Nia Dinata: Pendidikan Kritis Sangat Penting Bagi Perempuan
Oleh Redaksi
Ada anggapan bahwa dekadensi moral bangsa terkait dengan urusan perempuan. Karena itu, demi menjaga moral bangsa yang disempitkan maknanya dalam persoalan susila, diperlukan pengaturan lebih ketat, terutama untuk perempuan. Bagaimana Nia Dinata, sineas muda Indonesia yang baru meluncurkan film Berbagi Suami mengulas anggapan itu? Berikut perbincangan Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis, (20/4) lalu.
Komentar
Maaf, kalo tanggapan ini menyinggung kebertuhanan anda. Saya agak meragukan bagaimana anda berdialog dengan Tuhan. Tuhan yang Maha Besar, memang selalu membuka cara berdialog dengan seluas-luasnya. Tetapi apakah kita pernah bertanya, jangan-jangan tuhan kita adalah pikiran kita. Kita telah mempertuhankan pikiran kita.
Apalagi anda sebagai orang Islam. Tentunya telah sering didengarkan tentang aurat dan aturan2 lainnya, serta bagaimana yang seharusnya diajarkan melalui surat-surat Tuhan kepada kita. Hal ini sangat berkaitan dengan anggapan bahwa wanita dijadikan korban atas tuduhan penyebab dekadensi moral.
Menurut saya, justru sebaliknya, wanita adalah penyangga, penyelamat bangsa, dan bahkan disebut oleh Nabi kita bahwa wanita adalah ibunya negara. Itu merupakan kedudukan terhormat. Artinya tanpa adanya dukungan wanita, moralitas bangsa ini akan rapuh, tanpa dukungan wanita kebudayaan bangsa ini akan bejat, tanpa dukungan wanita kehormatan negara dan bangsa ini akan terkoyak.
Saya sangat tertarik dengan ide anda membuat film berbagi suami. Tetapi kenapa anda tidak menyoroti bagaiman kehidupan tanpa suami dan mereka terlempar dijurang prostitusi, yang pada akhirnya akan merusak dirinya, keluarga dan masyarakat.
Kita memang harus arif melihat poligami, saya setuju dengan anda, berpoligami adalah pilihan, bahkan hidup ini adalah pilihan, semua yang kita hadapi adalah berupa pilihan dan kita akan bertanggung jawab dengan pilihan itu. Lebih jauh lagi menurut saya poligami adalah pilihan Tuhan untuk mengobati merebaknya penyakit masyarakat yang bernama prostitusi dan segala akibat-akibatnya.
Yah, susah memang kalo kita selalu menuruti apa yang difikirkan manusia, Tuhan sendiri dalam surat-suratnya kepada kita selalu mengatakan kebanyakan manusia adalah ingkar kepadaNya, kebanyakan manusia berbuat dholim, kebanyakan .... kebanyakan…. lainnya.
Sekali lagi saya mohon maaf, marilah kita mengenal Tuhan kita dengan mengeluarkan segala egoisme kita, sehingga kita tidak mempertuhankan diri kita sendiri.
Terima kasih.
Saya setuju kalo pemerintah harus berani dengan percaya diri, be confident dlm menanggapi isu-isu. Because of their otority dan seharunsnya bisa ngatur sesuai dg wewenangnya, tanpa harus di back-up oleh ahli-ahli agama…
Tapi dlm masalah apapun, bukankah masalah sosial, antropologi maupun budaya juga akan berkaitan dg agama pula, jika suatu masalah berusaha dinilai secara kompleks, dan untuk menghasilkan jalan pemecahan yg kompleks pula?
Mbak Nia, Anda berani berujar seperti itu, apakah sudah belajar secara totalitas mengenai Islam. Seandainya belum, maka belajarlah. Yang jelas, setiap hembusan kita harusnya diniatkan karena ibadah. Dan apakah yakin pola asuh di keluarga Anda merupakan model yang mendekati sempurna? Kenapa tidak balik ke Alquran & Sunnah? Jadi seperti sudut pandang masalah moral, aurat, dll.
Mengenai poligami, berikut ada sari pendapat dalam cuplikan singkat, mudah2an memperkaya pemahaman dan bermanfaat:
1. Buat kamu Hawa, jangan langsung alergi ketika berbicara poligami atau berkata “Tidak!” kepada suami saat suami mengutarakan keinginannya untuk poligami.
2. Bagi kaum Adam, tolong jangan mengatakan ini sunnah Nabi, dengan demikian harus diikuti, seperti sunnah-sunnah Nabi yang lain. Tolong jangan mengikuti hawa nafsu dan berlindung di balik ayat.
3. Tidak perlu berbeda pendapat tentang poligami, karena ini adalah hak masing-masing pasangan, yang kondisinya bisa berbeda-beda. Bisa jadi bagi seseorang poligami adalah suatu solusi, dan bagi orang yang lain adalah petaka.
Terima kasih
Aku suka banget sama pandangannya Mbak Nia. Bener-bener pandangan yang luas. Aku setuju karena aku juga merasakan hal yang sama, dan memiliki pandangan yang sama. Lega juga rasanya karena tahu ada orang yang berpikiran sama dengan aku.
Coba bayangkan saat yang terindah dalam kehidupan, yaitu saat kita menghilangkan “ego” kita untuk memberikan yang terbaik pada orang-orang terkasih. Isteri yang memberikan kado “seorang wanita” bagi suaminya. Seorang Pria yang berkorban menjaga amanah untuk hidup bersama dengan dua atau lebih wanita. Wanita yang dengan kerelaan hati bersatu menjadi bagian keluarga. Maka muncullah proses pembelajaran ilahiah.
Terlepas dari pro kontra poligami, atau sebenarnya lebih tepat sebutannya Poligini (pria memiliki lebih dari satu isteri), sebagai lawan kata Poliandri (wanita dengan lebih dari dua suami), sedangkan Poligami mengandung dua makna tersebut. Dari sudut manapun akan terjadi proses pembelajaran yang luar biasa, proses internalisasi pemahaman tentang makna hidup akan diperoleh pada saat seseorang masuk di dalam lingkaran keluarga poligini ini. Memang pasti proses pembelajaran bukan hanya didapatkan dengan cara ini saja, tetapi dengan poligini kebersatuan yang hakiki akan diperoleh. Re: http://groups.yahoo.com/group/polygami_forum
Wassalam. .(JavaScript must be enabled to view this email address)
mbuch
——-
Mbak Nia,
Masalah perempuan memang sering diada-adakan (dibesar-besarkan) dan kerap kali pula ditiadakan karena itikad para lelaki yang merasa lebih “berkuasa”. Sekarang sudah banyak perempuan “berani” menjadikan dirinya bukan cuma petugas di dapur, dikasur, dan di sumur. Dalam kehidupan rumah tangga perempuan tentunya memiliki tugas lebih banyak daripada yang terlihat dari luar. Dia tidak hanya harus pandai mengatur belanja keluarga, mengawasi pendidikan anak-anaknya, mengurus suami dan semua kebutuhan rumah tangga, dan jika ia berkarir, tentu saja akan lebih banyak tugas dan tanggungjawab yang harus diembannya. Maka wajar saja ada ungkapan “surga itu dibawah telapak kaki ibu”, karena ibu adalah segalanya bagi anak dan suaminya. Tanpa ada figur ibu yang tidak pernah lelah mengasuh buah hatinya dan mencintai suaminya, dimanakah kita kini…?.
Apa yang saya ungkap ini adalah isi hati seorang ibu karir dan mengurus semua masalah rumah tangga tanpa suami banyak terlibat didalamnya. Suami tinggal terima beres. Tapi apa yang didapatkannya sebagai balasan dari sang suami…? kekerasan demi kekerasan dalam rumah tangga yang harus dipendamnya sendiri dan dialihkannya dengan terus belajar dan mencapai pendidikan tertinggi sebagai “perlawanan” atas “Kodrat” seorang perempuan yang identik dengan berbagai kelemahan. Jd, dengan pendidikan tinggi, istri dapat tetap eksis dalam perannya sebagai seorang ibu, perempuan karir, dan sebagai istrinya yang pada akhirnya sang suami “mengakui” kekuatan si perempuan bukan pada ototnya, tapi otaknya yang terus berputar untuk menyiasati segala suka dan duka dalam kehidupan keperempuanannya. Namun, jangan salah pula…ternyata ada dampak pada sisuami…ia merasa “kalah” dan akhirnya menyimpan rasa dendam untuk membalas lewat kekerasan yang “tersembunyi”. Itulah sepenggal ide tentang perempuan dan pentingnya pendidikan untuk para perempuan yang menurut data statistik telah berbanding 1:9 dari laki-laki. Hidup perempuan!
tertarik ketika saya baca artikel perbincangan ini,apalagi itu menyayngkut dengan perempuan karna saya termasuk orang yang sensitif ketika disinggung2 masalah perempuan..benar memang mba nia merubah nasib perempuan tidak semudah membalikan telapak tangan ,diakui atau tidak memang seperti itu kondisi yang terjadi ...yang apling aneh lagi adalah kita susah untuk masuk dalam dunia perempuan itu sendiri banyak LSM yang memang concern terhadap isu2 perempuan tapi ternyata itu hanya berapa nol persen saja yang menikmati itu.perlu diketahui bersama bahwa kita berrusaha keluar dari belenggu yang menindas perempuan itu susah luar biasa karena kesadaran yang muncul dari perempuan juga tidak ada, mereka terpaksa legowo menerima kondisi yang ada,karena asumsi mereka itu memeng kewajiban seorang perempuan yang tak bisa ditawar lagi,perempuan yang menyandang 3M masak,macak,manak atau Dapur,sumur kasur,nah artinya ini jadi PR besar bagi para perempuan yang memang mempunyai kesadaran,belum lagi perempuan yang mempunyai beban ganda mereka harus bekerja dan juga mengurus rumah,suami ,anak,padahal ini semua bukan hanya tugas seorang perempuan ,,maslah yang terkait dengan normativitas benar memang habluminallah adalah urusan saya dengan DIA,tapi artinya semua tidak semau gue semua ada aturanya,,saya Kontekskan ke agama..saya yakin bahwa masing2 agama punya tuntunan yang mengatur terkait norma ,etika dll,,meskipun parameternya berbeda,kalau islam adalah kewajiban wanita menutup aurat,ya dengan menutup anggota tubuh perempuan ,yang umum saja saya gambarkan dengan berbusana yang sesuai syari’at,mungkin di agama lain pun ada aturanya tapi tidak dengan menutup aurat seperti di agam islam…yakin saja dengan aturan yang sudah dibuat itu juga untuk kebaikan perempuan…agama itu teologis bukan simbolis,,,banyak yang mengatas namakan itu ajaran agama hanya untuk memuaskan nafsu saja,benar adanya misalkan poligami ,pada zaman Rosul ketika dia mempoligami tapi ada alasan yang baik,tapi apa ada zaman sekarang laki2 menikah lagi tapi istrinya lebih jelek,tua,miskin pasti mereka mencari yang lebih dari istri sebelumnya,,,,
maaf sblumnya mbak nia.
jgn hanya memandang dari satu sisi, krna akan berat sebelah.
jika ingin memandang sesuatu dgn jlz jgn hny dri sisi yg anda setujui argumenny,,
Komentar Masuk (8)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)