Puasa dalam Kritik al-Ghazali
Oleh Novriantoni Kahar
Maksud terdalam dari puasa—kata al-Ghazali lebih lanjut—adalah pengosongan (al-khawaa’) dan penaklukan keinginan-keinginan diri (kasr al-hawaa) yang bersifat fisikal. Lewat cara seperti itulah seseorang mampu beralih dari alam fisikal menuju alam spiritual. Dengan peralihan fokus dari alam fisikal ke alam spiritual, barulah jiwa seseorang diyakini mampu mencapai level takwa. Pengurangan intensi pada aspek-aspek yang fisikal diandaikan akan meninggikan sensitivitas terhadap alam spiritual.
Komentar
Ukuran keberhasilan puasa tidak berdasar pada banyaknya belanja dapur dan taqlil tubuh.Karena Hanya Allah saja yang akan memberi pahala langsung pada hari kiamat"innallaha yajzii bihi”
orang awam amatlah sukar untuk mencapai level puasa seperti yang al-Ghozali katakan di atas, sebab kecenderungan orang awam adalah mengikut apa yang berlaku di sekitar… al Ghozali sendiri (kalau tidak salah) mengklasifikasikan soimiin menjadi beberapa kelas; awam, khusus, khususilkhusus. barangkali kelas yang terakhir itu saja yang mampu mencapai level taqwa di atas. orang awam tidak mungkin menempati maqomnya khususilkhusus, begitu juga yang masuk kelas khusus, semua ada maqom masing-masing dan mungkin akan dinilai menurut maqonmya… wallohu a’lamu
Setiap menjelang bulan ramadhan aku selalu dibuat tersenyum kecut. Betapa tidak, Pemerintah selalu sigap memonitor dan mengumumkan ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat (umat Islam).Pemerintah selalu menyatakan bahwa semua kebutuhan cukup selama bulan suci ramadhan. Dan masyarakat dihimbau tidak perlu memborong yang dapat memancing naiknya tingkat inflasi. Yang perlu dicatat, rupanya pemerintah sangat jeli melihat prilaku umat Islam yang bertambah “gembul” saat berpuasa ketimbang bulan-bulan biasa. Diperparah lagi untuk menandai kemenangan (Idul Fitri) dipakailah ketupat sebagai simbol. Ini menandakan tingkat kegembulan umat sampai pada puncaknya. Kesalah kaprahan umat dalam menyikapi amalan ibadah juga terlihat dalam ibadah haji (termasuk penyembelihan hewan kurban), penunaian zakat-infaq-shadaqah sampai pada pendistribusiannya dan lain-lain. Sungguh jauh dari spirit yang terkandung dalam setiap amalan ibadah. Celakanya para elit ulama nampak enjoy saja melihat kondisi ini. Bila tidak ada upaya-upaya serius jangan harap umat Islam dapat bangkit dan lepas dari posisi kasta terendah di percaturan dunia internasionl.
jangan berlebihan dalam menafsirkan pernyataan al Ghazali, pengosongan saat puasa di siang hari bukan selamanya, menahan diri dari berhubungan intim dengan suami/istri juga di siang hari..
Hal ini akan melatih ruhiyah kita..
Ingat Nabi saja berpuasa dan juga berbuka, beliau menikah, shalat malam dan tidur..
Beliau menyuruh menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur agar bisa puasa dengan baik.. jangan berlebihan..
gue ga sependapat….berlebihan..islam itu memudahkan bukan memberatkan…........
Benar apa yang disampaikan Al-Gazali. Namun untuk hal dimana belanja bulan Ramadhan menjadi lebih besar, itu menurut saya tidak selalu karena kita puasa di siang hari lalu ingin menyikat makanan sebanyak-banyaknya di malam hari…tidak begitu! Bulan Ramadhan begitu penuh keindahan, penuh berkah, melimpah kasih sayang baik dari Allah maupun di antara sesama manusia… Bulan dimana persatuan dan kesatuan di antara umat Islam terasa begitu kokoh…! Disitulah kemudian kita memaknainya dengan berbagai cara di antaranya meningkatkan silaturahmi di dalam keluarga dan antar keluarga, dengan cara menyiapkan makanan yang sedikit berbeda untuk keluarga dekat kita dan untuk teman, tetangga, bahkan orang lain, agar tali silaturahmi dan kasih sayang di antara kita terasa meningkat. Di dalam keluarga kita yang semuanya sibuk, orang tua bekerja…anak-anak sekolah kadang untuk makan bersama jarang terjadi…tapi di bulan Ramadhan kita semua berusaha untuk bisa sahur dan berbuka puasa bersama. Oleh karena momen itu hanya setahun sekali terjadi maka kadang kita berusaha menyajikan makanan yang sedikit berbeda…, yaahh tentunya sedikit lebih enak…! Tidak hanya di dalam keluarga dekat, hal itu juga terjadi bersama teman-teman dan tetangga, juga orang lain. Dan bukankah kita juga akan mendapat pahala jika kita menyediakan hidangan berbuka puasa bagi orang lain. Pahala itu yang ingin kita raih… dan sesungguhnya kalau kita mengeluarkan uang belanja lebih banyak di Bulan Ramadhan untuk menyediakan hidangan berbuka bagi orang lain yg berpuasa… Insyaallah tidak akan hilang atau berkurang rezeki kita, justru akan berlipat ganda, amin…insyaallah amin…
Setuju, bahwa puasa yang saya lakukan sekarang ini masih puasa dalam kerangka memindahkan pola makan dari waktu siang ke waktu malam. Semoga kedepan saya bisa melakukan puasa seperti puasanya orang-orang shaleh yang diridhai Allah SWT. Amin..
Sangat setuju. Memang romadhon di negeri kita sudah menjadi tradisi yang bersifat perayaan atau celebration. Dimana kegembiraan dalam menyabutnya diungkapkan dalam bentuk yang sifatnya berlebih-lebihan. Seperti acara berbuka puasa bersama di tempat tertentu yang cenderung bersifat seperti pesta dengan hidangan yang lebih mewah dari hari biasa, ataupun tayangan televisi dengan acar kuis-nya yang mengiming-imingi hadiah yang melimpah. Kesemuanya itu sama sekali keluar dari esensi puasa itu sendiri yang seharusnya lebih mengungkapkan sikap kesederhanaan, keprihatinan dan sependeritaan dengan saudara-saudara kita yang kurang beruntung.
Dan ada beberapa pihak yang justru memperparah keadaan dengan diadakannya obral besar-besaran di berbagai pusat perbelanjaan yang mendorong masyarakat untuk berperilaku konsumtif, boros, mubazir dan tidak peka dengan lingkungan sekitar, yang demikian itu justru akan memperlebar jurang kesenjangan antara yang kaya dan miskin.
Yang lebih untuk diperhatikan adalah adanya kecenderungan untuk memaksakan kehendak pada orang lain untuk menghormati umat Islam yang sedang berpuasa dengan adanya pelarangan rumah makan, warung makan, dan restoran untuk buka pada siang hari di beberapa daerah. Cara-cara seperti ini sama saja mengingkari bahwa ada orang lain atau lebih tepatnya pemeluk agama lain yang memang tidak punya kepentingan untuk berpuasa.
Seharusnya yang dilakukan adalah bukan pelarangan tetapi diminta untuk tidak mencolok dibandingkan pada hari-hari yang lain. Pelarangan ini sama saja dengan mengingkari adanya hak pemeluk agama lain yang tidak berpuasa untuk mendapatkan makanan siang mereka yang biasanya bisa dibeli dari warung nasi, rumah makan, atau restoran di tempat mereka biasanya makan siang.
Sebenarnya pelaku usaha makanan ini akan dengan sendirinya menutup tempat usahanya selama umat Islam berpuasa jika memang tidak ada yang membeli di siang hari. Bukan kah sebuah usaha akan tetap bisa berjalan selama memang ada yang membutuhkan. Ini prinsip alamaiah yang sudah terjadi sejak manusia belum mengenal ilmu ekonomi dan bahkan sebelum ada agama di atas bumi ini. Ironis, tidak ada tokoh agama Islam yang memberikan komentar soal pelarangan warung makanan atau restoran selama umat Islam menjalankan ibadah puasa.
Puasa adalah salah satu sikaf di mana manusia di ajarkan untuk mengosongkan dirinya dari hal yg bisa menimbulkan keinginan(sahwat).dalam puasa pula kita di berikan sebuah pelajaran tentang kepekaan terhadap perasaan yg ada di sekelliling kita yang paradoks dengan kita.
Al-gozali memberikan catatan kepada orang yg berpuasa yang hanya mengajrkan sikaf ragawi saja tapi tidak kepada orang yg mencari hakekat puasa.
sebenarnya ada sebuah peristiwa kejadian yg tidak terjadi luar bulan ramadhan selain turunnya al-qur’an yaitu meningkatnya pendapatan sebagian masarakat akibat banyaknya konsumsi orang yg berpuasa,di sinilah keberkahan Rhamadhan sangat di rasakan. Rhamdhan membawa keberkahan bagi semmua manusia tanpa terkecuali.
Hakekat puasa tidak bisa di lihat dari kacamata thasawuf saja, seperti penilaian al-ghozali, tetapi dari nilai ekonomi, pendapatan masarakat semakin meningkat tajam seiring dengan permintaan untuk berbuka puasa dan sahur.
saya sepakat dengan shbt novriantoni, tetpi ada sebuah paradoks yg positif bagi manusia lain dalm meningkatkan taraf hidupnya.
boleh saja penilaian puasa dengan menghasilkan proyek penurunan berat badan dan pengurangan belanja dapur, tetapi Allah membuat keberkahan bukan hanya untuk segolongan orang saja ada golongan yg lain yang di untungkan.
Mengukur keberhasilan puasa dengan formula “taqlil” cukup bisa diterima walaupun tidak begitu akurat. Formula ini semakin tampak kacau jika kemudian menekankan standart keberhasilan pada dua hal yang menurut saya lucu, yaitu membengkaknya belanja dapur dan menggemuknya badan. Karena keduanya tidak bisa dikaitkan dengan keberhasilan dan kegagalan puasa seseorang. Contoh, seseorang yang saya kenal, pengeluarannya pada bulan Ramadhan selalu membengkak - walaupun dia tidak pernah cerita kepada saya, karena setiap harinya dia selalu memberikan ta’jil ke beberapa mushola dan masjid dan memberikan bungkusan makanan bagi gelandangan. Bagi saya, dia sangat berhasil, karena puasanya menumbuhkan dalam dirinya rasa empati pada orang lain yang membutuhkan. Dan itulah ibadah yang benar-benar untuk Allah, sebagaimana yang disampakan-Nya kepada nabi Musa.
Bulan puasa merupakan bulan penzaliman umat berduit terhadap yang tidak. Penzaliman ini secara kasat mata dipertontonkan di tempat-tempat penjualan makanan berbuka yang sudah mirip dengan pasar kaget. Pamer kemampuan ini diperlihatkan lagi, walau tidak separah yang pertama, di tempat-tempat panti asuhan yang di situ para orang berduit menyumbang makanan yang kadang-kadang sangat berlebihan volumenya. Kedua hal ini, ditambah lagi konsumsi sendiri, akan membuat para spekulan menaikkan harga-harga di pasar dengan lonjakan tajam karena mereka yakin seyakin-yakinnya bahwa berapa pun harga yang mereka patok pasti juga akan dibeli karena sudah menjadi adat kebiasaan untuk belanja berlebihan pada bulan puasa pada sebagian besar umat Islam.
Seharusnya, umat yang lebih beruntung tidak ikut turun ke pasar pada bulan puasa karena dengan keberuntungannya mereka seharusnya bisa belanja bahan pokok jauh sebelum puasa yang dapat mereka simpan di lemari pendingin mereka yang berukuran jumbo. Seharusnya mereka jangan mentang-mentang: karena ingin mendapatkan pahala yang berlipat ganda, mereka (karena sangat mampu) memborong bahan makanan untuk DIAMALKAN kepada panti sementara tindakan mereka ini jelas-jelas membebani orang yang takmampu di luar panti. Bukankah meringankan beban yang umat yang di luar panti juga merupakan ibadah yang juga dilipat-gandakan pahalanya? Kalau pun mereka mampu dan ngotot mendapatkan berkah selama bulan puasa, bukanlah lebih bijak jika pemberian itu dilakukan dalam bentuk “mentah”-nya, sehingga para pengelola panti dapat mengelola pemberian itu secara wajar yang akan meningkatkan gizi para penghuni sepanjang tahun?
Adat kebiasaan memang sulit diubah apalagi dalam masyarakat yang rasa “malu ama tetangga” sangat tinggi.
salah satu metode untuk memanusiakan manusia yang telah kehilangan makna karena di pahami oleh jiwa manusia yang kering, sehingga hanya menjadi formalitas belaka. jika kondisinya tetap seperti ini, maka beberapakali pun ramadhan datang dan pergi menempa jiwa setiap muslim, hanya ironi yang akan nampak
Tulisanya cukupbagus, kesimpulan/Paragraf terakhir nya sangat kacau.
Komentar Masuk (14)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)