Wawancara,
15/12/2003

Kyai Drs. Imam Nakha’i, MA: Posisi Akal Lebih Tinggi dari Wahyu

Oleh Redaksi

Imam Syafi’I adalah pencetus konsep Qiyas yang menjadi rujukan hukum Islam setelah Alquran dan Hadis. Konsep ini bisa dikategorikan sebagai bentuk ijtihad. Untuk mengetahu secara jelas tentang konsep Qiyas Imam Syafi’i, JIL mewancarai Kyai Drs. Imam Nakha’i MA, Kepala Divisi Pendidikan dan Pengajaran Al-Ma’had Al-‘Ali Sukarejo Situbondo, Jawa Timur hari Kamis (06/11), sebelum Ustadz nyentrik ini menjadi nara sumber dalam “Tadarusan Ramadan” yang diadakan Jaringan Islam Liberal di bulan Ramadan kemarin.

15/12/2003 03:06 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (15)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Ass,

Hmmm, sungguh terhitung berani bapak Kyai Drs. Imam Nakha’i MA mengeluarkan statemen yang mengatakan bahwa kedudukan akal lebih tinggi dari pada wahyu. Pertanyaan :

- Wahyu (lebih spesifiknya lagi, Al Qur’an) sendiri memperuntukkan Dirinya untuk di ” bedah ” oleh akal, dengan kata lain wahyu menjadi obyek akal, dan wahyu sendiripun menyuruh manusia untuk menggunakan akalnya untuk menjawab berbagai persoalan. Salah satu persolan itu adalah bila isi wahyu bertentangan dengan akal apakah sebagai yang tinggi ( akal ) harus di menangkan dari pada yang rendah (Wahyu)?

- Yang saya takutkan dari figur seperti Bapak adalah seperti yang pernah di alami oleh Mas Ulil. Lontaran bapak seperti itu menjadikan saya yakin bahwa pasti dunia Islam Indonesia kembali akan mengalami “gempa” jika itu dipublikasikan seperti yang pernah Mas Ulil lakukan. Mengapa begitu? Ketidakmungkinan penyebabnya. Pertanyaannya, apa Bapak sudah siap di vonis telah menghina Al Qur’an yang juga berarti menghina Allah, Malaikat, Nabi, serta umat islam selaku ” Tokoh” yang melahirkan dan melestarikannya? Bapak siap darah bapak dihalalkan? Apalagi dengan melihat posisi Bapak di sebuah institusi sebagai kepala divisi.

- Maaf pak, saya ngga’ tau, Bapak orang Mu’tazilah ya? Akal saya berkata setelah berinteraksi dengan diskusi Bapak, pasti pertanyaan ini dijawab.

#1. Dikirim oleh Dani - SY  pada  17/12   02:12 AM

Sikap Dani SY yang mempersoalkan status akal oleh Ustadz Nakhai dipandang lebih tinggi ketimbang teks Alquran sebetulnya persoalan yang sudah usang namun masih perlu didiskusikan karena umat Islam masih memperdebatkannya. Dan agaknya perdebatan ini susah dicapai titik temu. Sejak era Nabi sudah muncul persoalan ini. Dan mencapai puncaknya pada abad ke- 2-5 H. Fenomena ahlu ra’yi (kelompok rasionalis yang mengedepankan akal) dan ahlu hadits (kelompok yang mengedepankan teks) yang mencuat pada saat itu adalah bukti kokret.  Yang ingin saya katakan, bahwa ushul fiqh itu hanya metode, cara, jalan untuk membaca teks Alquran, khususnya untuk menghasilkan produk fiqh.

Sebagai metode pembacaan untuk istimbath hukum, tentunya ia harus mampu mendialogkan antara teks dengan realitas. Nah, di sini ada problem. Teks sudah diam dan tidak berubah, sementara realitas terus berubah seiring perubahan ruang dan waktu.

Dalam kerangka inilah, bagi kaum tekstualis (ahlu hadits) teks adalah segalanya yang harus dioperasionalkan bagi segala konteks zaman, tak pandang ruang dan waktunya, kapanpun dan di manapun. Namun, ternyata cara demikian ini sering memunculkan problem karena sering terjadi resistensi dengan realitas. Belum lagi problem teks sendiri yang ambigu. Pemaksaan teks untuk konteks/realitas telah menyebabkan bahaya besar bagi realitas, yang ini tentu saja bertentangan dengan misi Islam sendiri yang mewartakan dirinya sebagai jalan keselamatan dan kedamaian umat manusia (tanpa pandang agama dan etnisnya) dan alam semesta.

Karena sering terjadi gap antara teks dengan realitas inilah, maka peran akal mesti diutamakan dan mendapat posisi di atas teks sebab dengan akal kita akan mampu menyelesaikan problematika umat yang ada pada realitas. Apa pun problem itu pasti bisa diseleikan dengan akal. Asalkan akal itu digunakan dengan baik. Akal yang baik dan sehat tentu akan mengedepankan etika dan moralitas serta teguh menjalankan praktek kebajikan dan memperjuangkan kedamaian dan keadilan dunia. Alquran sendiri sering menyindir umat yang tidak menggunakan akal sehatnya dengan baik. “Afala Ta’qilun,” sindir Alquran.

Jadi, akal memang utama dan teks memang harus ditundukkan di bawah akal. Karena dengan cara begitulah umat manusia bisa mengoptimalkan perannnya sebagai khalifah di bumi. Sementara teks Alquran hanya menyediakan sistem nilai atau kerangka moralnya saja, bukan teknis operasional. Teknis operasional dalam praksis ini menjadi wilayah dan tugas akal untuk mengolahnya.

Moral etik teks Alquran seperti semangat pembebasan, keadilan, kebajikan, kesetaraan dan rasionalisme inilah yang mesti diperjuangkan. Dan akallah yang mampu megoperasionalisasikan nilai-nilai universal tersebut dalam kerangka praksis.

Mengenai kasus fatwa mati yang pernah diisematkan untuk Mas Ulil, saya kira itu adalah bukti orang yang mematikan akalnya sendiri. Dan jika fatwa mati itu terulang kembali untuk Ustadz Nakha’i, berarti orang yang memberi fatwa tersebut sudah tidak menghargai akalnya sendiri, dan merelakan akalnya mati. Singkatnya, fatwa mati adalah sama artinya dengan kematian bagi akal sehat.

#2. Dikirim oleh M. Kholidul Adib Ach.  pada  19/12   05:12 AM

assalamualaikum..

sebelum saya mulakan bicara, saya memohon ampun dan maaf kepada Allah s.w.t sekiranya apa yg saya ucapkan ini bisa menimbulkan keresahan pelbagai pihak dan jauh dari rahmat Yang Maha Kuasa

bapak kyai menyatakan akal lebih tinggi dari wahyu seperti hujahnya yg berbunyi   “untuk menerima Alquran sendiri kita membutuhkan akal. Apa dalil kita menerima Alquran? Tidak ada yang bisa membuktikan itu kecuali akal. Untuk meyakini ketuhanan Allah, kita memang harus punya iman. Tapi iman juga sangat ditentukan sejauh mana akal kita menangkap pesan-pesan Allah. Di situlah letak besarnya peran akal.”

memang agak kontroversi apa diperkatakan oleh bapak Kyai Drs. Imam Nakha’i MA. tapi jika dilihat secara logik ia boleh diterima tapi tidak dari semua segi.

jika benar posisi akal itu lebih tinggi dari wahyu, kenapa harus ada nabi dan rasul? bukankah sejak manusia itu wujud sudah mempunyai akal dan fikiran?

Wahyu itu gunanya untuk memberi peringatan kepada kita supaya kita tidak melakukan kesalahan. gunanya wahyu untuk memandu kita kepada jalan yg benar degan lebih cepat dan mudah. dan gunanya akal untuk memikirkan apa yg cuba disampaikan oleh wahyu. Ya memaang saya setuju dengan pandangan yg mengatakan bahawa dengan Akal sahaja kita bisa temukan kebenaran mengenai soal kehidupan tetapi itu mungkin lambat dan memerlukan masa yg panjang. kita bisa temukan kebenaran dgn hanya menggunakan akal tetapi itu mungkin terjadi setelah kita banyak melakukan kesilapan melalui eksperimen .

contohnya begini: kita boleh mengatakan bahawa akal itu seperti percubaan amali untuk mencipta psawat terbang yg pertama didunia.  banyak percubaan dilakukan dan banyak yang gagal serta memakan korban sehingga saat ia berjaya diterbangkan. setelah itu itu segala yg patut dan yang tidak patut dalam mencipta pesawat itu dicatatkan dalam sebuah buku untuk rujukan generasi akan datang. maka buku itulah boleh kita anggap fungsinya seperti wahyu. wahyu itu adalah asas kepada kehidupan sama seperti asas untuk mencipta pesawat supaya ia bisa diterbangkan. laju dan cepat pesawat itu bergantung kepada kreativiti dan dalam hal kehidupan ia boleh disamakan seperti qias untuk menyelsaikan masalah hidup supaya umat manusia bahagia.

jadi apa bezanya akal dan wahyu?

bezanya ialah terletak kepada perkabaran mengenai perkara ghaib.pada saya wahyu itu memberitahu perkara yang ghaib yg benar tetapi tidak jelas, manakala akal itu tidak bisa membayangkan perkara ghaib seperti sifat ketuhanan dan alam akhirat serta mudah di pujuk rayu oleh iblis seperti membayangkan tuhan itu bagaimana seperti yg terjadi kepada mereka yang menyembah patung lembu pada zaman nabi Musa a.s

#3. Dikirim oleh adli  pada  21/12   08:13 AM

“Bertentangannya” wahyu dengan akal adalah bertentangan dengan fitrah akal itu sendiri, oleh sebab-sebab berikut:

“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepada-Nya, melainkan orang-orang yang fasik” (QS. 2: 99).

“Alif Laam Raa’, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu” (QS. 11: 1).

Tidaklah akal itu menentang wahyu disebabkan kebodohan/kejahilan akal itu sendiri?

“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (al-Qur’an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan, dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman” (QS. 16:64).

Dengan akal (metodologi) yang seperti apa kita menjelaskan wahyu yang bertentangan dengan akal?

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” (QS. 3:105).

Progresivitas akal (nalar) haruslah terkekang kalbu yang yang sejalan dengan wahyu dan sunnah serta atsar salafus sholeh, sehingga tercapai sebuah modernitas islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Jangan terjebak karena kemodernan zaman yang non rahmatan lil ‘alamin”, maka wahyu terdepak akal. Na’udzubillah.

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu” (QS. 23:71)

Seharusnya kalian menjadikan gerak laju zaman (di Indonesia) sesuai dengan Islam yang rahmatan lil ‘alamin (Islamic’s Wave/Globalation).

Jangan mengakomodasi hal-hal (metodologi) yang di luar pemikiran Islam.

Memang manusia tak ada yang sempurna (begitupun saya, mohon maaf, yang benar datang dari Allah, apalah akalku ini bila tak terbimbing).

#4. Dikirim oleh Baihaqi  pada  22/12   06:12 AM

Salam

Secara umum, saya sependapat dg pandangan pak kiai ini. Valid sekali jawaban atas pertanyaan: menggunakan apa judgement kita dalam menerima al Quran? Tentu, menggunakan akal. Imam Ali pernah mengatakan bahwa pada setiap diri ada utusan Allah, yaitu akal.

Sesama utusan Allah tentu tidak akan saling bertentangan. Krn itu, akal dan yang dibawa Muhammad SAW (Quran) tidak mungkin bertentangan. Kalau ada ayat Quran atau hadits yang “bertentangan” dengan “akal”, maka kemungkinannya: 1. pemahaman/interpretasi yg salah dari ayat Quran/hadits 2. hadits-nya palsu 3. “akal”-nya yang salah

(Adalah di luar lingkup bahasan untuk menganggap bahwa ada kemungkinan ayat Quran-nya yang palsu, sebab bahasan ini berangkat dari pijakan Islam, bukan pijakan neutrality.)

Kemungkinan yang 3 points di atas, rasanya kita semua sudah mafhum. Pemahaman terhadap Quran/hadits artinya adalah suatu usaha menyerap ilmu dari these recitations (Quran dan hadits). Kita semua tahu bahwa kandungan Quran dan hadits hakikatnya adalah ILMU dari Allah untuk kemanfaatan kita dalam berkehidupan dg tujuan kembali dg selamat kepada Allah. Nah, dalam PROSES memahami ini, maka kekeliruan bisa saja terjadi, dan ini timbul karena kemungkinan point 1 dan/atau 3. Khusus untuk masalah hadits, maka masuk pula kemungkinan point 2, bahwa hadits-nyalah yang palsu.

Mudah2an dari sini menjadi jelas, bahwa apa yang kita sangka selama ini sebagai ‘kemungkinan Quran bertentangan dengan akal’, sebetulnya tidak ada. Yang ada adalah pertentangan antara ‘pemahaman Quran sebagian orang’ dengan ‘pemahaman Quran sebagian orang lainnya’. Atau pertentangan antara ‘pemahaman Quran diri saya 10 tahun lalu’ dengan ‘pemahaman Quran diri saya saat ini’. Dan harus diingat bahwa “pemahaman Quran” itu sendiri adalah sebuah olah akal.

Dan harus diingat pula, konflik2 yang ada umumnya adalah karena banyak orang membahasakan “pemahaman Quran saya” sebagai the absolut al Quran dari Allah, sehingga jika ada orang lain memahami Quran secara berbeda langsung dikatakan “orang itu telah menghina Allah”. Orang2 seperti ini secara tidak sadar telah bertindak “as if he is Allah”. Naudzubillah.

Ini pula yang terjadi ketika bbrp waktu lalu FUUI Jabar menyerang bang Ulil dg fatwanya. Padahal kalau ditanya “dengan apa mereka berpemahaman bahwa wahyu lebih tinggi dari akal sehingga pendapat yang sebaliknya adalah sebuah penghinaan terhadap Allah?”, mungkin sekali jawabannya adalah “dengan akal”. Nah, pendapat bahwa akal lebih tinggi dari wahyu-pun adalah berdasarkan pertimbangan akal (a.l. seperti diungkap kiai Imam Nakhai ini). Jadi sebetulnya kedua pendapat ini sama2 bersumber dari olah pikir logika, dan karena itu sebetulnya tinggal kita uji saja melalui sebuah diskusi yang konstruktif mana yang benar.

Last but not least, kita memang harus hati2 dalam menggunakan pikiran (point 3). Hasil olah pikir tidaklah selalu sama dengan hasil olah akal (karena itu di point 3 itu akal saya beri tanda kutip). Gampangnya, akal adalah pemikiran yang bebas dari hawa nafsu. Di Quran (an Najm), secara jelas dikatakan bahwa Muhammad itu tidak pernah berkata menuruti hawa-nya, melainkan semuanya adalah wahyu hakekatnya. Jadi semua pemikiran Rasulullah hakekatnya adalah akal, yang tidak mungkin bertentangan dengan wahyu.

Agar olah pikir kita terbebas dari hawa nafsu sehingga menghasilkan kesimpulan yang benar2 dari akal, Quran-pun telah memberi petunjuk, yaitu berpikir yang dilandasi taqwa. Quran mengatakan jika kita bertaqwa, maka Allah akan memberi kita petunjuk dan pengampunan. Al Quran itu sendiri adalah “hudallil muttaqin”. Quran juga menyatakan bahwa jika kita bertaqwa, maka Allah akan memberi kita ilmu.

Maka agar hasil pemikiran kita adalah benar2 pemahaman terhadap petunjuk Allah, pemahaman terhadap ilmu, maka hanya ada satu syarat: taqwa. Dan taqwa ini adalah urusan hati, urusan niat, yang hanya diri sendiri dan Allah saja yang tahu. As far as other people’s taqwa is concerned, kita WAJIB berprasangka baik unless proven otherwise (lihat al Hujurat).

Wallahu a’lam Wassalam

#5. Dikirim oleh Abdullah Bin Umar  pada  22/12   10:13 PM

Assalamualaikum.

  Sungguh benar- benar aneh logika yang digunakan oleh bapak Imam Nakha’i ini. Bagaimana mungkin akal memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari wahyu yang merupakan perkataan pembuat akal itu sendiri.  Saya ingin tegaskan di sini bahwa akal tidak berarti apa- apa tanpa wahyu dari Allah. Karena Allah menciptakan akal untuk memahami wahyu itu sendiri. Dalam wahyu terkandung pesan-pesan dan perintah Allah agar manusia melihat sendiri kebenaran wahyuNya dengan menggunakan akal. Dalam WahyuNya seringkali Allah memberikan logika- logika berpikir bagi manusia.  Dari sini kita dapat melihat fungsi wahyu sebagai pembimbing akal. Oleh karenanya Wahyu Allah (AL-QUR’AN) Adalah sumber kebenaran tertinggi dan bukannya akal. Sebab, terkadang akal bisa tercampur dengan hawa nafsu manusia sehingga dapat mengabaikan rasionalitas.  Kepada bapak Imam Nakha’i, agar memperhatikan bahwasannya saya pun menggunakan akal ketika menulis ini. Namun setidaknya saya berusaha agar akal saya tetap berada di bawah bimbingan wahyu Allah swt. Wassalamualaikum.wr.wb

Wildan Taufiq- Jogja

#6. Dikirim oleh Wildan Taufiq  pada  25/12   05:12 AM

Ehhhhm sungguh tidak aku duga dan teramat naif kalau saja karena statemen itu bapak Nakha’i harus kau vonis halal darahnya….

Dan seandainya itu terjadi apa jadinya dunia ini beranikah kamu hidup di dunia ini sendirian. Kalau cuma gara-gara statemen yang kayak gitu di halalkan semua darahnya manusia. Cuma saya berharap kepada siapa saja, jangan sampai terulang kasus-kasus seperti yang telah menimpa ulama-ulama terdahulu gara-gara fatwanya sampai ada yang di penjara dll. Yang ingin saya tanyakan dalil apa yang saudara gunakan sehingga saudara mengatakan bahwa dan seakan ada dalil yang menghalalkan darah umat islam?

#7. Dikirim oleh aziz  pada  02/01   05:01 AM

Sungguh tidak aku duga dan teramat naif kalau karena statemen itu Bapak Nakha’i kau vonis halal darahnya.

Dan seandainya itu terjadi, apa jadinya dunia ini. Beranikah kamu hidup di dunia ini sendirian? Saya berharap kepada siapa saja, jangan sampai terulang kasus-kasus seperti yang telah menimpa ulama-ulama terdahulu; gara-gara fatwanya sampai ada yang di penjara dll.

Yang ingin saya tanyakan: dalil apa yang Saudara gunakan sehingga saudara mengatakan bahwa dan seakan ada dalil yang menghalalkan darah umat islam?

#8. Dikirim oleh aziz  pada  02/01   06:02 AM

Salam,

Kalau pendekatan dan cara pandang Ust. Nakha’i seperti itu, bahwa untuk menunjukkan keimanan pada Al-Qur’an tidak dengan Al-Qur’an, tapi dengan akal, tentu benar adanya. Bahwa untuk menguji kebenaran sesuatu, diperlukan perangkat atau dalil lain yang bisa menguatkan kebenaran itu, bukan dari sesuatu itu sendiri. Tapi kalau kemudian dijadikan bukti otoritas akal yang melebihi wahyu, maka tunggu dulu.

Memang akal menempati posisi yang sangat urgen, baik untuk melakukan ijtihad atau dalam hal-hal sepele seperti untuk berpikir, menghitung dan sebagainya. Manusiapun akan diauki sebagai manusia kalau ia punya pikiran. Salatpun tidak sah kalau sang mushalli tidak berakal. Cuma saya melihat persoalan ini akan semakin ruwet dan muter-muter ketika dikaitkan dengan wahyu. Sebab wahyu sudah kadung ada dan terjadi. Sehingga untuk mengetahui akal atau wahyukah yang akan menentukan, semakin mbulet.

Sekarang wahyu sudah ada, dan akalpun ada. Bagaimana memposisikan keduanya secara proporsional. Jadi bukan untuk mengungguli yang satu dengan yang lain, mempeerdebatkanya dengan yang lain. Jadi pada intinya semua memerlukan akal. Seperti kata Al-Muhasibi, akal adalah insting yang dikaruniakan Allah kepada manusia untuk membedakan mana yang manfaat, mana yang tidak. Sementara Al-Qur’an sendiri memiliki peran yang jauh dari pada itu. Sehingga tidak pada tempatnya mempertentangkan keduanya.

Saya rasa kok lebih enak kalau akal dijadikan alat untuk menggali pesan-pesan Tuhan dalam Al-Qur’an dan menghadirkanya dalam realitas yang sangat boleh jadi berbeda dengan bunyi teks Al-Qur’an, tapi tidak pada substansinya. Mungkin kasus-kasus yang pernah diputuskan oleh Sahabat Umar RA bisa dijadikan rujukan. Tapi ini dalam posisi tidak saling menekan, mengungguli dan merendahkan peran yang lain.

Wassalam.

#9. Dikirim oleh Ahmad Syakur Isnaini  pada  04/01   02:02 AM

Mana yang lebih penting rel atau keretanya? Saya kira pak kyai atau siapapun yang hendak melebihkan sesuatu atas sesuatu yang lain akan bersilangan dengan semangat universalisme, semangat yang nota bene di perjuangkan JIL, yang ingin melihat kadar sesuatu dalam posisi equal.

Tapi itu sah-sah saja. Universalisme tidak hanya ditujukan pada makhluk hidup, tapi juga ekosistem, geosistem dan juga etnosistemnya. Semuanya memiliki kedudukan yang sama, dan berhak berpendapat apa saja. Demikian halnya Dani.

Dani tidak boleh dipersalahkan oleh mahluk apapun akan pendapatnya, keinginannya nafsunya, atau apa saja yang muncul darinya. Setiap hal yang muncul dari Dani atau Ulil atau siapapun adalah tanggungjawabnya. Dani, Ulil dan atau siapapun hanya bisa dipersalahkan oleh kesepakatan bersamaj—jika ada—untuk membatasi diri masing-masing. Salah satu kesepakatan yang harus diterima—mau atau tidak mau karena paksaan alam—adalah saling bertentangan, mati dan hidup, membenarkan dan menyalahkan, dsb.

Maka Dani mengancam mati pak kyai adalah hukum yang bagi saya biasa-biasa saja. Toh mati dan nafsu membunuh serta mempertahankan diri telah dipaksakan alam kepada kita. Kewajiban pak hanya mempertahankan diri itupun kalau mau.

Itulah kehidupan penuh dinamika yang jika coba diberikan aksi terhadapnya dia akan membalasnya dengan reaksi. Kehidupan hanya dibatasi oleh kematian dan reaksinya adalah kematian sesungguhnya mempertegas akan adanya kehidupan. Selamat berjuang, apapun hasil dari hidup kita pasti adalah suatu prestasi bahwa kita pernah berhasil melewati sebuah perjuangan berat yang bernama “hidup”.

#10. Dikirim oleh ADI CAHYADI  pada  21/01   09:01 AM

Ust. Nakha’i, guru saya yang saya hormati…

Bagi saya yang harus diperjelas lebih dalam adalah apa sesungguhnya yang dimaksud dengan wahyu itu sendiri dan apa akal itu?

Bagi saya, wahyu merupakan gagasan-gagasan ideal universal Tuhan yang abstrak dan tidak bisa dijamah oleh manusia manapun. Selanjutnya, gagasan ideal tersebut disampaikan melalui bahasa manusia (Arab abad ke-VII) agar manusia itu memahami maksud perintah Tuhan kepadanya. Akan tetapi, manusia seringkali keliru dalam melihat kitab yang terbakukan itu, yakni selalu menganggap bahwa apa yang dikatakan al-Qur’an itulah maksud Tuhan yang sesungguhnya. Padahal bahasa al-Qur’an adalah bahasa manusia dan bahasa manusia tidak akan pernah bisa menampung firman Tuhan secara keseluruhan yang demikian mahaluas.

Jangankan gagasan universal Tuhan, semua isi yang ada dalam pikiran manusia tidak bisa diwakilkan ke dalam simbol bahasa manusia. Satu contoh, ungkapan ‘aku bahagia’ tidak akan bisa menggambarkan kadar kebahagian yang termaktub dalam ungkapan itu. Lantas bagaimana dengan firman Tuhan?

Maka, disinilah sesungguhnya peran akal, yakni menangkap apa yang termakutub dalam makna paling dalam dari ungkapan teks simbolik al-Qur’an. Jika wahyu yang dimaksud adalah ungkapan tekstual al-Qur’an, saya mungkin setuju jika akal lebih tinggi darinya. Artinya, dengan akallah makna hakikinya bisa tergapai.

Akan tetapi, jika yang dimaksud wahyu adalah gagasan ideal yang belum terjewantahkan ke dalam bahasa manusia, saya harus mengatakan wahyu itulah yang lebih tinggi daripada akal. Dengan demikian manusia tidak akan terjebak pada pengkultusan pemikirannya, karena masing-masing dari mereka hendak menggapai dan menerjemahkan gagasan ideal Tuhan itu. Dan yang berhak memberi kebenaran adalah Tuhan sendiri.

Al-Qur’an akan kekal, manakala ia dimaknai sebagai kerangka nilai moral, bukan formal. Karakter simbol formal selalu kaku dan akan ditinggalkan oleh zaman jika tidak relevan atau bahkan menjadi barang antik. Tetapi nilai ideal akan terus bernaung dan dinaungi oleh setiap zaman dan makaan, seperti air sejuk nan jernih yang selalu ingin diminum dalam kondisi apappun.

Wallahu A’lam (Agus Hilman, alumnus Ponpes Sukorejo Situbondo Jawa Timur)

#11. Dikirim oleh agus hilman  pada  10/02   10:03 PM

To MAs Agus Hilman yang memiliki guru ust. Nakha’i. Anda mungkin belum membaca bukunya Pak HArun NAsotion, tentang akal dan wahyu. DIsana telah dijelaskan dengan panjang lebar tentang keduanya. KArena itu, saya menyarankan jangan sekedar komentar kosong tanpa arti, tetapi juga alasan yang argumentatif dan rasional sehingga bisa diterima oleh banyak kalangan. PEsan dari saya

Hatim Gazali (Penulis Muda NU)

#12. Dikirim oleh Hatim Gazali  pada  17/03   11:03 AM

Saya hargai maksud Saudara mengangkat topik tersebut beserta para Sahabat yang berkontribusi pd tanggapan.

      Komentar saya singkat…

                  BACA IBNU TAIMIYAH!

Akal dan Wahyu…and the conclusion is mereka berjalan siiring…

          TAPI SEKALI LAGI, INI ADALAH SEBUAH “1TONGGAK” dalam mencari kebenaran…

                    Yakin Usaha Sampai

#13. Dikirim oleh Andi Nugroho Suryo Kuncoro  pada  19/06   11:06 AM

Wah maaf pak Kyai, saya gak setuju dengan pendapat pak Kyai yang sedikit-sedikit kata Imam Syafi’i. Bagaimana kalau nanti saya tanya pada Imam Hambali, Hanafi, Maliki dan lain sebagainya? Pasti jawabannya berbeda. Lho kok sama-sama Islam berbeda sih. Ya iyalah karena mereka berbicara atas landasan pemikiran dan Qisas yang seperti Pak Kyai katakan tadi. Pak Kyai, Imam Sayfi’i itu juga manusia sama dengan kita jadi kalau berbicara Islam jangan jadikan ia sebagai landasan tetapi pak Kyai harus berlandaskan kepada Quran dan Sunah Rasul gitu dong. Kalau yang disampaikannya ada landasan Qurannya ya boleh-boleh aja. Seperti Firman Allah dalam QS.4:59, bahwa yang ditaati hanyalah Allah, Rasul dan Ulil Amri. Ingat pak Kyai Ulil Amrinya juga harus berbicara dalam konteks Quran ya, kalau tidak jangan diikuti. Lantas biar gak beda gimana? Ya jadikan dong Quran sebagai landasan pembicaraan dan pemecahan persoalan biar Clear gitu lho???. Pak Kyai tahu gak pekerjaan yang merugi dan sia-sia itu apa? Yaitu pekerjaan yang menduga-duga terhadap Allah, yang menganggap bahwa mereka itu merasa benar tetapi apa? mereka itu sebenarnya hanya menyesatkan. Lho kok edi ngomongnya gitu? maaf ya, saya hanya menyampaikan, itu sudah tertulis dalam firman Allah QS.18:103-104. coba fikir-fikir sekali lagi, benar gak tuh akal lebih tinggi dari wahyu???. Akal masih belum atau sedang berfikir, wahyu sudah mengetahuinya terlebih dahulu. ALLAHU AKBAR.

#14. Dikirim oleh edi handoko  pada  09/06   07:07 PM

Dari artikel dan semua tanggapan yang saya baca, itu merupakan pendapat masing-masing yang tidak jelas dalilnya dan hanya berdasarkan kemauan individu semata. Kalau kita berpegang kepada pendapat ulama, kyai, ustadz atau apa saja yang berbicara tidak berlandaskan Quran tentulah tidak akan ada titik temu. Ingat seandainya Quran itu bukan pada sisi Allah pasti terdapat perbedaan (QS.4:82). Nah sekarang kita telah berbeda-beda dalam memahami Quran / wahyu. Itu berarti kita memahaminya bukan pada sisi Allah malainkan berdasarkan kemauan kita. Quran merupakan wahyu dari Allah Tuhan semesta alam. Ingat sebelum kita berbuat dan memikirkan akibat dari perbuatan kita, Quran telah mengetahui terlebih dahulu apakah perbuatan itu baik atau tidak. Tidak seharusnya wahyu itu diakal-akali, tetapi akallah yang harus diisi dengan wahyu agar mmempunyai daya gerak yang menghasilkan perbuatan yang baik. Akal seseorang yang telah terisi wahyu akan menghasilkan aktivitas yang PASTI 100% baik hasilnya. Sebaliknya jika akal manusia belum terisi wahyu maka semua gerakan dan pola pikirnya bersifat tebak-tebakan yang belum mempunyai kepastian hasil. Ingat Quran tidak pernah berbicara fisik. Manusia disisi Allah bukanlah yang bisa berjalan, punya tangan, punya kaki, hidung, mata,bisa berbicara dan sebagainya. karena tidak ada landansannya dalam Quran yang menyatakan manusia seperti itu. Allah hanya mengkategorikan manusia bila ia mau dengan wahyu dan siap untuk beraktivitas dengan landasan wahyu tersebut. Sebaliknya jika ia tidak mau dengan wahyu dan menutup dirinya dengan aturan Allah maka ia sama dengan binatang bahkan lebih buruk lagi (QS.7:179). Wassalam.
——-

#15. Dikirim oleh Diki Amri Siregar  pada  09/06   07:07 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?