22/02/2010

Agenda Bulan Maret Pidato Kebudayaan Ulil Abshar-Abdalla

Forum Pluralisme Indonesia berinisiatif menggelar sejumlah pertemuan ilmiah untuk melakukan formulasi gerakan pembaharuan Islam yang lebih sesuai dengan tantangan zaman. Sebagai langkah awal, tahun ini, Forum Pluralisme Indonesia akan menggelar Orasi Pembaharuan Islam yang kali ini akan disampaikan Ulil Abshar-Abdalla.Kegiatan ini akan dilaksanakan pada: Selasa, 2 Maret 2010, Pukul 19.00 – 21.00 WIB di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta

22/02/2010 13:15 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (42)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 3 halaman 1 2 3 > 

Saya pikir kita jangan lupa mencari formula pembaharuan yang juga sesuai dengan tempat (“makaan”) tidak hanya sesuai dengan saat (“zamaan”) saja sehingga proses yang kita perjuangkan itu dapat dirasa oleh jamaknya warga pribumi (pribumisasi). O, ya, kalau boleh usul, gimana kata pembaharuan agama dicari padanan yang lebih pas semisal makna yang dikembangkan dari kontekstualisasi dan aktualisasi.. Syukran..

#1. Dikirim oleh Dedy Mardiansyah  pada  22/02   05:14 PM

Membangun budaya yang kuat hanya bisa bagi masyarakat yang memiliki ruang kebebasan berfikir yang cukup, kecenderungan pemahaman hukum keagamaan kita yang masuk ke ruang privat adalah awal dari menurunnya citra Islam itu sendiri. Seharusnya hukum agama dibangun justru dalam rangka melindungi hak-hak privasi orang. Tak ada paksaan orang menjalan ketentuan agama, karena Tuhan hanya menuntut ketulusannya kan?

#2. Dikirim oleh Abdurrahman Chudlori  pada  23/02   04:44 AM

bila membaca tulisan2 di forum ini semakin tinggi kecintaan pada islam dan seakan terbuka jalan bagi situasi yang lebih baik ke depan. tapi bagi kami diAceh diskusi-dikusi seperti ini adalah barang haram. mohon saran dan masukan apa yang harus kami lakukan dalam situasi aceh yang makin refresif dengan kebijakan syariat islam nya, terutama untuk perempuan dan anak perempuan.

#3. Dikirim oleh sri wahyuni  pada  23/02   12:20 PM

Saya usul agar jangan mamakai kata pembaruan Islam tp apalah yg lain, karena banyak orang Islam yg belum-belum udah menolak kalau bicara soal pembaruan Islam, katanya Islam udah final gak perlu diperbarui. Mungkin lebih baik spt Gus Dur yang nggak usah menyatakan secara resmi, tp terus melakukan pembaruan. Dgn bukti begitu masifnya NU menghasilkan intelektual muda berpikiran modern dan pengaruh Gus Dur thd kehidupan keislaman Indonesia.

#4. Dikirim oleh nurcahaya  pada  24/02   02:46 AM

Setuju dengan “ikhwan” (supaya kelihatan islamis, he, he, he…) Dedy Mardiansyah, bukan hanya istilah pembaharuan yang perlu dipertimbangkan untuk diganti, tapi istilah liberal, sekuler, plural, dsb barangkali juga perlu dipertimbangkan untuk dicari padanannya yang pas (kalau perlu pakai bahasa arab). Istilah tersebut bagi sebagian kalangan tampak menyeramkan, karena seolah-olah produk barat (kalau pakai HP dan teknologi informasi lain tidak pernah terpikir ini produk barat). Padahal kalau didalami secara utuh dan menyeluruh istilah yang “menyeramkan” tersebut ya sudah ada di kitab-kitab klasik abad pertengahan. Saya sudah lama mengikuti situs ini, kayaknya tulisan kontributor JIL belum pernah ada yang “menghalalkan yang haram jadi halal atau sebaliknya yang halal jadi haram”, yang ada selalu merangsang saya untuk terus berpikir dan belajar lebih, JIL memang “sexy dan menggairahkan”. MAJU TERUS !!!

#5. Dikirim oleh Teguhsuseno  pada  24/02   03:01 AM

segala jenis gagasan pembaharu mensyaratkan gagasan pendahulu. di sini saya melihat kerancuan atas konsepsi gagasan pendahulu ini. islam seperti apakah? radikalkah? tekstualkah? terbelakangkah?
saya pikir gagasan keislaman era Rasulullah (yang mana pula ini?) bahkan belum tergapai oleh kapasitas keilmuan maupun instrumen praktikal masyarakat islam indonesia sekarang ini.
bisa jadi…

#6. Dikirim oleh ekajogja  pada  24/02   02:31 PM

Forum Pluralisme Indonesia berinisiatif menggelar sejumlah pertemuan ilmiah untuk melakukan formulasi gerakan pembaharuan Islam yang lebih sesuai dengan tantangan zaman. Forum ini terdiri dari pelbagai lembaga, di antaranya ........Persekutuan Gereja-Geraja di Indonesia (PGI), Komisi Hak Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Gereja Kristen Indonesia (GKI)
Tanya nih Mas, apa yang dapat dilakukan oleh PGI,KWI, GKI, dalam membuat formula gerakan pembaharuan islam yang lebih sesuai dengan tantangan zaman ? pernah dengar belum ya mas :
1. Rosulullah Muhammad shalallahu’alaihi wasalam melakukan formulasi keislaman dengan kaisar romawi dan kisra di persia
2. Abu Bakar Sidiq membuat formulasi gerakan pembaharuan Islam yang lebih sesuai dengan tantangan zaman dengan musailamah al kadzab
3. Imam syafi’i membuat formulasi gerakan pembaharuan Islam yang lebih sesuai dengan tantangan zaman dengan Paus Zakarias
4. Imam bukhari membuat formulasi gerakan pembaharuan Islam yang lebih sesuai dengan tantangan zaman dengan Charlemagne
5. Syeikh Rashid Ridho membuat formulasi gerakan pembaharuan Islam yang lebih sesuai dengan tantangan zaman dengan Charles Taze Rusell.
Gimana nih mas tolong dong diberi pencerahan ?

#7. Dikirim oleh ibnu  pada  24/02   03:42 PM

Kalau bicara tentang kebudayaan, maka pembicaraan itu harus meliput berbagai budaya yang ada di tanah air kita, karena ini konteksnya adalah kebudayaan tanah air kita khan? (kalau kebudayaan dunia jauh lebih beragam, maka batasi saja pada kebudayaan negeri sendiri).

Jangan sampai kemudian oleh pertimbangan agama, maka ada penilaian bahwa kebudayaan tertentu itu adalah maksiat, najis, cabul, dsb-nya.

Sbg contoh, kita kenal salah satu produk budaya nenek-moyang kita dari era kerajaan Hindu, yaitu patung lingga dan yoni,....itu jangan lantas membuat kita berfikiran sempit bahwa patung tsb menyebarkan kemaksiatan,.....
Itu satu contoh saja ya.

Budaya di tanah air kita begitu beragam. Pada masa sekarang ini masih bisa kita lihat di Papua misalnya, dalam bentuk pakaian asli penduduk Papua pedalaman,....jadi jangan mengukur mereka dgn ukuran-ukuran nilai-nilai agama yg kita miliki. Kalau kita menilai pakaian saudara-saudara Papua kita tsb berdasarkan ukuran-ukuran standar kita, wah, itu namanya kita jadi sok suci.

Don’t judge a book by its cover. Wise words ini mungkin sering kita dengar, sekaligus kayaknya sering juga kita lupakan.

#8. Dikirim oleh Anton Isdarianto  pada  25/02   06:21 AM

Kadang menurut saya para aktifis gerakan pembaharuan terlalu percaya diri sehingga begitu frontal melabrak tatanan yng sudah ada.Kedepan saya berharap ada formula baru yng tidak mengandung resistensi yng kuat dari masyarakat.

#9. Dikirim oleh Agah.handoko  pada  25/02   03:25 PM

Kalau namanya Jaringan Islam Liberal, seharusnya sebagi jaringan, JIL mendirikan cabang di daerah seluruh Indonesia, termasuk Malang dan Madura agar para peminat JIL tidak hanya berkecimpung lewat dunia maya, tetapi juga wadah yang kongkret. Sangat sayang bila pemikiran-pemikiran JIL yang brilian berkutat di Jakarta saja.

#10. Dikirim oleh Royyan Julian  pada  26/02   04:57 AM

Saya sendiri sebagai orang kecil yang tak berilmu dan tak berpengetahuan sangat mengapresiasi usaha Forum Pluralisme Indonesia untuk mengadakan orasi ilmiah guna menformolasi ulang gerakan yang sesuai dengan situasi dan kondisi dimana agama itu dipraktekkan. Karena langkah itu akan menghapus atau setidaknya mempekecil jumlah kelompok-kelompok yang berbau eksklusif yang maunya memandang kedalam terus tak mau mengarahkan pandangannya keluar dan yang menafikan kerelativan kebenaran sehingga mereka langsung mengecam atau memberangus kelompok lain yang dianggap keluar dari klimaks kebenaran ala mereka.

#11. Dikirim oleh Mohammad Hafiedz Anshary  pada  26/02   06:19 AM

Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rosul Allah…

semoga sukses. Tapi kapan JIL ngomongin soal yang lebih pro rakyat. Misalnya soal kemiskinan yang didera sebagaian besar umat islam?

#12. Dikirim oleh jos  pada  26/02   09:41 AM

Setuju, segala sesuatu pasti bisa berubah, kecuali keyakinan terhadap Tuhan, yang tidak bisa tergantikan oleh apapun jua. Saya rasa banyak yang akan pro dan kontra. Yang pro pasti diam saja, dan yang kontra pasti akan teriak dengan mengatasnamakan kemurnian agama yang dianutnya, dan memanfaatkan “wajah garang” agar bisa diliput oleh Pers.
Pembaharuan apapun sudutnya memiliki 3 indikator:
1. Pembaharuan harus didasarkan kepada kepentingan yang lebih luas, daripada sekedar kepentingan kelompok, golongan, bahkan budaya lintas batas;
2. Pembaharuan tidak akan berhasil apabila yang menjadi pembaharu terkontaminasi oleh kepetingan sesaat (instant)
3. Pembaharuan agama, pada hakekatnya pembaharuan pemikiran yang didasarkan kepada kajian konteks, dan harus berani mengatakan bahwa sesuatu yang dianggap sakral dalam ritual agama itu adalah pengaruh budaya dimana nama agama itu berasal, dan tidak bisa dipaksanakan ritual (yang seharusnya ciri kebudayaan) tersebut kepada masyarakatyang telah lebih dulu memiliki budaya yang tentu berbeda dengan budaya pendatang itu. Jangan-jangan jenggot,berkopiah putih dan surban putih dan anti memakai sepatu yang menutupi tumit itu adalah ciri budaya pendatang, yang kemudian seolah-olah menjadi keharusan, dan akan berubah menjadi kekuatan besar yang akan menggusur budaya lokal

#13. Dikirim oleh nursalman  pada  26/02   03:03 PM

saya berharap admin islamlib.com berkenan mempublikasikan hasil diskusi, seminar, dan sebagainya dalam format mp3 agar bisa optimal diserap oleh pemerhati…
agar teman-teman (termasuk mahasiswa rantau seperti saya)yg tidak bisa mengakses internet dalam waktu lama dapat belajar banyak dari rekaman tersebut…

#14. Dikirim oleh irwan karnadi  pada  27/02   06:21 PM

Salam,

seharusnya, sebagai sebuah jaringan, JIL mendirikan cabang di seluruh Indonesia agar peminat Islam Liberal tidak hanya berkutat di jalur online saja, tetapi dapat melakukan kegiatan yang konkret.

#15. Dikirim oleh royyan julian  pada  01/03   01:30 AM

ak berharap kelak paham pluralisme dapat terwujud sesuai dengan apa yang kita impikan…

#16. Dikirim oleh bentogod  pada  01/03   06:04 AM

Aku datang ahh ke TIM, siapa tahu bertemu dengan teman-teman dari garis keras yang suka mengaku sebagai polisi sipil,  juga ikutan dateng

salam

#17. Dikirim oleh GukEdi  pada  02/03   03:09 AM

ayo JIL buka cabang di daerah-daerah kami butuh darah segar demi terwujudnya ketentraman di dunia dan akherat. untuk info saja kami-kami di Aceh seperti terkungkung saat ini, bayangkan saja bagaimana masifnya orang-orang menghujat waria yang bikin kontes baru-baru ini di banda Aceh, sementara perempuan yang diperkosa oleh WH 9wilayatul hisbah) tidak jelas bagimana nasibnya bahkan para pecinta “islamisasi” itu ramai-ramai menulis opini membela para pelaku pemerkosaan, makin hari Aceh makin fasis!

#18. Dikirim oleh sri wahyuni  pada  02/03   08:48 AM

pola fikir kalian itu akan membawa kalian ke jalur yang hina. sadarlah saudaraku hidup jangan mencle-mencle, kalau udah itu yang digariskan oleh Allah SWT melalui firmannya di dalam Alqur’an dan sabda Rasulullah SAW dalam hadistnya yang sahih, dan ijtihad2 yang benar2 berlandaskan pada alqur’an dan hadist ya laksanakan aja apa sushanya sih. sesungguhnya Allah lebih tau tentang dirimu dibanding dengan yang lain bahkan dengan dirimu sendiri. Itulah kenapa Allah menurunkan Firmannya agar pikiran manusia itu tidak liar sehingga mereka terbawa kedalam kesesatan.
wis lah rek, hentikan semua pola pikir kalian yang konyol itu sebelum ajal menjemput, karena setelah itu hanya penyesalan yang akan didapatkan.

#19. Dikirim oleh sahrul  pada  02/03   09:11 AM

Kapan JIL mulai mendidik masyarakat ? Rakyat banyak juga berhak dapat menikmati manfaat kebenaran ini.

#20. Dikirim oleh Dipo  pada  02/03   07:57 PM
Halaman 1 dari 3 halaman 1 2 3 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?