Kolom,
11/03/2010

Pluralisme Agama di Indonesia: Masihkah Kita Bisa Berharap?

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Seseorang tak bisa dikriminalisasi karena yang bersangkutan memilih sekte dan tafsir tertentu dalam beragama. Kementerian Agama tak boleh mengintervensi dan menjadi hakim yang bisa memutus tentang sesat dan tidaknya suatu tafsir dan ritual peribadatan. Seseorang bisa dikriminalisasi bukan karena yang bersangkutan menjalankan ritus peribadatan tertentu, melainkan misalnya karena di dalam ritual itu terdapat tindak kriminal seperti kekerasan yang merendahkan martabat manusia.

11/03/2010 09:29 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (59)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 3 dari 3 halaman < 1 2 3

setiap diri bebas menentukan apa yang dipilih dan akan dikerjakannya, dan setiap diri bertanggung jawab penuh terhadap apa yang dipilihnya, karena pendengaran, penglihatan, dan hati akan ditanya olehNya, jadi, boleh-boleh saja seseorang, bahkan semua orang juga boleh ingkar kepada kebenaran, yang mana kebenaran itu sejatinya sudah ada dalam dirinya sendiri, apabila dia mau mensucikan diri, tapi ingkar juga termasuk pilihan. so, the Liberals, do what you want to do, and, take the responsibility yourself, and, now, what we have to do is waiting

#41. Dikirim oleh siti zulaikha  pada  15/04   05:07 AM

Agama bukan untuk diperdebatkan tapi untuk dijalankan. Semua berharap masuk surga, hanya Alloh yang maha benar.

#42. Dikirim oleh nui  pada  15/04   11:03 AM

Maaf kalau komentar saya melenceng dari artikel. slogan Jil menuliskan Allah Tuhan semua agama. Saya kira org kristen ga mau Tuhannya disamakan dgn Tuhannya org islam begitu jg sebaliknya, saya ga mau Tuhan saya di samakan dgn patung yesus, dan org hindu jg ga mau kalo Tuhan mereka sama dgn Tuhannya org Islam. Dan di Al Quran Alloh hanya meridhoi islam sbg agama bagi umatnya…dan ga mau ada Tuhan selain dia.

#43. Dikirim oleh Habibah  pada  22/04   12:29 PM

Islam menganjurkan penganutnya agar saling bertoleransi, baik yang seagama maupun beda agama. kalau pluralisme diartikan sama dengan toleransi saya dan umat islam yang lain sangat setuju. tapi sebenarnya apa yang JIL inginkan dari pluralisme ini? kalau dikatakan bahwa semua agama adalah sama….......... sangat bertentangan dengan ajaran tahid. pluralisme yang semacam ini hanyalah rekayasa awal dalam menghancurkan kesatuan umat islam, yang dalam hal ini orang-orang orientalislah yang mempengaruhi islam untuk bergaya hidup pluralisme (ala barat). jangan samakan ketauhidan antar agama, samakanlah dari segi sosial, ekonomi, dll.

#44. Dikirim oleh miftakhul ulum  pada  28/04   07:31 AM

patut direspon oleh para pejuang ideologi pluralisme agama atas adanya kehawatiran munculnya tindakan yang berbau kriminal oleh pengikut ideologi ini terhadap kelompok yang memandang bahwa pluralisme berada dalam kebenaran nisbi. Kesan kuat bahwa sebagian pejuang pluralisme agama terjebak dalam absolutisme yang hampir sebanding dengan absolutisme yang tertanam pada kaum radikal. Akibatnya, nilai-nilai humanitas yang menjadi spirit awal perjuangan pudar justru yang muncul nilai dehumanitas;sikap superior, merendahkan, menyalahkan kelompok lain. Apa bedanya dengan kelompok radikal yang mentasbihkan diri mereka sebagai “tentara” Tuhan, tetapi tindakan mereka justru melecehkan Tuhan. Saya yakin selama kita tidak memiliki sikap tawadlu’ (berada dalam kesadaran tinggi sebagai hamba Allah yang masih berada dalam proses menjadi/on be coming sehingga oleh Al-qur’an disebut Insan)dalam memperjuangkan kebenaran yang kita yakini, maka sesungghunya, kita telah menjadi penentang pertama terhadap apa yang kita perjuangkan. Hal ini terjadi karena tanpa disadari kita seolah-olah telah mengambil alih posisi Tuhan sebagai Al-Hakim. Saat ini, kita betul-betul krisis sikap yang inheren dengan pribadi Rasulullah tersebut. Menurut saya melembagakan sikap tersebut menjadi hal yang fundamental untuk keberaih keberhasilan dalam setiap perjuangan

#45. Dikirim oleh syam Arifin  pada  04/05   03:53 AM

setiap kebenaran yang diperoleh memalui proses berpikir ilmiah, kebeneran pluralisme agama, secara ilmiah sah direspon dengan sikap skeptis guna memperbaiki kebenanran itu sendiri. Sebab pluralisme agama misalnya bukan produk tertinggi dari rasionalitas manusia yang super dinamis. Jangan tempatkan pluralisme agama sebagai kebenran mutlak. Sebagai sebuah ide, ia bersifat relatif, kaya varian dalam pemahamannya. Bisa jadi pejuang pluralis, justru tidak bersikap pluralis. Sebaliknya tidak menutup kemungkinan kelompok yang dinilai fundamentalis memiliki apresiasi terhadap keberagaman identitas budaya di luar masalah agama.

#46. Dikirim oleh syam Arifin  pada  04/05   04:11 AM

saya memahami Allah yang dimaksud jil adalah sebagai fakta Tuhan bukan simbol fakta Tuhan, sehingga fakta Allah sebagai Tuhan semua penganut agama atau Tuhan semua manusia bisa dimengerti. kebenaran (hukum kehidupan) dalam kitab suci adalah fakta kebenaran dalam kehidupan ini, faktanya ada dalam kehidupan yang bisa kita sadari ini. Dari pemahaman ini pluralisme sebagai faham sah sah saja keberadaannya.

#47. Dikirim oleh heru  pada  22/05   12:24 AM

Assalamu’alaikum wr. wb tentu tidak semua komentar dibaca dan ditanggapi oleh penulis, tapi semoga tulisan saya termasuk yang beruntung untuk dibaca dan ditanggapi secara langsung oleh penulis. saya telah sedikit membaca tulisan desertasi panjenengan yang berjudul “Argumen Pluralisme Agama”. sedikit pemahaman yang saya tangkap, Pluralisme agama merupakan sebagai suatu sistem nilai yang memandang keberagaman atau kemajemukan agama secara positif sekaligus optimis dengan menerimanya sebagai kenyataan (Sunnah Allāh) dan berupaya agar berbuat sebaik mungkin berdasarkan kenyataan itu. Dimaksudkan positif karena kemajemukan tersebut bukanlah suatu kemungkaran yang harus dienyahkan ataupun menilai agama lain menurut perspektif agamanya, dan dikatakan optimis maksutnya bahwa kemajemukan tersebut sesungguhnya merupakan potensi agar setiap umat terus berlomba menciptakan kebaikan di bumi.
saya dapat menerimanya, karena semua agama berhak mendapatkan tempat yang sama, khususnya dalam konteks bernegara. namun sebagai seorang santri, saya juga menemukan kebingungan dalam memposisikan diri saya sebagai orang Islam, jikalau perbedaan agama-agama tersebut bukanlah sesuatu yang harus dimusnahkan, lantas bagaimanakah mas Moqsith memandang dakwah untuk masuk ke dalam agama kita?? apakah hal tersebut menjadi tidak wajib lagi bagi kita dalam konteks yang seperti ini? ataukah bagaimana? saya tidak bisa menjadi seorang pejuang pluralis ketika saya sendiri bingung atas benturan-benturan gagasan dalam kepala saya..
mohon bantuannya.. kalau bisa kirim lewat email saya mas:abdie.elqodiry@gmail.com

#48. Dikirim oleh mahasiswa UIN  pada  10/07   11:28 AM

ternyata definisi pluralisme dlm agama tdk menggunakan bahasa yg sederhana. harusnya: Pluralisme dlm agama adalah setiap agama adalah paling benar bagi penganutnya masing2, jadi semua agama setara paling benar (hanya menurut penganutnya saja), jadi semua agama mmg masing2 paling benar, utk itu haruslah diupayakan berusaha saling kenal, saling dialog, dan toleransi terus menerus.

#49. Dikirim oleh KOPET  pada  02/08   03:04 AM

Alangkah baiknya “tdk lagi ada!!!” kata pluralisme dlm agama/ menyatakan bahwa semua agama SAMA, semua agama yg ada di dunia ini adalah JELAS sgt amat tdk sama!!!, jadi jgnlah se-kali2 utk diperbandingkan atau dipersamakan, yg sama adalah bahwa kita MANUSIA ciptaan Allah SWT, yg juga semuanya berhak hidup di muka bumi ini, yg juga bebas memiliki agama masing2 yg berbeda, lakum dinukum waliyadin, tdk ada saling mengganggu/ mempengaruhi akidah thd suatu agama thd agama yg lainnya. Agama tujuan pokoknya adalah petunjuk/ ilmu mengolah hati dan kalbu sbg cara jalan kembali ke Surga, jadi Islam adalah KELEMBUTAN bukan KEKERASAN apapun itu!!!

#50. Dikirim oleh Mohamad Effendy  pada  09/08   08:59 AM

Saya sangat bersyukur ditengah-tengah carut-marutnya politik di negeri ini dan setelah meninggalnya Nurcolish Madjid (Cak Nur), Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Pdt. DR. Eka Darmaputra yang telah membawa dan mendengungkan roh pluralisme di Bumi Indonesia (sekarang seolah-olah telah sekarat dan menunggu saat terahirnya). Tenyata kita harus syukuri masih ada kaum intelektual yang memahami dan menebarkan semangat pluralisme ditengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia yang demikian heterogen dan beragam, dimana satu individu berbeda dengan individu yang lain, satu kelompok berbeda dengan kelompok lainnya.Dan yang lebih melegakan lagi, terbukti sudah Politik sektarian primordialis yang membawa dan mengatasnamakan bahkan menyalahgunakan label agama tertentu ternyata tidak populer dan tidak sepenuhnya didukung sampai ke grass root.

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan ditengah-tengah masyarakat pluralis,bahkan setiap individu di muka bumi ini tidak ada yang persis sama, kembar identik sekalipun tidak. Oleh karenanya, kita harus menjadikan perbedaan menjadi kekayaan yang dimanfaatkan secara positif untuk membangun bangsa Indonesia yang maju, modern dan beradab ditengah-tengah pergaulan dunia. 

Oleh karena itu, pluralisme hendaknya tidak dipahami sebagai pencampuradukan ajaran, dogma atau akidah masing-masing agama, tetapi lebih kepada cara pandang dan sikap yang memahami perbedaan-perbedaan tersebut (toleransi) tanpa harus terjadi proses saling mempengaruhi secara akidah, doktrin, teologi antar kelompok agama, budaya, falsafah hidup ataupun assimilasi diantara kelompok-kelompok tersebut dan lebih lagi, membuat pluralisme menjadi kekuatan untuk memperkokoh fondasi NKRI.

Pluralisme tidak mengajarkan semua agama sama, karena mengajarkan kebaikan. Karena kalau semua agama sama, kenapa semua agama dilebur menjadi satu saja? Tetapi bagaimana bersikap memahami perbedaan teologi, dogma atau akidah agama lain dan aktif memperjuangkan kebebasan yang paling dasar tersebut sesuai dengan amanat UUD 1945. Bahwa semua individu sama dalam hukum, memiliki kebebasan untuk menganut agama ataupun mengekspresikan kebebasan tersebut secara bertanggung jawab dan etis.

Jadi, menurut hemat saya tidak perlu mencurigai atau phobia dengan Pluralisme. Justru Jadikan Pluralisme menjadi harta karun yang sangat berharga untuk membangun Indonesia.

#51. Dikirim oleh Maruhum Napitupulu  pada  27/09   08:26 AM

BAHAYA PLURALISME

Bahaya di Balik Gagasan Pluralisme

Bahaya pertama adalah penghapusan identitas-identitas agama. Dalam kasus Islam, misalnya, Barat berupaya mempreteli identitas Islam. Ambil contoh, jihad yang secara syar’i bermakna perang melawan orang-orang kafir yang menjadi penghalang dakwah dikebiri sebatas upaya bersungguh-sungguh. Pemakaian hijab (jilbab) oleh Muslimah dalam kehidupan umum dihalangi demi “menjaga wilayah publik yang sekular dari campur tangan agama.” Lebih jauh, penegakan syariah Islam dalam negara pun pada akhirnya terus dicegah karena dianggap bisa mengancam pluralisme. Ringkasnya, pluralisme agama menegaskan adanya sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan).

Bahaya lain pluralisme agama adalah munculnya agama-agama baru yang diramu dari berbagai agama yang ada. Munculnya sejumlah aliran sesat di Tanah Air seperti Ahmadiyah pimpinan Mirza Ghulam Ahmad, Jamaah Salamullah pimpinan Lia Eden, al-Qiyadah al-Islamiyah pimpinan Ahmad Mosadeq, dll adalah beberapa contohnya. Lalu dengan alasan pluralisme pula, pendukung pluralisme agama menolak pelarangan terhadap berbagai aliran tersebut, meski itu berarti penodaan terhadap Islam.

Karena itu, wajar jika KH Kholil Ahmad, Pengasuh Pondok Pesantren Gunung Jati Pamekasan Jawa Timur, menilai pluralisme agama yang diusung Gus Dur berbahaya bagi umat Islam (Tempointeraktif.com, 30/12/2009).

Bahaya lainnya, pluralisme agama tidak bisa dilepaskan dari agenda penjajahan Barat melalui isu globalisasi. Globalisasi merupakan upaya penjajah Barat untuk mengglobalkan nilai-nilai Kapitalismenya, termasuk di dalamnya gagasan “agama baru” yang bernama pluralisme agama. Karena itu, jika kita menerima pluralisme agama berarti kita harus siap menerima Kapitalisme itu sendiri.

Inilah di antara bahaya yang terjadi, yang sesungguhnya telah dan sedang mengancam kaum Muslim saat ini ketika kaum Muslim kehilangan Khilafah Islamiyah sejak hampir satu abad lalu. Padahal Khilafahlah kepemimpinan umum bagi kaum Muslim yang menerapkan Islam, melindungi akidah Islam serta menjaga kemuliaan Islam dari berbagai penodaan, termasuk oleh pluralisme. []

+++++++++
PS.

...http://www.umrahplus.blogspot.com/
http://www.sirtupalu.blogspot.com/
http://www.begawe.blogspot.com/

#52. Dikirim oleh Maaz Hakim  pada  25/12   10:44 AM

pluralisme itu sebetulnya paan sich..

#53. Dikirim oleh boy  pada  14/03   05:26 PM

pluralisme adalah hak setiap individu, namun keyakinan itu sekarang tidak terpakai, lebih parahnya pluralisme yang dijadikan tameng politik indonesia untuk mencapai kepentingan pribadi..MasyaALLah…..

#54. Dikirim oleh SAHLA SILATUR ROHMI  pada  26/03   12:58 AM

saya kira pluralisme hanyalah sebuah budaya…bukan agama. diciptakan akal manusia bukan untuk kebahagiaan dunia akhirat.Tuhan akan membangkitkan kita di hari kiamat dengan nabi atau rasulnya. lah kalau pluralisme itu kita jadikan agama atau pedoman hidup..jelas kita tidak akan bisa mempertanggungjawabkan keyakinan itu di hadapan Alloh.karena di tengah kita Alloh sudah mengutus Muhammmad sebagai rasul yang terakhir..jadi kesimpulan nya meyakini pluralisme sebagai ideologi mutlak membawa kita keluar dari islam dan tidak diakuinya kita sebagai umat Rosululloh SAW. tapi kalau emang sudah tidak lagi beriman pada Alloh dan hari akhir y silakan .tapi jelas pluralisme bukan ajaran islam..

#55. Dikirim oleh orang bijak  pada  08/04   09:04 AM

Adalah durhaka utk memaksakan kehendak pluralisme pada umat beragama, karena menyangkut aqidah. Seyogyanya pluralisme itu ditujukan pada prikehidupan sosial kemasyaratan, bukan pada agama.
Apalah arti seorang gus Dur dibanding nabi Muhamad Saw, atau seorang komunis sekalipun seperti Mark. Mereka tidak mencampur adukan antara Theisme sebagai wahyu dan pemikiran seorang manusia sperti Mark.
Dan JIL berpikir dan bertindak seperti itu, sebagai seorang yg agamais sementara tidak mau ketinggalan menjadi seorang humanis. Padahal ada tahapan ada proses sehingga seorang yg beragama otomatis menjadi seorang humanis.
Tapi tidak main borong, cobalah ada berpikir buat memisahkan antara agama sebagai satu keyakinan dan kehidupan bersosial yang baik dalam satu sociokultur.
Jangan terjebak dalam pembenaran seperti Teroris, bahwa andalah yg paling benar. Nyebut, mas e istighfar, buat anda yg Muslim.

#56. Dikirim oleh Tuah Rengat  pada  26/08   02:36 PM

Mari kita melihat agama sebagai salah satu unsur budaya. Menurut Selo Soemardjan, Budaya merupakan hasil cipta, rasa dan karsa masyarakat. Artinya agama sesungguhnya kreasi manusia untuk mengawal dan memberikan keteraturan moral dan spiritualitas dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam perspektif ini, sesungguhnya agama merupakan suatu titik sentral “pertemuan” berbagai perbedaan tersebut. Agama dalam konteks ini memberikan asupan penghormatan terhadap kepelbagaian dengan mengarahkannya menuju suatu keberterimaan masyakat terhadap kepelbagaian itu sendiri. Dari sinilah menurut saya mestinya pemahaman dan membangun pluralisme dalam kehidupan beragama.Mengutip Dr.Martin Lukito Sinaga (http://www.averroes.or.id/book-review/meninjau-wacana-pluralisme-di-indonesia-agama-tanpa-sosiologi-agama.html), ada 3 makna pluralisme, yakni: pluralisme adalah ungkapan deskriptif, mengenai de facto kemajemukan agama (religious diversity), pluralisme juga berarti pengakuan publik akan eksistensi agama-agama tertentu, yang nanti dilanjutkan pada pengakuan negara.pluralisme adalah sebentuk komitmen normatif.
Dari tiga pemahaman tentang pluralisme tersebut, sesungguhnya pluralisme adalah dasar dari kehidupan yang toleran. Dan saya kira mestinya tidaklah tabuh untuk membicarakan pluralime termasuk dalam lingkup kebeagamaan. Mari kita membangun toleransi kehidupan beragama melalui pluralisme.
Salam

#57. Dikirim oleh LIfe  pada  11/10   12:15 PM

Maaf mas-mas yang ganteng2. kalo menurut saya sebaiknya kalian berhenti membicarakan ini yang benar dan itu yang salah atau sebaliknya. saran saya, sebaiknya kalian berbenah diri dulu, lihat ke diri masing2 dulu, apakah sudah benar atau belum. saya rasa tidak pantas kita sebagai manusia berani-benarninya menjudge bahwa sesuatu yang menyangkut kepercayaan orang lain itu benar atau salah. karena kepercayaan adalah kebebasan setiap individu dan tidak boleh ada satu orangpun yang dapat mencampurinya. biarlah seseorang mengurus urusannya sendri dengan Tuhannya. buat apa kalian ikut campur ? memang kalian sudah merasa paling benar? urusi diri kalian sendiri saja dulu. kalian sama saja mendahului Tuhan jika begitu caranya, menjudge kepercayaan orang lain salah. bagi kalian yang TIDAK MENGERTI ESENSI DAN HAKEKAT DARI PLURALISME, janganlah banyak omong. pelajari dulu apa itu yang disebut PLURALISME. jangan baru tahu sedikit saja, sudah berani banyak omong !!! pantas saja bangsa kita tidak maju2, ternyata bangsa kita diisi dengan orang2 yang sok tau dan suka merasa paling benar, menjudge orang melebihi Tuhan, dan banyak omong walau pengetahuan minim. Sadarlah saudara2 ! mari kita berbenah diri dulu sebelum mengomtari orang lain. Salam !

#58. Dikirim oleh kebebasan individu  pada  14/10   01:11 AM

LUCU banget ada yang namanya Jaringan Islam Liberal!
ISLAM KOK LIBERAL??! Islam itu PATUH, sedangkan Liberal itu BEBAS. Masa Islam jadi harus bebas sih..
Bagi yg masih berpegang teguh pada Qur’an Sunnah,baiknya jgn terpengaruh pemikiran2 liberal seperti ini.. Karena ISLAM TDK DIBANGUN OLEH PEMIKIRAN (Rasio), tapi melalui wahyu dan sunnah.
Tingkatkan wawasan kalian dan baca/kaji Islamic Worldview,niscaya anda dapat mematahkan pemikiran2 berbahaya di zaman neo jahiliyyah ini.,
wallahu a’lam.

#59. Dikirim oleh bani adam  pada  17/10   07:46 AM
Halaman 3 dari 3 halaman < 1 2 3

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?