Nadia Madjid: Persepsi tentang Islam akan Berubah oleh Empat Hal
Oleh Redaksi
Persepsi media massa Amerika tentang Islam juga sangat ditentukan oleh bagaimana umat Islam menampilkan potret dirinya di hadapan dunia. Karena itu, dibutuhkan cara-cara kreatif dalam mengetengahkan paras Islam sesungguhnya kepada publik dunia. Demikian perbincangan Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis lalu (8/9), dengan Nadia Madjid, praktisi media Amerika, yang sudah bekerja di Voice of America sejak 5 tahun silam.
Komentar
Kesan yang timbul ketika membaca artikel ini dan yang senada dengannya adalah… Koq sepertinya kita musti menggantungkan diri terhadap bagaimana orang lain (dalam hal ini pihak amerika) memandang diri kita. bukan atas bagamaina kita memandang diri kita sendiri. Apakah umat islam itu ada untuk memuaskan kehendak pihak amerika? Selama ini pihak amerika telah mencitrakan islam yang buruk jauh sebelum peristiwa 11/9/2001. Jadi koq saya pesimis kalau pihak amerika mempunyai niat untuk melihat pihak lain (khususnya islam) dari sudut pandang yang tidak menempatkan mereka sebagai sentral dari segalanya. Jangan-jangan pihak amerika baru menganggap posistif islam ketika umat muslim bersembahyang mengadap ke washinton dc?
Bagaimana orang harus memandang dan manilai Islam sesungguh berpulang pada cara kaum muslim bersikap dan berbuat dalam kehidupan sehari-hari. Kapan harus bersikap ramah-bersahabat, kapan harus bertindak tegas kepada orang lain. Semuanya sudah ada patokan yang jelas. Sesungguhnya kita tidak bisa memaksa orang lain untuk memberi penilaian “positif” kepada kita kalau diri kita memang tidak “positif” menurutnya. Tapi yang peting adalah mari bersama bergaul dengan masyarakat dunia dengan mengedepankan Ahlakul Karima sebagaimana yang di contohkan Rosulullah SAW. Semoga kita bisa memperbaiki citra islam di mata Dunia
Saya setuju dengan mbak Nadia dan juga Sdr Abu Suthan. Tapi saya juga berpendapat ini tidak hanya berlaku bagi kaum Islam saja, namun juga kepada penganut agama lainnya. Sering kita mendengar orang bilang, agamaku tidak mengajarkan seperti itu, agamaku agama damai dst, dst… Itu benar, namun bukan itu yang penting. Sekarang bagaimana kita bertindak. Kita memperkenalkan ajaran kita, entah Islam, Kristen, Budha, Hindu, Kepercayaan atau apa pun itu dengan tindakan praktis sehari-hari. Di sisi lain, kita pun juga harus belajar untuk tidak terlalu gampang curiga. Saya rasa, pendapat Mbak Nadia sangat relevan bagi semuanya.
Ada pepatah yang sangat disukai dan sering diungkapkan oleh masyarakat indonesia: kalo tidak ingin disakiti oleh orang lain, maka kita jangan menyakiti orang lain. pepatah itu memiliki nilai agar setiap orang rendah hati. lalu jika ada orang lain ternyata berbuat yang menyakiti lebih dahulu apakah kemudian seketika “PEPATAH” itu menjadi tidak berlaku lagi selamanya bagi dirinya untuk melakukannya? masalahnya adalah sudahkan kita dalam bermasyarakat rendah hati? kapankah kita pernah berpikir apalagi berbuat untuk tidak menyakiti orang lain lebih dahulu?
salam
Wah, kayaknya american girl’s banget yah. Mestinya ditelusuri tanah yang didirkan oleh amerika itu tanah siapa? Boleh kebetulan nemu atau menjajah kulit coklat. Jadi saya kira kalau us menjajah bareng dengan israel kayaknya memang ada garis keturunannya X-yah. Mungkin sedikit berfikir jeli kenapa hanya negara islam yang diutek-utek atau paham lain selain dia. Karena memang pemimpinnya itu paling senang jorgan demokrasi ala diri sendiri. Teroris itu lahir dari siapa sih? Usamah aja dulunya dipimipin oleh us, kan. Buat memaksakan kehendaknya memecah belah soviet. Toh, kalau kita suruh berubah dianya berubah dulu. Hingga nggak ada salah tuduhan dengan mengatakan ada nuklir ada terrois ada apa denganmu? Menurut fakta saya dengan Bush mengatakan perang salib aja, itu sudah mengandung seribu makna, belum lagi Paus dengan persepsinya sendiri, itulah yang harus disimpulkan kenapa us selalu mengobarkan perang dengan alasan nukler atawa teroris. Udah ada kok di alqur’an. Jadi kita yang mesti hati-hati, bukan untuk diperangi tapi fikiran dan hati kita yang dijajah.
Tulisan terasa gamang membacanya ketika sdri. Nadia mengatakan bahwa seolah-olah media di US bodoh-bodoh semua. Saya sangat yakin bahwa mereka tau persis siapa teroris itu sebenarnya dan sangat tidak bertentangan dengan apa yang selalu didengungkan oleh Bush. Masalahnya Bush melihat dari sisi keamanannya sedangkan media dari sisi bisnisnya. Saya di Indonesia saja tau siapa itu teroris2 dunia yang sekarang merajalela diseluruh belahan bumi ini. Lihat yang di Indonesia, siapa itu Iman Samudra dkk, belum lagi yang 30% rakyat indonesia yang ngga kelihatan. Permasalahannya adalah kita tidak mau membangun satu opini bahwa sudah ada yang salah disebagian masyarakat dunia ini dengan isu ketidakadilan, kemiskinan, dll. Padahal ini juga diakibatkan oleh sistim kenegaraan dinegara masing2 koq. Jadi saya kira harus ada pembaharu-pembaharu muda yang lain yang muncul membawa betul-betul kedamaian dan kesejukan.
Jawaban Nadia dalam artikel ini amat bagus, begitu juga dengan tanggapan Abu Sulthan dan Crisnawan. Saya pikir Nadia bukan berpikir sbg American Girl ataupun bertujuan agar umat Islam diterima oleh orang Amerika (utk kepentingan dan kepuasan Amarika). Nadia justru ingin agar persepsi orang thd Islam adalah baik, cuma kebetulan saja Nadia mengambil contoh di masyarakat Amerika. Sesungguhnya persepsi masyarakat di mana pun atas suatu agama (iman) tertentu mau tidak mau (suka atau tidak) dinilai dari perbuatan/sikap mayoritas penganut umat tsb terutama terhadap yang berbeda agamanya. Dgn dmk makna artikel ini dapat diterapkan untuk Semua Agama manapun Di Mana pun berada. Jika bicara bahwa agama yang dianut bersifat “cinta kedamaian”, maka perbuatan/sikap tsb harus yang merefleksikan hal tersebut. Jika banyak dari penganut agama tsb berbuat Amat Jauh dari “cinta kedamaian”, maka perkataan “cinta kedamaian” tsb kehilangan arti, dengan kata lain iman tanpa direfleksikan dengan perbuatan Nyata adalah mati. Semoga semua umat agama apa pun dan merasa dirinya ber-Tuhan membuktikan imannya dengan perbuatan nyata yang selaras dan berguna untuk umat manusia lainnya, dan agama bukan menjadi alat untuk menggolkan kepentingannya sendiri…agama harus menjadikan manusia menjadi lebih humanis bukan sebaliknya…. Semua yang pernah terjadi yi agama dijadikan suatu “alat kepentingan” tertentu, misal dalam perang salib, teroris dll yang jauh bangeut dari humanisme agar dijadikan pelajaran yang amat berharga di masa kini dan akan datang untuk menjadi lebih memanusiakan manusia… dan tidak terjadi lagi pemaksaan iman kepercayaan tertentu kepada orang lain, apalagi dengan kekerasan… karena sebenarnya wilayah iman tidak bisa dibuktikan siapa yang benar dan yang salah… semua orang setuju 2x2=4, tetapi membuktikan agama (iman) apa yang benar kepada ke seluruh umat manusia apakah mungkin????... Orang cuma bisa Menilai agama (iman) orang lain dengan perbuatan nyata yang diperbuat oleh orang tsb kepada orang lain (baik yang Seagama Tetapi Tidak Sealiran maupun yang benar2 Berbeda Agama).
Saya kira cara berpikir Nadia tentang Islam dan Amerika akan lebih menyehatkan jiwa umat Islam. Artinya hanya dengan cara berprasangka baik seperti itulah umat Islam bisa lebih tenang bekerja dan optimis memandang masa depan. Tidak terus menerus dirongrong kecemasan dan rasa rendah diri. Mudah-mudahan saja apa yang saya dan Nadia utarakan jujur.
Percakapan singkat antara supir taxi dan Nadia menurut saya cukup memberikan ide untuk kita bahwa memberikan penjelasan tentang Islam kepada non-Islam bisa dilakukan dengan cara yang sederhana dan santai seperti itu. Saya juga sependapat walaupun informasi tentang Islam yang disampaikannya cukup terbatas ataupun sedikit, paling tidak ada pencerahan atau tambahan pengetahuan bagi non-Islam untuk mengetahui tentang Islam itu sendiri. Saya hanya membayangkan kalau ada banyak orang Islam yang mau melakukan hal tersebut terhadap orang-orang non-Islam maka secara tidak langsung akan ada ribuan atau bahkan jutaan informasi tentang Islam yang akan diketahui oleh orang non-Islam, dan saya yakin bahwa informasi yang benar tentang Islam tadi akan memberikan dampak yang positif terhadap bagaimana orang-orang non-Islam memandang agama Islam.
Orang Islam memang harus bisa bersikap toleran, menghormati orang lain yang berbeda agama. Dalam hal hubungan dengan Amerika yang notabene mayoritas non-Muslim, orang Islam tidak memiliki kewajiban untuk berusaha merubah persepsi orang-orang Amerika tentang Islam. Apalagi jika perubahan persepsi itu harus dipersyaratkan dengan keempat hal seperti yang dikatakan Mbak Nadia tersebut. Tampilkanlah Islam apa adanya. Islam yang sesungguhnya, yang cinta damai tapi juga cinta kebenaran. Islam yang tidak menyukai kekerasan tapi juga berani bersikap keras jika memang diperlakukan tidak adil.
——-
Persepsi tentang Islam akan Berubah oleh Empat Hal !
Yang benar adalah Persepsi tentang Islam akan Berubah diantaranya oleh dua hal:
1. Al A’raaf (7) ayat 52,53: Wajib menunggu-nunggu dan tidak melupakan, datangnya Allah menurunkan Penggenapan Hari Takwil Kebenaran Kitab kepada seseorang di Indonesia awal millennium ke-3 masehi
2. Yohanes 16:12-15: Wajib menunggu-nunggu dan tidak melupakan, datangnya Bapa menurunkan penggenapan Roh Seluruh Kebenaran melalui seseorang di Indonesia awal millennium ke-3 masehi (Yohanes 7:14,15).
3. Ditambah datangnya Hari-Hari Allah sesuai Ibrahim (14) ayat 5, Al Jaatsiyah (45) ayat 14.
Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.
Komentar Masuk (11)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)