Wawancara,
16/01/2009

Budhis Utami: Pendidikan Agama Jangan Menakut-nakuti

Jadi bacaan-bacaan wirid itu, bacaan-bacaan doa novena dalam agama Katolik, dan bacaan-bacaan yang keluar dari dalam hati saya sendiri, saya pikir sama-sama didengarkan oleh Tuhan. Poin yang ingin saya sampaikan: kalau kita menjalankan nilai-nilai yang inti dan universal dalam suatu agama, kita tidak akan pernah bentrok dengan agama apapun.

16/01/2009 07:18 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (112)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 6 dari 6 halaman‹ First  < 4 5 6

Ibu Budhis Utami

Setelah membaca seluruh wawancara Ibu, saya menyimpulkan bahwa anda sunguh memahami ajaran Katholik. Saya bisa menatakan ini karena pernyataan Ibu di akhir seluruh wawancara tersebut yang saya kutip ini : Soal apakah saya sudah berbuat yang baik atau tidak, bukan orang yang menilainya. Tuhan yang menilainya. Persoalan saya akan masuk ke neraka atau surga, itu juga bukan urusan saya. Tidak penting saya mau diletakkan di mana, yang penting saya diberi rambu-rambu-Nya agar saya masuk dalam rambu-rambu Tuhan. Sebab, acuan saya adalah teladan Yesus.
Sangat benar bahwa sebagai makhluk ciptaan Tuhan, jangan lah sekali-kali kita mengintervensi hak mutlak Tuhan yaitu menentukan kita akan berada di mana setelah kematian atau dalam bahasa agama katholik bisa disebut “kiamat kecil”. Hak mutlak Tuhan untuk untuk menentukan kita akan berada di mana.
Nah sebagai umat-Nya kita diberi kebebasan untuk menentukan perbuatan mana yang kita pilih. Apakah kita akan berbuat baik atau kita akan berbuat buruk, Tuhan memberi kebebasan kepada kita. Tetapi pada akhirnya, resiko itu kita sendiri lah yang akan menanggungnya. Tidak ada orang lain yang bisa menggantikan kita untuk menerima resiko atau akibat dari perbuatan kita sendiri. Bahkan Yesus sekali pun. Karena dalam persepsi saya, Yesus sebagai penyelamat bukan berarti akan menyelamatkan kita meskipun kita berbuat sekehendak hati kita. Penyelamat Yesus adalah ketika Yesus rela disiksa, dibunuh dengan cara disalib hanya untuk mempertahankan ajaran Kasih yang telah diteladankan pada kita. Ketika kita mau mengikuti teladan perbuatan Yesus, kita akan selamat. Tetapi sekali lagi yang menentukan apakah kita sudah meneladani Yesus dalam perbuatan kita sehar-hari, kembali lagi hak mutlak Tuhan lah menentukan.
Saya sungguh senang dan bahagia membaca artikel wawancara Ibu, dan akan lebih menyenangkan bila kita bisa berkomunikasi meskipun hanya lewat dunia maya.
Terima kasih, apa yang anda sajikan dalam wawancara ini telah menguatkan saya secara pribadi.

#101. Dikirim oleh Terto Wirahadi  pada  14/07   07:07 AM

harusnya tuhan yang memikirkan kita,bukan kita yg memikirkan tuhan

#102. Dikirim oleh banish  pada  15/07   03:17 PM

Agama adalah suatu “Way of Life” ketika seseorang tidak berhasil memaknai fitrahnya sbg manusia dimana :
1. Ia harus mengembangkan diri dgn segala potensi yg dimilikinya.
2. Hrs bekerja sama dengan orang lain tanpa hrs dibatasi dengan sekat agama. Istilahnya kita harus memanusiakan “Manusia”. Demi terwujudnya tatanan sosial yg beradab.
3. Agama” itu pd dasarnya merupakan jawaban atas tiga hal : darimana kita berasal, utk apa kita hidup dan kemana kita setelah mati ?
Scr psikologis manusia membutuhkan “Kepastian”

Sy yakin jika kita menggunakan seluruh potensi akal yg kita miliki, kita akan bisa hidup berdampingan. Dan agama mjd salah satu rintangan utk mencapai hal tersebut. Tentunya hrs ada koridor nya yaitu “Jangan melakukan perbuatan destruktif & merugikan orang lain”

#103. Dikirim oleh Salam damai  pada  20/07   12:35 PM

Sebenarnya, Tuhan mengutus para rasul dan nabi, adalah untuk keselamatan manusia. Sejak Nabi Adam dan sejak Rasul Nuh,ajaran yang Tuhan sampaikan itu sama, yakni Tauhid, meng-esakan Tuhan.
Itulah inti dari ajaran Tuhan, hanya Dia Yang Tunggal, tidak beranak dan tidak memperanakkan.
Itulah makanya dalam Islam, dijelaskan bahwa semua Rasul dan Nabi itu hanyalah utusan. Tak akan menjadi tuhan, dan tak akan bisa, siapapun dia.
Hanya manusia sesatlah yang meng-klaim, bahwa ini putra Tuhan. Kita saksikan kebenaran ini di dunia ini. Dan juga di akhirat nanti. Ajaran agama samawi itu tunggal, yaitu hanya menuhankan Allah saja, tiada yang lain.
Apabila saya sebutkan, sesat, itu karena rasa kasihan saya pada mereka, bahwa nantinya di akhirat, mereka akan menyesal. Meski penyesalan itu tiada gunanya. Jadi, bukan karena benci, juga bukan menghina, akan tetapi atas dorongan rasa belas kasihan.
Saya agak terusik dengan pernyataan Saudara banish di atas, “seharusnya Tuhan yang memikirkan kita dan bukan kita yang memikirkan Tuhan”.
Saya perlu menjelaskan, Tuhan sudah ciptakan bumi, langit dan segala isinya. Tuhan telah ciptakan kita, manusia dan segala apa yang kita butuhkan agar dapat bertahan hidup didunia, termasuk akal kita. Itu semua kasih sayang Tuhan kepada makhluk ciptaan-Nya. Semua ikan yang dilaut, manusia tak pernah beri makan mereka, Tuhan yang memberikan rezeki. Burung, dan segala jenis binatang, di darat di sungai, di hutan. Tuhan melimpahkan rezeki kepada mereka semua.
Kepada jenis makhluk manusia,—karena Tuhan ciptakan akal dan hati—, maka ada amanah yang harus dilaksanakan manusia, yaitu menghamba kepada-Nya. Itulah fungsinya kitab Suci,tatacara menusia hidup selama di dunia, agar selamat tak hanya di dunia, tapi juga di akhirat.
Nah, bila kita mengikuti yang tertera di Kitab Suci, dalam arti—memahami dan mengamalkan—, manfaat atau nilai gunanya adalah untuk kita sendiri, bukan untuk Tuhan.

#104. Dikirim oleh isoelaiman  pada  22/07   02:11 AM

Saya rasa Kita tidak perlu mengkritik tentang keyakinan seseorang apapun agamanya…yang terpenting bagaimana aplikasi keyakinannya kepada semua orang. Apakah ia pernah melakukan hal-hal diluar norma agama atau etika sebagai manusia. Tentu semua agama mengajarkan kebaikan. Soal apakah ia masuk Sorga atau Neraka itu adalah HAK OTORITA Yang Kuasa. Kita tidak bisa mengatakan apakah seseorang masuk Neraka atau masuk Sorga karena kita bukan Tuhan dan mungkin saja dosa kita lebih besar dari pada dosa orang yang kita bilang dia akan masuk neraka. Karena Tuhan tidak peduli apa agamamu dan tidak peduli apa kitabmu apakah itu asli atau bukan , apakah itu Mujizat atau bukan ..Dia tidak memikirkan soal itu. Yang Dia lihat dari kita adalah Bagaimana sikap kita sewaktu kita hidup didunia ini . Apakah kita sudah berguna bagi banyak orang..? apakah tingkah laku kita menyenangkan banyak orang ? Pokoknya apakah kita menjadi orang yang mempunyai moral yang baik sesuai dengan norma-norma kehidupan yang berlaku. Jika kita telah melakukan hal-hal yang baik dan berguna serta membuat banyak orang senang maka semuanya itu berarti juga membuat hati Tuhan senang.Karena sekali kita berbuat yang tidak baik kepada seorang manusia berarti kita telah melawan Tuhan dan melanggar perintahnya. Ironis memang kita bicara soal keaslian Kitab Agama kita, kebenaran agama kita , kehebatan nabi kita dst dst namun Tingkah Laku kita tidak sebaik agama yang kita bangga-banggakan. Kita hanya bisa menuduh agama orang lain tidak benar dari agama kita,kita berlaku seperti orang yang tidak beragama kepada orang lain padahal kita bilang agama yang paling benar. Berarti kita sudah membohongi Tuhan dan telah mempermainkan Tuhan karena kita menopengkan Agama untuk mencapai kepuasan kita sendiri tanpa memikirkan orang lain yang menjadi korban atas segala yang telah kita lakukan.Karena Tuhan tidak pernah membuat agama apapun yang membuat adalah manusia itu sendiri. Yang Tuhan inginkan adalah Kita menyanyangi umat manusia siapapun dia karena Tuhan juga menyanyangi kita siapapun kita. Kita tidak bisa menelaah segala hal yang menyangkut Tuhan karena Tuhan mempunyai kerahasian yang tidak bisa kita pikirkan. Karena seorang teknisi komputer yang bagus tidak bisa dilhat dari cara dia berpakaian ,cara dia berjalan atau apa yang ia katakan namun kita bisa melihat dari hasil pekerjaannya apakah hasilnya memuaskan kita atau tidak. Siapapun orangnya bila hasil kerjanya baik maka kita bisa katakan orang itu baik dari segi kerjanya. Sebaliknya walaupun orang itu sudah berpakaian rapi pakai jas lengkap jam tangan , pakai cincin , pakai sepatu mahal namun bila hasil kerjanya tidak bisa memuaskan kita maka kita katakan orang itu tidak baik dilihat dari segi kerjanya. Begitu jugalah bila kita melihat seseorang dari segi keagamaannya.

#105. Dikirim oleh Sahata Butarbutar  pada  06/08   04:24 AM

Teman-teman,

Membaca tulisan isoelaiman di atas (104) membuat saya merasa kuatir sekali karena saudara isoelaiman berani menuhankan dirinya lewat pernyataan sebagai berikut:
“.......Apabila saya sebutkan, sesat, itu karena rasa kasihan saya pada mereka, bahwa nantinya di akhirat, mereka akan menyesal. Meski penyesalan itu tiada gunanya. Jadi, bukan karena benci, juga bukan menghina, akan tetapi atas dorongan rasa belas kasihan.”

Soal akhirat adalah hakNYA bukan hak manusia jadi urusan akhiran adalah urusan individu dengan TUHANnya.

hila

#106. Dikirim oleh hila  pada  06/08   12:54 PM

luar biasa…. yang kurang mengerti menjadi mengerti,
yang tadi mengapa menjadi bagaimana?
yang Dia menjadi -Nya
itulah HATI bu’ sangat mudah sekali untuk memilah-milah kepritansiahan.
karna saya juga bukanlah manusia yang taat dalam agama Islam akan tetapi saya mencintai Islam.
Saya sangat kagum dengan sebuah kata “sebaik - baik umat tidak menyakiti umat lainnya didalam koridor perdamain sampai akhir pelangaran dalam perdamaian”
salam kenal Bu’ sungguh tenang jiwa sampean.

#107. Dikirim oleh bi  pada  27/08   05:24 PM

Setiap orang yang memeluk suatu agama ( agama apapun) tentu karena yakin ( iman ) agama yang dipeluknya yang paling benar.

Apa bila keyakinan itu ( agama ) diperdebatkan, tantu tak akan ada titik temunya.  Hanya Sang Pencipta yang maha tahu, yang mengetahui mana yang benar.

Jadi benar atau tidaknya suatu agama mutlak dalam domin Yang Maha Kuasa. sedangkan manusia sebagai mahluk, tatarannya adalah melaksanakan ajaran agamanya ( apapun agamanya ) sesuai dengan keimanannnya.

Manusia, mahluk yang diciptakan dengan dilengkapi akal, tapi tetap bukan “yang sempurna”. Oleh karena itu, walaupun manusia berfikir, tetapi dengan adanya keterbatasan (ketidak sempurnaan ) seharusnya bisa memahami adanya kebebasan dan perbedaan keyakinan setiap individu,  sehingga dapat saling menghargai dan toleransi.

Sedangkan untuk benar-tidaknya (secara hakiki) keyakinan yang kita jalankan, biarlah nanti Sang Pencipta dihari perhitungan yang menentukan.

Maka di dunia yang fanna ini, kita laksanakanlah keyakinan kita masing-masing dan jangan sekali-kali berperan sebagai “tuhan” dengan menghakimi keyakinan orang lain.

#108. Dikirim oleh ARKA  pada  07/09   10:42 AM

Untuk yang menyatakan sesat kepada orang lain dengan dalih rasa sayang, apakah dia yg mengatakanya sudah tidak sesat/merasa sudah tidak sesat? Sungguh dia sangat subjektif menilai orang dan merasa diri sbg yg paling lurus jalannya.

#109. Dikirim oleh fajar  pada  10/09   11:18 PM

Jika anda ingin tau, agama mana yang tidak hanya mengajarkan kebaikan, tapi jg mengajarkan kebenaran. Coba anda pelajari dan fahami 4 dasar agama islam, yaitu al-Quran, sunnah, ijma, dan qiyas. Insya Allah anda bimbang dg semua agama yg ada..

#110. Dikirim oleh Liz  pada  18/03   05:57 PM

saya kira saya mengenal pandangan2 Mbak Budhis yang diyakininya selama pergaulan saya dgn nya. Menurut pendapat saya yang telah mempelajari hampir semua agama dgn tekun memang saya kira agama Islam adalah agama yang telah disempurnakan oleh Tuhan baik dlm syariat maupun hakikatnya. Soalnya apa? Dalam ajaran Islam telah diakomodir semua permasalahan yg telah dialami oleh umat2 terdahulu dan setelah Tiuhan mengetahui batas minimum dari umat2 yg terdahulu & yg kemudian maka kemudian Tuhan mewahyukan Islam ini yang syariat nya disesuaikan dgn kemampuan akhlak dan ketauhidan umat manusia saat ini yang cenderung semakin mencari hal2 yg paling memudahkan bagi diri mereka sendiri (agnostik). dan jangan lupa prilaku agnostik itu sudah diterwang oleh Tuhan dan telah dilakukan oleh umat2 yg terdahulu yang tentunya tekah diazab olehNya sesuai dgn semua kitab wahyu yg ada di bumi tercinta ini dan kalian tentunya telah mengerti apa yang kumaksud khan?

#111. Dikirim oleh yanto  pada  05/10   04:36 AM

Agama yang benar disisi Allah hanya ISLAM, Tidak ada paksaan dalam beragama Islam, Bagimu agamamu bagi ku agama ku. peace kita hidup berdampingan dalam hubungan sosial kemasyarakatan, tapi dalam peribadatan, ritual2, syariat, akidah kita berbeda.Bagimu agama mu bagiku agama ku.

#112. Dikirim oleh Mitro  pada  19/03   12:16 PM
Halaman 6 dari 6 halaman‹ First  < 4 5 6

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?