Editorial,
16/10/2006

Perempuan dan Kue Donat

Oleh Nong Darol Mahmada

Di antara percikan petuahnya itu, ia menganjurkan perempuan-perempuan muslimah memakai jilbab. Dengan penuh percaya diri, dia mengumpamakan, bahkan menyamakan perempuan berjilbab seperti kue donat yang dibungkus plastik rapat-rapat. Menurutnya, donat yang dibungkus plastik itu lebih sehat, terjaga, tidak dicolak-colek tangan-tangan yang hanya iseng tapi tak mau beli.

16/10/2006 02:44 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (72)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 4 dari 4 halaman‹ First  < 2 3 4

Dogmatisme seringkali merepotkan, mengkebiri akal sehat, dan tidak realistis. Namun bagi kelompok fanatik, sulit sekali menyadari realita ini. Atau mungkin, karena gengsi, mereka berpura-pura “tidak sadar” agar dapat tetap terlelap pada dogma-dogma mereka, serta berkhayal bahwa ”itu logis saja kalau kita sudah beriman”. Sebagai ilustrasi, suporter fanatik Persib akan tetap mendukung Persib walau tim tersebut telah berkali-kali kalah. Ini salah satu bukti bahwa fanatisme membuat orang menjadi patuh terhadap suatu tatanan nilai-nilai tertentu tanpa memiliki sikap kritis/mempertanyakan.

Dalam agama Islam—sebagai satu contoh agama—ada ajaran untuk mengenakan jilbab bagi Muslimah. Ajaran ini setidaknya dapat dilihat dari dua perspektif, dan sudah semestinya kita memberi pemisahan yang jelas atas dua perspektif tersebut.

Pertama, perspektif dogma. Ini tentu bersifat absolut dan tak dapat ditawar. Sekali Tuhan memerintahkan begitu, dan jika itu sudah jelas/gamblang, maka tak ada pilihan lain selain mentaatinya. “Dosa” mengancam mereka yang tidak patuh. Ini adalah pandangan normatif kelompok fanatik agama.

Kedua, perspektif humanisme/pragmatisme, yang muncul dengan memandang jilbab secara fungsional/esensial sebagai “penutup aurat”, di mana terkandung ajaran kesusilaan/kesopanan. Dari perspektif ini, ajaran jilbab memiliki konsekwensi bersifat relatif, kondisional, dan kontekstual, sebab terkait dengan persoalan nilai-nilai yang dianut subjek bersangkutan. Kesopanan adalah abadi, namun tentunya, nilai-nilai kesopanan bersifat relatif dan selalu ada kemungkinan berubah. Biasanya, kelompok-kelompok agamawan progresif dan liberal, serta kelompok secular humanism mengawali pola pemikiran mereka dari perspektif ini.

Seperti disinggung di atas, penting bagi kita untuk memberi pemisahan yang jelas atas dua perspektif tersebut. Sebab dua perspektif di atas memiliki orientasi yang berbeda, berikut konsekwensinya masing-masing. Yang pertama berorientasi kepada Tuhan, subjek pembuat perintah. Sedangkan yang kedua berorientasi pada manusia, subjek dari suatu perintah.

Dalam pengamatan saya, sebagian besar Muslim (disadari atau tidak) cenderung menggunakan “standar ganda” terhadap ajaran ini. Di satu sisi mereka berpendapat bahwa ajaran jilbab adalah untuk menutup aurat dan itu baik. Ini alasan humanis dan pragmatis yang dapat saya sepakati. Tapi di sisi lain, mereka menggunakan alasan “dogma” yang bersifat absolut, dan tak mempedulikan faktor relativitas nilai (terkait soal “aurat”) yang dapat membuat ajaran jilbab menjadi kontekstual dan kondisional.

Standar ganda ini merefleksikan sebuah keinginan serakah; ingin ajaran jilbab tampak logis dan humanis, sekaligus ingin dogma tetap terjaga. Dua prinsip yang sebenarnya tidak bisa disatukan.

Dogma merefleksikan paradigma teosentris, sedangkan pragmatisme/humanisme merefleksikan paradigma antroposentris. Dalam hal ini, Muslim harus memiliki kejelasan mana yang menjadi pusat dalam paradigma mereka, kemanusiaan atau ketuhanan, humanisme atau teologi. Kejelasan “mana yang menjadi pusat” dan konsistensinya, adalah penting. Sebab, ini menjadi dasar segala substansi pemikiran yang dilahirkan di atasnya. Standar ganda sama sekali tidak menyelesaikan masalah, melainkan justru menunjukkan kekacauan konsep berpikir.
——-

#61. Dikirim oleh Ishaputra  pada  10/02   11:03 PM

Yah, perlu kita sadari bahwa narkoba memang berkonsekuensi jangka panjang pada syaraf otak. Seorang mantan pecandu narkoba sekalipun akan dipertanyakan jika menjadi pilot, karena menyangkut keselamatan penumpang. Keselamatan umat? Lebih penting lagi.

Kita ini berbudaya baik, sehingga memaafkan (atau pura-pura lupa?) begitu saja.

Saya sebagai anak muda pernah marah dan bertanya sama diri sendiri “loh? katanya kalo menyalahgunakan narkoba itu syarafnya rusak? Kok orang ini sedemikian waras dan bisa berceramah?”

Siapa yang bohong masalah ini? Apa ini bukti kalau narkoba itu baik-baik saja?

Tentu tidak. Cepat atau lambat, bisa kelihatanlah kerusakan syaraf akibat perilaku di masa lalu.

#62. Dikirim oleh Mirza  pada  30/07   04:18 AM

assalamualaikum, wr.wb.
gini aja deh.. mungkin anda lebih tau dengan tata cara berpakaian (baik laki2 maupun perempuan) yg telah di atur oleh alquran. perda yang notabene adalah peraturan yang dibuat oleh manusia syah2 aja anda komentari seperti itu.. tapi apakah aturan Allah SWT juga akan anda komentari???

#63. Dikirim oleh irwan  pada  11/08   12:36 AM

Tulisan Nong ini cukup menakjubkan dan membuka cakrawala beragama yg lebih baik lagi. Ada sebagian yang dogmatis menganggap jilbab sebagai ajaran islam namun sebagian lagi menilai itu hanya budaya arab saja. Bukankah di al Quran tidak ada batas aurat secara definitif?? Terus berkarya Nong. Wass

#64. Dikirim oleh Yaris Saputra  pada  13/08   08:03 PM

Salam…

Saya setuju pendapat bahwa seorang muslimah itu tidak boleh dipaksa untuk memakai jilbab, cukup dengan menasihatinya saja.

Saya sendiri seorang muslimah yang memakai jilbab, dan bagi saya tidak ada ruginya untuk memakai jilbab, malah saya sangat nyaman. Makanya saya tidak setuju bahwa jilbab itu adalah lambang penindasan terhadap wanita.Tidak semua wanita yang berpikiran seperti itu.

Didalam Al-Qur’an kan memang dianjurkan untuk wanita muslim yang akhil baliq untuk menutup aurat. Itu adalah perintah Al-Qur’an sendiri yang merupakan perintah Allah SWT. Saya yakin ada rahasia yang baik dibalik jilbab itu bagi wanita selain memang perintah dari ALLAH SWT.

Menurut pemahaman saya sih, tubuh wanita itu lebih “lemah” daripada pria dan tubuhnya itu lebih memerlukan perlindungan “lebih” dengan cara menutup dengan pakaian yang lebih panjang dari pria.

#65. Dikirim oleh viena  pada  16/09   08:30 AM

mengenai jilbab, saya lebih setuju jika wanita baik muslimah maupun NonI menggunakannya.
saya adalah laki2 yang banyak menanggung dosa syahwat karena banyak melihat di muka umum wanita yang “berbaik hati” memperlihatkan kemulusan kulitnya.
jangan selalu melihat perspektif wanita dalam menggunakan jilbab, kaum laki2 jg berhak menjaga pandangannya dari aurat wanita!!!!!

#66. Dikirim oleh ay  pada  29/10   06:50 PM

Alasan perempuan ( harus )berjilbab yg sudah dipraktekkan dari sejak Nabi Muhammad s.a.w., khalifah Umar bin Al Khattab hingga presiden Ahmadinejad adalah :
1. Al Quran Surat al Ahzab 59 dalam ayat2 itu Sang Khaliq Yg Maha Kuasa atas segala Penguasa memberikan perintahNya kepada hambaNya ( wanita ) untuk berpakaian yang menutup sex appelnya ( daerah sensitif ) yang kalau kielihatan merangsang lawan jenis tuk berbuat tak senonoh ( kecuali yg ABNORMAL ) BAHKAN untuk penjagaan dan kehati-hatian wajah dan tanganpun ( terutama yg cakep dan mulus ) para ulama yg komit dan umara yg menghargai rakyat wanitanya itu diperintah para wanita untuk menutupinya, supaya ( hikmah ) lebih terjaga, aman, dan dikenal sbg wanita baik-baik.
2. Al Quran surat An Nuur 30-31, kaum wanita diwajibkan menundukkan pandangan dari melihat ( sengaja ) kaum laki-laki asing ( bukan suami atau kerabat dekatnya ) sebaliknya yg laki2 juga diwajibkan menundukkan pandangannya thd wanita yg bukan istrinya ( atau kerabat dekat yg dihalalkan tuk dipandang )plus untuk wanita dlm ayat itu dilarang menampk-nampakkan perhiasan ( sex appel ) kecuali yg biasa nampak ( wajah ,tangan atau baju ) atau kalo khawatir jadi fitnah ( karena cantik & mulusnya ) sebagian ulama/umara muslim mewajibakannya menutup seluruh tubuhnya.
3. Hikmah Jilbab sbg penanda dan penjaga memang relatif, sepanjang pengamatan saya selama wanita menjaaga diri dg taat kpd Allah dan RasulNya janji Allah pasti turun tuk melindunginya sesuai dengan kadar Imannya dan sosial enginner ( Ulama & Umara ) punya kepedulian thd harkat wanita atau tidak. masyarakat pun banyak yg setuju kalo ” wanita berjilbab itu lebih nampak kesalehannya, adapun hatinya itu urusannya sendiri ) kalao ada kasus jilbab tapi ” pacaran ” atao mencuri dll itu kasuistik & problematika sosial bukan salah jilbab.

4. Pendapat Prof.Qureisy Syihab ttg ” tidak ” mewajibkan jilbab itu perlu ricek atau penelitian ulang , mungkin pendapatnya saja & tak ada ulama seluruh mazhab yg empat plus ulama imamiyah yg mengatakan tidak wajib jilbab, kecuali beliau & seorang Muh Said Asymawi mantan Hakim pengadilan Islam Mesir yg menulis ” Al Hijab dan Hujjiyatul Hadits ” ( 2003 )dan diterjemahkan oleh Novriantoni Kahar ( JIL ) berjudul “Kritik atas Jilbab” 2003, dan kedua buku tersebut sudah terbantahkan puluhan buku di Arab 15 buku di Indonesia juga banyak, dam itu termasuk ” pendapat ( Syadhz )nyeleneh ” yg tak ada otoritasnya.
5. Apalagi Asymawi dan diikuti Quraisy Syihab mengatakan 2 hadits wajibnya Jilbab adalah tidak kuat krn ” Ahad ” ( sendiri/satu riwayat ) ini juga bertentangan jumhur( mayoritas )Ulama yg berkata : Selama hadits itu shahih ( marfu’ ) dan tak bertentangan dg ayat Quran juga tak bertentangan dengan amal perowi atau amal ahlu Madinah maka sah sbg dalil ( wajib /haram ) Imam syafei, Abu Hanifah, Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal berpendapat ini.
6. Adapun JIL mau membuat hukum sendiri tgg Jilbab dll yg tidak standart dg ” World view Islam ” itu masalah lain, tapi Islam punya world view sendiri tak perlu pinjam atau adopsi peradaban lain apalagi barat( liberal ) yg belajar peradaban kepada Islam, sekarang barat sedang kembali ke Islam dengan banyaknya wanita muslimah yg berjilbab termasuk Turki yg sekulerpun mulai longgar terhadap jilbab, hidup JILBAB SAMPAI KIAMAT

#67. Dikirim oleh udin  pada  12/01   05:35 AM

mba,manusia adalah ciptaan Allah,jadi ya terserah Allah yang ngatur gimana cara kita berhijab.

#68. Dikirim oleh wiwin  pada  13/02   04:59 PM

klo ini dihubungkan dengan Islam yang terbaik berpalinglah kepada Alqur’an dan Alhadits karena urusan agama tidak boleh asal nafsunya sendiri n klo yang merasa benar tanpa tuntunan 2 diatas yaaa semoga aja 4jji memberikan jalan yang terbaik untuk kalian semua.sudah banyak bid’ah yang merajalela skarang ini so BE CAREFUL

#69. Dikirim oleh justhuman  pada  25/02   11:59 AM

kritik kok kritik analoginya,dimana-mana analogi itu ya tidak pernah ada yang sama, itu adalah perumpamaan. kalau minta sama ya bukan analogi itu namanya. Nong Darol tadi bilang orang-orang yang menganjurkan jilbab itu seenaknya sendiri, sekarang logikanya kalau anda tidak setuju dengan anjuran memakai jilbab berarti anda telah mengatakan Allah dan rasulnya seenaknya sendiri. padahal Allah dan rasulnya juga menganjurkan untuk memakai jilbab. sebuah orang yang mengaku Islam tapi anda telah menghancurkan Islam. kalau mau liberal, jangan pakai label Islam, karena Islam bukan Liberal. Islam mempunyai aturan Allah, bukan bebas seenaknya. logika orang liberal yang kacau

#70. Dikirim oleh Ahar  pada  15/11   01:55 PM

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Bismillahirrahmanirrahim

Sewaktu sy masih sekolah dulu (tahun 80-an s.d awal 90-an), guru2 & teman sy tdk ada yg memakai JILBAB padahal mereka mayoritas muslim. Tapi mereka rajin sholat, sopan, baik dan menghormati sesamanya. Tdk pernah terdengar ada pelecehan/tindakan kurang ajar terutama sama wanita, padahal mereka tdk memakai JILBAB. Tapi mereka berpakaian sopan.
Tapi lihat akhir2 ini, JILBAB menjamur dimana2 dgn berbagai mode, ada yg bilang ini ciri seorang muslimah. Benarkah? Berarti wanita (guru & teman sy dulu BUKAN MUSLIMAH, krn mereka tdk pakai JILBAB !!!
Wanita Indonesia seperti LATAH dgn mode, contohnya Latah memakai JILBAB. Padahal ini jelas bukan budaya Indonesia, tp ini adalah budaya negara2 Timur Tengah yg mempunyai alasan khusus menggunakan jilbab/burqa yg antara lain disebabkan kondisi cuaca panas & berdebu.
Kalo memang ini perintah dr Allah lewat Al-Quran, kenapa bukan dari dulu saja wanita Indonesia menggunakan JILBAB? Knp baru dimulai sktr awal 90-an? Apakah wanita2 Indonesia dulu spt Tjut Nyak Dien, RA Kartini, R Dewi Sartika, dan banyak lagi wanita dulu spt orangtua kita yg mengalami hidup tahun 70-an kebawah bukan muslimah?
Mereka tdk menggunakan JILBAB, tapi KERUDUNG yg merupakan ciri khas budaya Indonesia yg menandakan mereka seorang MUSLIMAH. Apakah JILBAB itu adalah lambang kesucian bagi wanita islam?
menurut saya, itu hanya sebuah busana dan juga budaya serta simbolisasi dari agama Islam di Timur Tengah.
Yg saya heran, kenapa rambut di kepala wanita disebut AURAT ?? Yg tdk boleh dilihat kaum pria. Apa hubungannya rambut di kepala dpt merangsang kaum pria? Bukankah wanita Indonesia dulu tidak menggunakan JILBAB merasa dilecehkan pria jika mereka memiliki rambut yg rapih dan sopan?
Apakah wanita selalu menjadi objek penderita (sex & aurat) bagi pria Indonesia? Kl memang ya, berarti sdh dr dulu banyak berita wanita Indonesia menjadi korban pelecehan pria karena tdk menggunakan JILBAB.
Sadarilah…yg penting wanita itu berpakaian sopan, rapih dan yg terpenting sifat dan kelakuannya dlm kehidupan sehari2 mencerminkan bhw dia itu wanita muslimah/beragama. Bukan LATAH dan mengikuti mode apa yg bukan ciri khas budaya Indonesia. Banggalah dgn ke-Islamanmu sebagai Warga Negara Indonesia.

Terimakasih.

#71. Dikirim oleh Siti Khadijah  pada  18/06   09:47 PM

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Bismillahirrahmanirrahim

Sewaktu saya masih sekolah dulu (tahun 80-an s.d awal 90-an), guru2 & teman sy tdk ada yg memakai JILBAB padahal mereka mayoritas muslim. Tapi mereka rajin sholat, sopan, baik dan menghormati sesamanya. Tdk pernah terdengar ada pelecehan/tindakan kurang ajar terutama sama wanita, padahal mereka tdk memakai JILBAB. Tapi mereka berpakaian sopan.
Tapi lihat akhir2 ini, JILBAB menjamur dimana2 dgn berbagai mode, ada yg bilang ini ciri seorang muslimah. Benarkah? Berarti wanita (guru & teman sy dulu BUKAN MUSLIMAH, krn mereka tdk pakai JILBAB !!!
Wanita Indonesia seperti LATAH dgn mode, contohnya Latah memakai JILBAB. Padahal ini jelas bukan budaya Indonesia, tp ini adalah budaya negara2 Timur Tengah yg mempunyai alasan khusus menggunakan jilbab/burqa yg antara lain disebabkan kondisi cuaca panas & berdebu.
Kalo memang ini perintah dr Allah lewat Al-Quran, kenapa bukan dari dulu saja wanita Indonesia menggunakan JILBAB? Knp baru dimulai sktr awal 90-an? Apakah wanita2 Indonesia dulu spt Tjut Nyak Dien, RA Kartini, R Dewi Sartika, dan banyak lagi wanita dulu spt orangtua kita yg mengalami hidup tahun 70-an kebawah bukan muslimah?
Mereka tdk menggunakan JILBAB, tapi KERUDUNG yg merupakan ciri khas budaya Indonesia yg menandakan mereka seorang MUSLIMAH. Apakah JILBAB itu adalah lambang kesucian bagi wanita islam?
menurut saya, itu hanya sebuah busana dan juga budaya serta simbolisasi dari agama Islam di Timur Tengah.
Yg saya heran, kenapa rambut di kepala wanita disebut AURAT ?? Yg tdk boleh dilihat kaum pria. Apa hubungannya rambut di kepala dpt merangsang kaum pria? Bukankah wanita Indonesia dulu tidak menggunakan JILBAB merasa dilecehkan pria jika mereka memiliki rambut yg rapih dan sopan?
Apakah wanita selalu menjadi objek penderita (sex & aurat) bagi pria Indonesia? Kl memang ya, berarti sdh dr dulu banyak berita wanita Indonesia menjadi korban pelecehan pria karena tdk menggunakan JILBAB.
Sadarilah…yg penting wanita itu berpakaian sopan, rapih dan yg terpenting sifat dan kelakuannya dlm kehidupan sehari2 mencerminkan bhw dia itu wanita muslimah/beragama. Bukan LATAH dan mengikuti mode apa yg bukan ciri khas budaya Indonesia. Banggalah dgn ke-Islamanmu sebagai Warga Negara Indonesia.

Terimakasih.

#72. Dikirim oleh Siti Khadijah  pada  18/06   10:03 PM
Halaman 4 dari 4 halaman‹ First  < 2 3 4

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?