Politik dalam Islam
Oleh Redaksi
Diperlukan ekstra kehatian-hatian untuk membangun pandangan yang bersahabat antara Islam dan kehidupan politik. Hal itu, menurut Samuel P. Huntington, akan dapat tumbuh dan berkembang jika mendapat dukungan sikap, nilai, kepercayaan, dan pola-pola tingkah laku berkaitan dengan perkembangan peradaban yang kondusif. Hal itu juga disebabkan oleh kenyataan yang tak terbantahkan -meminjam istilah Sdr Ulil- bahwa umat Islam tidak bisa menghindar dari kenyataan baru yang sama sekali berbeda.
Komentar
Saya berpendapat bahwa kalau mau ditarik garis merah sebenarnya hanya terdapat dua pendapat dalam komunitas kaum muslimin tentang hubungan Islam dan negara
Pertama, konsep agama Islam harus menjadi aturan negara. Kedua, yang memandang bahwa Agama Islam tidak boleh menjadi aturan negara (secara tidak langsung/tidak sadar melanggengkan konsep sekulerisme di negeri ini).
Adapun pendapat yang ketiga, yang memahami bahwa nilai-nilai Islam (misal keadilan ) sajalah yang perlu diadopsi oleh negara, tetap berujung pada pemilihan kepada yang pertama atau yang kedua.
Beberapa komunitas secara terang-terangan ada dipihak pertama mis MMI, FPI, HT, PKS, PPP, PBB dll. Beberapa komunitas secara terang-terangan ada di pihak kedua misal JIL, LKIS, Paramadina dll.
Untuk organisasi besar Muhammadiyah tergantung oknumnya, sebagian oknum ikut yang pertama, sebagian oknum ikut yang kedua. Untuk organisasi besar lainnya yaitu NU juga demikian, tergantung oknumnya, sebagian oknum ikut yang pertama, sebagian oknum ikut yang kedua, hanya catatan khusus di sini bahwa yang pengikut pendapat kedua biasanya adalah komunitas NU yang masih menempatkan KH Abdurahman Wahid secara ‘khusus.’
Satu hal yang perlu kita sepakati bahwa manusia memang perlu hidup dalam negara, tidak mungkin tidak ada negara. Kemudian negara butuh aturan/hukum untuk menjalankan kehidupan masyarakat, bila tidak ada aturan yang muncul adalah kediktatoran.
Jika demikian, lalu aturan mana yang akan digunakan ? Saya berpendapat bahwa aturan yang akan digunakan dinegari ini hanya dua kemungkinan pertama aturan yang berasal dari Islam. Dan yang kedua adalah Sekulerisme/Kapitalisme (yang ini sudah diwujudkan sejak jaman Soeharto)
Tentu saja kegagalan penerapan Sekulerisme/kapitalisme/demokrasi dalam mengangkat harkat kehidupan bangsa ini (misalnya, kerusuhan Ambon, biaya sekolah mahal, tembaga di Irian dijarah AS, hutang LN 1400 trilyun dsb ) memacu kemunculan gagasan untuk menjadikan Islam tidak hanya aturan spiritual tetapi sekaligus politik.
Dan tentu saja munculnya gagasan Islam ini menjadikan para penjaga Sekulerisme menjadi gerah, sehingga para penjaga tersebut susah payah untuk menahan upaya formalisasi Syariah. Penjaga tersebut adalah pertama AS dan Eropa (yang menjadi sumber upaya pendiskreditan terhadap konsep Islam). Lihat websitenya Heritage Foundation.
Kedua adalah para pelajar muslim yang memang sudah terpengaruh dengan upaya pendiskreditan AS tersebut (disekolahkan diberi beasiswa, dibuatkan yayasan, didanai dsb) dalam hal ini mungkin JIL termasuk di dalamnya. Pelajar muslim ini kemudian menjadi penyambung lidah bagi AS dan Eropa, untuk menahan laju upaya penerapan syariat Islam (ditunggangi?).
Dan tampaknya teman-teman JIL juga sudah paham…
Oleh karena itu, tulisan sudara Sujito tersebut adalah sekedar pengulangan terhadap gagasan lama yang diusung oleh salah satu Prof Cak Nur peserta konvensi Golkar untuk pemilihan Calon Presiden, beberapa puluh tahun yang lalu dengan agenda yang sama pula.
So, kapan-kapan kita diskusi didarat dan kita lihat mana pendapat yang akan diterima oleh masyarakat. Pendapat pertama ataukah masih pendapat yang kedua.
Anda berjuang dengan ide anda dan kami dengan gagasan kami, tentu saja tanpa kekerasan, oke ?
Semoga Allah merahmati kita semua Wallahu’alam
Sumber penting: 1. Website Heritage Foundation 2. Website International Crisis Group 3. Beberapa buku di perpustakaan UMS.
Redaksi:
Tampaknya jawaban mana yang lebih diterima masyarakat, sudah jelas. Paling tidak, partai-partai besar dengan dukungan ekstraparlementer dari NU dan Muhammadiyah telah sepakat dalam setiap Sidang Tahunan MPR untuk tidak memasukkan Piagam Jakarta. Paling tidak, pemilu 1999 tetap menempatkan partai yang mempromosikan syariat Islam sebagai partai yang tidak signifikan. Ada ide lain?
Salam sejahtera!
Gagasan formalisasi Islam ke dalam ruang publik dinilai sangat kontra-produktif terhadap konsepsi kemaslahatan manusia?
Saya meragukan premis ini.
Setidaknya, jika dilihat dari rumus turunan yang digembalakan oleh Islam. bentuk prosesi yang diajukan oleh Islam selalu mengambil tongkat estafeta kemaslahatan manusia sebagai ujung tombak tujuannya. beberapa nilai yang berkesusaian dengan modernitas banyak tercecer di dalam Islam. sebut saja misalnya, demokrasi, keadilan dan HAM.
Lalu, ada teriakan lantang yang menyuarakan Demokrasi [dengan adjektif sekuler] sebagai satu-satunya cara pandang modern. proses ‘pembuangan’ agama dari ranah politik menjadi acuan ideal yang dielu-elukan. sehingga timbul pula aura euphoria modernitas yang lancang, kedinian, dan ‘lacur.’ premis yang timbul dari sana adalah kematangan pola manajemen yang mampu mengadopsi masing-masing aspirasi masyarakat bangsa.
Saya pun [lagi-lagi] menyangsikan gagasan ini.
Jika saya ibaratkan, maka ideologi Islam itu adalah seperangkat ‘software’ dengan akselerasi komponen ‘hardware’ yang mendekati kesempurnaan. sebut saja, instrument kekhalifahan sebagai ‘hardware’nya. begitu pula dengan ideologi lain semacam Marxist, Kapitalis, dan Sosialis yang mengambil komponen ‘hardware’nya dengan sasaran, tujuan, dan aktualisasi yang berlainan.
Bagi saya, semua konsepsi di atas adalah ‘garing’ adanya. Ia hanya sebatas gagasan-gagasan impian yang tolol, mengawang-awang, bombastis tak punya juntrungan, lalu ‘kosong.’ bagi seorang rakyat seperti saya ini, yang terpenting adalah kemaslahatan ideologi pribadi plus kesejahteraan yang memadai sudah menunjukan pada, totalitas ke’ikhlas’an saya untuk ber-patriotisme kepada agama & bangsa.
Sekian! Salam untuk abang-abang di JIL.
BTW, tulisan saya yang berikutnya ini adalah kelanjutan yang pertama, sekaligus respon terhadap komentar redaksi.
“Tampaknya jawaban mana yang lebih diterima masyarakat, sudah jelas. Paling tidak, partai-partai besar dengan dukungan ekstraparlementer dari NU dan Muhammadiyah telah sepakat dalam setiap Sidang Tahunan MPR untuk tidak memasukkan Piagam Jakarta. Paling tidak, pemilu 1999 tetap menempatkan partai yang mempromosikan syariat Islam sebagai partai yang tidak signifikan. Ada ide lain?”
Di sinilah perbedaan dalam memandang posisi masyarakat saat ini antara JIL dan Pendukung Formalisasi Syariah Islam (PFSI)
JIL memang berusaha agar masyarakat tetap terkungkung dengan dengan sekularisme dan kemaksiatan dan tidak berusaha merubahnya. Sebagaimana perkataan sdr Ulil ” bahwa sekulerisme dapat menampung energi kesalehan sekaligus energi kemaksiatan” yang termasuk kemaksiatan adalah ketidakadilan, korupsi, manipulasi, perampokan uang negara, dsb. Dengan kata lain, memang agenda JIL dengan sekulerisme-nya adalah tetap mempertahankan Indonesia sebagai juara korupsi….
Adapun PFSI memandang bahwa masyarakat dan negara bisa diubah dan sekaligus memandang bahwa kerusakan yang dialami negeri ini adalah karena sekularisme (yang memang mengijinkan kemaksiatan [baca: korupsi]), dan solusi bagi keadaan saat ini adalah perubahan menuju terformalnya syariat Islam, bukan jumud dalam pemikiran sekularisme, dan bukan terus-menerus memberhalakan demokrasi/pluralisme.
Adapun saat ini masih banyak masyarakat yang belum tercerahkan dengan syariat Islam (dan terpenjara dengan berhala sekularisme), karena memang negeri ini selama bertahun-tahun dalam kungkungan sekulerisme orde baru yang otoriter terhadap PFSI. Insya Allah keimanan PFSI cukup kuat kok untuk menghadapi sekulerisme dan penjaganya…
Semoga Allah Ta’ala, Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan, Tuhan yang tidak diakui oleh sebagian agama kufur, tapi di-Esa-kan oleh kaum muslimin, tetap merahmati kita semua…Amin
Permasalahan hubungan politik dan Islam memang menjadi hangat akhir-akhir ini. Memang ada beberapa pendapat relasi keduanya. Yang satu menguatkan dan mengakui kehadirannya, dan yang satu menolak keberadaannya. Terkadang penolakannya pun terang-terangan, tanpa tedeng aling-aling.
Lagi-lagi masalah kearifan orang-orang menginginkan demokratisasi untuk dijunjung tinggi.
Seorang demokratis adalah orang yang -mestinya- toleransi terhadap pendapat lainnya. Ia mengakui eksistensi kelompok lain, menghargai perbedaan, menjunjung tinggi keragaman, membuang jauh-jauh prasangka buruk, dankebencian yang membara.
Sebagai muslim yang pernah hidup di jaman ‘gado-gado’ ini, kami mengakui ada berbagai kelompok pemahaman dalam masyarakat; dalam berbagai sketsa kehidupannya: politik, budaya, agama, pemikiran, dsb.
Permasalahannya muncul ketika ada orang-orang yang bermaksud menjalani keyakinan agamanyya dalam kehidupan.
Salahkah ia? Jadi ancamankah ia? Berbahayakah ia? Tidak ada hakkah ia?
Mengapa kemudian muncul praduga-praduga seperti itu? Kalau begitu dimana letak demokratisnya para penganut demokrasi? Mengapa ia tidak diberi ruang hidup yang sama? Adilkah sikap ini? Mereka meminta toleransi, hak, penghargaan… tapi mereka sendiri membungkam dan menutup rapat-rapat toleransi untuk penganut paham Islam politis.
Adakah yang bisa menjawab ‘teka-teki’ ini?
Kajian politik memang selalu menarik banyak perhatian, utamanya bagi para pendukungnya.
Menafikan bahwa tidak ada kaitan politik dalam Islam, adalah suatu kerobohan. Di SLTP pun kita diajari bagaimana semangat bangsa imperialis Barat adalah karena god, glory, gospel. Penyebaran missionaris di Indonesia merupakan kebijakan kaum penjajah. Perkembangan Hindu dan Budha di Indonesia juga didukung kerajaan-kerajaan yang mencerminkan permainan politik di dalamnya. Jadi bukti ini sudah amat gamblangnya.
Bukti terkini adalah apa yang ditampilkan dalam www.eramuslim.com hari Senin tanggal 28/07/2003 tentang lambang pasukan spanyol yang dikirim ke Iraq. Silakan diklik aja artikel: Tentara Spanyol di Irak Gunakan Simbol ‘Perangi Kaum Muslim’.
Mereka yang dulu mengatakan: jangan campuri politik dengan agama, maka dialah orang pertama yang mendatangi ulama agar mengeluarkan fatwa lengkap dengan dalil-dalilnya jargon yang dia inginkan. Jadi lucu, khan?
Sayangnya, para penghasung demokratis tidak selalu demokratis dalam kenyataannya, sesuatu yang tabu dan mestinya ‘haram’ dilakukan. Mengapa penganut demokratis tidak -atau sedikit sekali- toleransinya terhadap orang-orang yang menginginkan berlakunya nilai-nilai suci agama untuk membentengi politik dari kekotoran pelakunya. Yang ada adalah kecurigaan, ketakutan, phobia, keterancaman, dsb.
Kita ingat semboyan salah seorang manusia Indonesia, “Islam Yes Partai Islam No!” Namun pada beberapa hari ini, ia merasa perlu ‘mencari kendaraan politik’ untuk menghantarkan cita-citanya.
Sekali lagi, klo agama tidak memagari politik, maka para terdakwa diperbolehkan untuk mencalonkan menjadi pemimpin di negeri ini. Dan praktek KKN tidak pernah selesai ...
Konsep politik dalam Islam sangat jelas. Apa yang dilakukan Rasulullah dalam membuat perjanjian dengan kaum Yahudi di Madinah saat awal kedatangannya adalah aktivitas politik. Pemerintahan beliau dan khalifah sesudahnya juga merupakan denyut politik.
Adapun masalah bentuk pemerintahan itu adalah hal lain. Tidak ada persoalan mengenai bentuk negara dan pemerintahan, yang penting terjamin keadilan, keamanan, dan kesejahteraan masyarakat. Tetapi penganut demokratis seringkali terpancang pada satu jenis pemerintahan: apakah republik, kerajaan, atau yang lainnya.
Contoh paling jelas, bahwa kegiatan ubudiyah pun bisa menjadi bagian kegiata politik adalah sebagai berikut. Seorang imam ketika sholat membaca ayat-ayat yang memerintahkan penguasa untuk berlaku adil, amanah, dan menjauhi kedzaliman. Seorang mubaligh berceramah tentang fungsi amir atau penguasa, amanah yang ada di pundaknya, kewajibannya melindungi rakyat, dan semacamnya.
Tapi saya memang tidak setuju, kalau partai politik “BERKEDOK” agama, menjdikan agama ‘HANYA’ sebagai simbol penarik massa dan setelah itu ditinggalkan. Namun, saya juga tidak meyakini semua parpol Islam seperti itu. Ini perlu obyektifitas yang tinggi, kejernihan hati, dan membuang jauh-jauh kecurigaan tanpa alasan.
Pelajari saja satu persatu parpol Islam yang ada di negeri ini. Baca AD/ARTnya, pelajari Visi Misinya, dan perhatikan tingkah laku para politisinya, baik yang ada di parlemen atau yang di luarannya. Kalau toh ada ‘penyimpangan’ yah mereka manusia, tidak ada yang sempurna. Tapi bagaimana secara keseluruhannya.
Selamat mengamati!
Kalau saya sih simpel saja, biarkan saja negara ini menjadi negara Islam. Biarkan saja Syariat Islam menjadi peraturan yang baku dan formal. Dan buktikan sendiri bahwa nanti takkan ada satu hal pun yang berubah ke arah yang lebih baik. Toh bila kita hitung-hitung, akumulasi kerugiannya akan sama saja dengan kalau kita menghabiskan waktu dan energi untuk berdebat dan saling memaki.. Biarkan mereka bereksperimen, dan melihat eksperimennya gagal, seperti orang yang baru menyadari bahwa bumi ini ternyata bulat. Moral cerita adalah : Orang yang tak bermental siap untuk perubahan, takkan mampu melihat perubahan, apalagi untuk merubah. Orang seperti ini harus dtampar dengan bukti ketidakmampuan mereka sendiri. Jadi biarkan mereka berpikir mereka bisa memegang kekuasaan, dan biarkan mereka sadar kalau mereka bukan orangnya. Kalau asap pun bisa membunuh, sekalian saja main api. Tapi saya tidak perduli, saya toh sudah bukan pemeluk Islam lagi. Saya sudah terlalu kecewa… Ada yang punya literatur tentang Buddha ?
Assalamualaikum…
Dengan segala kerendahan hati dan ketawadhuan kita kepada Allah SWT pencipta dan sekaligus pengatur segala apa yang ada di langit dan di bumi. “Dan hendaklah ada segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan(Islam) dan mencegah kepada keungkaran”.
Betapa trenyuh hati ini kalau seandainya kita sengaja membutakan mata hati, pikiran dan jiwa kita hanya karena memperturutkan dan mengagungkan akal semata. Tidakkah kita mencoba menelusuri perjuangan dakwah Rosulullah dalam menegakkan sendi-sendi pemerintahan islam. Rosulullah tidak pernah sedikitpun meninggalkan aktifitas politik, walaupun hanya dalm hitungan detik dan desahan nafas. Karena poltik adalah riayatus syuunil ummah(mengurusi urusan umat). Politik dalam pandangan barat (sekularisme) sangat berlawanan dengan pandangan islam. Islam adalah agama yang mampu memecahkan segala problematika kehidupan, bukan hanya sebatas ritual belaka. Islam mengurusi segala aspek kehidupan. Politik bukan ajang perebutan kekuasaan versi barat, tapi politik adalah sebuah aktivitas yang sangat berat, yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban. Politik dalam islam adalah pengurusan urusan umat dengan menerapkan syariat islam, bukan hukum manusia.
Kenapa kita selalu mendeskreditkan islam, seakan-akan islam yang selalu terpinggir. kenapa kita selalu mengagungkan hukum-hukum buatan manusia. Dan kenapa kita sebagai kaum muslimin yang dijanjikan kemuliaan oleh Allah, tidak pernah bertanya kenapa saya harus berhukum kepada hukum orang-orang kafir???
Sungguh, kalau kiranya pemahaman kita tntang islam terpelintir, betapa merananya kaum ini, dan betapa semakin teerpuruknya kaum muslimin dibawah telapak kaki para musuh-musuhnya. Maka dimanakah kemuliaan itu?????
Semoga kita senantiasa diberikan petunjuk oleh Allah SWT yang akan tetap Agung meski musuh-musuh islam makin melecehkan syariatNya.
SEbenarnya 2 kelompok itu (yang menolak dan mendukung formalisasi syariah) sudah tahu itu semua (mengapa mendukung dan mengapa menolak) dan alasan-alasannya, yang menjadi masalah adalah ada kepentingan di balik itu, dan yang menjadi target opini adalah mereka yang masih awam, dan inilah yang menjadi target pengaruh 2 kelompok ini. menurut saya, baiknya bagaimana kalau diadakan pemilu (pemilihan umum) bagi seluruh rakyat, dengan diberi “KEBEBASAN” (diberi petikan karena ini yang sulit diwujudkan, karena sering direkayasa) kepada 2 kelompok ini untuk menunjukkan ide masing-masing tanpa batas dalam kampanye-kampanye (kayak kampanye capres-cawapres-lah), terserah mana yang akan dipilih oleh masyarakan, bukan hanya berdasar poling oleh sebagian kecil masyarakat yang rawan ‘dikorupsi’ juga.
Islam dan politik tak dapat dipisahkan selama hal tersebut diperuntukkan demi kemaslahatan umat manusia. Politik dalam Islam jangan diartikan sebagai “jembatan” untuk memperkaya diri sendiri, akan tetapi sebagai jalan menuju kebangkitan Islam sebagaimana yang diamanahkan.
assalammualaikum… saya sering tertanya-tanya kenapa agaknya rakyat islam sekarang mundur sedangkan cendekiawan kita seperti ibnu khaldun mencetus tamadun. sekarang baru saya sedar kenapa hal itu terjadi ini kerana kelalaian kita sebagai umat islam sendiri. kerana kita sebagai umat islam sendiri tidak menjadikan al-quran sebagai panduan. kenapa saya berkata begini? lihat kaum yahudi kenapa mereka berjaya mereka berjaya kerana mereka menggunakan kitab dalam setiap apa yang mereka buat. ajaran mereka mengatakan bahawa sekiranya mereka berperang jangan mengasihani sesipa hatta wanita dan budak kecil pun.
oleh itu kenapa kita tidak menjadi seperti mereka membuat sesuatu dengan berdasarkan kitab kita iaitu al-quran hatta dalam poliik sekalipun kalau cendekiawan dulu menjadi terkenal hanya berpandukan al-quran. di dalam al-quran terdapat banyak ilmu yang belum diteroka bekerjasamalah untuk meneroka ilmu itu ahi sains dan para ulama harus bersama-sama untuk menyelami maksud yang terkandung dalam al-quran maka kita boleh menjadi semakin maju. kenapa sekarang kita harus merujuk tulisan barat sedangkan pencetus idea terlebih dahulu adalah orang islam…. tepuk dada, bukan tanya sesiapa tapi tanya minda. kita bukan mempolitikkan islam teapi menggunakan syariatnya dalam berpolitik… sekian wasalam semoga sesiapa yang membaca cetusan pendapat ini mengetahui apa yang ingin di sampaikan…
——-
Mungkin, karena Islam merupakan ajaran yang sakral dari Tuhan, Allah SWT, maka ketika dia dipertemukan dengan wacana dan kenyataan hidup per-‘politik’-an, sering dianggap berbenturan. Perbenturan ini, sering dianggap untuk menjaga kesucian Islam itu sendiri. Sementara, di sisi lain ‘politik’ dianggap berwacana duniawi yang penuh intrik ‘kekotoran’, sehingga kalau dipertemukan dengan Islam, akan dapat menghilangkan kesakralan Islam itu sendiri.
Islam diturunkan Tuhan, Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW, ‘memang’ untuk diterapkan di dalam kehidupan duniawi. Tuntunan Islam yang sangat utama, adalah menuntun umat manusia (baik dia Muslim maupun non Muslim) dalam mengajarkan, mengarahkan kebenaran tentang eksistensi Tuhan itu sendiri, selain tuntunan nyata kehidupan dibidang sosial, politik budaya dan sebagainya.
Artinya, Islam juga menuntun umat manusia khususnya Muslim dalam mengarungi kehidupan dunia, termasuk kehidupan ‘politik’. Umat Islam, silahkan berpolitik, tetapi tetap saja ‘rambu-rambu’ dan prinsip ajaran Islam tidak boleh dilanggar. Seperti, seseorang Muslim guna mencapai kedudukan jabatan, presiden, menteri, gubernur dan lainnya, harus dilakukannya dengan niat dan motivasi prinsip yang jelas seperti ‘ketulusan’ dan keikhlasan, semata karena Allah SWT dengan tujuan memakmurkan umat manusia dan syiar Islam itu sendiri. Karena itu, dalam pencapaian tujuan ini, si tokoh Nuslim, misalnya dilarang menggunakan trik-trik kotor seperti menyuap para pemilih agar mereka memilih dirinya dalam pemilihan jabatan agar jabatan tersebut dimenangkannya. Kalau hal ini dilakukan, maka apakah Islam mengajarkan kekotoran dalam berpolitik?.
Kalau seseorang ini menggunakan cara terlarang, maka yang salah bukan Islamnya, tetapi orang yang mengaku Muslim inilah yang salah karena dia telah menodai Islam dan umat Islam yang lain. Oleh karena itu, seseorang atau kelompok boleh berijtihad, apakah dia mau menggunakan ‘merek’ Islam atau tidak?. Ya Tuhan pun tidak melarang dan tidak menganjurkan, tetapi harus pandai menjaga ‘kemurnian’ Islam itu sendiri. Islam jangan dilecehkan dan dikerdilkan dalam kehidupan politik, sehingga seolah-olah kedudukan politik itu lebih tinggi dari ajaran Islam.
Kembalikan kejayaan Islam !!!
bismillah
salam
sepakat bahwa islam tdk megatur bentuk2x politiknegara.tetpi memberikan 1 paket aturan yang dpt digunakan dalam mencapai kemakmuran .keadilan dan manusia yang adil dan beradab,‘bukan agama dalam bentuk politik yang lebih banyak ngawurx dan bahkan tidak jelas selain kepentingan kelompok…wassalam..
politik adalah alat untuk mencapai kekuasaan yang ada. politik erat kaitannya dengan suatu tindakan untuk mempengaruhi seseorang. namun, banyak yang menggunakan cara-cara kotor untuk mendapatkan kekuasaan yang ada. hal itu bertentangan sekali dengan aturan islam yang ada. mendapatkan kekuasaan boleh. tetapi hrndaknya menggunakan cara yang baik. jangan yang kotor. kembalikan kepada hakikat kita mendapatkan suatu kekuasaan, yaitu untuk melayani rakyat dengan ikhlas dan tulus. politik yang baik hendaknya jangan dipisahkan dari aturan agam yang ada. yakinkan ini dalam hati kita semua.
kalau menurut saya sh, dalam islam memang dalam alqur’an tidak diatur secara gamblang bagaimana seharusy kita berpolitik, tapi dalam Alquran jelas diperintahkan agar kita selalu berpegang teguh kepada firman firman allah, termasuk dalam hal politik dan mengatur sebuah bangsa,,,,ada aturan aturan yang bersifat final yang harus dijadikan dasar dalam pengaturan negara, tapi ada juga hukum hukum yan beradaldari hasil permusyawaratan,,,islam sendiri tidak melarang umatnya untuk baermusyawarah,,,tapi bukan mengenai hukum dasarnya, hukum dasaynya ada di Alquran, pengembangannya bsa dimusywarahkan,,,,,yakinlah bahwa agama islam itu adalah agama yang mudah dan ringan, tapi bukan untuk dipermudah dan diperringah,,,tinggalkan asas asas barat jika ingin berfikir secara islam, islam harus dikaji secar islam, bukan dengan yang lain…........
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah “(Ali Imran : 110). Allah SWT telah menetapkan bahwa kaum muslimin adalah umat yang terbaik diantara manusia. Status ini diberikan kepada kaum mulimin agar mereka menjadi pemimpin dan penuntun bagi umat-umat lain. Sayyid Qutb dalam Fii Zhilalil Qur’an menafsirkan bahwa yang layak menjadi pemimpin umat manusia hanyalah “orang-orang yang berpredikat terbaik”. Karena ingin meraih predikat umat terbaik itulah, umat Islam terdahulu tidak pernah berhenti ataupun lemah semangatnya dalam perjuangan menyebarkan risalah Islam ke seluruh permukaan bumi. Mereka yakin bahwa metode untuk mewujudkan kebangkitan Islam hanyalah dengan menjadikan Islam sebagai pedoman hidup yang lengkap. Islam dijadikan sebagai pola kehidupan yang menyeluruh. Umat Islam percaya dan yakin bahwa hanya Islam yang mampu memecahkan seluruh urusan manusia secara sempurna, menyeluruh, praktis dan sesuai dengan fitrah kemanusiaan.Namun saat ini umat Islam berada dalam kondisi dan situasi yang lemah serta paling rendah dalam memahami Islam. Kondisi ini telah terbukti menyebabkan segala bentuk pemikiran-pemikiran yang menyusup kedalam tubuh umat Islam. Hal inilah yang mengakibatkan munculnya berbagai gangguan dan keresahan. Umat Islam cenderung mudah mengabaikan hukum-hukum Islam. Akhirnya kehidupan mereka merosot sampai ke taraf rendah. Dalam kondisi ini, umat Islam tidak memiliki peranan lagi dalam percaturan politik internasional. Sebenarnya tidak ada cara lain untuk menyelamatkan umat dan membangkitkannya kembali menempati kedudukan mulia, selain dari mengembalikan umat pada sifat yang menjadikannya umat terbaik, yakni beriman kepada Allah SWT, melaksanakan amar ma’ruf dan mencegah kemungkaran (nahi mungkar), sebagaimana yang diungkapkan dalam ayat diatas.
Saya tak hendak berkomentar, singkatnya saya ingin tahu dari perspektif islam liberal mengenai pertanyaan yang sulit saya lontarkan dalam sebuah diskusi islam, pertanyaan saya sangat awam, ketika seorang anak eropa dan lahir di eropa dari bapak/ibu eropa yang nota benenya sama sekali tidak tahu dan mumgkin tidak mau mengenal islam tapi dalam kehidupan didunia dia bisa saja melebihi umat islam dalam segala kebaikan yang mungkin telah di gariskan dalam al quran, seperti jiwa sosial yang tinggi, toleransi yang tinggi. padahal seperti keyakinan saya gerbang surga adalah kalimah syahadat,dengan segala nilai agung yang mengejawantah dalam setiap gerak seorang muslim. jadi, apakah kebaikan si anak eropa tadi kelak akan sia-sia letika dia harus bertanggung jawab dihadapan Tuhan ? terima kasih mohon dibalas.
kalau kita buka salah satu stasiun tv swasta, ada program sinetron ISLAM KTP, lalu apa ya maksudnya? kita sering melecehkan ISLAM, lalu kita tambah kata lain setelah istilah ISLAM itu sendiri, ya seperti ada ISLAM JAMAAH, ada ISLAM LIBRAL dsb. dan termasuk ada istilah ISLAM KTP tadi. saya kira, setelah istilah atau kata ISLAM sebaiknya tak perlu kita tambah dengan istilah atau kata lainnya. Islam itu nama yang telah dianugerahi oleh Allah SWT kepada hamba-Nya, manusia. oooo jika kita tidak mampu mewujudkan ajaran Islam secara utuh dan kaffah, jangan kita salahkan Tuhan, Allah SWT, tapi kitalah sebenarnya yang tidak mampu untuk mewujudkan ajaran Islam secara baik dalam kehidupan kita di dunia ini. selanjutnya, kalaupun kita mau menambahnya embel-embel lain, janganlah kita menggunakan atau memakai istilah atau kata ISLAM tapi pakailah istilah MUSLIM, lalu jadi seperti era Orde Baru ada Muslim Pancasila, ada MUSLIM LIBRAL, MUSLIM KTP, MUSLIM JAMAAH atau MUSLIM SYIAH. dengan demikian, kita tidak mencemarkan atau melecehkan kata ISLAM itu sendiri dan otomatis kitapun tidak mencidrai atau menghina Tuhan kita, Allah SWT.
assalmu’alaikum wr.wb
Kalau saya sih simpel saja, biarkan saja negara ini menjadi negara Islam. Biarkan saja Syariat Islam menjadi peraturan yang baku dan formal. Dan buktikan sendiri bahwa nanti takkan ada satu hal pun yang berubah ke arah yang lebih baik. Toh bila kita hitung-hitung, akumulasi kerugiannya akan sama saja dengan kalau kita menghabiskan waktu dan energi untuk berdebat dan saling memaki.. Biarkan mereka bereksperimen, dan melihat eksperimennya gagal, seperti orang yang baru menyadari bahwa bumi ini ternyata bulat. Moral cerita adalah : Orang yang tak bermental siap untuk perubahan, takkan mampu melihat perubahan, apalagi untuk merubah. Orang seperti ini harus dtampar dengan bukti ketidakmampuan mereka sendiri. Jadi biarkan mereka berpikir mereka bisa memegang kekuasaan, dan biarkan mereka sadar kalau mereka bukan orangnya. Kalau asap pun bisa membunuh, sekalian saja main api. Tapi saya tidak perduli, saya toh sudah bukan pemeluk Islam lagi. Saya sudah terlalu kecewa… Ada yang punya literatur tentang Buddha ?
@ Tyndio: Yang perlu penyamaan persepsi sebenarnya adlah bhw kembali kePiagam Jakarta bukan berati negara ini akan menjadi negara Islam. Perbedaan antara Piagam Jakatta dengan UUD yg sekarang kan cuma 7 kata saja, yaitu ‘dengan kewajiban menjalankan syareat Islam bagi pemeluk2nya’, bukan kepada non muslim. Syareat Islam kan tidak dipaksakan kepada non muslim, dan bahkan kepada kelompok kedua menurut akhi Tyndio. Jadi sebenarnya non muslim dan k elompokkedua itu tak perlu takut dg mahkamah syareah Islam karena berlaku bagi pemeluk2nya kaffah dlm meyakini Islam sebagi way of lifenya. Yg ragu dg qisos rajam potong pun takkan terkena dg hukum Islam tsb.
Komentar Masuk (21)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)