Gagasan,
26/08/2008

Pengalaman Mengikuti Persidangan Rizieq Shihab

Oleh Musdah Mulia

Sejumlah studi menjelaskan bahwa corak keagamaan masyarakat dapat dipolakan ke dalam dua kategori: corak yang otoritarian dan humanistik. Agama yang humanistik memandang manusia dengan pandangan positif dan optimis, serta menjadikan manusia sebagai makhluk yang penting dan memiliki pilihan bebas. Dengan kemauan bebasnya, manusia dapat memilih agama yang diyakininya benar. Manusia harus mengembangkan daya nalarnya agar mampu memahami diri sendiri, untuk selanjutnya membangun relasi positif dan konstruktif dengan sesama manusia, serta menjaga kelestarian alam semesta.

26/08/2008 12:46 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (154)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 6 dari 8 halaman‹ First  < 4 5 6 7 8 > 

Kebebasaan berekspresi adalah hak asasi setiap manusia di dunia tanpa memandang latar belakang agama, Ras, Suku dan Bangsa. Akan tetapi jika kebebasan tersebut sudah merugikan orang lain seperti pengrusakan dan kekerasaan fisik maka tanpa memandang agama, ras, suku, kelompok, dll wajib berhadapan dengan hukum apapun alasannya. Jikalau seseorang memiliki pandangan yang berbeda dengan orang lain lakukanlah dengan cara yang lebih elegan bukan membabi buta, seperti contoh sekarang banyak orang yang tidak setuju dengan Musdah sang penulis dan banyak yang melempar kritik ke dia lewat komentar2, cara ini sangat menurut saya yang merupakan orang awam sangat elegan dibanding harus menyantroni kantor beliau serta merusak dan memukulnya. Oleh karena itu pada kesempatan baik ini saya menyarankan kepda umat-umat dan organisasi-organisasi islam di Indonesia (termasuk FPI dan pengikutnya) sikapilah perbedaan yang ada dengan cara elegan bukan merusak. Bukannya setiap manusia diciptakan oleh Tuhan sudah memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing, jikalau ada sekelompok orang yang mengatasnamakan agama bertindak seperti polisi yang menertibkan atau preman yang membabi buta jadi buat apa ada polisi?

#101. Dikirim oleh Nature  pada  08/10   01:26 PM

Ibu, saya jadi mo banyak tanya.
Agama otoritan tuh apa?kok ga dijelaskan detil?
Agama yang humanistik tuh yang seperti gmana,apa Islam Kristen Budha Hindu Konghucu etc?Agama banyak juga kan?Setiap agama punya Tuhan sendiri?Tuhannya juga banyak ya bu?Agama yang menjadikan manusia dg pandangan positif?brati dg humanistik ini kita harus menilai positif thd otoritan?optimis?apa cuma humanis yang optimis?makhluk yg penting?penting spt apa?memiliki pilihan bebas?bebas dari apa?apa bebas dari agamanya juga?Emang ada agama yang ga ada aturannya?Kalo gitu saya bebas dong ninggalin agama saya?trus jadi ganti agama gitu?trus agama yang humanis yang mana?agama lama saya atau agama baru saya?kalo saya dibebaskan pindah ke otoritan,brati tetep humanis juga dong?

#102. Dikirim oleh difa  pada  09/10   06:02 AM

apapun alasanya kekerasan atas nama agama adalah suatu pemaksaan kehendak yang sangat berbahaya.hidup adalah proses belajar yang tiada hentinya.setiap menusia nenpunyai akal dan nalar yang berbesa sehingga mempunyai hak atas perbedaan persepsp,terutama dalam komteks agama. habib rizky harus ingat bahwa bangsa indomesia adalah bangsa yang sangat majemuk. bukankah perbedaan itu adalh Tuhan sendiri yang menciptakanya. jadi sekeras apapun usahanya untuk menyamakan suatu persepsi hanya akan menambah deretan konflik yang hanya akan menamnbah saftar kekerasan di negara ini.Islam adalah rahmat bagi semesta alam. jangan sanpai suatu tujuan yang baik mjd ternoda hanya karena pemaksaan kehendak untuk mjd baik.saya yakin kekerasan bukanlah jiwa islam habib… go JIL… buatlah mereka mengerti bahwa islam adalah rahmat begi semesta alam….......

#103. Dikirim oleh nuning fauziana  pada  10/10   05:49 PM

Segala Hak Adalah Milik ALLAH, apakah ada hak yang lain…? HAM…?

#104. Dikirim oleh shareeff3779  pada  19/10   06:18 PM

saya selaku umat islam tidak pernah habis pikir, atas dasar hak apa sesama umat islam mengecap saudaranya sendiri sebagai kafir!benar-benar keterlaluan. Dalam salah satu hadis yang pernah saya baca(maafkan saya tidak menyertakan riwayat nya karena lupa)dikatakan umat islam yang mengecap saudaranya sebagai kafir padahal masih dalam konteks satu akidah:1 tuhan,1 nabi,Sama artinya dengan memotong urat nadinya sendiri..karena sesama saudara semuslim dikatakan lebih dekat dari urat nadinya sendiri.Masya allah…....

#105. Dikirim oleh FRESTY BOESYA LAYONDA  pada  25/10   04:22 PM

“jika kita melihat kemungkaran maka lawanlah dengan tangan kita, jika tidak mungkin lawanlah dengan mulut kita, dan jika masih tidak mungkin lawanlah dengan hati kita (berdoa semoga kemungkaran itu cepat berlalu)” masih shahihkah hadist tersebut? atau memang tidak ada?
karena saya melihat zaman sekarang jika kita melihat sebuah kemungkaran maka lawanlah dengan tangan kita, jika tidak mampu maka carilah kawan dan keroyoklah beramai-ramai…..

#106. Dikirim oleh aryadwipangga  pada  29/10   10:16 AM

Cara pikir Front Preman Indonesia (FPI) ya memang susah, wong preman kok kata teman-teman saya yng rumahnya nggak jauh dari markas mereka di KS Tubun. Jadi ya harus dilawan dgn kekerasan kayak jaman Pak Harto. Mereka dulu pada gak berani sama P Harto yang gak demokratis. Lah sekarang malah pada belagu setelah situasi demokratis.

#107. Dikirim oleh Nurcahaya  pada  07/11   09:20 AM

mas kalo baca hadis dipikir dulu ya maksudnya dengan yad itu dengan kekuasaan bukan kekerasan, apalagi F(preman-ime)I. malah kroyokan lagi seingat saya islam tidak mengajarkan kekerasan, apalagi meng kafirkan orang lain yang jelas islam hati2 lo ya ntar mas sendiri yang ternyata kafir (kayaknya ada hadisnya deh)

#108. Dikirim oleh zaini  pada  11/11   04:14 AM

yth ibu musdah mulia

saya sangat setuju dengan pendapat anda. saya pikir semua orang yang mengklaim dirinya islam pasti akan mengamalkan ajaran al-qur’an yaitu amar ma’ruf nahi munkar. namun mungkin ada yang belum mereka fahami dari perintah tuhan itu. amar ma’ruf dan nahi mungkar keduanya harus dilakukan dengan cara yang ma’ruf. itulah bedanya islam dengan kaum jahiliyah. dan yang demikian itu lebih mencerminkan sebagai islam rahmatan lil ‘alamin.

#109. Dikirim oleh witriyatu jauhariyah  pada  30/11   08:00 AM

WAH…masih ada juga pemeluk islam yang sifatnya seperti itu???? katanya islam, cinta damai. ko’ mancing tindakan yang intoleransi sich….
menurut aku sich…mereka sangat berpegang teguh terhadap doktri agama mreka yang sangat eksklusif, tapi ya ga pa2, mreka kan juga punya agama so kita tidak boleh memaksakan untuk mrubahnya donk…..

#110. Dikirim oleh Tirmidzi  pada  02/01   03:58 AM

Sebagai penganut non Muslim….saya semakin tidak nyaman tinggal di Indonesia..sebab..semakin banyak orang yang agama Islamnya kuat…tapi perilakunya benar2 biadab…tidak toleran…menganggap selain orang Islam adalah kafir…dan kafir layak dimusahkan..bahkan lebih rendah derajatnya dari binatang…Ya ampun….seharusnya orang2 yang punya akal sehat…mempertanyakan…ajaran agama semcam apakah itu…

#111. Dikirim oleh radit  pada  03/01   11:39 AM

Mari sobat kita bangun rasa kebhinekaan
karena kita adalah bangsa yang pluralistik. seharusnya pemerintah kita harus tegas dengan ormas ormas preman berkedok agama.

#112. Dikirim oleh troy  pada  10/01   04:35 PM

ibu Musda Mulia

Kalau kelompok lain meyakini dan menjalankan sesuatu yang dianggp benar itu hak mereka. Orang mengucapkan Allahu Akbar dengan keras itu hak mereka, memperjuangkan penerapan syariat Islam, Daulah Islamiah dan khilafah juga hak mereka. Bahkan loyalitas dan ketaatan anggota FPI kepada pimpinanya juga hak mereka, mengapa anda permasalahkan? sama dengan anda dan kelompok anda yang juga berhak memperjuangkan demokrasi,sekulerisasi dan liberalisasi . Bukankah dalam dunia demokrasi dan liberal yang anda agung-agungkan itu memberi ruang bagi setiap orang untuk berpendapat dan menjalankan keyakinannya?
Saya sepakat bahwa dalam beragama memang harus dengan akal sebab tidak akan sempurna agama seseorang yang tidak berakal. Namun harus disadari bahwa akal memiliki keterbatasan, sehingga kalau ada yang belum mampu dipahami atau diterima akal, jangan lantas menganggap hukum-hukum agama (Islam) tidak relevan dengan perkembangan zaman. Sebab, meskipun menyandang sederet gelar akademis, akal anda tetap memiliki keterbatasan, Kalau anda tidak tunduk lagi terhadap dokrin agama yang anda anut, karena dinilai tidak rasional, bagaimana anda melaksanakan ritual ibadah. Karena anda mengaku berlatar pesantren, maka saya menduga anda seorang muslimah. Kalau benar anda muslimah, bagaimana anda merasionalkan shalat, puasa, zakat dan berhaji serta ibadah lainnya. Atau mungkin juga anda sudah tidak peduli dengan ibadah ritual, toh ketaatan dan ketidaktaatan kepada Allah, hanyalah doktrin agama yang tidak rasional sehingga pahala dan dosa bukanlah sesuatu yang prinsip bagi anda. Tapi setahu saya, tidak ada agama didunia ini yang tidak memiliki dokrin, termasuk ibadah ritual. Yahudi yang taat pasti melaksanakan ibadah hari Sabtu, Kristen yang taat pasti ikut menyanyi di kebaktian Hari Munggu dan Muslim yang taat pasti melaksanakan shalat lima waktu dan shalat berjamaah di masjid pada hari Jumat. Semua umat beragama yang melakukan ibadah, bahkan yang menyembah patung sekalipun karena merasa tergantung pada tuhannya. Kalau anda merasa tidak tergantung pada Allah, lantas anda bergantung kepada siapa dan menyembah siapa?

Menyangkut masalah perlakuan minoritas, termasuk ahmadiyah, lia eden, kristen dan lainnya menurut anda diperlakukan secara dikriminatif, masih perlu dikaji lebih mendalam termasuk membandingkan kebijakan pemerintah dan sikap masyarakatnya disejumlah negara dimana umat Islam minoritas. Tidakkah anda mengetahui bahwa sejak zaman orde lama hingga pemerintahan SBY saat ini, masih ada umat Islam yang diperlakukan diskrimitif. Salah satu contohnya, masih ada muslimah ditempat kerjanya yang dilarang pakai jilbab/cadar. Di Ambon dan Poso, ratusan bahkan mungkin ribuan umat Islam dibantai oleh umat kristen dengan perlakuan yang sangat biadab. Ketika ada kejadian seperti itu, anda dan rekan-rekan anda pada kemana? Kok tidak melakukan pembelaan? bukankah setiap warga negara berhak berdomisili di mana saja dalam wilayah NKRI, bukankah umat Islam juga berhak bahkan wajib menjalankan keyakinan agamanya?

#113. Dikirim oleh adit  pada  12/01   06:01 PM

Assalamualaikum Warohmatullohiwabarokatu

ISLAM adalah jalan kebenaran. Agama dari Manusia pertama (Nabi Adam As) sampai manusia terakhir di akhir zaman.

Kalaupun ada Yahudi, Nasrani itu adalah ISLAM yang pada zaman sekarang telah diselewengkan oleh orang-orang yang mengaku pengikutnya.

ISLAM adalah agama Rohmatan lil Alamin.
Untuk semua ummat Manusia.

Harus diamalkan 100%, baik dari Al-Quran maupun Hadits.

Dari mana kita menggali ?
Dari Ulama SALAF. Ulama yang beragama mengikuti cara sahabat Nabi (Muhammad Rosululloh).
Ummat Islam paling baik yaitu ketika mereka mengenali Rosul, mereka banyak bertanya. Mereka sangat TAAT.

Alangkah SALAH-nya kita (ummat Muslim) memilih cara beragama cara fikiran kita, jauh dari yg dilakukan Sahabat.

Sombong karena otaknya, nafsunya.
JAdi hati-hati. Pilihlah jalan yg benar.
BUKAN KERAS seperti FPI yang menghalalkan segala cara, tanpa lihat adab beribadah dan berjihad.
JAngan pula memilih jalan lunak atau toleran terhadap kepercayaan lain. Karena jelas-jelas SESAT. Yang wajib kita toleransikan adalah hubungan antar manusianya, tidak masuk dalam KEPERCAYAAN.

JADI KEMBALI KEPADA YANG BENAR, DAN TERPERCAYA.
MANHAJ SALAF .


Wasalam

#114. Dikirim oleh Abu Dzakwan  pada  13/01   12:03 PM

kalau saya coba telaah dari uraian penulis..yang perlu dipahami adalah setiap manusia memiliki cara hidup, cara berpikir,latar belakang, pendidikan and so..so..on yang berbeda-beda… di situlah letak ke maha SEMPURNAAN ILLAHI menciptakan Alam semesta termasuk manusia… janganlah anda berpikir atau berharap orang lain untuk memiliki kesamaan dalam cara hidup..cara berpikir dll.. anda merasa benar begitu juga orang lain… saya pernah mendengar pepatah bahwa kebenaran yang datangnya dari pemikiran manusia sifatnya spekulatif.. kebenaran yang datangnya dari ilmu pengetahuan sifatnya relatif dan “kebenaran” yang datangnya dari ILLAHI bersifat mutlak dan jangan pernah diperdebatkan..jalankan apa yang diperintahkan ILLAHI dan jauhkan larangan NYA…itu saja simple kok

#115. Dikirim oleh east  pada  19/01   11:15 AM

@ Adit

Adit menulis:
Kalau kelompok lain meyakini dan menjalankan sesuatu yang dianggp benar itu hak mereka. Orang mengucapkan Allahu Akbar dengan keras itu hak mereka, memperjuangkan penerapan syariat Islam, Daulah Islamiah dan khilafah juga hak mereka. Bahkan loyalitas dan ketaatan anggota FPI kepada pimpinanya juga hak mereka, mengapa anda permasalahkan? sama dengan anda dan kelompok anda yang juga berhak memperjuangkan demokrasi,sekulerisasi dan liberalisasi . Bukankah dalam dunia demokrasi dan liberal yang anda agung-agungkan itu memberi ruang bagi setiap orang untuk berpendapat dan menjalankan keyakinannya?

Komentar saya:

Betul bahwa dalam dunia demokrasi setiap orang berhak untuk berpendapat dan menjalankan keyakinannya tetapi yang perlu DIGARIS BAWAHI ADALAH dalam menjalankan hak-hak itu tidak menghambat orang lain bahkan tidak menyakiti orang lain untuk berpendapat dan menjalankan keyakinannya.

Jika perjuangan untuk menerapkan syariat Islam, Daulah Islamiah dan khilafah tidak dengan jalan kekerasan seperti yang kita saksikan selama ini, pasti syah-syah saja. Tidak merusak fasilitas-fasilitas yang dianggap bertentangan dengan keyakinannya.

Cara kekerasan dengan menakut-nakuti orang lain untuk mengekpresikan keyakinannya adalah cara yang tidak demokratis. Jadi jangan memutarbalikan makna DEMOKRASI demi kepentingan Anda.

hila

#116. Dikirim oleh hila  pada  20/01   12:12 AM

Hargailah perbedaan,mari kita hidup damai di bumi ini,bumi ini ada untuk semua umat manusia Allah menciptakan bumi tidak khusus untuk anda atau saya.Jadikan agana yang kita anut menjadi wadah untuk keimanan kita bukan menjadi ajang cari popularitas dan mencari uang.Masalah iman dan keyakinan adalah urusan pribadi dengan Allah jadi jangan mencampuri keimanan orang lain.Hidup dan bersikaplah yang bersahaja yang mencerminkan bahwa kita umat berimanm,jangan sampai orang yang tidak mengenal dan punya agama memiliki ahlak yang lebih baik dari kita yang mengaku punya iman.Jangan mencampuri kehidupan dan urusan orang lain sementara diri kita saja tidak menunjukkan sikap yang terpuji.
Terimakasih.

#117. Dikirim oleh Penna  pada  22/01   03:31 AM

Komentar ini saya tulis untuk menjawab komentar sebelumnya dari orang-orang yang merasa bawa tuhan adalah hanya milik mereka. Bagi mereka semua itu,tahukah anda bahwa betapa dungu dan tololnya orang-orang yang memberikan ceramah di masjid2 dengan menggunakan speaker yang volumenya sangat-sangat menggangu itu?!. Menurut saya pribadi yang agnostik, saya tidak pernah melihat atau mendengar prosesi sehari-hari dari keagamaan dilakukan dengan mengganggu kenyamanan orang lain kecuali yang dilakukan oleh golongan yang mengaku bahwa mereka adalah golongan mayoritas di indonesia dan karena itu dapat berbuat seenak perut mereka. Suatu hari sekitar 2 migguan yang lalu ketika saya sedang berada di rumah saya, saya mendengar suara dari speaker masjid yang sedang melakukan ceramah. Isi ceramahnya adalah sebagai berikut: hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah, saya punya cerita dari seorang kawan muslim saya yang berasal dari Pakistan dan bekerja di Perancis. Ia bekerja di sebuah perusahaan swalayan terkenal di Perancis dan kerjanya adalah mengepak barang2 ke gudang, tiap hari ia dibingungkan oleh simbol “e” yang ada di setiap kemasan makanan atau minuman. Setelah ia cari kemana-mana untuk mengetahui arti tersembunyi dari “e” itu akhirnya ia mengetahui arti “e” itu dari temannya yang mengatakan bahwa “e” itu mempunyai arti bahwa produk tersebut buatan Yahudi dan karena itu produk tersebut jelas-jelas haram karena mengandung babi. Astaga naga!!!!. Saya betul2 kasihan terhadap para penceramah dari agama mayoritas tersebut. Saya tidak mengerti bagaimana mereka bisa menjadi seorang penceramah ketika mereka tidak mengetahui bahwa babi juga adalah hewan yang haram untuk dikonsumsi dalam agama Yahudi dan masalah yang kedua adalah betapa dungunya(lagi?) bahwa mereka tidak tahu bahwa"e” yang di maksud adalah Standard Eropa, makanan atau minuman yang dapat beredar di eropa seperti juga SNI di indonesia yang berarti Standard Nasional Indonesia dan karenanya dapat beredar di indonesia. Saya juga ingin mengingatkan semua orang bawa yang akan merusak agama tersebut adalah dari kalangan mereka sendiri bukan dari yahudi, nasrani. hindu, buddha tau agama yang lainnya. Karena itu sepertinya “pengamputasian” dalam agama mereka sendiri harus segera dilakukan agar tidak terjadi pembusukan dari dalam. Bukan hanya pembodohan yang terjadi tapi juga penyesatan, Inilah yang seharusnya menjadi pekerjaan bagi “pabrik fatwa” MUI.

#118. Dikirim oleh armenlam  pada  29/01   07:31 AM

Saya ingin bertanya kepada sdr.Chandrad: Agama apa yang anda anut sebenarnya? sepertinya agama yang anda anut sangat-sangat menganjurkan untuk menyumpahi orang-orang yang anda dan agama yang anda percayai berada di pihak lain ( contohnya Ibu Musdah)!!. Jika anda tetap berkelakuan seperti itu maka otomatis kebanyakan orang akan dengan sangat mudah percaya bahwa agama yang anda anut memang mengajarkan untuk saling menyumpahi, untuk saling menghujat dan atau saling mencaci maki diantara sesama umat agamanya!. Itulah yang membuat yahudi israel menjadi sangat kuat di dunia ini, bagi mereka Palestina itu tidak ada apa-apanya, negara-negara arab saja dihantam hanya dalam waktu perang enam hari!. Itulah yang menjadi masalah sampai kapanpun bagi islam dan para pemeluknya karena diantara kalian semua tidak pernah ada kata sepakat, selalu fraksional, seperti FATAH dan HAMAS, seperti PERSIS dan MUHAMMADIYAH dan masih banyak lagi contoh-contoh sederhana yang tidak pernah anda sadari. Majulah Ibu Musdah, mari buktikan mana yang benar dan mana yang salah setelah kita mati nanti, apa memang benar ada surga dan neraka setelah kita mati nanti atau kita tidak akan pernah ingat apa-apa lagi setelah kita mati?. Saya, Armenlam, yang lebih baik memilih untuk menjadi seorang agnostik daripada “terkotak-kotak” menjadi penganut sesuatu yang sama sekali “tidak dan belum pasti” itu.

#119. Dikirim oleh armenlam  pada  29/01   11:21 AM

Kepada Armenlam

Justru orang seperti andalah yang seringkali menjadi pemicu kekerasan. Sebagai seorang agnostik, mestinya anda bisa menempatkan diri sebab sesungguhnya, konstitusi negara ini tidak memberi ruang orang seperti anda. Memang ada yang mengatakan bahwa agnostik berbeda dengan atheis, tapi pada hakekatnya sama. Jadi anda jangan egois, bersyukurlah anda hidup di tengah umat yag penuh toleransi.
Mestinya anda sadar bahwa anda hidup di negara yang dasar negaranya BERKETUHANAN YANG MAHA ESA. Artinya, di NKRI ini, warga negaranya adalah umat beragama dan bebas menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing. Lucunya, anda yang agnostik justru merasa terganggu dengan ceramah atau khotbah yang dilakukan umat Islam di rumah ibadahnya. Bahkan dengan angkuh anda mengatakan bahwa itu adalah perbuatan orang-orang dungu. Tudingan anda sangat provokatif, padahal anda sendiri tidak tahu apa-apa. Saya bertetangga dan berteman dengan banyak orang dari latar belakang suku, budaya dan agama yang berbeda. Kami menghormati jika tetangga saya yang umat kristiani melakukan biston di rumahnya, meskipun suara nyanyiannya menggelagar.
Kalau anda merasa terganggu dengan ceramah atau nyanyian kebaktian, maka memang anda tidak sepantasnya hidup di Indonesia. 
Ketahuilah bahwa, sebodoh-bodohnya orang yang beragama, jauh labih dungu orang yang tidak beragama, sebab akal yang anda miliki tidak anda gunakan untuk mencari “kebenaran”. Tahukah anda bahwa, dengan tidak menggunakan akal, eksistensi anda lebih rendah dari binatang.
Anda juga mengeritik faksi-faksi dalam umat islam, sementara anda tidak punya pemahaman sama sekali tentang islam. Sangat tidak logis, anda mengeritik sesuatu yang anda tidak tidak punya ilmu sedikitpun tentangnya. Satu hal yang perlu anda ketahui bahwa dimana pun ada seklompok orang, apapun suku, bangsa dan agamanya pasti ada faksi-faksi. Faksi atau perbedaan dalam islam itu lebih banyak dipengaruhi penafsiran, meski tidak bisa dipungkiri, ada sebagian yang dilatarbelakangi kepentingan potilitis atau pragmatis. Bagi kami umat islam,  perbedaan itu adalah rahmat sepanjang disikapi secara elegan dan bertanggungjawab.
Selain itu anda juga harus tahu bahwa didunia tidak ada manusia yang sempurna, termasuk anda yang agnotik dan sok pintar tapi tidak tahu diri.

#120. Dikirim oleh adit  pada  30/01   03:35 AM
Halaman 6 dari 8 halaman‹ First  < 4 5 6 7 8 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?