Kolom,
20/10/2003

Perselingkuhan Agama dan Terorisme

Oleh Rumadi

Penjelasan telah diberikan, bahwa Islam bukan agama teroris. Namun penjelasan itu seolah tidak mampu menghilangkan kesan bahwa Islam sarang teroris. Argumentasi etis-normatif sekilas ada benarnya, meskipun di belakangnya menyembunyikan sekian banyak fakta, bukan saja yang terkait dengan perilaku umat beragama, melainkan juga yang terkait dengan doktrin agama itu sendiri. Harus diakui ada sejumlah doktrin agama yang bisa dijadikan legitimasi dan pembenar untuk melakukan terorisme, terlepas apakah legitimasi itu dapat dibenarkan atau tidak.

20/10/2003 05:58 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (6)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Menarik sekali artikel yang dipaparkan oleh saudara Rumadi, namun ada satu hal yang saya tidak setuju dimana penulis menggunakan istilah “perselingkuhan” agama dengan teroris. Di mana seolah-olah ada semacam penghakiman bahwa agamalah yang berselingkuh dengan terorisme. Padahal menurut pemahaman saya yang melakukan perselingkuhan adalah “oknum” yang mengaku beragama.

Faktor “oknum” inilah yang paling berperan dalam mengintepretasikan doktrin-doktrin agama. Akibat interpretasi yang salah inilah timbul pemahaman yang menjadikan doktrin agama sebagai amunisi untuk melakukan terorisme. Saya fikir doktrin-doktrin agama (khususnya Islam) selalu mengajak kepada kedamaian dan kebahagiaan.

Namun “oknum” yang mengaku beragamalah yang sering kali menggunakan “doktrin agama” sebagai alasan melakukan terorisme. Jadi saya berpendapat bahwa faktor oknumlah yang paling dominan melakukan “perselingkuhan” dengan terorisme.

Wallahu’alam bisshowaab.

#1. Dikirim oleh mardias gufron  pada  21/10   12:10 PM

Dlm banyak point, saya setuju dg artikel Bung Rumadi yg bagus ini. Berikut ini sekedar catatan tambahkan dari saya.

Islam sebagai agama memang tidak bisa sekedar dipahami dan dinilai secara doktrinal, yg walaupun di sana-sini juga masih tersisa ruang untuk mengkritiknya secara intelektual, tentu selalu menampilkan sisi ideal dan positif dari agama tersebut. Tapi juga ia harus ditelaah dan diuji manifestasinya dlm bentangan sejarahnya yg panjang.

Argumen dasarnya, mengutip pandangan F. Schuon dlm Understanding Islam, Islam adalah “perjumpaan Tuhan sebagaimana adanya dengan manusia” sebagaimana adanya. Nah, dlm perjumpaan itu sudah tentu terdapat dialog dan ketegangan-ketegangan yg tidak selamanya harus didamaikan once for all. Islam menjadi masuk akal sebagai agama hanya apabila ia memiliki potensi utk dipahami (dan disalahpahami) dan diamalkan (dan diabaikan) oleh pemeluknya. Potensi utk disalahpahami dan diabaikan ini merupakan kenyataan yg tdk bisa dihindari. Sebab, justru dg potensi itu, keberagamaan menjadi lebih bermakna.

Coba bayangkan, seandainya hanya ada satu saja tafsir murni dan komprehensif atas teks-teks agama, mau dikemanakan potensi intelektual para sarjana2 Muslim yg harus menemukan objek penelaahan dlm teks2 tersebut utk mengeksplorasi dan mengotimalkan potensi intelektualitas mereka. Dan upaya2 ekplorasi intelektual seperti ini (betapa pun naifnya upaya itu, dan betapa pun paradox dan aneh2nya hasil/bentuk eksplorasi intelektual itu: misalnya fundamentalisme, radikalisme, terorisme dll.) malah yg mendapatkan nilai tinggi dlm agama ketimbang menerima begitu saja doktrin2 agama tanpa pemikiran kritis.

Walaupun, harus segera ditambahkan bhw prinsip luhur dlm setiap upaya pemikiran thd teks2 agama adalah relativisme dan ekslusivisme, dlm arti, selalu menyadari bhw sebuah hasil pemikiran bagaimana pun otoritatifnya selalu memiliki potensi utk salah, dan karena itu, perlu didialogkan dg dan terbuka utk mempertimbangkan hasil2 pemikiran pihak lain. Misalnya, kalau kebetulan hasil akhir dari pemahaman intelektual kita mengenai Al-Quran adalah bhw intisari pesan kitab adalah mencegah kemungkaran dg kekuatan fisik, bila perlu dg pengorbanan nyawa beberapa demi tegaknya kebenaran, maka kita tetap harus sadar bhw kesimpulan spt kita itu masih relatif (tdk absolut benar); dan krn itu, tafsiran lain yg kemungkinannya total berbeda dr milik kita hrs juga kita pertimbangkan.

Kenyataannya, dlm sejarah Islam, selalu saja ada bentuk2 dan kecenderungan2 arus pemikiran yg mengarah kepada wujud mutakhir pemikiran keislaman yg bisa disaksikan di dunia kontemporer: skripturalisme (dulu diwakili oleh Khawarij), liberalisme (dulu Muktazilah), modernisme, fundamentalisme, radikalisme, dst. Soal Islam yg dipahami secara tekstual dan inklusive, sudah sejak awal sejarah Islam sudah terlihat manifestasinya dlm bentuk terbunuhnya khalifah Ali bin Abi Thalib oleh salah seorang (suruhan) kaum Khawarij. Bahkan sebelum itu, kasus mirip terorisme sudah dipraktekkan oleh org2 yg membunuh Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan yg semuanya (mengaku) Muslim.

So, apa hikmah di balik semua ini. Anda tidak bisa menjadikan semua orang Muslim memiliki pemahaman dan akhlak yg sepenuhnya sesuai dg cita ideal doktrin Islam. Selalu saja ada orang2 yg salah paham dan membangkan dan tetap tdk bisa dipandang bukan Muslim. Tetapi selalu juga terdapat orang2 Muslim yg saleh, patuh, toleran, berakhlak mulia, dst. yg (menurut mata kasar kita) mendekati pesan2 doktrin Islam yg sejati. Menurut saya, tanpa bermaksud berpaham deterministik, semua itu tdk lepas dari skenario Ilahiah bhw hidup dan kehidupan beragama hanya menjadi lebih bermakna jika selalu terdapat ketegangan antara doktrin dan sejarah, antara yg baik dan buruk, antara kaum scripturalist/literalis dan liberalis, antara kaum modernis dan fundamentalis, dst. Lagipula, bukankah iblis secara tdk langsung mendapatkan perkenan Allah agar ia bisa ‘menggoda’ manusia berpaling dari jalan kebenaran sehingga menjadi (makin) jelas siapa yg benar2 kuat imannya???

Jadi, menurut saya, di satu sisi kita tdk perlu sedih dan berputus asa luar biasa jika dlm penggalan sejarah tertentu kaum Muslim terdapat orang2 Muslim yg begitu mudah memuncratkan darah sesama Muslim, bahkan sesama manusia, sambil merasa sedang mengemban misi suci Islam yg sejati. Di sisi lain, kita juga tentu tidak bisa berpangku tangan sambil berharap pada takdir Tuhan agar orang2 seperti ini dibinasakan oleh Allah atau oleh sejarah. Kita harus, dg niat baik dan tulus dan dengan cara2 yg bijaksana, berusaha mengajak mereka utk memahami Islam seperti kita atau minimal mempertimbangan kembali pemahaman mereka dan meninggalkan cara2 radikal dan brutal dlm mendakwahkan Islam.

Menurut saya, dlm Islam, kebijaksanaan tidak terletak pada kepelikan kata2 juga tidak terefleksikan pd ketajaman pedang, tapi pada keluhuran maksud. (Innamal a’malu binniyat, wa innama likulli imri’in ma nawa), dan kata Emha Ainun Najib, kebijaksanaan bisa menyelesaikan semua masalah. Masalahnya adalah, bagaimana memperoleh kebijaksaan dan menjadi bijaksana??

Walhasil, wa ilallahi turja’ul umur, wallahu a’lam bish-shawab

Rizwan

#2. Dikirim oleh Abu Ahmad  pada  23/10   03:10 PM

salam…

akhir-akhir ini banyak sekali perdebatan agama dengan terorisme, sehingga membarikan kesan ada permasalahan serius di tubuh umat beragama, padahal kalau kita mau sedikit saja mau berfikir negatif bahwa tidak benar-benar ada hubungan yang signifikan antara terorisme dan agama. terlebih asumsi mengenai bahwa agama dijadikan sebuah alat dimana terorisme dapat dengan leluasa menjalankan misinya.pikiran kotor mengenai terorisme dengan agama bahwa agama adalah suatu alat yang dijadikan perlindungan bagi terorisme, atau bahkan sebaliknya. itu sebenarnya sudah tidak layak lagi dibicarakan karena memang umat beragama tidak seharusnya terjebak dalam pikiran-pikiran sempit seperti itu. sebauh pertanyaan yang sering kali menghantui perasaan saya ketika dialog-dialog mengenai agama dan terorisme atau kekerasan mengatas namakan agama, jangan-jangan ada sebuah misi serius di balik terbentuknya sebuah agama. ada asumsi bahwa dari segi simbol agama menyimbolkan kekerasan, dengan gaya kepemimpinan yang di contohkan para pengusung agamanya masing-masing. makanya kemudian bahwa kita sudah seharusnya menanggalkan pemahaman bahwa agama dan terorisme ada sebuah keteerkaitan, untuk kemudian kita dapt membenahi pemahaman agama masing-masing di tataran yang lebih memasyarakat bukan kearah hegemoni barat atau sejenisnya.

#3. Dikirim oleh huluful fahmi  pada  25/10   01:10 PM

Pak Rumadi…bagus sekali artikel yang Anda tulis. Jarang sekali ada artikel yang seperti ini kritis dan berani menceritakan sisi negatif hasil dari hubungan antara agama dan penganutnya. Selama ini orang hanya menyalahkan penganutnya, agamanya sudah bagus.

Saya salut dengan keberanian Anda di tengah masyarakat yang hampir sebagian besar berpendapat berbeda dengan Anda. Indonesia butuh banyak orang seperti Anda. Indonesia memang lagi sakit parah. Mungkin Anda banyak ditentang di Indonesia tapi anda punya banyak pendukung di seluruh dunia. 

Salam

#4. Dikirim oleh Ali Imron  pada  30/10   05:11 AM

biarkan saya berpendapat, bahwa saya sudah mengalami depresi stadium berat untuk mencoba mengerti tentang jargon populis “demokrasi” dan “pluralisme”,  sebagai amunisi intelektual yang dimiliki teman2 JIL untuk “memborbardir” golongan lain yang berseberangan dengannya. saya merasa bahwa kaum muslimin saat ini berada diposisi—nuwun sewu—the looser. tetapi saya merasa lebih yakin solusi2 yang diberikan teman2 JIL, akan menjadikan kita “terjun bebas” menuju kubangan the real-real looser. mengapa? karena sandaran demokrasi & pluralisme—mau tidak mau—harus kita akui bersumber dari nilai2 absurd westernisme, yang banyak dicatat dalam lembaran hitam sepanjang sejarah kemanusiaan sebagai dosa2 yang memalukan. contoh nyata yaitu standar ganda, yang saat ini masih menjadi “dalil” terbenar untuk menghakimi lawan2 ideologi mereka.  saya takut, kita yang terlalu asyik bermain dalam euforia demokrasi dan pluralisme, juga akan mewarisi kemunafikan ini. gejalanya sudah ada, misalnya JIL menuntut kebebasan ekspresi keber-agama-an bagi dirinya, tetapi hal itu tidak diberlakukan bagi orang2 yang berseberangan dengannya. tetapi sedikit ada yang mencerahkan ruang pandang keawaman saya. statemen intelektual AS, Paul Treanor, yang dengan jantan mengatakan bahwa sampai saat ini kaum demokrat belum punya nyali kuat mengakui kebenaran konsep diluar dirinya, termasuk kebenaran yang kemungkinan besar juga dimiliki orang2 fundamentalis. malah sampai2 dia berani mengatakan bahwa, “demokrasi adalah…prekk…!!”

#5. Dikirim oleh ahmad fauzan  pada  14/11   06:11 AM

Saya sangat sepakat dengan tulisan diatas karena itu memang realitasnya, tapi kayaknya ada ketidak adilan dalam penilaian seperti kenapa yang dijadikan contoh kambing hitam terorisme selalu umat Islam, padahal terorisme tidak hanya dilakukan oleh umat Islam. Lihat bagaimana Israel menghabisi palestina, lihat pula amerika dan sekutunya membombardir irak dsb …… apa itu bukan terorisme, kenapa itu jarang diangkat. Lalu apa penulis tidak sempat berfikir atau sedikit khusnudzon bahwa sekalipun pengeboman yang dilakukan oknum umat islam sekalipun jelas-jelas keliru itu adalah sekedar ungkapan emosional yang ditumpahkan karena perlakuan tidak adil terhadap kaum muslimin selama ini. Penumpahan emosional yang terkesan brutal itu karena mereka tidak mempunyai cara atau wadah yang jelas untuk melampiasknya. Oleh karenanya tidak bisa kita secara mutlak menyalahkan pelakunya, tapi sedikit banyak kita juga harus dipersalahkan kenapa kita tidak memberikan wadah yang tepat kepada mereka. Dan pemberian label teroris dan menganggap mereka berselingkuh dengan agama dalam menjalankan misinya, justru akan menambah perih luka mereka. Apa tidak sebaiknya pendekatan kepada mereka ditempuh dengan acara arif dan bijaksana bukan dengan pemberian label yang negative.
——-

#6. Dikirim oleh Irfan Nuruddin  pada  11/12   10:12 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?