Gagasan
26/08/2008

Pengalaman Mengikuti Persidangan Rizieq Shihab

Oleh Musdah Mulia

Sejumlah studi menjelaskan bahwa corak keagamaan masyarakat dapat dipolakan ke dalam dua kategori: corak yang otoritarian dan humanistik. Agama yang humanistik memandang manusia dengan pandangan positif dan optimis, serta menjadikan manusia sebagai makhluk yang penting dan memiliki pilihan bebas. Dengan kemauan bebasnya, manusia dapat memilih agama yang diyakininya benar. Manusia harus mengembangkan daya nalarnya agar mampu memahami diri sendiri, untuk selanjutnya membangun relasi positif dan konstruktif dengan sesama manusia, serta menjaga kelestarian alam semesta. 

26/08/2008 17:46 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (133)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 2 dari 7 halaman <  1 2 3 4 >  Last »

Apa sih arti kata Wallahu’alam?
mohon penjelasan karena gak ngerti....trims.

#21. Dikirim oleh Anak SD  pada  28/08   10:35 PM

sesungguhnya atau sejujurnya saya tidak begitu tertarik mengikuti sidang habib rizieq shihab karena FPI menurut saya kelompok yang mengaku islami tetapi sepak terjangnya tidak menunjukan islam itu sendiri karena menurut saya islam itu santun lemah lembut dan tidak brutal.sesunguhnya memaksakan kehendak itu menurut saya bukan sifat orang yang mengaku dirinya islam yang dibawah oleh Nabi Muhammad S.A.W jadi itu alasan saya tidak tertarik mengikuti sidang - sidang habib dan tidak sedikit orong islam yang jijik melihat tingkah laku FPI

#22. Dikirim oleh fachruddin busroni  pada  28/08   11:26 PM

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

#23. Dikirim oleh sahur  pada  29/08   10:23 AM

gak ada komentar. saya baru buka situs ini.
dari pada ribut-ribut melulu, bagus diam aja.
diam itu emas. mulutmu harimaumu.makin banyak ngomong makin banyak salah.
bravo untuk kelompok orang bisu.

#24. Dikirim oleh abu  pada  29/08   10:41 AM

Seandainya Bu Musdah and the gank ini pemuja kebebasan berekspresi, maka selayaknya mereka pun harus menghargai ekspresi kelompok FPI ini.  Biarlah FPI ini menafsirkan sendiri cara beragamanya, tak usah diintimidasi dengan ‘kekerasan’ tudingan-tudingan Bu Musdah. Tapi mungkinkah itu? Rasanya sulit dalam kehidupan ini mendapati orang yang berfaham serba bebas lepas. Buktinya, yaitu Bu Musdah and the gank ini. Jadi kalau begitu, jujurlah Bu Musdah and the gank, bahwa anda sesungguhnya bukan kelompok yang paling berpegang pada madzhab pemuja kebebasan berekspresi.  Katakan bahwa anda tak suka dengan FPI dan cara-cara beragama yang tekstual. Jika begitu, anda pun harus mengatakan hal yang sama pada kasus-kasus di luar kehidupan beragama, misalnya dalam hal kenegaraan: separatisme dll. Kesimpulan akhir: tak perlu alergi dengan kelompok FPI, MMI, PKS, Piagam Jakarta dll.

#25. Dikirim oleh alar  pada  29/08   04:33 PM

Gaya gaya FPI di sidang itu mengikuti budaya arab, badui, bukan Islam.
mereka beragama dengan penuh nafsu dan amarah bukan ketulusan hati.Tetapi kita tidak perlu takut dan kuatir dengan FPI, karena takut kepada Allah jauh lebih penting.
Islam adalah agama perdamamain, hanya karena tingkat pendidikan, pendalaman dan perenungan yang rendah membuat mereka berperilaku demikian.
“Sesungguhnya pakaian terbaik adalah pakaian hati”..
“Tidakkah mereka tahu bahwa Allah maha mengetahui dan menguasai dari siapapun?”

#26. Dikirim oleh abu atmaja  pada  29/08   04:47 PM

Ya mau bagaimana lagi itu kan jalan pikiran yang FPI sudah pilih jadi ya harus dihargai,dan Ibu jangan anti sama pikiran mereka wong kata Ibu sendiri harus menghormati kebebasan…

#27. Dikirim oleh otonawa  pada  29/08   08:57 PM

orang-orang fpi mending tinggal di afganistan aja ,disana jelas nayak perang, diiindonesia adalah negara hukum, yang menjujung tinggi kmemanusaiaan, fpi adala preman berkedok islam

#28. Dikirim oleh deva sosialista  pada  29/08   11:53 PM

Marilah bersama-sama kita tinjau keinginan yang paling mendasar dalam hati manusia. Manusia ingin hidup dalam kebahagiaan. Manusia ingin hidup selamanya. Manusia ingin hidup bahagia selamanya. Sesungguhnya keinginan untuk hidup bahagia selamanya inilah motivator utama dalam tindakan sebagian besar manusia. Siapapun yang bercita-cita masuk surga punya motivasi ini. Bukankah surga berarti hidup abadi dalam kebahagiaan? Jujurlah pada hati nurani. Orang yang melakukan kekerasan atas nama agama punya motivasi seperti ini, orang yang anti tindakan kekerasan atas nama agama juga punya motivasi ini. Lihatlah, dalam hati yang terdalam kita sesungguhnya tak berbeda. Kalau benar demikian, menurut anda apakah kita sebaiknya saling mencintai atau saling membenci? Saling santun atau saling caci? Saling mengerasi atau saling melembuti? Saling mengerti atau saling menghakimi? Kita bebas memilih. Pilihan yang konsekuensinya harus kita pertanggungjawabkan pada nurani.

#29. Dikirim oleh budhi siswaka  pada  30/08   02:43 AM

Masa FPI yang selalu meneriakkan Takbir “Allahu Akbar” saya pikir bukan hal yang salah,..., Itu kalo diucapkan dengan hikmad dan tenang, seperti pada saat mengumandangkan takbiran sebelum sholat ied. Namun justru FPI telah merendahkan Allah dengan teriakan Allahu Akbarnya,. Gimana gak merendahkan Allah kalo teriak Allahu Akbar sambil emosi, dan bringas. Apalagi pada saat mengadakan razia, sambil merusak, sambil memukul, teriak Allahu Akbar,. Jadi kalo denger suara Allahu Akbarnya FPI, artinya kemarahan masa FPI.

Astaghfirullahal adzim,…

#30. Dikirim oleh Yudistira  pada  30/08   11:24 AM

setiap sesuatu pasti ada ganjarannya. apa yang Anda tulis kali ini nanti akan dimintai pertanggungjawaban...Anda akan ingat dan baru sadar ketika sakaratul maut mendatangimu...INGAT ITU

#31. Dikirim oleh ayyas  pada  31/08   09:50 AM

Antara keduanaya. Baik Riziq maupun Musdah, itu sama-sama dijadikan sebagai alat untuk melancarkan kapitalisme Barat. Mengapa orang-orang fundamental dibiayai oleh Timur Tengah, sementara orang-orang semacam JIL dibiayai Barat? Ini yang tak pernah dipublikasikan ke publik. Baik oleh kelompok semacam FPI maupun JIL. Jadi, perkaranya bukan semata-mata masalah agama, tapi masalah ekspansi jangka panjang kapitalisme global. Seperti di Eropa, kapitalisme melalui corong ideologi sekuler, bisa berjalan setelah agama ditaklukkan. Artinya, agama hanya dijadikan sebagai alat. Ujung-ujungnya adalah imperialisme-kapitalisme ekonomi. Kelompok agama, dalam konteks Indoensia adalah Islam, dikotakkan menajdi beberapa golongan. setelah itu selesai, akan gampang dimiliki. Jadi, dalam memandang masalah pemikiran agama, jangan hanya melulu dalam perspektif teologis. Lihatlah secara luas dalam peta geopolitik. Sebab, donaturnya adalah para kapitalis. Tentu ada maunya kan? Apa mau mereka? Bukan mengahancurkan Islam, namun memuluskan tujuan kapital mereka. Islam hanya alat. Sayangnya, kita terjebak. Terkotak antara yang liberal dan fundamental.

#32. Dikirim oleh Sabri  pada  31/08   04:09 PM

Temanya saja Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang… kok ada favoritisme ya Tuhan itu.. bukankah Ia juga menyayangi orang jahat, orang otoriter, orang yang suka memaksa sebagaimana Ia juga menyayangi orang yang bertaqwa ??? Hampir semua orang yang mengaku punya agama ternyata Tuhannya itu “very Demanding..!!!”, ah saya mau cari Tuhan yang betul-betul 100% pengasih dan penyayang sehingga saya bebas untuk menurutiNya didalam kasih dan kesayanganNya dan susah untuk melanggar… (dari hati lho..??)

#33. Dikirim oleh Heru  pada  31/08   10:06 PM

Jujur aja.. kita ini beragama itu karena apa sih.. karena Takut ???, takut hukuman ???, karena pingin pahala..?? pahala yang segede-gedenya ??? atau nggak ngerti sama sekali ?? atau beragama ini memang niat tulus dari hati / udah otomasih karena rasa cinta kita ama Yang DiAtas.. mau ada pahala kek.. atau hukuman kek.. udah bukan motivnya lagi.. disitulah rasanya kita bisa bebas bertaqwa tanpa memaksakan kehendak…

#34. Dikirim oleh Heru  pada  31/08   10:19 PM

pemahaman tentang ke-Islaman yang sempit menjadikan msayarakat Indonesia sebagai bengsa dengan agama yang sangat puritan dan tidak lagi memahami ajaran Isalam sebagai berkah bagi semua makluk hidup. setiap pribadi telah menjadikan paham yang diyakininya sebagai kebenaran yang absolut...dan hanya bersama merekalah hidup yang di restui Allah ada. pemaham yang sempit tersebut pada akhirnya akan manjadi bom waktu baik bagi mereka maupun bagi umat Islam secara seluruhnya, dan yang dapat kita lihat saai ini adalah citra Islam yang selalu bergandengan dengan kekerasan.

#35. Dikirim oleh deskam  pada  01/09   01:48 AM

Terima kasih atas sharing pengalamannya Bu, tadinya saya merasa sendirian, saya sangat tidak dapat menerima cara-cara saudara kita FPI. Ternyata masih banyak orang-orang seperti Ibu dan teman-teman lain yang bisa berpikiran jernih. Jangan gentar Bu......

#36. Dikirim oleh che  pada  01/09   12:30 PM

Bagi seorang pluralis tulen tidak ada kata pemaksaan; mau berkata apapun adalah hak, mau telanjang (bugil) di jalan pun adalah hak, mau merokok juga hak (bukan hak MUI untuk menyatakan haram), dan hak bagi Musdah Mulia dan anak keturunannya untuk memilih menjadi HOMO/LESBI.

Salam Pluralis Tulen…

#37. Dikirim oleh Pluralis Tulen  pada  01/09   12:34 PM

Membaca tulisan ibu...mengingatkan saya pada kewajiban saya sebagai muslim untuk saling nasihat menasihati dalam kebaikan.
Bu Musdah..setahu saya ibu sangat pandai dan baik budi, tapi akan lebih baik bila ibu juga bisa lebih shalih, lebih benar dalam berbicara, berfikir dan bertindak selaku muslim yang Kaffah.
Wallahualam…

#38. Dikirim oleh Dhanny  pada  01/09   01:34 PM

Bu Musdah memang mengagumkan. Pandangannya jauh melampaui pemahaman umat ISlam pada umumnya.

Betul bu, memang sebaiknya memahami ajaran ISlam perlu menggunakan akal yaitu keseimbangan antara pikiran rasional dan emosi.

Ajaran ISlam yang benar tidak akan membuat manusia kehilangan sifat manusianya dengan menjadi robot. Ajaran ISlam adalah tuntunan, artinya kita masih memiliki kaki untuk berjalan (akal manusia). Namun sayangnya sebagian umat ISlam malah ingin digendong. Apa nggak kurang ajar ini? Dikasih tuntunan..malah minta digendong.

Golongan seperti FPI, MMI, Hizbuttahrir keliatannya hampir sama, yaitu golongan yang suka banget minta digendong he..he..he...Mereka tentu sangat patuh kepada pimpinan. Pimpinan ngomong A, mereka serempak akan mengikuti. Dan kebiasaan begini ini tentu terbawa2 dalam kehidupan sehari2, payuh dan taat kepada yg dianggap pemimpin.

La bayangkan saja, kalo rakyat Indonesia memiliki mental kayak gini...la kapan majunya. Mereka yang suka jadi pengikut dan suka minta gendong tidak akan mungkin bisa mandiri dan kreatip.

Golongan ISlam yg begini (FPI, Hizbut Tahir, MMI dkk), sebaiknya mereformasi diri dengan menjadi umat muslim yang maju dan demokratis.

Katanya mo memerangi US, la kok nggak mo maju nih gimana see?

#39. Dikirim oleh cogito  pada  01/09   01:50 PM

bu musdah, saya kira kita sudah membacanya dikoran bahwa demo AKBP sama sekali belum mendapat ijin dari kepolisian. dari situ saja kita bisa tau siapa yg benar dan siapa yg salah.dan kalau JIL ini memang mengusung universalitas dan humanitas,seharusnya anda juga harus menerima pemikiran orang-orang di FPI. tulisan anda dan kawan-kawan selalu memojokkan umat Islam,ketika ada UU anti pornografi anda dkk malah menentangnya. saya tidak mengerti jalan pikiran anda. di akhirat nanti, kita semua akan tau jawabannya, dimana tidak ada rahasia yg dapat disembunyikan dihadapan ALLAH SWT.
Allahu Akbar !!!…

#40. Dikirim oleh robert  pada  01/09   01:53 PM
Halaman 2 dari 7 halaman <  1 2 3 4 >  Last »

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?