Pengalaman Mengikuti Persidangan Rizieq Shihab
Oleh Musdah Mulia
Sejumlah studi menjelaskan bahwa corak keagamaan masyarakat dapat dipolakan ke dalam dua kategori: corak yang otoritarian dan humanistik. Agama yang humanistik memandang manusia dengan pandangan positif dan optimis, serta menjadikan manusia sebagai makhluk yang penting dan memiliki pilihan bebas. Dengan kemauan bebasnya, manusia dapat memilih agama yang diyakininya benar. Manusia harus mengembangkan daya nalarnya agar mampu memahami diri sendiri, untuk selanjutnya membangun relasi positif dan konstruktif dengan sesama manusia, serta menjaga kelestarian alam semesta.
Komentar
Makin menegaskan persepsi saya pada Anda. Cara anda memaparkan sudah menggambarkan anda mengambil posisi lawan dengan kawan terhadap mereka.
Saya bukan pengagum Habib dan juga bukan pengikutnya, tapi dalam dalam beberapa hal saya lebih cenderung menerima dia ketimbang anda dan kawan-kawan.
Masih tergiang di telinga saya saat banyak orang dijebak untuk menciptakan persepsi Habib sesungguhnya berbisnis pengamanan tempat hiburan. Kalau tidak mau menerima atau membayar mereka maka akan diobrak-abrik.
Awalnya saya diam dalam penasaran saya. Tapi begitu proses konfrontasi dia dengan kelompok anda terjadi, baru mata dan nalar saya terbuka.
Ternyata habis yang dituding dan difitnah berbisnis pengamanan dengan memungut upeti itu hanya tinggal disebuah gang sempit. Maaf bahkan saya sendiri akan enggan tinggal di sana. Betapa polisi masuk dalam gang sempit di rumah yang dapurnya ala kadar yang katanya menjadi dapur umum bagi banyak orang untuk mencari dia. Ini sekedar menggambarkan betapa sederhananya perekonomian keluarganya kalaulah tidak bilang morat marit.
Lalu bagaimana seorang bos centeng tempat hiburan yang pasti akan mendapatkan duit banyak hanya hidup sedemikian rupa. Logika saya menyimpulkan ini benar-benar tidak menggambarkan dia sebagai centeng seperti itu. Dan ini pastilah buah dari pekerjaan orang-orang jahat yang menghahalkan fitnah.
Kehidupan dia jauh berbeda dengan intelektual atau tokoh islam yang merapat ke Barat dengan donasi yang membuat mereka mapan.
Hal ini membuat saya memiliki second opinion atas perkembangan persepsi dalam kejadian pertempuran antara kelompok anda dan Habib Rizieg.
Semoga keikhlasan dan kejujuran dalam memperjuangkan Islam menjadi milik kita bersama dengan tidak mengorbannkan orang sederhana yang sholeh dan jujur, serta ikhlas beramal untuk umat
Bu Musdah Mulia saya undang ke website akhirzaman.info dan di tunggu komentar-komentarnya. terima kasih ibu sebelumnya.
Ironis memang. Ketika kita memprotes orang yang mengatakan bahwa Islam itu agama kekerasan, pemrotes sendiri tidak sadar bahwa mereka sedang mempertontonkan potensi kekerasan. Ketika memprotes orang yang mengatakan Islam itu bersifat memaksa, pemrotes juga memaksa orang itu agar merubah opininya. Ketika melihat orang lain berbeda, pemrots juga memaksa orang itu tutup mulut atau membubarkan diri atau keluar dari Islam. Saya jadi ingat pada kaum Khawariyun. Apakah mereka sudah pasti mendapat tiket ke surga?
Pengalaman yang menarik. Tapi soal loyalitas para anggota FPI itu, yah, mau bagaimana lagi. Alasannya teramat sederhana, bahkan tertera pada tulisan Anda, “Dengan kemauan bebasnya, manusia dapat memilih agama yang diyakininya benar”. Perbedaan perspektif benar-salah setiap orang begitu berbeda, dan mereka menganggap apa yang mereka “anut” dan “perjuangkan” selama inilah yang “benar”. Sekali lagi, mau bagaimana lagi…
Islam bisa menjadi filosofi, bisa menjadi dasar negara seperti demokrasi. Malaysia menerapkan islam sebagai agama negara dan aman. Iran menjadikan islam berdampingan dengan demokrasi dan juga tidak gagal. Kalau toh ada romantikanya, maka Indonesianya dengan Pancasilapun juga mengalaminya, bahkan kini Pancasila masih harus berdampingan dengan demokrasinya.
Adalah hak anda mememiliki gagasan seperti tulisan itu dengan gigih seperti orang-orang FPI mencoba mempertahakannnya dengan gigih. Kalau mereka bertingkah seperti itu mereka memang sedang berjuang seperti saat siapapun yang lagi memperjuangkan pendiriannya. Mesti agak gigih dan sedikit membuat orang lain yang tidak sealiran terancam. Asal harus pada jalur hukum yang berlaku dan siap mempertanggungjawabkannnya di depan hukum dan di depan Tuhannya.
Mereka sedang berjuang menjadikan Islam sebagai ideologi negara yang dalam alam demokrasi tidak dilarang. Anda juga sedang gigih berjuang agar Pancasila menjadi dasar negara sepanjang masa dan Islam harus dilihat dari faham yang liberal seperti anda. Kita semua sedang gigih berjuang. Mudah-mudahan Allah dan malaikatNya melihat kita dengan tersenyum karena dunia ini memang dibuat untuk para pejuang
Saya sependapat dengan anda soal agama otoriterian itu, tetapi faktanya di lingkungan organisasi keislaman di Universitas2, sebagian besar menganut cara tersebut, sebagaimana di Universitas saya UI. Mohon ada usaha dari anda serta rekan2 untuk membawa pilihan baru kepada mereka, karena semua di sini hanya condong ke satu arah saja, dari mulai lingkungan sampai semua bacaan, mendukung hal tersebut. Sehingga hampir semua aktifis yang tertarik dengan bidang keagamaan dan masuk ke dalam organisasi tersebut hampir bisa dipastikan mengamininya. terima kasih
Saudari anda mengatakan bahwa “Sebaliknya, unsur hakiki dari agama otoritarian adalah sikap penyerahan diri secara mutlak kepada Tuhan. Ketaatan menjadi kekuatan utama, dan sebaliknya, ketidaktaatan dianggap dosa paling besar. Dengan latar belakang Tuhan yang menakjubkan sebagaimana diimani oleh agama otoritarian, manusia dipandang tak berdaya, tak berarti, dan serba-dependen. Dalam proses submisi ini, manusia menanggalkan kebebasan dan integritas dirinya sebagai individu dengan janji memperoleh pahala berupa keselamatan dan kedekatan dengan Tuhan.”
Pertanyaan saya apakah anda tidak setuju dengan konsep itu?? bukankah kita memang dependen kepada Tuhan?? Bukankah tidak taat kepada Tuhan memang dosa?? bukankah manusia memang tak berdaya?? kebebasan indivisdu yang anda maksud apa ya mba??
Padahal mau di akui atau tidak kita emang tergantung dengan Tuhan. Contoh konkret dan nyata adalah setiap nafas kita hirup o2, o2 diciptakan Tuhan, kita nafas juga pakai paru-paru yang di ciptakan Tuhan. Kita makan dari foto sintesis, matahari yang menciptakan Tuhan...lalu dimana anda mengingkarinya kalau pada dasarnya kita memang tergantung total dengan Tuhan. Namun tentunya manusia diberi kemapuan untuk berkarya juga Otak juga dengan otak ciptaan Tuhan…
Allohualam…
Saudari anda mengatakan bahwa “Sebaliknya, unsur hakiki dari agama otoritarian adalah sikap penyerahan diri secara mutlak kepada Tuhan. Ketaatan menjadi kekuatan utama, dan sebaliknya, ketidaktaatan dianggap dosa paling besar. Dengan latar belakang Tuhan yang menakjubkan sebagaimana diimani oleh agama otoritarian, manusia dipandang tak berdaya, tak berarti, dan serba-dependen. Dalam proses submisi ini, manusia menanggalkan kebebasan dan integritas dirinya sebagai individu dengan janji memperoleh pahala berupa keselamatan dan kedekatan dengan Tuhan.”
Pertanyaan saya apakah anda tidak setuju dengan konsep itu?? bukankah kita memang dependen kepada Tuhan?? Bukankah tidak taat kepada Tuhan memang dosa?? bukankah manusia memang tak berdaya?? kebebasan individu yang anda maksud apa ya mba??
Padahal mau di akui atau tidak kita emang tergantung dengan Tuhan. Contoh konkret dan nyata adalah setiap nafas kita hirup o2, o2 diciptakan Tuhan, kita nafas juga pakai paru-paru yang di ciptakan Tuhan. Kita makan dari foto sintesis, matahari yang menciptakan Tuhan...lalu dimana anda mengingkarinya kalau pada dasarnya kita memang tergantung total dengan Tuhan. Namun tentunya manusia diberi kemapuan untuk berkarya juga Otak juga dengan otak ciptaan Tuhan…
Allohualam…
Perjuangan dalam alam demokrasi ini haruslah dilakukan dengan cara yang sopan dan tertib. Deklarasi PBB sudah menjamin hak asasi manusia untuk hidup sesuai dengan “standart manusia” untuk mendapatkan hak-hak dasarnya sebagai manusia.
Selama pintu dan kran “Demokrasi” di buka, maka perjuangan untuk setiap pemikiran itu dimungkinkan. Tetapi jikalau salah satu pihak sudah menutup pintu demokrasi, maka “tirani"-lah yang muncul.
JIL berusaha mengupayakan pemikirannya dalam alam demokrasi ini. Jikalau JIL menguasai Indonesia, apakah masih ada tempat buat orang yang berbeda pendapat?
FPI juga dalam alam demokrasi ini menyatakan pendapatnya. Jikalau FPI menguasai Indonesia, apakah ada pintu demokrasi untuk pemikiran orang lain/ agama lain diterima?
Seringkali kita “mempergunakan” makna “demokrasi” untuk “mematikan demokrasi” itu sendiri. Menyedihkan!
Salam.
Terima kasih atas tulisan-nya juga dengan tulisan-tulisan kawan2 JIL lainnya.
Smoga tulisan sampeyan ini dapat berfungsi sebagai cermin bagi kita semua, bukan hanya sekedar untuk warga FPI dan Rizieq, agar kita benar-benar bisa mempertontonkan wajah Islam yg demokratis, anti-kekerasan dan anarkisme.
FPI dan Rizieq; bukankah anda sangat berang ketika Wilders mengatakan bahwa Islam adalah agama yg pro-anarkisme dan kekerasan? Tetapi tindakan anda malah justru mengamini beliau?
Keberadaan JIL adalah MUTLAK ADA
FPI dan kawan2 dalam hal ini adalah kaum agama otoritarian bgi sy sampai kapanpun juga MUTLAK ADA.sedangkan di sisi laen JIL dan kawan2 yang mengusung nilai2 universalitas;humanisasi;dan demokratisasi jg MUTLAK ADA.
krn qt hidup sbg warga Indonesia dengan PANCASILA sbg dasarnya,maka MUTLAK juga bagi qt untuk memperjuangkn nilai2nyaa(universalitas;humanisasi;dan demokratisasi).dan nilai2 ini sangat dianjurkan oleh Islam (subtansif);agama humanistik.
untuk itu sya mengucapkan BRAVO JIL.maju terus pantang mundur.
GUSTI ORA SARE:USAHA KiTA PASTI AKAN ADA HASILNYA
Saya rasa itu merupakan wajah sebagian Ummat Islam Negeri ini, apakah mungkin perilaku seperti itu (maaf kalau saya salah) dari kelas masyarakat tertentu baik dari segi intelektual atau ekonomi, karena kalau kita bandingkan dengan perilaku masyarakat terhadap misalnya maling ayam atau motor, perilaku yang muncul juga sejenis itu walaupun dengan niat yang jelas berbeda. Yang saya maksud adalah perilaku kurang beradab di persidangan dan tuduhan kafir yang begitu mudah mereka lontarkan. Itu cerminan masyarakat kita yang kurang menggunakan nalar dan etika, seperti juga sinetron-sinetron yang mereka tonton setiap hari untuk sekedar melepas kepenatan hidup mereka. Saya bermimpi mungkin suatu saat kita ber-Islam dengan lebih santun dan menghargai perbedaan dalam memahami keyakinan yg kita anut. Pengkultusan Habib Rizieq tdk jauh berbeda dgn tokoh2 yang lain semisal megawati atau Gus Dur. Hanya latar belakang agama dan psikologi massa membuat mereka begitu heboh dan terkesan lebih berjihad gitu lho..!?.
Haha.... bakal jadi pengalaman seumur idup tu Bu’.
Repot emang kalo ngadapin orang2 yang merasa dirinya mencapai kebenaran, tapi kadang2 juga bisa seru dan lucu juga...hhi
Sebuah pengalaman yg menarik! Negara ini adalah negara hukum.Semua org Indonesia harus pertahankan itu. Jangan sampai, supremasi Hukum dikalahkan oleh yel-yel sok-religius dari para preman keagamaan dan para psikopat religus.
Ibu...semua orang adalah pedagang. Yang berbeda adalah barang dagangannya. Ada yg berdagang sayur,bakso,dan soto. Ada jg yg memperdagangkan ilmu dan agama. Ada jg menjual rakyat dan kemiskinan. Ada lg yg mengomersilkan tubuhnya. Dan jual beli yang paling baik adalah jual beli dengan Allah. Wallahua’lam.
menurut saya, artikel pribadi sdri: Musdah Mulia* Ketua Indonesian Conference on Religions and Peace (ICRP), Jakarta ini menarik juga menggelikan.
Salut bahwa ia “sudi” bayar tiket B.PAPAN-JKT hanya u/ menunjukkan toleransi antar “kawan seperjuangan” spt sdr ANick HT & NONG DARUL (yg ini sodara2 yg katanya phobia lantunan TAKBIR y??) .
Sayang sekali sdri Musdah Mulia menyimpulkan sesuatu hal yang mana dirinya tidak mengetahui makna dan hakekat sebenarnya.
Ttg ratiban. . tentu saja sdri Musdah Mulia harus mengucap dalam hati saja, biarlah mas2+Bpk2 ny saja yg bersuara (kcl jika anda salah 1 diantaranya*).
IBU DAN SODARA SEKALIAN,ketahuilah . .
: Dalam Islam seorang IMAM adalah wajib dita`ati jama`ahny selama masih dalam tataran syar`i.
TIADA ISLAM TANPA JAMA`AH,
TIADA JAMA`AH TANPA IMAMAH,
TIADA IMAM TANPA KETA`ATAN.
Demikian menurut saya.
Terimakasih.
Siapapun yang memperjuangkan atau membela islam, harusnya terlebih dahulu punya pengetahuan dan wawasan yang mendalam tentang islam dan dunia islam begitu juga dunia sekitarnya. Orang bisa mengatakan dirinya benar kalau dia tahu apa saja yang tidak benar dalam perpektif hidup bermasyarakat dan bernegara. Sudahkah punya konsep dan praktisi mengenai ekonomi, pendidikan, sosial kemasyarakatan, dll. Kalau hanya tahu zikir dan ratiban.. ya gak usah petantang petenteng dulu. Benahin dulu hidup keluarga, pendidikan nya, kesejahteraanya. FPI dan pendukungnya hanya membuat citra islam tidak bagus baik di mata muslim apalagi dimata non-muslim. Agama harusnya membentuk manusia berakhlak mulia, rahmat bagi alam dan manusia sekitarnya, dan jangan berperilaku merusak dan arogan. FPI dan pendukungnya harusnya menambah ilmu, wawasan dan mengasah fikiran dan intelektualitas agar tahu dunia ini tidak selebar daun kelor, jangan cuma tahu dunia hitam-putih (dunia ini penuh warna warni). Hanya orang yang arif dan bijaksana yang mampu merobah dan menguasai dunia ini. Zaman sekarang semakin maju, FPI cuma tahu dosa dan neraka, tapi tidak sadar kelakuan dan mentalitas buruknya, bertobatlah selagi orang sekitarnya masih mengampuninya.
Sebetulnya (pandangan keislaman) orang-orang macam Rizieq Shihab dan kelompoknya adalah minoritas di negeri ini, saya yakin masih banyak orang islam berikut ormas-ormasnya yang mempunyai pandangan moderat, plural dan damai tentang islam di bumi pertiwi. tetapi parahnya, justru kelompok yang “secuil” ini-lah yang paling berani, militan, keras kepala, tebal muka, dalam memperjuangkan aspirasi fasis atas nama agama....sutradara Riri Riza tampak abai saja dengan ulah massa FPi yang menghujatnya sebagai “Perusak moral bangsa” karena memperjuangkan dihapusnya Lembaga Sensor Film (LSF), karena menurut Riri, kita jangan dibuat repot dengan ulah “secuil” orang yang--sudah pasti--tidak mengerti substansi masalah, hanya menang jumlah massa tetapi minus penalaran (baca : bodoh).
komentar singkatku :
Paragraf 6 & 7 :
Musdah membela Ahmadiyah dan menganggap “biasa” mengatakan bahwa ada nabi setelah Rasulullah, karena wujud toleransi. Masa’ membaca ratiban (atau mungkin zikir) aja ga boleh??. Mana toleransinya?
Paragraph 9 :
Kalau saya pribadi disuruh berdiri karena “Islam” saya akan berdiri karena ga ada masalah, kecuali saya lagi kesemutan, tapi kalau Musdah diajak berdiri atas nama islam ga mau, tapi kalu disuruh berdiri dan mengacungkan tangan atas nama pembela Ahmadiyah, kaum gay, pelacur pasti mau. Iya khan?
Paragraf 14 :
Musdah menulis : “Muncul pertanyaan, mengapa tidak memilih ideologi Islam? Bukankah sebagian besar para founding fathers itu adalah tokoh-tokoh Islam yang sangat dikenal juga? Jawabnya tegas: memilih agama sebagai ideologi negara akan sangat problematik. Bicara soal agama berarti bicara soal tafsir, dan bicara soal tafsir pasti sangat beragam; tidak pernah tunggal. Pertanyaannya lalu, tafsir mana yang akan dipedomani pemerintah? Sungguh tidak mudah dan pasti sangat problematik. Saya memuji, betapa cerdas dan bijaknya para pendahulu bangsa ini memilih Pancasila.”
Bukankah Demokrasi kan juga ditafsirkan ? ada demokrasi terpimpin, ada demokrasi PAncasila, ada demokrasi berkeadilan, ada demokrasi liberal. KOk musdah ga bingung ya milihnya. Padahal ide demokrasi jelas ide kufur. Selain itu bicara soal the founding father, bukankah kesadaran untuk menerapkan syari’ah sudah ada waktu kemerdakaan ? Mungkin dia lupa tentang PIagam Jakarta yang isinya pemberlakuan syari’ah. Weleh..bener2 ga objektif.
Paragraph 17
Musda menulis : Kedua, hal menarik dari massa FPI adalah sikap kepatuhan, kedisiplinan, dan loyalitas yang sangat kuat pada pimpinan mereka. Dalam ruang sidang, saya mengamati setiap kali pimpinan mereka memberi aba-aba, walau hanya dengan isyarat tangan, serentak mereka beraksi. Misalnya, jika diberi aba-aba takbir, serentak mereka takbir. Diberi aba-aba diam, serentak mereka diam. Sungguh menakjubkan! Jadi, mereka juga bisa sangat disiplin. Sayangnya, disiplin itu bukan muncul karena kesadaran kemanusiaan, melainkan karena diperintah oleh pimpinan.
Saya ganti ya : Kedua, hal menarik dari MUsdah adalah sikap kepatuhan, kedisiplinan, dan loyalitas yang sangat kuat pada pimpinannya. Di Dalam atau di luar ruang sidang, saya mengamati setiap kali pimpinannya memberi aba-aba, walau hanya dengan isyarat tangan tetapi biasanya dengan duit segepok), serentak dia beraksi. Misalnya, jika diberi aba-aba membela kaum gay, serentak dia dengan teman2nya membela gay, tak perduli dengan menfitnah Nabi Allah LUth AS sekalipun asalan reputasi Gay terselamatkan sesuai dengan instruksi . Diberi aba-aba diam, serentak mereka diam (lihat saja kasus poso, pembantaian muslim di Ambon, mereka seperti orang yang terkena aphasia motorik-sensorik, tidak pernah berkoar-koar tentang HAM dll). Sungguh menakjubkan! Jadi, mereka juga bisa sangat disiplin. Sayangnya, disiplin itu bukan muncul karena kesadaran kemanusiaan yang sebenarnya, melainkan karena diperintah oleh pimpinan. Hidup Musdah!! Sang pembela kemanusiaan versi pimpinannya.
Sampai di sini saja. Mohon maaf jika berlebihan.
Salam pembebasan!!
inilah model drama yang berhasil, kita cuma harus kasihan dengan para figuran yang telah sangat terkecoh konspirasi. kami cuma perlu mengingatkan hendaknya janganlah agama dijadikan media, sungguh dosa tak berampun, laknat yang maha dahsyat akan diterima sebagaimana Firman Allah SWT yang pasti kan datang.
Komentar Masuk (144)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)