Pluralisme “?”
Oleh Usep Hasan Sadikin*
Melalui semua penokohan tersebut kita menemukan kuatnya kedewasaan iman. Sejatinya kedewasaan iman merupakan keyakinan yang tak menutup terhadap perbedaan, lalu meyakini dari interaksi perbedaan, keimanan akan terus tumbuh menuju keutuhan. Kurang lebih, itulah makna pluralisme agama.
Komentar
Dulu, waktu saya msh lajang, saya pernah bekerja di rumah seorang pendeta. Sbg orang islam yg msh awam beribadah saya gak ada beban sm sekali. Saya dan majikan berhubungan dg sangat baik. Entah kenapa lama kelamaan agama saya tambah bagus, sholat saya 5 waktu, puasa ramadhan, baca al quran kl hbs maghrib, yg dl jarang saya lakukan. Ditengah lingkungan kristen agama sy tumbuh. Kami jd saling menghormati, pd waktu natal saya ikut menyiapkan pernak perniknya, kl ke gereja saya siapkan injil dllnya. Hebatnya sarung, sajadah dan alquran majikan saya yg beliin. Pernah pd suatu hr saya pernah mengajar cucu pendeta itu surat al fatihah, dia cuma senyum2 saja, dan saya sm sekali gak merasa bersalah. Sekarang sy sudah berkeluarga punya anak 3. Alhamdulillah sudah naik haji. Sungguh..saya sempat menangis sedih ketika ada kabar bekas majikan saya itu meninggal, setahun yg lalu.
orang orang yang aneh…
perbedaan kenapa harus tidak ada
berbeda boleh tapi harus akur
gitu oon
Pengalaman saya mirip banget dengan han di #1
Sebagai mahasiswa jurusan ilmu sosial politik, saya melakukan penelitian mengenai desa adat di sebuah desa di Bali. Berbekal referensi seorang sahabat sekampus, saya tinggal dirumah seorang jero mangku (Pendeta dalam agama hindu) selama lebih dari 4 bulan. Masjid terdekat dari desa tersebut sekitar 12 km dan setiap hari jumat jero mangku atau salah satu anggota keluarganya dengan setia membonceng saya ke masjid itu untuk jumatan. Tanpa beban, jero mangku atau anggota keluarganya menunggu saya sampai selesai sholat. Makanan pun selalu dimasak terpisah walaupun saya tidak menginginkan sampai seperti itu. Dalam perjalanan kembali ke Yogya, saya iseng membuka sebuah bungkusan yang diberikan oleh jero mangku tsb. Air mata saya menetes, sebuah sajadah yang dibuat dari jalinan rotan hasil karya jero mangku tersebut sampai saat ini tetap menjadi salah satu barang terpenting saya. Sampai sekarang saya sering termenung, kenapa sikap pluralisme, penuh cinta kasih dan kedamaian “masih sulit” ditemukan diantara pemuka agama kita? Rasa-rasanya MUI hanya tersenyum kalau umatnya dengan garang berteriak-teriak di jalan, mengancungkan pentungan dan meneriakan takbir allahu akbar!!!
Pluralisme bukan toleransi.
Waktu mahasiswa, saya bekerja di pastoran(katolik), saya muslim, dan romo selalu mengingatkan saya, kalau waktu sholat tiba, dan menyuruh saya berhenti dan sholat. Kalau puasa, saya selalu diingatkan kalau waktu makan sahur. Saya bekerja dan tidur di pastoran tersebut selama 4 tahun, sampai saya lulus S1. Dan hubungan saya dengan pastor (pastor mahasiswa) sangat dekat sampai sekarang. Dan ketika saya kawin-pun para romo juga datang. Saya tidak tahu, apa namanya hubungan ini. Tapi saya sangat menyanyangkan kalau umat Islam terlalu keras, dan tidak bertoleransi terhadap agama lainnya.
orang-orang liberal ANJ*NG semua!!! semoga Allah menempatkan kalian di neraka yang paling dasar!!!
Hampir semua komentar disini setelah saya baca, menitikkan pada toleransi. Beda halnya dengan pluralisme, dimana agama yang sudah ada aturannya, dicampur adukkan. Toleransi sangat dihargai di Islam, dan sudah seharusnya ummat Islam seperti itu.
‘tuk Makmum Mahdi (#6). Saya pikir Allah tidak akan menempatkan anjing di neraka karena anjing adalah binatang yang setia. Bahkan, dalam beberapa hal kesetiaan anjing jauh lebih baik daripada manusia. Banyak manusia yang akhlaknya jauh lebih buruk daripada anjing. Selain itu anjing juga hewan yang lucu. Pada sebuah cerita dalam agama yang saya anut, ada anjing yang terlahir di surga karena ketulusan dan kesetiaannya.
Salam damai dari penggemar anjing.
@ makmun mahdi
Orang nggak sopan kayak kamu nggak usah nyebut nama Allah
Untuk moderator sebaiknya kata2 yg nggak Islami kayak si makmun nggak usah dimasukkan aja.
@makmum mahdi
rupanya mulut anda lebih berbahaya dari teror bom. tanda orang alim itu berbicara santun dan mendoakan yang baik2 meski terhadap musuh sekalipun. saya kasihan kepada anda. kebencian anda kepada jil sampai melenyapkan akal budi anda. jika anda kurang setuju dengan gagasan jil, bantahlah dengan cara cerdas. orang yang bisanya cuma memaki-maki lebih pantas hidup di jaman jahiliyah.
saya, seorang muslim, juga punya pengalaman toleransi yang bagus, wajar, dan representatif. saya mengontrak rumah bersama teman2 yang bekerja di beberapa perusahaan dan instansi pemerintah. ada dua orang nasrani dan lainnya muslim cukup taat rajin solat ke masjid. teman saya yang nasrani hidup damai di situ tanpa ada intimidasi atau diskriminasi. tidak ada lecet sedikitpun pada kulitnya yang diakibatkan kejahatan kami. yang muslim tak pernah menghalangi yang nasrani pergi ke gereja. bahkan, ada teman saya yang muslim tidak keberatan beberapa kali mengantar jemput teman nasrani itu ke bandara dalam rangka tugas perusahaan. dan saya yakin praktek toleransi serupa banyak diterapkan oleh umat islam di indonesia.
tak lupa, pesan saya kepada rekan2 sekalian agar tidak terlalu lugu terhadap media massa yang hendak mengadu domba kita. media massa hanya mengerti logika oplah, rating, dan sejenisnya. waspadalah rekan2. salam
@ Makmum Mahdi : Ah, ngmngnya kasar… Itukah umat Islam??? Di dunia maya yang di baca bnyak orang saja ngmng seperti itu!!! Bagaimana khidupannya??? Argumen boleh bung… Tapi tidak dengan kata” kotor dan keji seperti itu…
@ makmun mahdi
Uhuuuk bagaimana citra sebuah agama tidak mengerikan kalau gambaran umatnya seperti anda.?
Memaki seperti itu atas nama Allah >> sangat merendahkan Allah.
Tanpa anda sadari anda memberikan gambaran ” kira-kira ” seperti itu lah ALLAH anda .
Mencintai Allah tanpa OTAK sama dengan laut tanpa garam
pluralisme adalah sesuatu yang menghilangkan indetitas agama, dan pantaskah orang yang tidak mencerminkan agamanya sendiri disebut pemeluk agama tersebut? dan jika kalian menganggap perlu adanya pluralisme, berarti secara tidak sadar anda sendiri telah mengganggap islam adalah agama penuh tindak “kekerasan” yang perlu dihilangkan “kekerasannya”. Dan perusak nama islam itu bukan hanya teroris “yang asal mengatas namakan agamanya untuk membunuh” saja, anda pun salah satunya, yang telah merusak akidah agama anda sendiri!
Mohon maaf bila banyak kata” tidak berkenan
Indonesia memberi hak bagi rakyatnya untuk berpendapat
Dan saya bukan bermaksud memihak sesuatu pihak radikal maupun liberal, saya hanya ingin membela islam yang saya percayai
Terima kasih atas perhatian anda akan pendapat saya
Wassalam
sikap plural tidak harus menggadaikan keimanan seseorang,ada batasan-batasan sikap toleransi yang harus dijaga,tidak ada suatu sikap yang kebablasan akan memberikan kebaikan wallahu a’lam
Orang-orang yang digambarkan dalam film ini adalah org-org yang mempunyai iman yang sudah dewasa. Tidak terganggu hanya karena berinteraksi dengan umat lain.
Orang yang masih takut dengan Pluralisme adalah org-org yang hanya memiliki pengetahuan agamanya tanpa menghayati makna yg tersirat dibalik ajaran agamanya. Atau org-orang yang mempunyai kepentingan politik tertentu seperti yang terlihat pada sikap MUI selama ini. Menggunakan ilmu dan stastusnya membodohi umatnya untuk kepentingan tertentdu. Baca lagi pernyataan ini dr tulisan di atas: “.....Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat Islam wajib bersikap eksklusif, dalam arti haram mencampuradukan aqidah dan ibadah umat Islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk lain…..” . Sungguh di sayangkan karena sejak lahirnya Islam sudah ada banyak interaksi antar agama saat itu. Yahudi - Katolik dan Islam. Baca saja kitab suci ke-3 agama Timur Tengah ini. Sangat erat hubungannya satu sama lain. Ayat-ayat yang terdapat di kitab suci agama Yahudi, ditemukan juga dalam ayat-ayat kitab suci agama Katolik (Kristen) dan Islam. Sebagian ajaran adalah kelanjutan dr ajaran agama Yahudi. Nah, mengapa sekarang org lalu mengharamkan adanya interaksi agama? Pada hal nilai-nilai ajarannya mempunyai kesamaan bahkan mempunyai hubungan historis yang tak dapat dielakan dengan dalil apa pun.
Yang terpenting bukan menghafal ayat-ayat atau kalimat yang ada dalam kitab suci tetapi menerapkannya dalam hidup kita sehari-hari…
Untuk beragama, saya cukup kritis, karena saya memandang mengapa peperangan/kekerasan cenderung terjadi karena sentimen pemahaman dalam keagamaan yang berbeda -beda? Ketika saya tinggal di Jepang. Mereka cuma ada agama Shinto dan atau Budha. Tidak ada perpecahan diantara mereka, sehingga mereka dengan tenang menjalankan aktivitas didunia karena memang ia perlu hidup. Saya pun pernah tinggal di Kuwait. Masyarakat di Kuwait tak mempersoalkan anda akan menyembah Tuhan anda dengan cara apa dan bagaimana. Itu artinya keyakinan/agama merupakan hal privat, tak seorangpun bisa mencampuri apalagi pemerintahnya.
Ketika saya ngobrol dengan orang asal India beragama Sikh, dari Thailand (Budha), dari Italia (Katholik Roma), dan dari Libanon (Kristen Maronit); saya bertanya: siapakah yang menciptakan bumi dan alam seisinya yang indah ini? maka ditemukan jawaban yang senada: Tuhan atau Allah (menurut bahasa mereka masing2). Apa jadinya kalau Sang Pencipta bumi ini berbeda beda Tuhannya, maka mungkin saja air laut ada yang berwarna Kuning di ujung sana, dan merah di belahan sana. Dan mungkin saja antar Tuhan yang mereka yakini itu bisa saling mengklaim wilayah di bumi maupun di Planet… Wah bisa runyam. Nah ketika perbedaan itu terjadi…, mengapa Allah juga mendiamkan saja? Kalau Allah tidak berkenan dengan salah satu agama di bumi ini, apa susahnya bagi Allah untuk melenyapkannya? Ternyata Allah pun tetap sayang kepada makhluk ciptaanNYA, baik yang beragama apapun sampai yang tidak memiliki agama… Kalau boleh saya mengklaim juga: bahwa Allah mendiamkan/membiarkan umat manusia untuk menyembahNYA dengan berbagai cara dan ragam, maka itulah bagian dari kedinamikaan kehidupan dunia ini. Ternyata dengan adanya agama agama masyarakat menjadi dinamis. Organisasi keagamaan ternyata juga menjadi daya dukung pilar2 ekonomi masyarakat/ bangsa. Ada Muhammadiyah yang memiliki RS dan Perguruan Tinggi/Sekolah2. Berapa ratus ribu orang yang mendapatkan rejeki karena ada yang disebut agama? Belum lagi NU dengan ribuan santri, sudah tentu ada saling ketergantungan dalam kedinamikaan hidup. Demikian pula di Agama lain, pasti mereka juga menerima limpahan nikmat kehidupan. Jadi? kenapa harus repot dengan Pluralisme. Jangan2 yang anti pluralisme takut kehilangan kenikmatan dunianya, karena sudah cukup nyaman dengan kemapanan yang diraihnya…
@ untuk Sdr. Makmun
Anda mengkalim bahwa surga itu hanya milik anda? dan yang lain yang tidak sepaham dengan anda akan masuk neraka? Ah.. itu kan bisa bisanya anda. Itu kan keyakinan agama anda. Boleh saja orang lain yang berkeyakinan beda, berpendapat : Anda tidak akan ada dan tidak akan diterima di surga maupun di neraka sesuai dengan keyakinan agama saya. Untuk JIL, biarkan saja Sdr. Makmun ini diberi ruangan di rublik ini sekaligus untuk mengukur kedangkalan ilmu yang dia miliki, dan juga untuk menunjukkan beginilah pemahaman agama anda.
ketika anda berkata “semua agama adalah sama”, sangat tipis perbedaannya dengan anda berkata “semua agama salah”. karena anda telah menyalahkan seluruh agama yang rata-rata memiliki klaim kebenaran eksklusif. dan dengan demikian, hal itu sangat dekat dengan ateisme.
pluralitas agama tidak bisa diselesaikan dengan solusi teologis macam pluralisme. karena itu hanya akan menambah konflik saja. islam memberikan solusi sosiologis terhadap realitas conflicting truth claims. karena itu sebenarnya hakekat ontologis yang genuine yang tidak bisa diselesaikan. sehingga solusi yang mungkin adalah pada ranah syari’ah.
pluralisme hanya akan menjadi musuh baru dalam conflicting truth claims.
Komentar Masuk (45)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)