Gagasan,
21/07/2003

Potret Hukum dan Moralitas Bangsa Kita Respon Atas Kasus Goyang Ngebor dan Inulisasi

Oleh Achmad `Aly MD

Hukum tidak dapat dipisahkan dari aspek moral. bila hukum belum ada secara kongkrit yang mengatur, dan moralitas telah menuntut ditransformasikan, maka moralitas haruslah diutamakan. Kebebasan berekpresi tidak boleh bertentangan dengan moralitas, karena negara kita berfalsafahkan pancasila yang memuat nilai religious, yakni moralitas.

21/07/2003 11:33 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (5)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Saya sepakat atas apa yang telah ditulis. Akan tetapi apa yang harus dilakukan ketika kita menolak hal tersebut dan ketika jawaban dari Inul adalah karena ia mencari nafkah? Memang, ketika hal tersebut kita baca dari perspektif agama benar, akan tetapi kita juga harus melihatnya dari sudut pandang yang lain sehingga tanggapan kita atas suatu masalah bisa solutif-kontributif.

Sebenarnya yang perlu kita kritisi adalah bagaimana negara mampu mamakmurkan bangsa (baca: rakyat) sehingga rakyat tidak lagi akan neko-neko melakukan hal yang menurut kacamata agama adalah salah. Saya yakin bahwa jikalau bukan karena masalah ekonomi Inul tidak akan melakuka hal tersebut. Ngomongin masalah hukum di negara ini jangan lantas mengaitkannya dengan agama (Islam) karena negara ini bukan bahkan tidak mungkin berasaskan Islam, melihat pruralisme agama yang ada. Kalau masalah Inul kita kaitkan engan hukum negara saya rasa no problem.

#1. Dikirim oleh khoirun nasihin  pada  24/07   05:07 PM

Salam, syallom, shaanty, shaadu, peace!

Inul bukanlah sebuah nama, saya kira. Ada banyak Inul-Inul di negeri ini. Inul-inul ini telah menelanjangi bopeng-bopeng kemunafikan manusia yang acapkali gemar membungkusnya dengan moralitas dan agama. Semenjak para elit dan para tokoh sebuah bangsa mulai lupa akan kewajibannya melayani rakyat, maka Inul-Inul akan selalu muncul. Inul merupakan sindiran. Ia menyindir tentang perilaku manusia yang belum apa-apa sudah merasa menjadi pemimpin umat, belum mengalami, sudah cepat-cepat berdagang ayat-ayat suci dimana-mana. Maka yang terjadi adalah upaya mereka untuk mendiskreditkan sosok Inul yang begitu pedas menelanjangi mereka, tarian Inul mampu memicu kesadaran birahi mereka untuk tampil keluar. Yang salah bukanlah Inul, yang salah adalah cara pandang manusia terhadap “tarian” Inul. Tarian Inul kaya akan seni yang indah. Sebagian manusia mengapresiasinya sebagai seni. Jika ada yang merasa terstimuli berahinya, ini menunjukkan betapa kesadaran mereka masih berada pada tingkat kesadaran badaniah. Mereka tidak mampu menghargainya sebagai ekspresi seni. Rasa terdalam mereka belum berkembang. Keimanan mereka baru sebatas bibir. Iman macam apakah yang mudah runtuh hanya karena menyaksikan “goyangan” Inul? Padahal sebagian yang lain tidak merasakan tarikan-tarikan badaniah tersebut kala menyaksikan “tarian Inul”. Lalu mereka yang merasa terancam dengan kehadiran Inul, akan berupaya mendiskreditkannya dengan dalih melanggar moral, agama dan etika. Ironis sekali. Padahal takaran dan ukuran moralitas itu sendiri sangat relatif. Semuanya bergantung pada individu yang memaknai apa “tarian Inul” itu. Kejujuran dan kepolosan Inul merupakan sebuah nilai plus, dimana dia menari untuk menghibur dan mencari nafkah. Ia tidak senang mengklaim bahwa ia menari dan menyanyi untuk berdakwah keagamaan. Ia sangat polos dan lugu. Keluguan ini, kepolosan ini, rasa tanggungjawab ini harus pula dimiliki oleh para tokoh bangsa ini yang sudah melupakan kewajibannya melayani rakyat. Mulailah untuk berbenah diri, jangan hanya ingin dilayani rakyat, tetapi berupayalah sekarang tanpa pamrih mendekati mereka, menyapa mereka, melayani mereka yang tidak beruntung dan dirundung penderitaan.

Allah Haafiz, A. R.

#2. Dikirim oleh Arief Rahman El-Katiri  pada  07/02   08:02 AM

Ass,wr,wb

Secara umum garis-garis moral adalah demikian adanya, seperti yang menjadi tujuan ajaran Islam, bahwa Nabi Muhammad diutus untuk “memperbaiki prilaku yang luhur”, untuk seluruh umat manusia melalui risalah Nya (uswatun hasanah), berarti keluhuran akhlaq dasarnya telah available sebagai fitrah insaan.

Banyak kalangan & orang-orang yang nyinyir dikala moral dibicarakan, tetapi bila tidak disampaikan adalah kurang bijak, dan bila tidak dg referensi agama, dengan referensi yg mana lagi ?, dan Islam telah menjelaskan segamblang-gamblangnya perihal kemanusiaan(dari sejak penciptaan manusia hingga kembali ke asal).

Demikan pula pelanggaran manusia pertama(Adam) terhadap perintah Tuhan karena hal tsb, sehingga hal itu menjadi “the big capital”  bagi musuh agama & moralitas, siapapun pelakunya.

Kita tidak dapat lari dari kenyataan, bahwa unsur birahi dengan segala aplikasinya, menjadi mudah terpampang didepan mata, walaupun Sdr Arief Rahman El-Katiri mengatakan :    “ Iman macam apakah yang mudah runtuh hanya karena menyaksikan “goyangan” Inul? Padahal sebagian yang lain tidak merasakan tarikan-tarikan badaniah tersebut kala menyaksikan “tarian Inul”.”

Saya bersyukur bila seluruh bangsa Indonesia telah seperti Sdr. Arif, tapi Allah yang Maha tahu atas ciptaan-Nya yang “beragam cara pandangnya”, telah mencukupkan nikmat, serta meridhoi Islam menjadi tatanan hukum bagi seluruh umat manusia.

Hamba yang menyadari hal itu tentu akan menjadikan Islam sebagai tolok ukur untuk di aplikasikan, bagi dirinya dan yg lainnya (kuu anfusikum……..).

Demikian pula Tuhan telah menjadikan “Inul” dengan segala keluguan dan talentanya sebagai “seleksi moral” (Aku ilhamkan keburukan dan kabaikan untuk menguji hambaku) sekaligus yang menjadi tujuan utama atas hadirnya seorang Nabi, Muhammad SAW.

Sekarang setelah semuanya jelas dan nyata, bahwa “Inul” dengan segala kontroversi dan seabreg analisa, tentu telah dicapai kesimpulan, dimana kesimpulan tsb menjadi point yang harus di selesaikan oleh komponen anak bangsa, bila hanya mengandalkan & menunggu-nuggu elit penguasa tanpa kita berbuat kenyataan di lapangan, tentu tidak akan menyelesaikan persoalan.

Masing-masing kita mempunyai haq & kewajiban untuk berbuat sesuatu tanpa saling menyalahkan sesuai kemampuan yg dimiliki, bahwa peng-amalan tatan moral yang kongkrit dilapangan dalam bentuk apapun, merupakan sesuatu yang ‘mutlaq’. 

Sekaligus merupakan koskwensi dari pengakuan atas definisi “keimanan”  (diyakini dlm hati, diucapkan dg lisan, diamalkan oleh anggauta badan), demikan pula dg ayat Alquran & hadis, selain qoriah, tilawah, juga ditadaburi & diamalkan.

Yang menjadi tujuan utama bukanlah hasil, tapi sejauh mana masing diri merealisasikan Islam sebagai tatanan hidup “amar ma’ruf nahi munkar” dengan cara yang ma’ruf.    Siappun bisa memulai dari detik ini untuk bersama, bersatu dalam segala perbedaan, dengan menyingkirkan idealisme kelompok, golongan, faham, firqah, partai, ormas dll, memulai kebersamaan dalam kemaslahatan.

Kami semua saat ini lemah bagai sebuah LIDI, namun kami faham & pandai ber-argumen, Ya “Allah” Engkau Maha Kuasa & Berkehendak bawalah kami dalam keridhaan-Mu ber-himpun hingga sebuah SAPU LIDI.

  Wasslam, Mulad.

#3. Dikirim oleh Mulad Hadi Negoro  pada  13/07   08:07 AM

Goyang inul adalah mungkin sebagai ekspresi jiwa yg dilanda kepapaan ekonomi sosial yg telah direnggut oleh segolongan orang-orang yang tidak mau bertanggung-jawab dan peduli atas ekonominya rakyat demi menyambung hidup-hidup mereka sehingga terinspirasilah banyak cara dari masyarakat yang ingin menyambung dan mencerahkan suasana hidup mereka kearah yang lebih baik. Akibatnya malah menjadikan kebrutalan moral-moral bangsa kita dengan berbagai aspek baik dari kalangan remajanya sampai kepada orang-orang tua yang hampir mencium liang tanah. lebih-lebih goyang inul itu sangat memberi pengaruh pada jiwa2 remaja sehingga menjadikan mereka sangat menganggap enteng atau sex itu sebagai hal yang biasa saja untuk dilakukan tanpa ada ikatan suci tali pernikahan. Sepatutnya kita banyak-banyak berinterpreksi diri guna memajukan generasi-generasi bangsa ini yang dilanda dengan krisis kepercayaan.
——-

#4. Dikirim oleh ibrahim murad  pada  21/07   06:07 PM

bismillah
salam

moral dan hkum satu kesatuan bukankah ini merupakn sarana dalam mendapatkan tujuan akhir keadailan dan kemanusiaan yang beradap.’ ingat dalam setiap langkah yang terpanting adanya ketegasan yang berdasar semoga kita semua dijernihkan dari kesalahan dan mencoba trus kearah perbaikan..wassalam

#5. Dikirim oleh mady  pada  07/03   11:18 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?