“Kesaksian” Pasutri Islam dan Konghucu
Ahmad Nurcholish dan Ang Mei Yong Perkawinan Ini adalah Langkah “Eksperimentasi” Saya
Oleh Redaksi
Persoalan di atas bermula dari perkawinan Nurcholish (27 tahun) dengan Mei (24 tahun) dua pekan lalu. Perkawinan tersebut dilakukan dalam “dua metode.” Ijab kabul secara Islam dengan mas kawin 8,8 gram emas dilakukan di Islamic Study Center Paramadina, Jaksel. Dr. Kautsar Azhari Noer bertindak sebagai wali Mei sekaligus yang menikahkan kedua mempelai secara Islam, sedangkan Ulil Abshar-Abdalla sebagai saksi. Sementara, perestuan secara Konghucu dilakukan di ruangan lithan Sekretariat Matakin di Sunter Jakarta Utara.
Komentar
Saya amat bergetar dengan pengakuan tulus dari dua insan sepasang ini. Salut buat mereka dan Mas Ulil. Saya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya memberkati pasangan Mas Nurcholish dan Mbak Ang Mei Yong. Semoga dikaruniai kebahagiaan sejati dan anak-anak yang lebih berbakti kepada orangtuanya dan negaranya. Amin, amin, amin.
Pertama-tama, saya mengucapkan selamat atas pernikahan Anda berdua dan juga surprise atas keberanian Anda berdua juga. Beda agama, beda suku, beda kultur tentu membawa konsekuensi dan semangat juang yang ekstra untuk menemukan kebahagiaan itu sendiri.
Secara pribadi, rasanya saya masih gamang mengenai pernikahan demikian. Namun saya melihat dari pertimbangan dasar yang Anda berdua justru menunjukkan kesakralan dan pernikahan ini tidak main-main, maka saya mendukung dalam do’a agar pernikahan ini memang tetap berakhir bahagia.
Pernikahan bukanlah berdasar cinta buta, namun lebih kepada komitmen. Pernikahan adalah dua insan yang sungguh berbeda menjadi satu dalam kesatuan. Maka pernikahan bukan mencari kesamaan. Namun pada hakikatnya suatu tahapan perwujudan kebahagiaan dalam perbedaan. Dengan demikian, perbedaan Mas Nurcholish dan Mbak Mei Yong adalah lumrah dan jamak dalam pernikahan, hanya persoalannya dari perbedaan itu ada satu elemen ikut, yaitu masalah agama yang memang dianggap mendasar bagi banyak orang, termasuk saya.
Hidup adalah kearifan dan kerelaan untuk menghormati sikap orang lain yang berbeda. Untuk itu saya sangat menghargai dan menghormati pilihan Anda berdua.
Perjalanan pernikahan, dalam perbedaan pasti ada kerikil dalam perjalanannya. Itu saya alami, walau hanya sekadar berbeda suku. Saya suku Jawa, isteri saya luar Jawa. Itu pun pada awalnya sulit ditempuh. Namun dalam perjalanan waktu dan komitmen tadi, maka saat ini saya merasa bahagia dengan pernikahan saya.
Maka saya percaya Mas Nurcholish dan Mbak Mei Yong akan bertahan dalam kebahagiaan. Karena jika tidak, berarti “ekperimentasi” Mas Nucholish dan Mbak Mei Yong akan gagal dan banyak orang akan senyum sinis karenanya.
Selamat menempuh hidup baru, kapan honeymoon ke Yogyakarta. Jika jalan Yogyakarta dan berkenan untuk ngobrol, saya mau mendaftar untuk ngobrol.
EA
Membaca wawancara Anda berdua dengan ‘orang pintar’ Mas Ulil, saya hanya bisa bilang astagfirullah: semoga langkah anda diampuni oleh Allah SWT. Soal anda nikah sih sah-sah saja, tapi ada perkataan dari neng Mei Yong, bahwa anak tidak perlu diajari Agama, jadi mau diajar apa mereka ? padahal orang-orang tua kita yang mungkin tidak ‘sepintar’ mas Ulil bahkan para guru kita mengatakan agama adalah dasar utama yang perlu diajarkan kepada seorang anak. Kenyataan sudah membuktikan seorang anak yang tidak diajarkan agama, dia akan bertindak brutal bahkan menghalalkan segala cara.
Buat mas Nurcholish, saya yakin anda hanya sekadar cari sensasi, dan anda tega-teganya memainkan agama yang anda anut, saya hanya berdoa semoga pernikahan anda akan langgeng dan kelak melahirkan anak-anak yang baik. Saya berani taruhan, kelak bila pemikiran anda dan istri masih seperti itu, maka anak anda kelak akan jadi orang yang tidak stabil bahkan gampang diombang-ambingkan oleh lingkungan, kalau anda tidak percaya mari sama-sama kita lihat 15 tahun kedepan ........
Selamat untuk Mas Nurcholis dan Mbak Mei. Semoga menjadi pasangan yang bahagia serta mempunyai anak yang berbakti untuk bangsa. Saya yakin, anda pasti menghadapi tantangan yang luar biasa untuk sampai ke pelaminan. Tantangan yang luar biasa masih akan menghadang dalam mengarungi bahtera rumah tangga, terutama menghadapi lingkungan sosial.
Saya juga menikah beda agama, saya Muslim dan istri Roma Katholik. dalam hubungan dengan istri mengenai agama tidak ada masalah. Kami sering diskusi masalah agama, saya biasa mengantar ke gereja sambil belajar untuk mengenali agama Katholik dari sumber aslinya, anak saya satu dibabtis secara Katholik. Saya melaksanakan ritual agama Islam sama seperti sebelum menikah.
Yang sering menjadi masalah adalah di lingkungan perumahan, sering diomongin tetangga lewat pembantu. Nanti mungkin anda juga menghadapi masalah tsb, saya yakin anda pasti telah siap.
Sekali lagi saya ucapkan selamat, semoga menjadi pasangan yang abadi, saling memahami, saling menghomati dan saling membahagiakan. Tuhan pasti hanya satu. Jalan apapun pasti menuju Tuhan. Selamat….
Buat Mas Rully Zaini,
Sebelumnya terimakasih atas tanggapan Anda, Persis dengan seorang pendengar 68H tempo hari,juga banyak teman-teman dari lingkungan Masjid Al-Azhar, Jakarta, yang yakin bahwa pernikahan kami tak akan bahagia, alasannya, tak sesuai dengan rel agama (Islam). Begitupun Anda, bilang bahwa anak kami nanti akan terombang-ambing oleh karena bingung dlm memilih agama.
berikut tanggapan saya:
Pertama, jelas bahwa saya tidak ingin membuat sensasi atas pernikahan ini, bagi saya pernikahan adalah hak setiap orang, termasuk memilih seorang istri. Kalau toh Anda bilang bahwa ini sesnsasi itu hak anda, saya sepenuhnya bisa memahami. Cuman kenapa anda menyebut sensasi? Apakah karena istri saya seorang penganut Khonghucu?
Kedua, Apa yang dimaksud istri saya, dengan tidak akan mengajari anak dengan agama, ialah bhwa kami tak akan menggiring anak untuk menganut agama tertentu, misalnya Islam atau Khonghucu, biar si anak sendiri nantinya yang akan menjatuhkan pilihan mana agama yang sreg dg dirinya sendiri. Ini memang bukan situasi yang mudah, baik bagi kami maupun si anak sendiri, makanya sedari kecil nanti biarlah mereka sekolah di sekolah yang mengajarkan budi pekerti atau kalau toh pendidikan agama yang tidak melulu yg mengajarkan satu agama tertentu. Mungkin itu salah satu alternatif agar si anak tidak mengalami kebingungan, sebab dari kecil dia sudah mengenal keragaman dalam beragama.
Demikian, terimakasih
A Nurcholish
Assalamu’alaikum wr. wb
Kalau sudah jelas, beda agama, ya berarti beda akidah. Kalau sudah beda akidah memang bisa dipadukan? Jelas sekali, yang bathil tetap bathil, yang hak tetap yang menang.
Kalau menafsirkan ayat al-Quran jangan sembarangan, belajarlah dulu. Tafsir yang benar adalah penafsiran Nabi Muhammad, sahabat-sahabatnya, serta para tabi’in-tabi’innya.
Wassalamu’alaikum wr. wb
Satu lagi bukti bahwa saudara-saudara tercinta di JIL sudah semakin berani untuk mengoyak-oyak agama Islam ini. Terus terang saya sangat kagum dengan otak cemerlang saudara-saudara tercinta yang serius mempelajari Islam, tetapi sayang kok tidak diarahkan untuk membentuk umat Islam yang hanif dan kaffah melainkan mengambil arus ekstrim yang berlawanan arus, sehingga sering menimbulkan kontroversi.
Saya yakin, apa-apa yang dilakukan saudara-saudaraku tercinta di JIL ini hanyalah representasi dari eksperimen paradoks beragama, supaya dapat mencari perhatian dan dapat dikatakan sebagai pembaharu. Tapi sayang malah menjadi pemberangus!
Tegakah anda menggadaikan agama anda demi hal sudah jelas syubhat dan hanya orang-orang yang sesatlah yang tega demikian.
Kayaknya permasalahan seperti ini bukan permasalahan yang aneh, tapi hanya orang yang ingin sensasi ataupun orang yang mencoba untuk membuka jalan kesesatan.
Anda boleh yakin secara hawa nafsu dan akal, tapi di mana anda letakkan hati kecil anda yang takkan pernah berbohong kapan pun kepada anda .
Anda tega untuk menggadaikan agama demi permasalah yang syubhat, sudah ada yang kuat malah ambil yang subhat. Semoga anda bisa merenungkan ..... hanya Allah yang bisa membalas dan menilai anda.
Salam
Membaca kesaksian Mas Ahmad Nurcholish dan Mbak Ang Mei Yong, maupun beberapa tanggapan yang ada, membuat saya berpikir bahwa pengetahuan dan kepercayaan saya sungguh dibatasi oleh keterbatasan pikiran dan pengalaman saya sebagai manusia. Dibalik semua yang saya tahu, banyak sekali yang saya tidak tahu namun orang lain tahu. Dibalik apa yang saya yakini, banyak sekali yang orang lain yakini tanpa saya ketahui maupun saya anggap benar untuk diyakini (untuk saat ini).
Dengan dasar itulah saya sangat menghargai perkawinan campur ini dan partisipasi JIL untuk ikut mempublikasikan. Segala keyakinan dan argumen dari semua sesama, cukuplah kita jadikan pengetahuan yang berguna sebagai bahan tambahan untuk proses refleksi diri yang akhirnya memantapkan atau bahkan merevisi apa yang kita yakini, dan terutama untuk diri kita sendiri.
Akhirnya, selamat untuk Mas Ahmad dan Mbak Ang Mei, kalo bisa bagi-bagi pengalaman menarik setelah menikah untuk kita renungkan bersama.
Saya hanya seorang perempuan biasa yang cuma lulus SMA. Dan saya tidak punya kepandaian apa-apa jika dibandingkan dengan anda semua yang sudah sekolah setinggi langit.
Tapi saya cuma punya satu keyakinan bahwa Islam adalah agama yang terbaik untuk saya. Sekali lagi terbaik untuk saya. Agama apapun di dunia tidak akan bisa hanya diyakini dengan logika, melainkan juga dengan hati nurani manusia itu sendiri.
Jadi kalau saudara Nurcholish merasa tidak yakin dengan Islam, dan merasa bahwa agama islam masih memiliki kekurangan, mengapa anda tidak meninggalkannya?
Islam tidak pernah memaksa seseorang untuk mengikuti ajarannya. Sekali lagi tidak pernah memaksa. Jadi, janganlah anda menganut suatu agama kalau akhirnya hanya mau merusak agama itu sendiri.
Salam hormat saya untuk semua penganut agama di dunia.
Saya ‘salut’ atas keberanian Anda berdua melangkah. Keyakinan atas agama masing-masing sangat kuat sehingga masing-masing tetap bertahan. Saya berpendapat bahwa agama apapun baik adanya. Kalau boleh saya usulkan, mungkin Mbak Ang Mei Yong pelan-pelan boleh mencoba mempelajari agama Islam.
Terus terang saya adalah seorang mualaf yang mencoba mencari titik temu sebelum terjadi pernikahan dan berhasil. Tentunya ini semua dijalani bukan tanpa pergulatan batin. Apabila kita berpasrah dan menyerahkan diri kepada Allah dan memohon ampunanNya maka Insya Allah kita dapat jalani hidup ini dengan lebih tenang karena hidup dalam kapal yang hanya punya satu nahkoda.
Mas Ardiansyah…
Saya bisa memahami perasaan Anda atas pelbagai pemikiran yang tengah dikembangkan oleh kawan di JIL. Tapi ketahuilah bahwasanya mereka (dan juga saya) bukan ingin mengoyak-oyak agama (Islam) itu sendiri. Apa yang saya lakukan (menikah beda agama) hanyalah satu episode dari rangkaian hidup saya.
Persoalan bahwa ternyata istri saya bukanlah pengikut Nabi Muhammad, bukan berarti saya telah berpaling dari kaidah-kaidah ajaran Islam. Yang saya ketahui (sekali lagi) Islam tidak pernah melarang pernikahan antara Laki-laki muslim dengan perempuan non muslim (lihat Al-maidah: 5) yang dilarang jika kita menikahi perempuan musyrik. Jelas bahwa antara ahlul kitab dengan musyrik itu berbeda.
Silakan anda baca wawancara saya di majalah Syir’ah No. 20/Juli-2003, juga rubrik Konsultasi Fiqh asuhan Ust. Abdul Moqsith Ghazali tentang nikah beda agama. Di sana panjang lebar saya dan juga istri saya memeparkan argumentasi teologis tentang pernikahan kami.
Ust. AM. Ghazali juga menjelaskan bahwa hukum muslimah menikah dengan lelaki Katolik juga sah adanya. Tentu beliau menjelaskan bukan tanpa dasar. Ia mengulasnya dengan beberapa argumentasi.
Mungkin ini yang bisa saya sampaikan. Sekali lagi tiada maksud dalam diri saya yang fana, fakir dan bodoh ini untuk mengoyak-oyak agama Islam. bagaimana mungkin saya melakukan itu, sementara sejak kecuali saya selalu belajar di sekolah Islam (madrasah & pesantren)??
Wassalam A Nurcholish
Mas Abdullah…
Dari sisi mana anda menilai bahwa saya telah menggandaikan agama demi permasalahan yang subhat?
Kalau toh anda tak sepaham dengan keyakinan yang ada dalam diri saya, tak perlu lantas menghakimi saya sebagai orang yang telah menggadaikan agama. Apalagi anda mengatakan bahwa (pernikahan?) ini merupakan subhat.
Berkali-kali saya menjelaskan bahkan juga oleh para nara sumber sebelumnya (lihat wawancara Dr. Zainun Kamal & Nuryamin Aini) bahwa nikah semacam ini tidaklah dilarang oleh agama Islam, bahkan Nabipun juga para sahabat juga melakukannya. harus dengan penjelasan seperti apakah kiranya sehingga anda bisa memahami langkah yang kami tempuh??
Yang paling arif barangkali jika kita bisa saling memahami dan menghargai “ijtihad” masing-masing orang dalam memaknai agamanya dan bukan saling menghakimi…
Wassalam A Nurcholish
Mbak Tri Anita yang baik…
Saya turut bangga atas keyakinan anda kepada Islam, dan itu pulalah yang masih saya bawa hingga kini. tak pernah sedetikpun dalam hati saya untuk merusak, bahkan meninggalkan Islam.
Lalu dari mana anda menilai bahwa saya telah melakukan itu, dengan menganjurkan saya untuk meninggalkannya??
Saya pun tak pernah mengatakan bahwa Islam itu memiliki kekurangan. Jadi dari mana anda mengatakan seperti itu? Bukankah ini fitnah yang sangat dilarang oleh ajaran Islam?
Mbak Tri Anita…
Marilah kita saling introspeksi diri dalam setiap langkah kita dalam beragama, tak perlulah kiranya jika ada sudara-saudara kita yang berbeda dalam menafsirkan ajaran agamanya lantas kita menudingnya telah merusak Islam dan sebagainya.
Biarlah Allah sendiri nantinya yang akan menjadi hakim atas keyakinan kita masing-masing. Sebab Dia-lah hakim yang paling adil di dunia ini…
Wassalam A Nurcholish
Mas Daniel yang baik…
Terimakasih atas respon yang anda & teman-teman yang lain berikan, semuanya akan sangat berarti buat saya.
Pernikahan saya memang masih seumur jagung, tetapi tak ada salahnya bukan kalau saya memberanikan diri untuk sharing pengalaman dalam usia perkawinan yang masih muda ini.
Temans semuanya…
hari-hari ini kami melaluinya dengan teramat indah, karena satu fase dalam kehidupan kami telah terlewati. Kini kami melalui kehidupan kami dengan belajar untuk saling memahami & menghargai keyakinan masing-masing. Sesungguhnya tidak ada yang ganjil dalam kehidupan kami, sebab kami sama-sama berangkat dari dunia interfaith yang akrab dengan wacana pluralisme, serta kerap melakukan acara/kegiatan bersama yang digelar dengan komunitas berbagai agama.
Pengalaman diatas sedikit banyak telah pula mewarnai alur dalam mengarungi bahtera rumah tangga kami.
Kehidupan kamipun tak jauh beda dengan hari-hari sebelumnya, pagi, kami sama-sama pergi ketempat kerja masing-masing. Sorenya, biasanya kami sempetkan utk beraktifitas di lembaga Interfaith (ICRP & GEMARI) dimana kami aktif. Begitupun hari Sabtu sore, kami masih menyempatkan diri ‘mengajar’ anak-anak pemulung & jalanan yang kami kelola dalam wadah “Dunia Pelangi”. Tentu kami tidak sendirian, sejumlah anak muda dari pelbagai agama bergabung disini. Sungguh indah kehidupan ini, jika kita bisa saling memberi, membantu antar sesama.
Begitulah sekedar pengantar awal dari rutinitas hari-hari kami, dilain waktu, akan dengan senang hati kami akan mengshare pengalaman-pengalaman kami, baik yang manis maupun yang pahit. Siapa tahu semua itu dapat diambil hikmahnya oleh siapapu juga…
Semoga Tuhan selalu memberikan kemudahan kepada kita semua…
Salam damai selalu
A Nurcholish & Ang Mei Y
Bung Nurcholish,
Sesuai dengan tanggapan yang saya sampaikan terdahulu bahwa menikah adalah hak semua orang terserah dia mau nikah dengan orang mana saja dan beragama apa atau tidak beragama sama sekali untuk hak Anda. Tetapi berhubung pernikahan Anda ini dipublikasikan lewat internet dan terus terang itu mengusik pemikiran saya yang ‘mungkin masih tradisional’ bahwa menikah itu adalah sesuatu yang sakral di mana sesuai dengan ajaran yang saya anut, menikah itu mengandung maksud untuk menyebar-luaskan keturunan dan berfungsi juga sebagai ibadah dan dakwah.
Terus terang Anda sebagai bekas aktivis Al-Azhar, tetapi mengajarkan contoh yang menurut saya akan menyesatkan orang-orang yang mempunyai pemikiran agama (Islam) yang masih setengah-setengah, cenderung bermain dengan kata-kata dan logika. Dalam pelajaran yang saya terima dari guru-guru yang mungkin tidak semodern orang Islam liberal mengajarkan bahwa agam yang benar disisi Allah itu hanya satu yaitu Islam, tetapi Anda akan menyerahkan anak anda nantinya untuk memilih sesuai yang dia mau.
Saya sebagai Muslim, sangat menyayangkan hal ini kalau semua orang-orang muda mempunyai pemikiran seperti Anda, anak-anak kita dipersilakan untuk memilih sendiri agama yang dianut. Mau jadi apa mereka?! Pasti nantinya mereka akan memilih agama yang menurut mereka menguntungkan. Padahal disebutkan, anak itu dilahirkan dalam keadaan suci, putih dan bersih, sementara orang tualah yang akan menentukan anak itu menjadi Nasrani atau yang lain.
Jadi disini peran orang tua sangat penting. Saya khawatir kalau orang tua tidak memberikan batasan yang jelas dalam beragama, maka anak tersebut (saya yakin) akan terombang-ambing dalam menentukan agamanya sendiri. Banyak contoh saudara Nurcholis yang kita lihat kalau seorang anak disuruh memilih sendiri, anak itu akan bingung sendiri, dan bila ini terjadi, kita sebagai orang tua akan merasa bersalah kenapa bisa sampai begini, kasihan khan mereka? Apa anda akan mengulangi kebodohan dan kesalahan ini lagi.
Buat saya dan teman-teman yang lain, tidak menjadi soal Anda mau menikah dengan orang apa dan agama apa. Tetapi karena Anda sudah berani mempublikasikannya di website ini maka menjadi kewajiban juga bagi saya sebagai seorang muslim untuk mengatakan bahwa langka anda itu salah dan perlu dikoreksi.
Bung Nurcholis, sekarang ini banyak anak-anak muda pintar yang beragama islam tetapi berpikiran sok kebarat-baratan. Mereka sok pintar dan berusaha mengadakan pembaharuan yang salah arah. Saya tidak tahu motivasinya apa, apakah biar dianggap hebat, lebih toleransi, sesuai dengan keinginan orang kafir dll. Saya juga orang muda, tetapi saya prihatin dengan kondisi ini, pertanyaan yang timbul dalam diri saya apakah karena kita belajar alqur’an hanya setengah-setengah lalu sok pintar atau kita sendiri sudah diperbudak oleh pikiran syaithan atau kita mau lain dari yang lain berbeda dengan ulama-ulama kondang terdahulu atau ?????
Bung Nurcholis,
Menanggapi sdr Nurochman, saya menganggap publikasi anda menikah dengan Mei Yong jadi menambah kerjaan buat kita-kita. Mbok ya kalau Anda nikah ya nikah saja, tapi jangan buat pernyataan yang kontroversial dong (itu kalau gak mau dibilang bikin sensasi).
Pernyataan Anda itu membuat kita yang sedang belajar agama secara benar jadi bingung. Maksud Anda itu sebenarnya apa sich? Jadi terus terang ini akan nambah pekerjaan buat kita semua, terutama yang masih memegang teguh ajaran Islam (belum terkontaminasi oleh pemikiran liberal dll).
Coba dech Anda pikirkan & renungkan lagi dalam-dalam (saya sich cuma kasih saran, mau mengikuti syukur, nggak juga nggak apa-apa). Mudah-mudahan orang tua & saudara-saudara Anda tidak kecewa dengan langkah yang Anda ambil. Apakah anda tega melihat butiran air mata mereka jatuh satu demi satu membasahi pipi mereka Bung Nurcholis ?
Menurut saya anda telah melakukan pembusukan dari dalam, banyak kejadian dengan meluasnya kristenisasi dll, dikarenakan kita sebagai umat islam terlalu banyak toleran, terlalu banyak memahami agama lain sehingga tanpa kita sadari kita telah menjadi bagian dari musuh-musuh islam dalam mengoyak-oyak agama kita sendiri, sementara diujung sana kaum kafirin dan teman-temannya bertepuk riang, misi mereka telah berhasil. Astagfirullah bodoh sekali kita ini, mau saja disanjung-sanjung tapi nyatanya duri telah menikam kita ............
Wassalam
Dunia Islam saat ini penuh dengan bahaya pembusukan, bukan hanya dari kaum kafir dan kawan-kawannya, tetapi juga oleh orang-orang Islam itu sendiri. Saya curiga ini adalah penghancuran secara sistematis dengan merusak kaidah dan mencampuradukkannya dengan berbungkus nikah beda agama.
Sungguh sangat disayangkan anak-anak yang tadinya harus beragama Islam, tetapi karena orang tuanya mempunyai keyakinan yang berbeda menjadi kafir, dengan perkataan lain kita telah membiarkan agama lain berkembang dengan pesat, padahal setiap manusia dituntut atau mempunyai kewajiban untuk berdakwah, kalau beda agama, boro-boro berdakwah, istrinya saja tidak seiman. Jadi dimana sich tanggung-jawab anda?
Kita terlalu banyak toleransi dengan orang-orang beragama lain, sehingga mereka mempunyai kesempatan untuk merancang strategi kotor dengan merusak akidah kita. Kalau keadaan seperti ini berlangsung terus, saya khwatir kejayaan Islam tidak akan terulang kembali, kita hanya jadi pecundang ...!
Data statistik menunjukkan, perkembangan agama selain Islam semakin pesat, rumah-rumah ibadah mereka makin banyak, sementara di satu sisi orang-orang Islam sendiri malah bangga bila punya istri bukan Islam. Alasannya semua agama sama kok (padahal itu omong kosong, tidak ada agama yang sama, yang benar itu hanya satu yaitu Islam). Kalau semua agama benar, kenapa enggak jalanin saja semua agama itu. Jum’at shalat di masjid, minggu ke gereja, besoknya ke klenteng, lusa ke pura dll., toh semua agama sama, jadi buat apa dikotak-kotakkan
Apakah kita mau seperti itu? Kalau kita masih mempunyai akidah yang kuat dan mempunyai komitmen yang tegas bahwa agama yang diakui di sisi Allah adalah Islam, kita gak akan punya pikiran konyol dan coba-coba kawin dengan wanita lain selain islam, lain halnya kalau kita punya misi untuk mengislamkan pasangan kita, itu baru hebat namanya ......
Jadi buat apalah kita neko-neko dan terpengaruh dengan cerita-cerita orang yang mau merusak akidah kita (dengan mengatakan saya besar di pesantren) padahal orang tersebut secara tidak sadar maupun sadar sudah melakukan pembusukan dan menggerogoti Islam secara perlahan. Mudah-mudahan rekan-rekan seakidah yang masih kommit dengan Islam tidak terpengaruh oleh hal seperti ini. Saya yakin seyakin-yakinnya semoga orang-orang seperti ini kelak dibukakan dan disadarkan hatinya bahwa yang dikerjakannnya itu adalah salah.
wassalam
Bung Rully Zaini…
Tak akan banyak saya berkomentar. Saya hanya melihat bahwa anda telah memposisikan diri sebagai orang yang menutup diri dari keperbedaan, baik dalam ruang kehidupan maupun dalam lingkup pemikiran dan keagamaan.
Saya khawatir jika ini terus berkelanjutan, maka anda termasuk orang yang oleh al-Qur’an disindir sebagai kafir (kafara, menutup diri) dari keniscayaan lain yang sama sekali beda dengan yang anda yakini.
Iman Syafi’i punya nasehat yang sangat bijak; bahwa apa yang kita yakini benar, sangat boleh jadi salah buat orang lain, dan apa yang kita yakini salah, ada benarnya bagi orang lain.
Jadi tak perlu kiranya kita mengklaim ini itu, hanya untuk pembenaran pendapat yang kita yakini benar. Sebab boleh jadi itu salah.
Kita semua adalah manusia yang secara berbeda-beda ingin mencapai ridha Allah dalam fastabihul khairat. Meski jalan yang kita tempun tak sama, tapi yakinlah bahwa tujuan kita juga bermuara pada Sang Kuasa… Istilah yang tlh dipopulerkan oleh cak Nur; banyak jalan menuju Tuhan.
Akhirnya, marilah kita sama saling nasehat menasihati demi kemuliaan di dalam hidup (ta’awanu alal birry wa attaqwa). Dan tak perlu kiranya saling memberikan penialaian sesat terhadap keyakinan orang lain, sebab itu hanya akan menutup mata hati kita dari kebenaran yang bertebaran dimana-mana…
Wassalam A Nurcholish
Komentar Masuk (35)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)