Pilpres, Otoritas Kiai, dan Rasionalitas Nahdhiyyin
Oleh Abd Moqsith Ghazali
Mungkinkah ada defisit kharisma dan kian merosotnya otoritas ulama sehingga warga NU tak lagi mendengarkan himbauan atau tawshiyah politik para kiai yang selama ini menjadi panutan mereka? Penting diketahui bahwa dalam kurun lima belas tahun terakhir telah terjadi perubahan mendasar dalam diri warga NU seiring dengan semakin membaiknya derajat keterdedahan mereka terhadap arus-arus informasi. Kaum nahdliyyin sekarang kian rasional, cerdas, dan otonom.
Komentar
Modal berdirinya NU hanyalah “taqlid” doank…
seandainya pada awal NU didirikan telah tumbuh rasionalisme ummat.. maka yakinlah NU hanya dapat berumur semusim jagung.
Dan NU hanyalah alat politis… dan bukanlah wahana keagamaan semata… Agama dalam hal ini sufisme jawa hanyalah di jadikan “dogma” yang terpimpin dengan tidak diberikannya ruang kritis kepada pengikutnya, sehingga sufisme jawa tidaklah boleh digugat barang secuil pun kecuali atas perintah para kyai… yang dengan “feodal"nya seibarat bertengger di puncak stupa borobudur dan harus menerapkan “taqlid buta” agar batu2 di dasar fondasi borobudur tidak berpindah ke lain mazhab… yang tentu berakibat runtuhnya struktur feodalisme sang Kyai NU…
Oleh sebab itu rasionalisme yang dulunya digaungkan muhammadiyyah bener2 menjadi ancaman serius yang serta merta memicu lahirnya NU dengan cara semakin mengkokohkan fondasi feodalisme dalam hirarkie “taqlid buta” pengamalan sufisme jawa…
Kemana-mana NU selalu berkendara feodalisme dan taqlid buta…. termasuk dalam politik…. namun apa nyana feodalisme semakin dibenci nurani ummat manapun termasuk para “chantrik” di dasar fondasi taqlid buta NU….
Lambat tapi pasti NU akan hancur dengan sendirinya ... dan Demikian pula berefek salju dengan semakin terpinggirkannya sufisme jawa dalam jagat “mistis” ummat Islam di Nusantara… Tak akan betuah lagi amalan2 dan wirid kaum Nahdiyin yang selalu di"dogma” kan kepada pengikut Sufisme jawa…
Maka inilah suatu keniscayaan… bahwa isme yang dibangun atas dasar “subyektifitas” Kyai NU akan mulai hancur pula oleh subyektifitas pengikut2nya karena nalarnya tak lagi “adem” dalam kungkungan feodalisme dan taklid buta Sistema NU…
Apakah Modernitas dan teknologi bisa di kompromi dengan cara Taqlid???... tentu saja tidak…. dan ummat pasti selalu tergoda untuk berteknologi dan modern… dan hal itulah yang tak mungkin diwadahi dalam NU yang sejak berdirinya “hanyalah” bermodal Taqlid semata… farewell NU… di manapun ....hasil subyektifitas manusia akan berakhir pula oleh subyektifitas manusia lainnya…. Rest in peace NU….
Good point. Itulah kalau para kyai pada main politik, maka lama kelamaan masyarakat sekitar pada gak percaya lagi sama mereka, karena partai politik itu urusan dunia yang bisa diplintir2. Para kyai mestinya adalah gembala umat yang tidak memihak pada partai politik tapi kebenaran yang hakiki. Kita juga sering mendengar judgement yg sering tidak bermutu, misalnya dlm pilpres kali ini kenapa seolah-olah banyak kyai yang melegitimasi bahwa JK-Win seolah2 lebih Islami dripada yg lain, padahal sama2 Islam dan saya cukup tahu bahwa SBY dan Bud dlm latar belakang kesehariannya juga lebih bersih dibandingkan lainnya. Untungnya cuma 12% yg percaya, tapi itu mengurangi kepercayaan 88% pemilih (SBY-Bud dan Mega-Pro) yang 90% juga beragama Islam thd statement para kyai. Tapi saya bersyukur bahwa rakyat Indonesia ternyata tidak bodoh lagi.
Selain warga NU sudah tercerahkan cara berfikirnya, ini juga tak lepas dari penurunan kharisma para Kyai. Sebagai warga NU saya pribadi sudah mulai muak melihat gaya hidup beberapa elite NU yang mengaku sebagai kyai mereka hidup bergelimpang kemewahan, merebutkan kekuasaan baik di bawah maupun sampai atas dan masih banyak lainnya. Hanya sedikit Kyai yang masih konsisten dengan Kekyaiannya. Kondisi memuakan inilah yang membuat warga NU ogah mengikuti saran mereka.
Pilpres merupakn ajang utk meraih tampuk kekuasaan. Adalah hak umat utk bisa dgn leluasa memilih siapa yg pantas utk dijadikan sbg pemimpin. Kiai hendaknya memberikan keleluasaan kpd umat utk memilih siapa yg dikehendaki utk dipilih menjadi pemimpin. Kalau saja pengaruh Kiai bersumber dari dlm hati yg lurus disertai dgn akhlak fadilah, tentu keinginan Kiai akn sama seperti hasil quick count.
Dikalangan nahdiyin kiyai & habaib dianggap sebagai “tuhan”, sehingga apapun yang dikatakan kiayi/habaib merupakan firman. Keadaan demikian selalu dimanfaatkan oleh kiayi/habaib untuk memperoleh keuntungan, lebih lebih pada zaman Belanda dan pada masa orde baru. Dalam pandangan santri NU, kiayi tidak pernah salah (makhsum). Masih ingatkah ketika seorang kiayi pemimpin negara ini bermasalah kemudian dijatuhkan oleh parlemen, bagaimana pendukungnya? (Mungkin setelah mendapat fatwa dari kiayinya)mereka menghancurkan sekolah2 Muhammadiyah, rumah sakit dsb, menebang pohon2 dipinggir jalan dan dibuang ketengah jalan, sehingga mengakibatkan kemacetan yang luar biasa. Ketika hal itu ditanyakan kepada kiayinya, kiayinya hanya bilang: “untung yang ditebang bukan lehernya” . Ada kiayi lagi yang menghalalkan darah Amien Rais, walaupun setelah itu kiayi ini minta maaf. Lain lagi penilaian nahdiyin terhadap habaib, mereka menganggap habaib keturunan rasulullah SAW sehingga doanya makbul sehingga makin suburlah peraktek2 zikir yang dikoordinir oleh para habaib yang mungkin saja zikir yang dilakukannya tidak sesuai dengan ajaran rasulullah SAW. Karena para habaib ini mempunyai massa yang banyak mereka mempunyai posisi tawar yang tinggi untuk negosiasi dengan partai politik untuk memenangkan partai politik tersebut dalam pemilu/pilpres, ujung ujungnya yah tau sendirilah. Kita pernah melihat baliho yang mengajak ummat islam untuk berzikir bersama wapres JK beberapa waktu yang lalu, tetapi majlis zikir SBY (juga bersama kiayi barangkali)saat sekarang lebih unggul.
Kondisi ini semakin menambah keyakinan saya bahwa agama dan politik tidak akan pernah bisa dicampur adukan. Saya pribadi sangat bersyukur karena calon yang dijagokan NU dan Muhamadyah akhirnya keok, dan akhirnya umat islam semakin cerdas dalam kehidupan sehari-hari. Saya menghimbau seluruh saudara-saudaraku umat muslim, percayalah AGAMA DAN POLITIK ITU IBARAT MINYAK DAN AIR. Seperti apapun teknik yang dipergunakan untuk mencampuradukan, kagak bakalan bisa menyatu. Hanya sayangnya sebagian umat muslim masih saja percaya dengan propaganda dari partai-partai islam macam PKS, PPP, PKB, PBB dll. Tidak ada itu yang namanya berpolitik yang dialndasi oleh nilai-nilai agama, bullshit semuai itu. Dalam politik tidak ada kawan dan lawan abadi. Yang ada adalah kepentingan abadi. Politik penuh dengan hal-hal yang bisa dinegosiasikan, sedangkan agama apakah bisa dinegosiasikan? Jangan-jangan nanti di tahun 2014, partai islam di Indonesia akan mengikuti cara-cara kampungan saudaranya di Malaysia yaitu PAS (Partai Islam Malaysia), dimana ketua PAS sampai memfatwakan umat muslim Malaysia yang dalam pemilu memilih PAS, bakalan masuk sorga!!!!. Astagafirulah, demikian murahnya ayat-ayat suci dijual di panggung-panggung politik! Namun apa lacur umat kita masih bodoh, sedemikian gampangnya dibujuk dan diprovokasi asal ada emebel-embel islam didalamnya.
Ingat pemilu 2014, tinggalkan partai agama, pilih partai sekuler, dan marilah kita bersama-sama melihat kehancuran partai-partai agama, termasuk PDS partainya umat kristen.
Buat kabayanist yang sinist.. Menurut saya NU tak hanya bermodal “taklid buta” seperti yang ada katakan karena dalam NU telah ada rasionlitas sejak berdiri dan itulah yang membuat NU besar sampai sekarang, NU sangat demokratis, warga NU bisa berbeda dalam pilihan politik tapi mereka TETAP NU, jadi jangan menggeneralisasi urusan politik dengan ke NU an dengan begitu dangkal ataukah anda begitu membenci NU sehingga anda berkomentar seperti itu…saya berharap dalam berkomentar anda harus memperhatikan etika dan sopan santun, seolah olah anda yang paling hebat sehingga mendeskriditkan organisasi NU bahkan membenturkan perbandingan dengan organisasi lain yang saya yakin meraka tidak seperti yang anda ucapkan…Apakah anda tidak melihat kenyataan dan bukti yang ada sekarang ... NU tetap tenang dan damai tidak terpengaruh menang atau kalahnya pilihian politik dari Pak Kyai..perbanyaklah sholawat agar hati anda tidak penuh dengan kedengkian dan iri hati, saya harap anda lebih hati hati lagi dalam berkomentar karena perbuatan anda akan berbalik kepada anda nantinya. Allohuma sholi ‘ala Muhammad wa ‘ala Ali sayidina Muhammad.
ini pelajaran bagi politikus masa mendatang. untuk cari suara tidak usah merengek ke kyai, kyai sudah tidak berpengaruh dan tidak dapat mempengaruhi terhadap perolehan suara dari para santri, apalagi masyarakat sekitar ponpes. Semua ini buah dari ulah kyai yang suka jual ayat-ayat, jual doa, nglarang-nglarang karena ada maunya, tanpa peduli dengan lingkungan. ponpes menutup diri dengan tembok besar kehadiran masyarakat lingkungan ponpes, mereka memerankan diri bagaikan raja, minta disembah. mereka tidak sadar bahwa masyarakat telah berubah dalam berperilaku dan mengambil keputusan, tidak harus sendiko dawuh marang kyai. Ini semua karena teknologi informasi yang lebih bisa mempengaruhi masyarakat daripada kyi yang rata-rata gaptek. selamat jalan
kyai tugasnya adalah membuka jalan ke surga, bukan membuka jalan ke tampuk kekuasaan.Bila itu di langgar, maka kyai yang ada sekarang adalah sama dengan ahli kitab yang suka memutar mutar lidahnya, hanya bisa mengajarkan tapi tidak bisa melaksanakan. seperti yang tercantum di Alquran, dimana sangat di benci Allah.
kan emang ada agenda desentralisasi kyai.
saya sih berpikir sederhana saja, sesuai yang saya rasakan dan perhatikan kehidupan kaum nahdiyin baik, soal pilpres mereka bukan rasional/cerdas/tidak manut.api justru mereka sedang mengamalkan pelajaran yang diberikan kebanyakan “ulama-ulama” mereka sejak dulu. yakni “pragmatisme” .jangan pungkiri kalo banyak kiyai lebih senang bergaul dengan orang kaya(pasti karena mengharap cipratan duniawinya) dan itu disaksikan oleh mata dan kepala umatnya.jadi soal pilpres siapa yang mereka anggap telah memberi ya mereka pilih.
Hal tersebut adalah wajar dan sebetulnya sudah dapat diprediksikan. Setidaknya ada beberapa fenomena yang menjadi faktor pemicu hal tersebut, antara lain:
1. Masyarakat pemilih semakin melek politik, terutama di kalangan warga Nahdliyin.
2. Terjadinya deparpolisasi dikalangan kyai, sehingga tongkat komando kurang membidik pada sasaran
3. Yang jelas, iklim demokratisasi di negara kita semakin membaik
seharusnya mereka bisa memempatkan posisinya masing masing..
politikus jadi politikus..
kiai jadi kiai..
yang penting sama sama rukun.. ![]()
Partai2 besar penggerak gerbong pilpres malah yg tdk membawa Islam. Yaitu demokrat, PDIP, golkar, gerindra, hanura. Mereka begitu konsisten mau kemana. sedangkan partai2 Islam malah menunjukkan betapa bingungnya mereka mau ikut siapa…PKS, PAN, PKB, PBB tidak jelas mau ikut siapa. Pas koalisi saja kepala ikut A, badan ikut B, buntu ikut C…siapa yg menang biar masih dapat jatah kekuasaan. Jika pasangan pilpres 2004 selalu diselipin tokoh/unsur agamis, 2009 sama sekali tak ada. yg penting Sipil + Militer. Penolakan SBY terhadap cawapres usulan partai islam, meskipun sungguh menyayat, namun ini membuka mata kita bahwa tokoh (yg ngaku2 islam) sudah gak laku lagi. Minimal itulah pandangan para capres. Kalo dulu ada seruan TNI back to barack, makanya tokoh2 ini back to ponpes aja deh.
anehnya lagi pada saat pernyataan mereka benar2 ditunggu mengenai kelompok radikal / pengeboman misalnya, tak satupun dari ormas/partai islam benar2 berani menyatakan pendapatnya secara tegas dan tdk ngambang. ya paling2 pendapat2 per orang aja itupun disampekan bahwa itu pendapat pribadi…hehehe….trus mau memposisikan dimana kaum agamawan ini??
rasulullah tidak memaksa
rasulullah tidak memprovokasi
rasulullah tidak menghasut
rasulullah tidak memfitnah
rasulullah tidak menyuruh-nyuruh
Beliau lembut,
beliau sederhana
beliau suri teladan
beliau bersinar
beliau didoakan keselamatannya
beliau dicintai kaumnya
ALLAH..
berikan keselamatan pada beliau, teladan kami.
Mungkin di pesantren perlu di ajarkan ilmu politik kali ye,biar para kyai di dengar tausiyahnya.
tuk para kyai NU belajarlah dari pengalaman itu bahwasanya politik praktis hanya akan memecah belah umat Islam, dalam hal ini adalah umat NU, juga terkikisnya wibawa kyai.
tuk kyai lagi : katakan yang benar itu benar dan katakanlah yang salah itu salah biarpun pahit adanya. jangan tafsirkan kebenaran berdasar kepentingan golongan ataupun pribadi.
tuk warga NU : kyai juga manusia…ada salah…ada khilaf maka berpedomanlah pada Qur’an dan Hadist (soheh) insya Allah benar adanya.
tuk semua mohon maaf bila ada yang tidak berkenan semua hanya tuk kebaikan semua.
“Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak”.
Sebenarnya gejala independensi kaum Nahdliyin ini sdh tampak pd Pilpres 2004, yakni ketika KH Hasyim Muzadi dijadikan “vote getter” oleh Megawati! Logikanya, krn Ketua Umum PBNU yg dicalonkan sbg Wapres maka sebgn besar kaum Nahdliyin akan memilihnya! Nyatanya? Nah, kesalahan dlm “menangkap sasmita” ini ternyata diulangi oleh elite NU dlm Pilpres 2009, bahkan skrg ditambah dgn elite Muhammadiyah! Menurut saya, kl organisasi NU (plus skrg Muhammadiyah!) “tanggap ing sasmita”, maka tdk akan terjadi situasi konyol dmn ELITEnya dikooptasi oleh Capres tertentu tapi umatnya mbalelo! Sehrsnya spt NU atau Muhammadiyah itu netral saja, serahkan kpd masing2 pemilih, mrk sdh cukup pintar kok!
peran politik para kyai sudah tdk didengAR oleh umatnya…cuma elit parpol aja yg bodoh.mau dimanfaatkan para kyai,,lgpula kyai bukan nabi yang harus didengar petuahnya??mending para kyai ngrurusin umat yang msh berantakan.kasihan umat dibodohi terus,oleh kyai&elit;parpol,apalagi kyai NU…inget Tuhan kita
ini benar2 pelajaran bagi kita semua apalagi buat para kyai yang ingin maju sebagai kepala daerah atau sejenisnya sebaiknya menyadari fungsinya masing2. Para santri perlu dibimbing bukan digiring. Kembalilah ke asalnya masing2 karena mereka (para santri) menuntut ilmu bukan karena kyainya seorang pejabat, tetapi lebih ditekankan pada ilmu pengetahuan agama dan kharisma sang guru. Kalau para kyai sudah berlomba-lomba ingin menjadi pejabat, sebaiknya kita semua sebagai rakyat tidak memilih kyai tersebut. Ingat Pak Kyai bagaimana dulu sewaktu mau mendirikan Pondok Pesantren dengan susah payah setelah berdiri malah diserahkan pada orang kepercayaannya untuk mengelola, sedangkan Pak Kyai lebih fokus mengurus pemerintahan. Kalau sudah begini mana Kyai mana Umara’?
Komentar Masuk (21)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)