Perang Media dan Media Perang Netralitas Wartawan Peliput Perang
Oleh Redaksi
Akhirnya, pasukan Amerika Serikat dan sekutunya berhasil menduduki Irak. Benar-benar menyedihkan! Tentu saja kita tak lupa, invasi ke Irak ini tak hanya mengandalkan peralatan perang yang canggih. Propaganda perang melalui jaringan media telah digunakan Amerika dan Inggris, bahkan sebelum pertempuran itu dimulai. Uniknya, perang kali ini konsumen berita sangat dimanjakan oleh sajian yang beragam sehingga jaringan televisi sekuat CNN, Fox News atau NBC harus “bertempur” habis-habisan dengan televisi Al-Jazeera dan Al-‘Arabiyya untuk memperebutkan opini publik.
Komentar
Mestinya tanggapan ini saya tulis sejak jauh-jauh hari. Namun, walau begitu, saya sangat berharap bahwa apa yang akan saya sampaikan masih cukup relevan untuk memberikan tanggapan.
Pada dasarnya, media yang “membela” kepentingan agresor dunia yaitu AS, atau pun media yang menjadi “pembela” dan “pewarta” korban saling melengkapi. Hal ini terjadi, ketidakseimbangan berita, akibat tidak adanya wartawan suatu media yang bisa masuk ke kedua negara yang saling adu kekuatan tersebut. Seandainya saja ada satu media, misalnya saja Aljazera, bisa ikut juga dalam konvoi pasukan AS, selain ia meliput tentara atau korban di pihak Irak, maka berita yang mereka sampaikan tentu akan berimbang.
Disatu sisi ada berita mengenai kekuatan AS dan apa saja yang mereka lakukan, dan ada pula berita mengenai korban-korban akibat serangan yang dilakukan oleh pasukan AS dan sekutunya.
Namun sayangnya tidak ada media yang bisa masuk ke kedua ranah yang berbeda tersebut. akhirnya, ketika kita menonton Media AS (yang membela AS dan sekutunya), kita merasa jijik dan kesal karena saat kita menonton Media yang meliput korban irak, sangat banyak rakyatsipil yang tewas, korban kekerasan yang membabi buta.
Saya kira, aturan main dalam perang haruslah ditepai. Tapi, bisakah itu terjadi? Misalnya, yang namanya wartawan tidak boleh menjadi sasaran tembak, lebih-lebih tempat tinggal wartawan. Seperti yang telah dilakukan oleh pasukan AS dan sekutunya. Jika aturan itu ditepati, saya yakin, wartawan akan bisa masuk ke semua lini yang bisa membuat berita yang mereka buat tidak berat sebelah atau bahkan malah membela penyerang, pihak yang di serang, atau korban saja.
Kelengkapan berita itu penting. bagusnya setiap berita diturunkan oleh satu media, bisa mencakup segalanya. Tapi, saat ini, kelengkapan berita tampaknya cukup sulit untuk kita peroleh dari satu media, tapi harus dari media lain. Walau hal ini mungkin akan menimbulkan ketimpangan karena tidak banyak pembaca/pemirsa yang mengkonsumsi dua atau lebih media yang berlainan, lebih-lebih jika media yang berbeda negara dan tempat edar.
Jadi, saya menyambut baik apa yang dilakukan oleh aljazera. Terlepas dari kekurangan yang mereka miliki dikala menurunkan berita, karena dngan kehadirannya, kita akhirnya bisa melihat suatu peristiwa dari sudut korban, tidak melulu kekuatan AS dan sekutunya, termasuk keberhasilan-keberhasilan mereka, yang selalu diliput dengan baik oleh CNN dkk.
Media independen seperti apa yang ada dalam kepala kita, adalah bentuk ideal yang memang mestinya jadi patokan. Namun dalam perkembangannya, media kemudian berubah wajah menjadi industri kapitalis modern. Ketika kita memulai dari detik ini untuk menghabiskan ribuan detik berikutnya hanya untuk mendiskusikan wajah media yang independen, maka sama halnya kita terjebak dalam sebuah pembicaraan sia-sia. Ya itu…! seperti yang dikatakan tadi, wajah kita yang mestinya tampil cerah bagai Nabi yang tengah membawa sabda, malah terdistorsi atau malah mendistorsikan diri sendiri, kemudian berubah menjadi musang-musang baru yang siap melahap apa saja atas nama informasi publik untuk kekenyangan perut kita. Anehnya, karena kita masih saja terlelap dalam sikap itu, dan kemudian menikmatinya atas nama kebenaran. Untuk bangkit dari keterjebakan itu..? rasanya sulit. Kita harus berhadapan dengan realitas yang kian menggusur nurani. Ada banyak pertimbangan yang rasional menurut kaum kapitalis yang kemudian dijadikan rujukan media modern. Walhasil, media independen juga berubah menjadi nyanyian indah di puncak bukit mimpi. Mengapa…? yah itu tadi, karena ada banyak kepentingan yang harus dipenuhi oleh media yang juga industri. Lalu kesimpulannya…? Lagaknya kita harus kembali membuka file, apakah kata independen itu benar-benar memiliki wujud? ataukah kata itu lahir ketika kita latah-latahan agar ikut tampil??? Hehehehehe….!!! Persoalan yang sebenarnya sih kita ga pernah jujur untuk mengakui bahwa media independen adalah kemustahilan sejarah
——-
MAs.. mau tanya nih Bgm tanggapan bangsa afghanistan tentang perang AS-Afghanistan
Komentar Masuk (3)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)