Editorial,
20/10/2010

Perdamaian Global tanpa Perang Lokal

Oleh Saidiman Ahmad

Di negara-negara dengan tingkat demokratisasi yang belum sepenuhnya stabil, apalagi yang semi demokratis dan tidak demokratis, kelompok-kelompok minoritas mengalami banyak persoalan. Muslim dan Budha Tibet diganggu terus menerus oleh pemerintah komunis Cina. Kelompok Ahmadiyah di Pakistan dan Indonesia direpresi dan disingkirkan. Kelompok Muslim di Thailand Selatan dan Moro Filipina telah lama mengalami diskriminasi. Komunitas Tionghoa di Indonesia baru-baru ini saja memperoleh hak kewargaan yang sama dengan warga Indonesia lainnya. Minoritas India dan Cina di Malaysia tidak pernah benar-benar diperlakukan sederajat dengan warga Melayu.

20/10/2010 07:56 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (4)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Mungkin perlu koreksi sedikit dengan persepsi bahwa “hampir semua agama mengalami kebangkitan”. Hal ini agar tidak menimbulkan salah tafsir bahwa seakan-akan ada agama yang terbelenggu dengan perang dingin.
Agama Katholik dan Kristen sama sekali tidak terbelenggu dengan adanya perang dingin karena perang dingin adalah masalah politik, bukan masalah agama. Lebih khusus lagi untuk agama katholik sudah berabad-abad yang lalu keluar dari urusan politik dan lebih memfokuskan pada agama sebagai hubungan yang pribadi antara umat dan Tuhannya.
Vatikan sudah tidak terlibat algi dengan persoalan politik meskipun dalam prakteknya Vatikan mempunyai duta besar. Tapi duta besa di sini lebih kepada membangun hubungan yang bersifat humanisme, bukan polilik.
Jadi selesainya era perang dingin, bagi agama katholik yang dipandang biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa. Kalau pun ada mungkin praktek beragama di negara-negara blok timur menjadi lebih leluasa. Tapi ini tidak berpengaruh apa-apa terhadap katholik secara keseluruhan, hanya gereja setempat yang dalam praktek sehari-harinya lebih leluasa.
Kalau saya secara pribadi dengan ditunjuknya indonesia sebagai tuan rumah Global Peace Festival justru bisa berdampak negatif. Pasti ada kalangan tertentu di tanah air ini yang merasa bahwa dengan ditunjuknya sebagai tuan rumah GPF seakan-akan negeri kita tidak punya masalah dengan persoalan diskriminasi yang dilakukan oleh mayoritas terhadap minoritas, khususnya di bidang agama.
Kalau semua orang indonesia berpikir realistis, maka ini harus dipandang sebagai sebuah tamparan agar indonesia merubah dirinya. Tetapi kita juga harus realistis bahwa sebagian masyarakat atau kelompok masyarakat kita dikuasai oleh ego kelompok sehingga tidak peduli dengan kelompok yang lain yang punya hak yang sama dengan mereka.
Kalau mereka mengartikan bahwa tuan rumah GPF sebagai sebuah pengakuan bahwa indonesia adalah negeri damai, maka kita tingal menunggu waktu untuk mengalami persoalan tirani mayoritas yang makin menjadi-jadi. Semoga kekhawatiran ini hanya berhenti pada pikiran saya aja, tidak akan pernah menjadi kenyataan.

#1. Dikirim oleh Putra Pertiwi  pada  21/10   07:43 AM

Ya, dan dengan terpilihnya Indonesia menjadi tuan Rumah Global Peace Festival, maka diharapkan Indonesia akan semakin berdamai dan tunduk ketika dijajah dan dikuras oleh kaum kafir Amerika!
Peperangan di dunia ini akan selalu terjadi, entah itu perang fikir atau perang fisik!
Sudah jelas yang haq akan selalu berperang dengan yang bathil! Hingga semuanya menjadi haq/bathil!
Sekarang anda tinggal memilih…
ingin memperjuangkan yang bathil,
ataukah memperjuangkan yang haq_!

#2. Dikirim oleh no_body  pada  02/12   07:09 AM

No body : kelihatannya kok sedang punya masalah dengan perang yang ada di dalam dirinya sendiri, yaitu perang melawan kobaran nafsu kebencian dan kedengkian.

#3. Dikirim oleh Anton Isdarianto  pada  03/12   04:14 PM

konflik cina, jawa,..indo, non indo,..itu kan permainan anak2 mas,.. sebenarnya memang ada yg menghendaki demikian,.. sehingga harmonitas dan kondusifitas regional terganggu dan investor berhelai enak masuk indonesia,.. salam sukses mas saidiman… good bless u..

#4. Dikirim oleh syiah  pada  29/03   03:24 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?