Kolom,
18/10/2011

Pertanyaan tentang Hati Nurani Saatnya Membaca Karya Immanuel Kant

Oleh Natalia Laskowska*

Antara pertanyaan-pertanyaan tentang agama kadang-kadang muncul refleksi yang menimbulkan ketidak nyamaan, kegelisahan, dan juga rasa malu karena pikiran kita menuju ke arah yang kita ingin hindari.Apakah iman kita menjadi lebih kuat ketika kita berusaha untuk mendiamkan pikiran-pikiran yang sesungguhnya tak dikehendaki? Mungkin. Akan tetapi saya ingin bagi dengan Anda salah satu pertanyaan seperti itu. Barangkali Anda juga pernah menemuinya.

18/10/2011 14:29 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (16)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Itulah yang dinamakan AGAMA..yang mengatur,membuat rambu2 mana yang boleh dan mana yang ga boleh.Yang boleh yang diwajibkan,sunnah dijanjikan mendapatkan pahala,yg ga boleh yg dilarang mendapatkan dosa.Bicara hal ini kuncinya adalah..BERIMAN TENTANG ADANYA KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN..atau dengan kata lain BERIMAN TENTANG ADANYA KEHIDUPAN AKHERAT.dan hal ini di tentukan TINGKAT KEIMANAN masing2…Orang yang berusaha menahan nafsu selingkuh,berkata kotor dan yg lain yg dilarang agama..tiada tujuan selain mentaati peritah TuhanNYA.Orang yang berkeyakinan semuanya bebas,seks bebas,nikah sejenis,pornografi&pornoaksi; sehingga menimbulkan syahwat publik..sampai2 membenarkan semua agama dengan tuhannya masing2..yang penting hidup di dunia bebas,senang..mungkin orang2 ini berkeyakinan hidup di dunia selamanya..atau tidak akan bertemu dengan tuhan yang menciptakannya…tapi sepertinya hal ini MUSTAHILLLL…..krn kita semua PASTI MENGHADAPNYA…mempertanggungjawabkan perbuatan kita..termasuk dengan paham kebebasan liberalisme..yang semua larangan TUHAN tak di patuhi. 

#1. Dikirim oleh HAQI  pada  18/10   03:40 PM

agama kemanusiaan lbh utama dr agama apapun jg!
inti ajaran dr smua agama adalah kemanusiaan!

#2. Dikirim oleh deskam  pada  18/10   04:00 PM

Akal dan hati nurani kadang bertentangan tetapi juga bergandengan. saling mengkafirkan atau menyesatkan adalah faham kezhaliman alias membodohi pengikut agama atas dasar keyakinan yang perlu di revisi.

#3. Dikirim oleh Ilkia Juhaida  pada  19/10   09:23 AM

sebenarnya agama harus seiring sejalan dengan akal sehat dalam arti yg positif. Kemudian ini yg bergaung bersama-sama menjadi satu keyakinan yg didasarkan oleh iman percaya.

Meyakini satu perintah Tuhan tanpa sedikitpun menggunakan akal sehat juga tidak sehat…krn pengertian yg sebenarnya bisa berbeda, sehingga kita bisa menggunakan akal kita dengan bertanya misalnya atau lain2 hal. Menggunakan akal sepenuhnya dalam beragama juga tidak akan menghasilkan apa2, krn iman adalah hal yg mutlak duperlukan dalam beragama.

Jd inilah sebenarnya yg diperlukan oleh manusia dalam menjalankan agamanya, sehingga kemungkinan banyak terhindar dr hal2 yg sangat merugikan orang lain terutama yg berlainan keyakinan.

#4. Dikirim oleh Bindu  pada  20/10   01:04 PM

Saya menulis komentar setelh komentar #1, #2, #3 dan #4 masuk.

Saya berani bertaruh 100 lawan 1, kalau #1 Haqi adalah beragama islam, tetapi kalau #2 deskam, #3 Ilkia Juhaida dan #4 bindu, saya tidak berani memastikan apakah mereka beragama islam atau tidak. terlihat dari cara mereka berkomentar.

#1 Haqi dan islam, yaaahhhh begitulah mereka, akal sehatnya nggak jalan. Makanya kenapa negara-negara islam banyak terbelakang, karena umatnya tidak dibiasakan menggunakan akal sehat.

Sory ini fakta lho

#5. Dikirim oleh AKAL SEHAT  pada  21/10   04:07 PM

Agama, Akal dan Hati (semuanya dengan Huruf besar)adalah satu kesatuan. Walau dalam satu sisi terkadang ketiganya tidak berjalan dengan imbang, namun di situlah sebenarnya kita akan menemukan perbedaan antara ketiganya.

#6. Dikirim oleh tirmidzi  pada  21/10   04:35 PM

agama harus selaras dengan akal…???
justru akal-lah yang harus sejalan dan sesuai dengan agama, jika agama harus sesuai dengan akal….keimanannya pasti akal-akalan(tipuan belaka)..

#7. Dikirim oleh parhan  pada  21/10   06:31 PM

Tak ada keadilan yang membolehkan pembunuhan kecuai pembunuhan itu sendiri dan itupun hanya boleh dilakukan sebagai cara terakhir jika tidak ada alternatif lain untuk menghentikan suatu pembunuhan.

Tak ada agama yang mengajarkan pembunuhan kecuali agama gila karena tujuan agama adalah untuk menjaga manusia tetap hidup bahkan di kehidupan berikutnya.

Satu hal yang harus disadari adalah tidak mungkin manusia diciptakan untuk agama tetapi jelas bahwa agama diciptakan untuk manusia.

#8. Dikirim oleh sugeng  pada  22/10   01:15 PM

Perhatikanlah ! Setiap manusia apapun agamanya yang dianutnya,  yang hidup jiwanya pasti akan mempercayakan dan menyerahkan kehidupannya kepada Sesuatu Zat, Yang Hidup terus menerus dan Tidak pernah mati, Yang Ada dan Hadir Dimana-mana, Yang Tidak Diciptakan atau Dilahirkan dan Yang Kuasa. Dan mereka ini tidak terjebak pada grafitasi bumi meskipun mereka hidup diatasnya dan senantiasa ingat untuk meninggalkan bumi,  Namun orang yang mati jiwanya cenderung mempercayakan dan menyerahkan kehidupannya kepada sesuatu zat yang diciptakan atau dilahirkan yang bakal mati, roh orang-orang yang sudah mati, kuburan orang mati , dan benda-benda mati, dan yang tidak berdaya. Dan umumnya mereka terjebak oleh ”grafitasi”  bumi dan lupa mati.
      Doktrin iblis (pelopor kejahatan sejak awal kemanusiaan) : Sembahlah Apa dan Siapa saja tetapi jangan sembah Pencipta kalian ! Langgar Perintah dan Larangan Pencipta kalian , agar kalian hidup kekal dan bisa menjadi malaikat ! Cemarkan Dia ! dengan menggambarkan-Nya dengan apa saja ,Putuskan hubungan dengan Pencipta kalian ! dan Jangan bersyukur ”berterimakasih” kepada-Nya secara langsung !, Ikutilah apa-apa yang diajarkan nenek moyang atau tokoh-tokoh agama kalian dan jangan dipertanyakan!,  Bacalah kitab-kitab suci kalian tetapi jangan dipikirkan ! Dengarkanlah nasehat-nasehat agama baik-baik tetapi jangan diamalkan ! Putuskan persaudaraan antar sesama manusia !,  Aniaya ”sakiti ” diri sendiri dan orang lain” juga sesama” ! Gigitlah tangan orang yang menolong kalian ! Nikmatilah fasilitas hidup dengan menghalalkan segala cara ! dan Lupakanlah tentang kematian !
      Demikianlah perbedaan yang mendasar tentang keimanan benar dan salah dari penyembahan manusia sejak awal kemanusiaan.     
    Keimanan yang mutlak benar itu satu dan tidak akan terputus! dan tidak ada setelah kebenaran itu kecuali kebhatilan ”kejahatan dan kepalsuan”

#9. Dikirim oleh M. Dharmawan  pada  23/10   11:01 PM

innalloha ma’ana, immanuel, tuhan bersama kita.

#10. Dikirim oleh wijo  pada  25/10   02:24 PM

Assalamualaikum.
Aku dituntut oleh ilmu untuk berpikir secara akademis, artinya kita harus ber”silogisme” ria, ini berarti harus ada premis minor, premis mayor, dan kesimpulan.
Seorang nabi akan membuat kesimpulan (berupa wahyu) setelah dia dalam kehidupannya mendapatkan pengalaman berharga yang akan menjadikan menjadi premis minor, sedangkan premis mayornya adalah kehidupan masyarakat saat itu yang telah dialaminya selama dia menjalani kehidupan.
Sebagai contoh, diambil dari hadis sahih, katanya saat Aisyah istrinya nabi mangkel pada nabi, maka dia mengatakan aku akan mengikuti ‘Allahnya Ibrahim’, tapi dilain pihak kalau dia lagi mendapatkan kasih sayang dari sang nabi maka dia berubah pikiran bahwa dia akan mengikuti ‘Allahnya Muhammad’.
Kesimpulannya adalah pengertian Allah itu tertangkap atau di ”wujud” kan berupa ajaran kemanusiaan yang disampaikannya sang para nabi tersebut, tentunya sesuai dengan jamannya.
Allah SWT tidak dapat diwujudkan oleh akal manusia, sedangkan apa yang dipelajari wujudnya adalah hanyalah jejakNYA yang dapat dibaca di muka bumi dan langit ini.
Hatinurani memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, yang terbentuk dari pengaruh luar yang demikian majemuk, dan juga dipengaruhi oleh DNA manusia itu sendiri. Yang apabila hatinurani itu disampaikan kepada masyarakat tentunya akan mengalami benturan yang tergantung pada kedudukan masing individu, siapa yang kuat itulah yang menang, tidak tergantung pada ajaran kitab sucinya karena sering dimanipulasi. Jadi sebaiknya itu “intuisi/wahyu” masingmasing disimpan saja untuk dirinya sendiri, dan dilaksanakan oleh dirinya sendiri mengikuti Allah dirinya sendiri.
Dengan demikian maka seyoganya suatu negara haruslah mempunyai kesepakatan bersama aturan atau undang-undang untuk mengatur kehidupan masyarakatnya, yang tentunya merupakan “intuisi/wahyu” dari individu masingmasing berupa undang-undang yang kita kenal sekarang ini, ataupun ‘standard operation procedure’.

Wassalam

H. Bebey

#11. Dikirim oleh H. Bebey  pada  27/10   08:42 AM

agama mensyaratkan kedewasaan,keWARASan akal bagi orang yg mau memeluknya,,kedewasaan adl tanggung jawab,kewarasan adl kemampuan memahami teks,membaca yg tersirat,abstraksi,memaknai…bagian terbesar dari pemeluk agama adl anak2 yg tua,,org2 yg dewasa secara kalender,namun jiwa dan nalarnya tdk pernah berkembang jd dewasa…agama spt suluh,bagi org dewasa yg bijak bs dipakai utk menerangi-menghangatkan-mematangkan,bagi org jahat agama bs jd pembakar-perusak-peneror,bagi anak2 agama adl hal yg membahayakan-menakutkan sama seperti sikap bagian terbesar pemeluk2 agama yg saya sebut tadi…TUHAN bagi mereka adl SANG PENGHUKUM ,pdhl jelas DIA adl AR-RAHMAN WA AR RAHIM…lbh jauh,bagi org dewasa TUHAN adl MAKNA DARI KEBERADAAN KITA/SAYA…

#12. Dikirim oleh bhre wirosobho  pada  28/10   10:14 AM

Ass.wr.wb.
Menurut pendapat saya, memahami ayat suci (misal Al Qur’an)memerlukan akal dan hati yang bersih (bebas dari prasangka dan ketakaburan diri, memiliki nalar yang sehat), bahwa ayat2 tadi adalah narasi tertulis dari wahyu Allah SWT yang disampaikan ke Rasulullah melalui proses rohaniah dan ditangkap Rasulullah serta disampaikan kembali oleh Rasulullah dg bahasa /narasi Arab Al Qur’an) , rendah hati (bahwa sang pembacanya sadar bahwa dia adalah mahluk yg lebih rendah derajat spiritual dan intelektualnya dari Rasulullah)),ikhlas (sadar dan siap menerima hal2 yang di luar jangkauan kapasitas akal dan hatinya)...Kalau beberapa syarat tadi terpenuhi, kemungkinan besar tdk akan ada klaim2 kebenaran yg disampaikan dg dibumbui nafsu amarah, sombong, merasa paling benar (yg lain salah)...karena dia akan sadar sekali bahwa wahyu Allah SWT (dalam teks Al Qur’an) dan penafsiran serta pemahaman wahyu adalah 2 hal yang berbeda…Bukankah menganggap pemahaman/penafsiran sendiri sebagai kebenaran mutlak dari Allah SWT adalah sama dg sikap takabur dan merasa menjadi Tuhan?Apalagi kalau disampaikan dg gaya menghakimi? Rasulullah Muhammad SAW sendir mengajarkan agar penyampaian teks Al Quran harus dilakukan dengan penuh hikmah (keilmuan) dan dg cara yang arief?  Dalam hal ini penggunaan akal dan nurani yang terrawat adalah pra-syaratnya… Wallahu’alam.

#13. Dikirim oleh dadang  pada  28/10   02:17 PM

Jika kita mau melihat mana yang benar dan salah, kita tidak akan tau sebenenarnya kebenaran yang hakiki, karena yang tahu kebenaran yang hakiki hanyalah Tuhan. Namun kita dapat melihat pada hati nurani. Hati nurani dan akal sehat mengarah pada hal yang baik dan benar, jika tidak maka koreksilah diri kita sendiri, kita tidak mungkin menginginkan hal yang buruk. Dengan adanya kebingungan, ketidakgelisahan dan sebagainya, tentang agama, politik, atau apapun, lihatlah ke jauh ke dalam diri kita, hati nurani, apa yang sebenarnya kita inginkan.

#14. Dikirim oleh Fikri  pada  08/11   02:08 PM

Agama memang sering membuat tidak nyaman, membuat pertentangan baik di dalam diri maupun di luar diri kita.

#15. Dikirim oleh Resh Djtinendrya  pada  06/12   07:56 PM

Tentanng adanya kehidupan setelah kematian… pertanyaannya: apa hidup? apa itu mati? sekarang ini kita dalam kondisi hidup atau mati?
Jika agama “HARUS” sejalan dengan akal kemungkinan yang akan terjadi adalah “akal-akalan terhadap agama”. Dalam agama “akal” yang mana yang selayaknya di jalanan???
Yang selalu diperbincangkan yang dicari adalah “AGAMA”...maunya agama yang benar lagi.. Cobalah sesaat berpikir untuk tidak mencari agama..walau agama yang benar sekalipun. Selamanya kita takkan pernah menmukan “agama yang benar”, karena semua mengakunya benar…..???

#16. Dikirim oleh Resh Djtinendrya  pada  06/12   08:11 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?