mempunyai rencana lain yang terbaik buat kami sekeluarga.

Satu hal yang pasti bagi saya adalah, jangan pernah membuat neraka bagi orang lain hanya karena perbedaan diantara sesama umat manusia. Tuhan itu baik, sangat baik…mengapa kita sebagai umatNya harus berbuat jahat terhadap sesama, sedangkan Ia sangat baik terhadap kita? Bukankah kita diajarkan untuk takwa terhadap Nya?

#3. Dikirim oleh Alhuda  pada  16/01   11:42 PM

Assalamu’alikum

Setuju sekali dengan judul wawancara di atas. Agama seharusnyalah memang menggambarkan kasih sayang Ilahi yang tiada bertepi.Dari sudut pandang Islam jelas sekali gambaran tersebut. Setiap surah dalam Al Qur’an selalu dimulai dengan lafaz basmalah tepatnya Bismillahirrahmanirrahim. Kata bi dalam kalimat ini diterjemahkan menjadi “dengan”. Namun kata ini juga bisa diterjemahkan dengan “Berdasarkan”. Jadi terjemahan lengkapnya dapat berbunyi ” Berdasarkan asma ALLAH: Arrahman dan Arrahim”. Apa makna yang terkandung dengan terjemahan semacam ini ?. Maknanya adalah bahwa seluruh wahyu yang diturunkan olehNYA berada dalam konteks niat dan kerangka kasih sayangNYA. Tidak dipergunakanNYA asma yang lain juga menunjukkan bahwa seluruh asma ALLAH selain Arrahman dan Arrahim dikendalikan dan diletakkan oleh asma Arrahman dan Arrahim tersebut. Dengan kata lain kehidupan dijelmakan olehNYA adalah karena kasih sayangNYA semata.Ke arah pemahaman inilah seharusnya dakwah ISLAM dikembangkan sesuai dengan statemen bahwa seorang Muslim adalah manusia rahmatan lil’alamin.
Wassalam smile

#4. Dikirim oleh ferry  pada  17/01   12:23 AM

Sejak lama saya mengikuti JIl dan secara konsepsional teoritis saya sangat sependapat dengan pemikiran- pemikiran yang dikedepankan JIL. Namun ketika JIL memuat wawancara Budhis Utami, agaknya JIl sudah tidak konsisten lagi dengan prinsip prularisme yang selama ini diusung dan dibela JIL… Karena fenomena pindah agama merupakan persoalan psikoligis yang sangat individual sifatnya . Saya ingat kalimat Gunawan Muhammad : meski saya menyadari didalam agama saya ada yang bagus dan ada yang jelek, tapi untuk menegakkan kebenaran bukan harus berpindah agama…( caping : Murtad )

Jadi Fenomena Budhis Utami ini sangat bersifat subjective individualistik. Jika JIL masih konsisten pada Ide pluralisme serta kebepihakan pada co eksistensi agama- agama , maka wawancara seperti ini tidak layak untuk dipublikasikan. Saya sangat menyayangkan Ide- ide kreatif tentang dimensi religiusitas yang selama ini telah ditumbuh kembangkan dengan sangat kreatif dan mendorong terjadinya dialektika yang produktif malah ” dirusak ” dengan ketidak jelian team redaksi JIL .

#5. Dikirim oleh Herry  pada  17/01   06:17 AM

Apakah begitu pentingnya pengalaman spritual ini harus ditulis didalam situs ?,terus terang saja zaman sekarang orang2 sudah tidak peduli agama apa yg seseorang peluk,terserahlah mau menyembah setan juga silahkan, we dont give a stuff.

#6. Dikirim oleh jiliscrap  pada  17/01   07:03 AM

Yang penting buat Tuhan adalah, Prilaku dan perbuatan kita terhadap sesama dan alam sekitar kita.

#7. Dikirim oleh JOJODOG  pada  18/01   10:06 AM

Tidak ada paksaan dalam beragama dan Islam pun tidak pernah memaksa seseorg untuk masuk Islam.Ini terbukti ketika Spanyol dikuasai oleh kerajaan Islam.Beda ketika Spanyol kembali dikuasai oleh Kerajaan Katolik dgn ratunya Isabela, dimana semua org Islam dipaksa masuk katolik kalo tdk mau maka dibunuh.
Saya hanya kasihan bahwa org yg keluar dr Islam tdk mendapat hidayah Allah.Padahal sudah jelas mana yg benar mana yg salah.Jika anda belajar kimia dan belum mampu memahaminya, apakah pilihan terbaik anda berhenti belajar kimia dan pindah belajar bahasa Indonesia yg lebih mudah?ataukah sebaiknya anda mencari org yg mumpuni dibidang kimia dan mampu menjelaskannya secara sederhana sehingga anda mengerti dan pada akhirnya anda menjadi sarjana kimia yg handal?Renungkanlah…

#8. Dikirim oleh EKOJI  pada  18/01   01:24 PM

ini adalah sepenggal kisah anak adam yang bersifat relatif dan tidak dapat diberlakukan secara umum.. kalo orang berpindah dari satu agama ke agama yg lain tentu ada sebab, nah sebab inilah yg relatif, karena keterbatasan manusia mengintrepetasikannya.. so? tapi hukum tuhan itu bersifat mutlak, seperti 1+1=2 (sebelum manusia ada sampai manusia tiada, 1+1 tetap = 2). Gaya gravitasi g=9.8m/s2.. dari sebelum jagat ada sampai gak ada tetap sama, ini mutlak hukumnya. begitu juga agama, harus 1, yaitu islam. dari sebelum kita ada sampai kt gak ada, tetap agama islam yg diakui Allah, ini juga mutlak hukumnya. gak mungkin akhirnya 1+1=3,4 atau 10. jagat ini tempat berkumpulnya perbedaan.. prinsip 2 sisi mata koin. ada baik/buruk, kaya/miskin, benar/salah.. ada muslim/non muslim. tidak akan jadi masalah bila perbedaan ini tidak bersinggungan atau berprinsip “agamamu adalah agamamu dan agamaku adalah agamaku”.. namun akan jadi masalah bila kamu mempengaruhiku ikut agamamu.. dan, mbak budhist utami, anda adalah salah satu produk dari bersinggungannya perbedaan tadi.. anda tidak bisa katakan koq lingkungan keislaman di sekitarmu gak kuat pengaruhnya sehingga anda pindah agama.. masalahnya bukan di luar.. tapi ada dalam dirimu. kalo yg diluar.. tiap saat berubah, yg tetap adalah yg di dalam dirimu.. so renungkanlah??

#9. Dikirim oleh bens  pada  18/01   02:51 PM

harusnya mereka berpikir, bagaimana dengan seijin tuhannya,  musa membelah lautan untuk kaumnya, dan menenggelamkan firaun dan balatentaranya.. terus , kenapa tidak membuat agama sendiri ya ??? ndomplengggg ajjjaaahhh .....

#10. Dikirim oleh booaaennwooaae  pada  19/01   03:04 AM

Saya setuju ama jiliscrap, Mau pindah, mau nyembah. Gak pindah tapi gak nyembah. Mau nyembah setan , mau nyembah tuhan apa Tuhan, semua punya komunitas sendiri2. So .... Lakukan kebebasan beragama dengan syarat jangan mengganggu kebebasan beragama orang lain.
Semua pasti mati, semua menunggu kebenaran masing2. Semoga saya termasuk golongan yg beruntung di dunia maupun sesudah mati kelak.
Apakah kita sudah merenungkan jalan kita sekarang?
Apakah kita sekarang beruntung di dunia?
Apakah kira2 kita beruntung di Akherat nanti?
Semua agama mengajak kebaikan, itu betul.
GAK ADA BEDANYA.
Apakah semua agama Menampilkan kebenaran secara terang-terangan?
Apakah ada Agama yg berani menantang manuasia untuk membuktikan bahwa agama ini benar atau salah?
Al Qur’an berani ...
Yang lain berani????

#11. Dikirim oleh Al Fatih  pada  20/01   01:46 AM

@ bens dan EKOJI serta yang sependapat,

Salah satu sekolah swata Kristen yang berkualitas tinggi di Melbourne dalam upacaya pembukaan tahun ajaran baru dan awal smester selalu disertai dengan doa bersama yang dipimpin oleh pendeta sekolah itu. Yang menarik dari upacara doa bersama adalah bacaan-bacaan yang dipilih dalam uapacara itu. Sebagai sekolah Kristen tentu saja mereka memilih bacaan dari Injil tetapi selain itu mereka juga memilih dua bacaan lain yang berasal dari alkitab agama lain. Yang pernah saya saksikan adalah bacaan Injil dengan bacaan dari AlQur’an (dalam bahasa Inggris biar dimengerti)dan bacaan dari kitab suci Yahudi. Juga pernah dari Hindu dan Budha. Yang ingin saya sampaikan adalah walaupun sekolah ini Kristen tetapi sumber inspirasi spiritualnya tidak hanya dari Injil melainkan juga dari kitab suci agama lain bahkan kadang-kadang menggunakan cerita dari tradisi Aborigine. Dan pesan yang disampaikan setiap bacaan dalam doa bersama itu selalu sama.

Apa yang ingin disampaikan oleh sekolah ini kepada siswa-siswinya?

1. Di dunia ini ada lebih dari satu agama dan setiap orang sepantasnya menerima kenyataan itu dan menghargai perbedaan itu sebagai suatu kenyataan hidup.
2. Pesan/ajaran yang dibawah setiap bacaan mempunyai banyak kesamaan, bahkan inti ajarannya adalah sama.
3. Yang terpenting adalah bagaimana menjalankan hidup masing-masing sesuai dengan apa yang diyakininya. Dengan kata lain agama itu penting untuk dimiliki tetapi yang terpenting adalah prilaku hidup yang baik yang dapat membawah kesejahteraan lahir batin bagi sesama manusia dan alam semesta.

Dari pengalaman pribadi masa kecil saya yang hidup dalam dua kepercayaan yaitu kepercayaan lokal dan kepercayaan Kristen serta ditambah pengalaman saya diatas; saya lalu berkeyakinan bahwa bukan agama yang saya jalani tetapi inti dari pada ajarannya yang saya harus jalani. Contohnya: Nilai Cinta-Kasih. Tidak penting apakah nilai ini diajarkan oleh agama Kristen atau Islam atau Budha dan atau kepercayaan lokal, tetapi yang terpenting adalah nilai Cinta-Kasih itu sendiri. Dan lebih penting lagi adalah mewujudkan nilai Cinta-Kasih itu dalam hidup kita sehari-hari.

Pendidikan agama semacam ini lebih mementingkan spritualitasnya daripada seremoni yang hanya berupa simbol atau alat. Spirit KEBENARA dan KEBAIKAN yang diajarkan. Ajaran agama semacam inilah yang mempunyai masa depan karena manusia moderen akan selalu hidup dan bergelut dengan dunia rasional.

Saya mengakui kebenaran 1 + 1 = 2 seperti juga ketika agama katolik didirikan oleh St Paulus dan penguasa Roma 1 + 1 = 2, yaitu agama Yahudi + ajaran Yesus (Isa) = Agama Katolik ditambah agama Yahudi. Apakah ini tidak berlaku untuk ISLAM, yaitu 1 + 1 + 1 = 3, yaitu, Agama Yahudi (ajaran nabi Musa) + Ajaran Isa + Ajaran nabi Muhamad = sama dengan Agama Islam, agama Katolik dan Agama Yahudi?

Jika ALLAH mengakui hanya satu Agama, mengapa Allah tidak menggerakan hati semua manusia dengan kuasaNYA untuk percaya kepada agama yang diakuinya itu? Bukankah ALLAH itu Maha Kuasa?

Kembali kepada topik di atas saya berpendapat bahwa cerita Mb Utami sebagai salah satu contoh bahwa kepercayaan adalah hal yang sangat pribadi sehingga pilihan agama adalah hak individu.

Kebanyakan kita mengikuti agama tertentu karena keluarga dan orang tua kita sehingga jika ada yang menemukan agama lain lebih cocok buat pribadinya setelah dia dewasa (mengerti tentang agama); itu adalah haknya. Kita yang lain tak perlu mempersoalkannya. Sebagaimana kata Kia Kiai Mahmud (almarhum), “.....biarkan aja anakmu mau masuk Kristen, mau masuk Islam, mau masuk apa, yang penting dia sungguh-sungguh meyakini agamanya dan menjalankannya!”

Ada Cerita dar Pak Arief Budiman tentang seorang Muslim yang dibantu gereja Katolik pernah datang kepada seorang Pastor dan menyampaikan keinginannya untuk masuk agama Katolik sebagai tanda balas jasanya kepada gereja yang telah membantunya. Pastor itu berkata bahwa jika Anda ingin membalas jasa kami (gereja Katolik) Anda tidak perlu masuk agama kami tetapi dapat Anda lakukan dengan menjalankan ajaran agamamu (Islam) dengan baik. Dengan cara itu Anda sudah membalas budi kami.

Ada bukti bahwa ada banyak pemimpin agama dan pemeluk agama yang hidup di masyarakat kita; yang tidak mementingkan simbol (alat) tetapi PRILAKU YANG BAIK. tak penting apa agamanya.

Hila

#12. Dikirim oleh hila  pada  20/01   02:06 AM

Saya pikir sah-sah saja seseorang yang masih dalam tahap pencarian akan membuat suatu keputusan dengan berpindah-pindah keyakinan, hanya pada saat ia sudah menemukan jawabannya maka ia kan settled. Hal ini berbeda untuk tiap2 orang, jadi sebaiknya tingkatkan pengetahuan dan perbanyak diskusi, kalau memang masih memiliki keinginan untuk berkembang, dan perluas wawasan dengan banyak belajar dan membaca.

#13. Dikirim oleh myra  pada  20/01   06:09 AM

seharusnya memang begitu. Masalah pelarangan nikah beda agama selama ini cuma jadi pembenaran atas tesis bahwa agama biang perpecahan. Kenapa pula gusti Allah mesti melarang ciptaannya saling mencintai? bukankah itu perintah-Nya & Ia sendiri mencintai orang sholeh sekaligus orang kafir?

#14. Dikirim oleh wiryawan  pada  20/01   07:10 AM

itu dia pak/buk, dasar makanya islam tidak menyarankan (dilarangkah?) pernikahan beda agama
murni pertimbangan agar sang anak (seperti budhis utami)tidak menghabiskan waktu (mencari dan memilih agama), sehingga waktu bisa dipergunakan untuk yg lain (yg lebih bermanfaat)
ingat!waktu tak bisa diulang…semakin haari kita semakin dekat ke kematian…

#15. Dikirim oleh auganteng  pada  20/01   09:34 AM

Makanya klo masuk Islam jangan separo2, baru di kulit udah berhenti, buah manggis itu klo dimakan dikulitnya pahit.
Sekolah dokter saja makan waktu 25 tahun anda islam berapa lama sama siapa berguru.
Saya islam tapi gak takut2 amat ama neraka, lebih takut ama yg punya neraka

#16. Dikirim oleh Slam  pada  20/01   05:36 PM

Tuhan, adalah yang menciptakan langit, matahari, bulan, bumi dan segala isinya. Atas hal demikian , berhak kah Tuhan membuat aturan untuk seluruh ciptaan Nya, dan memberikan ganjaran berupa kenikmatan surga dan ketidak nikmatan neraka ? Atau lebih berhak manusia yang membuat aturannya ?

#17. Dikirim oleh bijak  pada  21/01   03:44 AM

Ibu Utami,
Ibu beruntung hidup dinegara yang demokratis, karena bu masih bisa bebas menyatakan pendapat Ibu dan yang paling penting Ibu masih hidup.

Kalau ibu hidup dinegara yang menerapkan Hukum Sharia, nasib ibu pasti sudah lain.

Selamat menikmati demokrasi dan menghidupi demokrasi

#18. Dikirim oleh Humanis  pada  21/01   05:08 AM

Hmm…, berbicara tentang agama, mungkin tak ada salahnya jika saya ajak anda menganalogikannya lewat “rumah”.

Hampir setiap rumah umumnya memiliki fitur dan komposisi serupa, yakni memiliki pintu, jendela, kamar tidur, dapur, kamar mandi, ruang tamu, ruang makan atau ruang keluarga dsb. Meski hampir semua rumah memiliki fitur serupa tidak berarti bahwa semua rumah adalah sama. Masing-masing rumah pasti memiliki perbedaan setidak-tidaknya dalam bentuk, ukuran, tata ruang, rancang bangun, kenyamanan ditinggali dan kualitas bahan yang dipergunakannya. Setiap rumah pada hakekatnya adalah UNIQUE.

Siapapun berhak membangun rumah jika ia memiliki kemampuan untuk itu. Pemilik “rumah” memiliki hak penuh menentukan arsitektur, tata-ruang, tata-letak dan fungsi rumah tersebut. Siapapun yang berminat menempati rumah tersebut hanya akan bisa terlaksana dengan ijin dan keridlaan dari si pemilik rumah.
Siapapun yg masuk ke rumah tsb tentu harus lewat pintu yg dibuat/disediakan si empunya rumah, kecuali maling yang mungkin gunakan jendela atau lewat atap mengikuti suka-suka dirinya.

Jika ada seseorang menyatakan berminat untuk tinggal di rumah yang anda miliki, yang dibangun berdasarkan peruntukkan, keinginan dan cita-rasa anda yang tinggi, pantaskah jika ia membongkar pintu masuk, jendela dan ruangan di rumah tsb semata-mata karena menurut ybs rumah anda sudah tidak sesuai lagi dengan selera dan kebutuhannya?. Wajarkah jika ia merombak fungsi kamar tidur anda menjadi tempat penyimpanan berbagai barang kebutuhan yang ia perlukan dalam kehidupannya? Tentu tidak bukan?!
Anda pasti akan marah dan mengusir orang tsb dari rumah anda karena sesungguhnya anda tidak pernah meminta dia datang atau membutuhkannya tinggal di rumah anda.

Demikian pula halnya dengan Agama. Agama adalah UNIQUE.

Mungkin semua agama memiliki “fitur” serupa – yakni mengajarkan aspek ketuhanan dan tata-cara bermasyarakat yang “baik/buruk” dan “benar/salah”, namun sesungguhnya tolok ukur “baik/buruk” – “benar/salah” yang diterapkan oleh setiap pemilik “rumah” (dhi. Agama) bagi masing-masing rumah/bangunan belum tentu sama, walaupun pemilik rumah/bangunan tersebut sama.

Saya ingat seorang kerabat yang dulu menempati rumahnya yang besar tapi rumah tsb sekarang dibiarkan kosong karena lebih menguntungkan dijadikan rumah burung walet yang menghasilkan sarang burung berlimpah. Sah-sah saja bagi ybs menetapkan bahwa “rumah besar dan nyaman” yang pernah ia bangun dan tempati kini dilarang dijadikan tempat tinggal oleh kerabat atau siapapun juga karena ia telah memutuskan menjadikan rumah tersebut sebagai ladang sarang burung walet!

Bagi saya pribadi, seperti halnya kerabat saya pemilik rumah burung walet tsb, wajar sekali apabila setelah Allah swt menyempurkan agama-Nya, Allah menyatakan hanya meridlai Islam sebagai agama bagi hamba-hamba-Nya. Sekarang semua kembali terpulang pada kita masing-masing. Apakah kita memilih untuk menjadi mahluk tak tahu diri dan sok tahu yang ngotot mengubah tatanan, tata-ruang, fungsi dan peruntukkan “rumah”-Nya agar sesuai dengan kebutuhan kita yang konon mengikuti perkembangan jaman; atau mau bersikukuh menempati rumah “burung walet”-Nya; atau malah memutuskan untuk tidak berlindung dalam “rumah”-Nya…... semuanya terserah kita masing-masing… Kalau saya sih tentu memilih memohon ridla dan perkenan-Nya sekaligus bersyukur berada didalam bangunan yang Dia tetapkan sebagai “rumah” bagi hamba-hamba-Nya, dan berusaha untuk senantiasa melestarikan semua aturan, tatanan, fungsi dan peruntukkan yang berlaku dalam “rumah”-Nya yang bernama al-Islam. Amin

#19. Dikirim oleh Irawan  pada  21/01   07:21 AM

cintailah Tuhan dan berbuatlah baik kepada sesama manusia, niscaya orang akan melihat imanmu. Setelah mereka melihat,biarlah roh kudus di hati mereka sendiri yang membimbing ke jalan kebenaran.

Dakwah dengan cinta kasih akan menghasilkan iman yang kuat dan tergoyahkan, seperti iman Bu Utami.

Selamat datang Bu Utami….
di kehidupan penuh cinta dan kasih sayang.
Semakin kuatlah dengan tekanan dan himpitan hidup,sebab cinta yang ada di hati ibu justru akan lebih murni bagai emas yang selalu dibakar di perapian.
Gusti Allah mberkahi….

#20. Dikirim oleh syechsitidjenar  pada  21/01   09:28 AM
Halaman 1 dari 6 halaman 1 2 3 >  Last ›

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?